An Angel From Her

An Angel From Her
26# Titik Terang



Nathan mengamati Monica yang tengah berenang dari kejauhan, sembari bersantai di atas kursi panjang motif garis-garis yang di tempatinya. Nampak wanita itu merentangkan kedua lengannya dengan ritme yang beraturan membelah kolam yang memiliki kedalaman sekitar dua meter tersebut.


Mengenakan bikini berwarna hitam, membuat setiap lekuk tubuhnya terpampang jelas hingga dapat dinikmati oleh kekasihnya. Sesekali wanita itu menepi dan melambaikan tangannya pada Nathan. Dua buah asetnya terlihat menyembul dari balik air. Satu hal yang paling disukai Nathan darinya.


Tiba-tiba sebuah ingatan lewat dalam kepalanya, ia baru menyadari bahwa telah melewati hari dimana seharusnya pernikahan itu digelar. Pernikahan dengan seorang wanita yang tak dicintainya, dia sedikit bersyukur bahwa pada akhirnya dirinya tak harus memaksa untuk membohongi perasaannya sendiri. Berusaha menerima dan berdamai dengan takdir.


Dalam hal ini, ia merasa bahwa Monica telah banyak membantunya. Meski di satu sisi, dia benci dikekang dan dibatasi ruang geraknya seperti sekarang. Hiburan satu-satunya di sana hanya televisi yang menayangkan tontonan membosankan. Tak ada gitar, tak ada alat musik yang biasa digunakannya untuk mengisi waktu senggang.


Dia mulai merindukan gitar, kawan-kawan, band, panggung serta para fans yang selalu meneriakkan namanya kala Black romance beraksi. Dan satu lagi, ia juga merindukan bunda. Yang tak diketahui bagaimana kabarnya sekarang.


Terpikirlah olehnya untuk mencurangi Monica, ia berniat menghubungi bunda agar setidaknya dapat mengetahui kondisinya saat ini, karena sudah pasti bunda akan mengalami shock akibat pernikahan yang mendadak harus dibatalkan. Nampak ponsel milik Monica menganggur di meja sebelahnya.


Dengan hati-hati tangannya mencapai ponsel tersebut, sembari kedua matanya yang tak luput mengawasi Monica, khawatir kalau-kalau wanita itu melihatnya. Ia segera membawa pergi ponsel tersebut ketika sudah dalam genggamannya. Nathan melirik lagi ke arah Monica yang masih nampak sibuk berenang, menyelam ke dalam kolam. Dia merasa aman.


"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi"


"Bunda kenapa ya" Gumam Nathan. Ia mencoba sekali, dua kali, hingga berkali-kali namun nomor bunda tetap tak dapat dihubungi.


Bunda adalah seorang pengusaha yang setiap harinya selalu sibuk mengurus berbagai kebutuhan logistik dari seluruh bidang usahanya. Menghubungi serta di hubungi para klien, karyawan, dan rekan-rekan lainnya. Jadi memang bunda hampir tak pernah me-non aktifkan ponselnya.


Nathan mengernyitkan dahinya, mencoba untuk mencari opsi selain menelepon bunda. Ia berusaha mengingat nomor siapa yang sempat dihapalnya.


"Ah.. Iya benar, Regy!" Gumamnya. Ia langsung memasukkan nomor Regy ke ponsel dan segera melakukan panggilan.


"Halo.." Jawab Regy dari telepon.


"Gy.. Ini gue Nathan"


"Ha? Siapa?"


"Nathan gy.. Na..than.." Ucap Nathan gemas.


"Nathan? Ini Nathan Smith?"


"Iya.. Astaga. Nathan mana lagi sih"


"Ha? Apa? Suaranya putus-putus Nath!" Ucap Regy. Signal di sekitar villa memang cukup buruk.


"Iya Regy.. Ini gue Nathan, lo dengar?"


"Nath, lo dimana Nath? Semua orang nyariin lo" Seru Regy.


"Ceritanya panjang. Gue cuma mau minta tolong sama lo gy"


"Apa Nath?"


"Minta tolong gy, to-long"


"Minta tolong? Lo lagi dimana Nathan? Lo diculik?" Tanya Regy dengan suaranya yang sedikit tidak jelas.


"Tolong cek keadaan nyokap gue gy. Gue khawatir sesuatu terjadi padanya" Pinta Nathan langsung pada pointnya.


"Nyokap? Emang nyokap lo kenapa?"


"Iya nyokap gy. Tolong cek keadaannya.. Nanti gue hubungi lo lagi" Ucap Nathan sembari mengakhiri panggilan. Ia mendengar suara seseorang yang mendekat, sepertinya Monica telah selesai renang dan mulai mencari-cari dirinya.


"Keadaan siapa yang mau di cek honey?" Ucap Monica dari belakang Nathan.


"Keadaan kamu honey" Jawab Nathan sekenanya. Ia mencoba menyembunyikan ponsel tersebut di belakang celananya.


"Aku baik-baik saja kok. Hhmm.. Apa kamu melihat ponselku?" Tanya Monica yang mulai curiga dengan gelagat Nathan.


"Ponsel? Memangnya tadi di letakkan dimana?" Tanya Nathan sedikit gelagapan.


"Tidak usah pura-pura honey. Atau aku akan menggeledahmu" Ucap Monica.


Nathan memilih cari aman dengan segera mengembalikan ponsel itu pada Monica. Wanita itu langsung membukanya dan mengecek log panggilan keluar. Tidak didapati apa-apa disana. Nathan telah sukses menghapus nomor Regy sebelum Monica sampai padanya.


"Kamu habis telepon siapa?" Tanya Monica.


"Bukan siapa-siapa" Sanggah Nathan.


"Jangan bohong! Jujurlah!"


"Sudahlah Mon, kamu ini terlalu berlebihan. Kamu sudah merampas ponselku dan tidak mengizinkanku menghubungi siapapun" Protes Nathan.


"Aku mau bertanggung jawab atas kehamilanmu. Aku mau ikut dan tinggal bersamamu diluar negeri. Apa lagi yang kurang? Dengar, aku tidak ingin hidup seperti burung dalam sangkar!" Sambungnya.


"Aku kan bilang akan memberikanmu ponsel yang baru. Sabarlah honey. Dan lagi, aku melakukan ini semua demi kamu. Demi hubungan kita. Tidakkah kamu memahaminya? Tutur Monica.


"Aku terpancing emosi saat itu. Maafkan aku ya? Senjata itu, hanya untuk berjaga-jaga saja kok"


"Kamu sudah memiliki dua orang penjaga di depan gerbang. Perampok pun mungkin akan berpikir dua kali jika ingin datang kesini saat melihat mereka. Apa itu kurang?"


"Honey.."


"Kamu egois Monica! Benar-benar egois! Kamu berubah, aku seperti tidak mengenal dirimu yang sekarang" Ucap Nathan seraya melangkahkan kaki menjauhi Monica yang terdiam seketika kala mendengar ucapan Nathan barusan.


Wanita itu mengepalkan tangannya dan berdesis, berusaha meredam rasa kesalnya pada sang kekasih.


...***...


Usai mendapat telepon dari Nathan, Regy cepat-cepat menjalankan amanat yang diberikan padanya. Ia datang ke apartment dan sayangnya hanya mbak Asih yang ditemuinya disana. Asisten rumah tangga itu kemudian menyarankan agar Regy menemui Dara yang tengah berada di rumah sakit, karena disanalah orang yang dicarinya berada.


Pria itu langsung menceritakan soal Nathan yang menghubunginya dengan nomor asing beberapa jam yang lalu, kepada Dara setibanya ia di tempat tujuan. Mereka memutuskan untuk berbicara di kantin rumah sakit agar bisa lebih fokus bertukar informasi.


"Aku tidak tahu bagaimana kronologisnya Nathan tiba-tiba pergi, padahal yang aku dengar dia akan menikah" Ucap Regy.


"Dara juga tidak tahu mas. Hari itu, bunda mengabari bahwa Nathan pergi, semua teman-teman dan kerabat dekatnya tidak ada yang mengetahuinya" Tanggap Dara.


"Ya. Tidak ada satupun dari kami yang tahu kemana Nathan pergi. Beberapa jadwal juga jadi berantakan. Rada aneh sih, tiba-tiba menghilang" Ujar Regy.


"Aku hanya mengkhawatirkan bunda. Beliau sepertinya sangat menunggu-nunggu Nathan" Ucap Dara.


"Iya, ikatan mereka cukup kuat. Saat Nathan meneleponku tadi, dia minta aku untuk mengecek keadaan ibunya. Sepertinya dia punya feeling bahwa ibunya sedang tidak baik-baik saja" Sahut Regy.


"Ya, sudah tiga hari kondisi bunda naik turun. Hanya Nathan obat sesungguhnya untuk bunda"


Regy mengangguk pelan.


"Ngomong-ngomong, jadi.. kamu calon istrinya Nathan?" Tanya Regy.


"Iya mas"


"Nathan tidak pernah mau memberitahu siapa calonnya. Bahkan aku juga tidak boleh datang ke pernikahannya"


Dara tersenyum kecil menanggapi kata-kata Regy.


"Aku cukup kaget ketika tahu Nathan akan menikah. Karena, dia pernah bilang kalau mungkin butuh waktu lama baginya untuk memikirkan soal pernikahan. Apalagi saat aku tahu yang akan dinikahinya bukan Monica" Ucap Regy.


"Eh.. Monica" Sambung Regy lagi bagai memikirkan sesuatu. Dara menatap serius wajah lawan bicaranya.


"Dara, menurutmu.. Mungkin nggak, kalau Nathan pergi bersama Monica? Emm.. For your info, Monica itu pacarnya Nathan" Ucap Regy.


Dara terdiam sejenak sembari meresapi kata-kata Regy barusan.


"Eh.. Mmm.. Maaf Dara, maksudku, Monica itu mantan pacarnya Nathan. Kan si Nathan sekarang jadi calon suami kamu" Ujar Regy salah tingkah.


"Tidak apa-apa mas Regy.. Dara memang hanya calon. Dan mungkin akan jadi calon saja selamanya" Ucap Dara.


"Eee.. Hehehe.. Iya" Ujar Regy sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Menurut Dara, mungkin saja mas" Ucap Dara.


"Iya, hehe.. Mungkin ya.. Dara. Mmm.. Dara tenang saja. Aku akan coba cari tahu, dengan mendatangi rumah Monica. Yahh.. Mana tahu dia ada disana" Tutur Regy yang masih sedikit salah tingkah.


"Iya mas. Terimakasih banyak ya atas bantuannya" Ucap Dara ramah.


"Sama-sama Dara, kalau butuh apa-apa jangan sungkan minta tolong ke aku ya.."


"Baik mas"


"Kamu sangat cantik Dara, rugi sekali Nathan menolakmu" Ucap Regy pelan.


"Hm? Gimana mas?" Tanya Dara.


"Eh? Ahaha.. Nggak kok Dara, bukan apa-apa. Aku, cuma kesel aja sama Nathan. Yasudah, aku pamit ya" Ucap Regy seraya beranjak dari kursi dan menyalami Dara.


"Hati-hati di jalan ya mas" Ucap Dara.


"Iya Dara, terimakasih" Sahut Regy


"duuh.. Inget anak gy, inget anak! " Gumam Regy sembari cepat-cepat menjauh dari Dara yang semakin membuyarkan konsentrasinya.


Dara memandangi Regy yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia bersyukur pria itu telah membawa titik terang soal keberadaan Nathan, dan dirinya juga berharap semoga ini adalah jalan yang di pilih Tuhan agar bunda dapat kembali bertemu dengan putra kesayangannya.


...***...