An Angel From Her

An Angel From Her
116# Aku Benar-benar Kehilanganmu



Malam itu juga jenazah Dara di bawa ke rumah duka, tepatnya di kediaman milik ibunya. Dua adiknya, Rangga dan Lisa datang ke rumah sakit untuk menjemput sang kakak yang telah terbujur kaku. Sementara ibu tidak sanggup lagi untuk bangkit, ia pingsan berkali-kali dan kondisinya amat lemah.


Bunda datang secepat mungkin ketika kabar duka sampai padanya, dengan langkah tertatih dan nyaris pingsan ia berjalan dibantu Keenan untuk menemui Dara yang terakhir kalinya. Sebelum mayatnya dimasukkan dalam peti, bunda mengecup pipi, dan keningnya terlebih dahulu. Tubuh Dara mulai terasa dingin sebab jiwanya sudah tak bisa lagi bersatu dengan raganya.


Mobil jenazah membawa Dara, ada Rangga dan Lisa ikut di dalamnya, beserta Nathan yang membisu. Sorot matanya kosong, wajahnya memerah dihiasi jejak air mata yang masih tersisa. Nathan tidak bisa mengindahkan pandangannya dari Dara sedikitpun.


Sepanjang perjalanan Lisa tak bisa berhenti menangis, meratapi kepergian kakaknya yang memilukan. Ia mendengar kabar bahwa Dara sedang koma, lalu berdo'a sepanjang malam agar sang kakak mampu bertahan. Namun Tuhan belum mengizinkan do'a nya untuk terkabul.


Sedangkan Rangga, juga berderai air mata berusaha untuk menguatkan adiknya yang begitu terpukul. Tapi dia laki-laki, tak se rapuh adiknya yang perempuan. Nathan menyaksikan itu semua, pilu. Dia mulai menyalahkan diri sendiri, sebab semua ini memang ada campur tangannya. Seandainya hari itu dia lebih mendengarkan permintaan Dara, mungkin mereka takkan pernah menginjakkan kakinya di dalam mobil jenazah ini.


Penyesalan memang tak lagi berarti, takkan bisa merubah garis takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk seorang hamba nya. Nathan menyadari dalam benaknya, meski belum sepenuhnya menerima kenyataan pahit itu.


Mobil jenazah tiba dalam tiga puluh menit di rumah ibu, pada pukul 01:00 dini hari. Tampak di sana sudah ada beberapa kerabat dekat yang menunggu kedatangannya sebab ibu tidak kuat lagi bahkan sekadar untuk duduk.


Perlahan peti jenazah di turunkan, diikuti oleh Rangga, Lisa dan Nathan yang berjalan gontai di belakangnya. Mereka masuk, dan tubuh Dara diangkat dari sana ditempatkan di atas kasur yang sudah di siapkan di ruang tengah.


Setengah tubuhnya di tutupi kain batik cokelat sementara bagian atas terbentang kain putih yang menutupi wajahnya. Nathan duduk lagi, masih di sebelah nya memandangi Dara yang tak lagi bergerak. Ia sudah berhenti menangis seolah kelenjar air matanya telah mengering.


"Hiks.. Hiks.. Dara.." Isak tangis ibu yang baru keluar dari kamar di gandeng oleh seorang kerabatnya terdengar memilukan. Ia bersimpuh lalu membuka kain putih penutup wajah dan derai air matanya semakin deras ketika melihat wajah putrinya yang pucat tak bernyawa. Disitulah Nathan baru menyadari bahwa Dara mati dengan membawa senyumnya.


"Dara.." Tidak ada kata lain yang mampu diucapkan ibu selain memanggil-manggil nama putri sulungnya itu. Nathan memandangnya dengan segenap sesak yang menghimpit dada, ia baru saja merenggut seorang anak dari ibu yang begitu mencintainya.


Bunda yang baru masuk langsung menghampiri ibu dan memeluknya. Tangis mereka pecah dalam dekapan satu sama lain dengan duka yang mendalam. Dan tidak lama dari itu ibu pingsan lagi, bunda menyangga tubuhnya yang mendadak terkulai, kemudian beberapa yang lain membantu dengan membopong ibu dan membawanya ke kamar.


Di pandang nya lagi wajah pucat pasi yang masih terbuka itu, tak ada lagi lesung pipi mempesona yang tercetak di sana. Rona wajahnya yang memerah ketika ia menggombal, dan sorot mata teduh berhiaskan bulu mata lentiknya.


Mengamati bibir biru yang mengatup, kedua kelopak mata yang menutup, napas yang berhenti. Sungguh jadi pemandangan dalam mimpi buruk mengerikan yang pernah ia alami sepanjang hidup menjadi seorang manusia.


Dulu, ia melewatkan kepergian papa, tidak begitu merasa terguncang sebab usia nya yang masih belum banyak mengerti tentang kehidupan, apalagi soal kematian. Yang dia tahu hanya sebatas papa pergi ke surga lebih dulu, itupun dari cerita yang di dengarnya dari Keenan.


Dan kini ia mengerti betapa kehilangan amat menyakitkan, memporak porandakan perasaan dan seluruh organ dalam tubuhnya. Menghancurkan setiap susunan tulang yang menyangga tubuhnya, sebab sekarang ia merasa seperti terserang kelumpuhan lantaran tulang rusuknya yang di ambil paksa oleh Tuhan tanpa mampu di cegahnya.


...***...


Prosesi pengurusan jenazah telah rampung. Dara sudah dimandikan, dikafani kemudian di sholatkan sesuai dengan tata cara dalam agama yang dianut. Kini, dia akan di bawa ke tempat peristirahatan terakhirnya, sebuah tempat pemakaman umum yang terletak tidak jauh dari rumah ibu.


Nathan yang dibalut busana serba hitam berjalan tepat di belakang keranda yang membawa tubuh Dara. Ibu dan bunda berjalan setelahnya saling bergandeng tangan dan menguatkan, sementara Rangga dan Lisa yang membawa foto Dara dalam pigura berada tepat di belakangnya.


Langit kelabu mengiringi mereka hingga tiba di depan pusara yang akan menjadi rumah Dara yang baru. Tanahnya basah lubang itu tampak dalam, seketika mengingatkan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan kematian yang jaraknya hanya seperti antara jari jempol dan telunjuk.


Tubuh Dara yang dibalut kafan putih di turunkan dari keranda, ada sekitar tiga orang yang berdiri dalam liang kubur bersiap menerima jenazahnya. Mereka adalah keluarga dari Dara. Tiba-tiba Nathan yang sedari tadi nampak lesu, langsung ikut turun ke dasar tanah. Terbesit pikirannya untuk membantu meletakkan Dara di bawah sana.


Salah seorang naik begitu Nathan turun sebab takkan muat jika ada empat orang dalam lubang. Ia memegang bagian kepala, dan menempatkannya perlahan dengan memposisikan nya miring menghadap kiblat.


Itu adalah kali terakhir ia menyentuh istrinya dan melihat wajahnya yang mengintip saat tali yang mengikat kafan di kepalanya di lepas. Setelah tanah basah itu di tuangkan, perlahan-lahan kenangannya terkubur bersama dengan raga yang dicintainya.


Isak tangis mewarnai proses pemakaman memilukan itu, mengingat telah hadirnya jiwa yang sangat membutuhkan kehadirannya, semua orang merasa iba. Di sana hadir cindy, sahabat baik Dara yang begitu terpukul dengan kepergiannya. Berdiri tepat di samping makam membawa sekeranjang kelopak bunga yang akan di tabur di atas gundukan tanah.


Bunda merangkul ibu, menguatkan besannya dengan memberi belaian lembut di area bahunya. Kedua mata ibu sembab dan membengkak sebab tak henti nya menangis sejak tadi malam.


Para pelayat mulai menabur bunga, sebagai persembahan terakhir. Ada juga yang menuangkan air mawar di atas makam. Ibu bersimpuh, di atas tanah yang basah memeluk papan nisan yang bertuliskan nama Andhara Kirana, putri yang dicintainya, yang ia lahirkan dua puluh delapan tahun lalu. Kini ia ada di bawah sana dalam tidur yang panjang.


Nathan berdiri lemah, pakaian nya sedikit kotor terkena tanah makam ketika ia masuk ke dalam liang lahat. Dan ketika yang lain satu per satu pergi, ia jadi orang terakhir yang tetap berada di sana. Terdengar gemuruh dari langit kelabu yang seolah ikut berduka atas kematian seorang ibu yang belum menyentuh bayinya sendiri.


Nathan bersimpuh, mencengkram tanah dan menggenggamnya. Hatinya berkecamuk memandangi papan nama Dara yang terpasang tegak di atas tanah basah. Penyesalan lagi-lagi merundung nya, menciptakan lautan emosi.


Rintik hujan mulai turun, dari yang paling kecil hingga cukup deras, seketika mengguyur nya. Namun Nathan tak bergeming, ia tetap di sana tak beranjak sedikitpun.


Seluruh tubuhnya telah basah, mulai menggigil. Giginya yang gemeretakan terdengar jelas. Dalam keterpurukan ia berkata, "aku akan tetap disini sayang. Menemanimu, jangan khawatir. Aku takkan meninggalkanmu."


Ia lalu mengecup papan nama Dara, memeluknya seolah itu adalah orang yang dicintainya. Air matanya jatuh bersamaan dengan air hujan yang mengaliri wajah dan seluruh tubuhnya. Disinilah Nathan terus berada hingga hujan berhenti, dan hari hampir berganti malam.