An Angel From Her

An Angel From Her
37# Ingatanku Padamu



Nathan memacu mobil dengan kecepatan sedang di tengah ramainya ibu kota siang ini. Langit nampak mendung, sesekali kilatan petir terlihat di atas sana. Mungkin tak lama lagi hujan akan turun dan membasahi kawasan ini.


Hari ini, ada jadwal jamming bersama para musisi lain yang memang rutin dilaksanakannya. Ini adalah jadwal di luar band nya. Banyak dari para penggemar yang memintanya untuk menggelar acara tersebut.


Agar mereka dapat dengan mudah berinteraksi dan saling sharing mengenai musik khususnya gitar bersama sang idola. Permainan gitar dari Nathan yang sangat bagus bagai jadi magnet untuk para penggemarnya, mereka berlomba-lomba mengikuti jejak sang gitaris handal itu dengan berusaha mempelajarinya.


Sifat humble yang dimiliki Nathan juga jadi salah satu daya tariknya, membuat namanya makin dikenal luas seantero negeri. Ia juga sama sekali tak sungkan berbagi ilmu pada beberapa penggemar yang ingin belajar darinya. Dengan paras tampan, sifat yang bersahabat, tak heran jika dirinya di nobatkan pada jajaran selebriti top tahun ini.


Pria itu sampai di sebuah cafe dengan tema outdoor. Tampak beberapa alat musik yang sudah disiapkan di salah satu stand telah di isi oleh beberapa musisi yang sampai terlebih dahulu, mungkin sejak beberapa menit yang lalu.


Nathan menghampiri dan menyalami mereka satu per satu. Menempati kursi tinggi berbentuk bulat disana sembari berbincang dengan kawan satu profesinya itu. Nampak juga para member yang lain mulai berdatangan satu per satu, menduduki tempatnya masing-masing untuk menyaksikan para musisi terkenal itu saling beradu skill.


Pengunjung cafe siang itu juga cukup ramai. Nampaknya keberadaan Nathan lah yang jadi salah satu alasannya.


... ***...


Sekitar dua jam berlalu, acara jamming hari ini usai, ditutup dengan permainan gitar yang ciamik dari Nathan. Semua member yang hadir disana memberi standing ovation pada sang gitaris yang sangat berbakat tersebut, membuat pria itu makin berbangga diri.


Begitu banyak orang yang menyukainya, tapi tak sedikit pula yang membenci dan meninggalkannya akibat kasus narkotika yang pernah menjeratnya waktu itu. Namun para pembenci tak sama sekali mendapat perhatiannya, ia hanya fokus pada mereka yang mau dan bersedia mengidolakannya.


Dan disinilah dirinya sekarang berada, di tengah beberapa penggemar setia. Senyum lebarnya menyeringai, ditujukan pada mereka yang telah memberi dirinya kesempatan untuk dikenal seluruh penggemar music beraliran rock.


"Thank you semua yang sudah hadir, thank you so much untuk dukungannya" Ucap Nathan dengan ramah.


"Thanks Nath, sudah meluangkan waktu untuk datang kesini" Ucap salah satu kawannya disana sembari menyalami Nathan di sampingnya.


"Sama-sama bro. Thank you" Sahut pria itu seraya melepaskan tali selempang di gitarnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


Nampak beberapa member disana mulai meninggalkan tempat, membuat lokasi yang awalnya cukup ramai menjadi renggang seketika.


"Lagi sibuk apa Nath sekarang?"


"Ada project untuk album baru, masih on progress. Do'ain cepat rampung ya" Sahutnya.


"Aamiin.. Sukses ya Nath"


"Makasih sob" Jawab Nathan ramah.


"Oh iya, lo masih pacaran sama DJ itu? Emm.. Siapa namanya?" Tanya kawannya.


Nathan termenung sepersekian detik sembari menghela napas dengan lembut. Kesibukan yang dijalani nya beberapa hari ini sedikit membuatnya lupa dengan dia yang dicintai, Monica. Apa kabarnya dia sekarang? Batinnya.


"Monica.." Jawab Nathan.


"Oh iya, DJ Monic"


"Si seksi itu ya?" Celetuk salah satu orang disana.


Nathan diam tak menanggapi dengan satu patah kata pun guyonan kawannya yang membuat ingatannya kembali pada wanita itu. Sembari menarik napas dalam-dalam ia berusaha mengabaikan kerinduan yang tiba-tiba menyerbu hatinya.


Di depan matanya bagai tergambar bayang-bayang Monica tengah tersenyum manis untuknya. Senyum yang sebelumnya selalu mengisi hari-harinya. Senyum yang mampu membangkitkan semangat dalam dirinya. Senyum yang begitu candu baginya.


"Sob, gue cabut duluan ya" Pamit Nathan pada beberapa kawannya yang masih nampak asyik duduk-duduk disana.


"Nath, lo tersinggung ya? Sorry, gue nggak ada maksud apa-apa" Ucap kawannya yang sempat 'nyeletuk' barusan.


"Nggak kok. Nggak ada hubungannya. Gue ada urusan. Santai ajalah.. Kayak baru kenal gue aja" Sahut Nathan santai.


"Duluan ya.." Ucap Nathan seraya meraih tas gitarnya dan langsung berlalu dari kawan-kawannya.


Ia berjalan agak cepat, menggapai mobilnya dan menempati posisi di belakang kemudi. Kedua telapak tangannya ditempelkan pada setir, sementara mesin mobil masih belum di hidupkan.


Ada sesuatu yang tengah di pertimbangkan di dalam kepalanya. Ia terpikir untuk menemui Monica, rasa rindu itu tak mampu di tahannya lagi. Hari-hari baru yang dilaluinya bersama Dara sangat tidak membahagiakan.


Meski sejujurnya ia sangat menyukai masakan yang di racik Dara, tapi hal itu tetap tak bisa menggantikan posisi Monica yang tak pernah sedikitpun tegeser. Saking cintanya, Nathan pernah bilang bahwa Monica adalah separuh dari jiwa nya.


Beberapa menit berlalu, tekadnya semakin teguh untuk menemui wanita tercintanya. Ia menghidupkan mesin mobil, menarik persneling dan memacu mobilnya secepat mungkin. Arahnya tertuju pada rumah Monica.


...***...


"Tok.. Tok.. Tok.."


Ketukan pintu yang lumayan keras tak langsung membuat asisten yang bekerja di rumah Monica membukakan pintu. Saking terburu-burunya ingin bertemu dengan wanita itu, Nathan sampai lupa bahwa di dinding sebelah pintu tersedia tombol bel yang bisa di tekan secara cuma-cuma.


"Tok.. Tok.. Tok.."


Ketukan kali ini lebih keras dari yang tadi. Terdengar samar-samar suara seseorang menyahut dari dalam rumah, serta langkah kaki setengah lari mendekat ke arahnya. Ketika pintu di buka, nampak sang asisten yang napasnya cukup terengah-engah berdiri di depannya.


"Eh, mas Nathan.. Huh.. Huh.. Bibi kira siapa"


"Sorry bikin bibi ngos-ngosan gitu. Monica ada bi?"


"Justru bibi mau tanya ke mas Nathan, ada lihat non Monica apa ndak?"


"Lho?" Nathan mengernyitkan dahinya.


"Non Monica belum pulang, sudah ada seminggu ini mas. Bibi khawatir, takut sesuatu terjadi sama Non Monica.." Ucap Bi Nah nampak gelisah.


Asisten yang telah bertahun-tahun mengabdi pada Monica itu memang sudah menganggap sang majikan seperti anaknya sendiri. Mengingat Monica memang sudah tak di pedulikan lagi oleh orang tuanya, membuat bi Nah semakin peduli dan menyayanginya.


Monica juga sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Dia justru senang karena mendapat kasih sayang bahkan lebih dari yang pernah ibu kandungnya berikan padanya.


"Bibi sudah coba telepon?"


"Sudah mas. Nggak nyambung teleponnya"


Nathan mengingat-ingat, serupa dengan yang di alami dirinya, panggilan teleponnya juga tak dapat tersambung.


"Sebelum non Monica menghilang, bibi lihat dia seperti orang depresi mas. Pas bibi tanya, dia bilang nggak apa-apa. Tapi nanti seperti itu lagi, bibi ngiranya dia stress. Tapi kalau stress karena apa ya?" Ucapan bi Nah menyita perhatian Nathan.


"Depresi? Stress?"


"Mas Nathan sama non berantem ya? Apa ada masalah mas?"


"Bi.. Apa yang bibi lihat sampai bisa bilang Monica stress?"


Bi Nah mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dilihatnya.


"Seperti.. Oh iya. Non Monica suka teriak-teriak di kamarnya. Melempar barang, nangis tiba-tiba. Bahkan melukai dirinya sendiri. Waktu itu dia ngelempar vas bunga, pecahannya di ambil, lalu di goreskan ke tangannya. Darahnya banyak banget mas.. Pas bibi tanya, jawabannya, cuma iseng aja katanya"


Nathan menelan ludah. Dia tak menyangka efeknya akan begitu mengerikan untuk Monica. Keputusannya, telah merubah seorang wanita lembut menjadi seperti psikopat yang selama ini ia fikir hanya ada di dalam film. Ia benar-benar telah melukai perasaan wanita yang dicintainya mati-matian.


Jika hal seperti ini yang terjadi, masih sanggupkah dia untuk menyakitinya lebih dalam lagi jika harus tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dara?