
Nyata nya, tiga hari sudah berlalu, dan Nathan masih belum melancarkan niatnya. Kesibukan benar-benar menyita waktunya, hingga tak memiliki ruang khusus untuk ia menghabiskan malam bersama Dara.
Dia harus pergi sejak pagi, dan lebih sering pulang ketika Dara sudah tidur. Ibu hamil yang malang itu hanya menghabiskan hari dengan merajut-memasak-istirahat. Begitu terus hingga ia merasa jenuh dan bosan.
Namun, dia tahu kegiatan suaminya sebagai seorang musisi terkenal memanglah padat. Dan sebagai istri, Dara lagi-lagi harus mau berdamai dengan ego nya. Walau dalam hati dia sangat ingin pergi keluar menghabiskan waktu dengan Nathan. Seperti dulu, ketika kali pertamanya pergi berduaan, bulan madu ke Bali.
Itu sudah cukup lama. Dan Dara sangat merindukan momen tersebut.
"Ra, sepertinya hari ini aku akan pulang malam lagi" Ucap Nathan pada Dara yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, dengan majalah kehamilan di atas tangannya.
"Iya Nath" Dara mengukir senyum sembari mendongak ke arah Nathan yang masih berdiri di sampingnya. Tapi tiba-tiba pria itu menurunkan badannya, berlutut sembari memandang iba sang istri.
"Kamu pasti sangat bosan ya?"
"Mmm.. Sedikit. Tapi bukan masalah kok"
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Tapi mungkin nanti, jika jadwalku agak renggang" Ucap Nathan ragu.
"Iya" Sahut Dara singkat.
"Uhm.. Apa kamu mau ke ibu?"
Dara diam sembari menimbang tawaran dari suaminya.
"Sepertinya sudah lama juga kamu nggak kesana. Tapi, aku hanya bisa mengantarmu siang ini. Nanti malam akan ku jemput lagi. Mau?"
Ibu hamil itu mengangguk dengan cepat.
"Iya Nath. Kamu benar, sudah lama juga aku nggak mengunjungi ibu. Ya, aku mau!" Ia nampak bersemangat.
"Oke. Bersiaplah, aku tunggu ya" Kata Nathan sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut. Dara menurut, langsung bangkit dan berjalan setengah lari menuju kamar di lantai dua untuk bersiap. Sedangkan pria gothic itu meraih majalah kehamilan dan parenting yang di letakkan Dara di atas meja. Membuka tiap halamannya dan membaca sekilas isi di dalamnya.
Mereka berangkat menuju warung makan milik ibu setelah menunggu Dara berganti pakaian selama kurang lebih dua puluh menit. Hari hampir siang, dan agaknya matahari akan mempertahankan sinar terangnya sampai sore jika dilihat dari langit biru yang begitu cerah berhiaskan awan-awan putih.
Dara di antar Nathan menggunakan mobil Jeep kesayang nya. Membelah jalanan ibu kota dengan gahar. Sinar UV yang menyilaukan membuat pria itu harus mengenakan kacamata hitam aviator. Sukses membuat Dara yang berada di sebelahnya terpukau akan penampilan nya yang makin cool.
Dari sisi manapun, tak ada jejak kecacatan di wajah Nathan. Jika ada kata yang lebih dari sempurna, itulah yang pantas untuk menggambarkan seorang Nathanael Edward Smith. Pria blasteran yang telah jadi suaminya.
"Nah, sudah sampai"
Dara masih termenung, menatap Nathan seakan ia adalah malaikat yang baru turun dari surga.
"Dara?" Panggilnya sambil mengayunkan tangan di depan wajah Dara. Wanita itu mengerjap.
"Sayang, kenapa? Kok bengong gitu?"
"Eh? Uhmm..." Dara gelagapan sendiri. Dia merasa malu karena diam-diam mengagumi sambil mengamati suaminya begitu dalam. Dara menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya dari tatapan Nathan.
"Hei.." Nathan meraih dagu sang istri dan mengarahkannya perlahan agar menoleh padanya.
"Kenapa wajahmu merah begitu?"
"Uhmm.. Nggak apa-apa kok. Kita sudah sampai kan. Ayo turun!" Ajak Dara yang makin salah tingkah. Dia menghalau tangan Nathan dari dagunya.
"Dara.." Lagi-lagi tangannya bermain dengan menggenggam lengan Dara yang nampak buru-buru ingin turun dari mobil.
"Tunggu dulu"
"Apa lagi?"
"Lihat aku!" Perintah Nathan.
Dara tidak tahu kenapa dirinya mendadak jadi aneh hanya karena berada di samping Nathan yang hari ini tampak sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya. Mungkin karena pria itu telah mencukur habis bulu janggutnya sehingga menampilkan keseluruhan wajah mulusnya? Atau karena diam-diam ia mengingat momen dimana Nathan mencium bibirnya penuh nafsu?
"Sayang" Kedua bola mata cokelat yang indah itu menginterupsinya. Menciptakan tegangan tinggi yang mengaliri seluruh pembuluh darahnya.
"I-iya?" Dara sudah mengarahkan wajahnya pada Nathan, tapi belum berani membalas tatapan matanya. Dia mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Kemana pun, asal bukan memandang sepasang mata itu.
"Kamu grogi ya?"
"Grogi? K-kenapa aku harus grogi. Aku.. Aku biasa aja tuh!"
"Yakin?"
"Tentu saja!"
Cup..
Nathan mendaratkan kecupan di dahinya, membuat Dara berhenti mengoceh seketika. Amat gemas dengan tingkah ibu hamil itu.
"Oke. Kamu nggak grogi, dan nggak terpesona denganku. Begitu?" Goda Nathan.
Dara mengangguk ragu.
"Nggak apa. Tapi kalau aku sih, setiap hari selalu terpesona denganmu" Pria itu mencubit manja pucuk hidung istrinya.
"Turunlah. Aku titip salam untuk ibu ya, maaf nggak bisa ikut turun karena waktunya sudah mepet. Nanti malam aku akan menjemputmu. Oke sweetheart?"
"Iya. Kamu.. Hati-hati di jalan ya"
"Siap"
Dara langsung turun usai berpamitan dengan Nathan dan sekali lagi menatap wajah rupawan itu. Kemudian bergegas menjauh dari mobil Jeep yang terparkir sebentar di pinggir jalan tersebut.
"Assalamu'alaikum" Ucap Dara ketika melihat ibu yang sedang duduk di area belakang, setelah melewati Lisa sang adik yang tengah berjaga di depan. Gadis itu sedikit histeris akan kehadiran kakaknya yang sudah lama tak menampakkan batang hidungnya. Amat rindu dengan momen-momen kebersamaan seperti dulu yang tak pernah ia rasakan lagi sekarang.
" 'Alaikumsalam" Jawab ibu, berbarengan dengan seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
Dara buru-buru mencium punggung tangan ibu dan memeluknya singkat.
"Dara?!"
"Kamu.. Ya ampun.. Cindy!" Balas Dara pada seorang sahabat yang telah lama tak ia jumpai. Mereka berpelukan, saling melepas rindu. Tiga tahun yang lalu, wanita itu pergi ke luar kota karena menikah dengan seorang pria dari kota seberang. Mau tak mau ia harus turut dengan suaminya. Dan tinggal berjauhan dengan sahabat yang di kenal nya sejak bangku SD tersebut.
"Aku kangen banget sama kamu Dara.."
"Aku juga"
Rasa rindu yang mendalam membuat mereka saling menitikkan air mata bahagia.
"Kamu apa kabar Cin? Dua tahun terakhir nomormu kenapa nggak aktif? Aku benar-benar nggak tau kabarmu sama sekali setelah itu"
"Ponselku hilang Dar, kamu juga kenapa sih masih aja nggak mainan medsos? Kan jadi susah untuk cari kamu"
Dara tersenyum malu. Ia memang tak pernah tertarik menggunakan sosial media. Maka dari itu dulu, sebelum sekarang dia tak pernah mengetahui siapa Nathan.
"Iya maaf. Kamu sudah lama? Oh iya, sampai lupa nanyain kabar ibu" Dara melempar pandangan ke arah ibu.
"Ibu baik-baik nak, sehat. Dara apa kabar? Ibu juga rindu lho.. Calon cucu ibu juga bagaimana ini? Sehat-sehat kan?"
"Dia sehat bu. Apalagi setelah ketemu neneknya. Makin sehat" Ujar Dara.
"Nathan apa nggak ikut nak?"
"Tadi dia mengantarku sampai depan. Cuma nggak sempat mampir karena waktunya sudah mepet, harus buru-buru berangkat lagi. Dia hanya titip salam untuk ibu"
Ibu mengangguk tanda mengerti.
"Dar, aku sampai nggak tau kalau kamu sudah menikah. Maaf ya waktu itu aku nggak datang" Nada penyesalan tergambar dalam kalimat Cindy. Mengingatkan Dara pada pernikahan rumitnya hari itu.
"Nggak apa Cin. Aku memang nggak mengundang banyak-banyak. Kontakmu juga nggak ada kan"
"Iya sih.."
"Nak, kalian teruskan saja ngobrolnya ya. Ibu mau ke depan ngecek Lisa, kasihan takut kualahan" Ucap ibu seraya beranjak dari kursinya.
"Iya bu" Sahut Dara. Kemudian menempati kursi yang tadi di duduki ibu.
"Kamu hamil berapa bulan ini Dar?"
"Masuk tujuh bulan"
"Wah.. Sehat selalu ya Dar. Ya ampun.. Lama nggak ketemu, eh dapat kabar yang menggembirakan seperti ini. Rasanya kayak pingin loncat-loncat deh aku Dar!"
Dara terkekeh mendengar kalimat Cindy. "Kamu nggak berubah Cin!"
"Dan tau nggak apa yang bikin makin surprise? Yaitu, ketika tau kalau kamu ternyata menikah sama salah satu musisi terkenal Dara! Ya ampun.. Itu gimana ceritanya sih?"
Dara mengulas senyum, belum berniat menjawab pertanyaan Cindy.
"Kamu tau darimana?" Ia balik bertanya.
"Teman-teman satu angkatan kita udah ramai bahas ini. Aku sempat kaget, ku pikir Dara mana. Eh ternyata kamu" Ucap Cindy.
"Nathan itu cowok populer Dar, bukan sekedar populer di satu sekolah seperti Adit si ketua OSIS ganteng yang nembak kamu di tengah lapangan, tapi populer di satu negara!" Sambungnya lagi. Sedikit terkenang dengan momen dimana Dara diminta jadi pacar seorang ketua OSIS yang populer di SMU.
Cindy bertemu Dara di bangku SD, sempat terpisah sekolah saat SMP karena dia mesti ikut orang tuanya yang dipindah tugas keluar kota. Lalu saat tiba masa penerimaan murid baru jenjang SMU, Cindy kembali dan bersekolah di tempat yang sama dengan Dara. Menjalin kembali hubungan persahabatan yang sempat terjalin jarak jauh beberapa tahun.
"Begitu ya?"
"Iya! Cerita dong.. Gimana kamu bisa ketemu dia" Cindy terlihat makin penasaran dengan kisah yang Dara alami selama satu tahun belakangan ini.
"Memangnya kenapa kamu sangat ingin tau?"
Cindy mengerucutkan bibirnya "Aku sangat menyesal karena telah melewatkan banyak hal tentangmu. Dara, kamu itu sahabatku. Aku menyayangimu lebih dari seorang teman. Tidakkah kamu juga begitu padaku?"
Senyum di bibir Dara mekar sebab melihat sahabat baiknya ngambek bagai anak kecil minta dibelikan balon pada ibunya.
"Iya. Aku juga sayang kamu Cindy! Sama seperti aku menyayangi adik-adikku" Wanita itu menggenggam tangan sahabatnya lembut.
"Dan lagi, waktu itu aku juga sempat dengar desas desus nggak baik soal kamu ini. Ada yang bilang kalau kamu melet si Nathan. Pakai guna-guna untuk memikat hatinya. Mereka bilang nggak mungkin cewek sederhana kayak kamu bisa dapetin cowok kayak Nathan secara natural. Dar, aku benar-benar nggak terima waktu dengar itu! Makanya pengin dengar langsung dari kamu" Raut kekesalan tergambar di wajah Cindy. Tapi Dara malah menertawakannya. Kalimat, dan ekspresi wajahnya.
"Nggak perlu marah Cin. Buang-buang energi tau!"
"Kamu tuh kenapa sih Dar? Selalu aja kayak gini. Dari dulu, nggak berubah!"
"Biar saja orang lain mau bilang apa. Bebas, sesuai keinginan mereka. Tugasku hanya menutup telinga, dengan kedua tangan yang ku miliki ini" Ucap Dara menenangkan.
"Aku bertemu Nathan dengan cara yang mereka tak percayai. Natural"
Cindy mengatupkan bibirnya, menyimak Dara baik-baik. Sementara sahabatnya menceritakan sedikit pengalaman hidupnya. Siang hari itu mereka menghabiskan waktu untuk saling bercerita, bertukar pikiran satu sama lain.
Mereka sama-sama sudah berkeluarga, dengan Cindy yang diberi karunia dua orang anak laki-laki. Kelak, jika anak yang dikandungnya adalah perempuan, Dara memiliki ide liar untuk menjodohkan putrinya dengan salah satu putra Cindy. Entah hanya guyonan, atau benar-benar akan digenapkan. Mereka hanya terlalu menikmati pertemuan ini, dengan Dara yang mengucap syukur atas tawaran suaminya untuk pergi mengunjungi ibu.