An Angel From Her

An Angel From Her
80# Di Tahan



Dara tak menyangka, kebahagiaan yang baru saja dirasakannya bisa hilang dalam satu tarikan napas. Berita tertangkap nya Nathan jadi mimpi buruk yang tak terduga di tengah kondisinya yang sedang mengandung.


Keenan mengantar Dara ke kantor polisi tempat Nathan berada. Pria itu tak tega ketika melihat Dara menangis dengan raut wajahnya yang panik saat mendapat kabar mengejutkan tersebut. Sejujurnya bukan hanya Dara, dia pun cukup terkejut saat mendengarnya. Karena Keenan sempat berpikir Nathan sudah benar-benar bertobat.


Sesampainya di tempat tujuan Dara langsung menghambur keluar dari mobil mewah mercedes-benz berwarna hitam mengkilap milik Keenan. Dia tak lagi memedulikan sang kakak ipar yang tertinggal di belakangnya, dan mengejar sesegera mungkin.


"Nathan!" Ucap Dara dengan napas terengah-engah mirip orang yang sedang lomba lari maraton, ketika akhirnya menemukan Nathan yang tengah duduk lemah di kursi bersebrangan dengan seorang polisi di depannya.


Pria itu menoleh dengan gerakan lambat, mendapati Dara yang nampak begitu khawatir. Disamping Nathan berdiri seorang kawannya, Mike. Dialah yang tadi menghubungi Dara, mengabarkan bahwa suaminya tengah diperiksa polisi terkait temuan yang mencengangkan.


"Pak.. Ada apa ini?" Tanya Dara, suaranya melemah.


"Saudara Nathan tertangkap basah sedang melakukan pesta sabu di sebuah hotel. Kami menemukan sejumlah barang bukti" Polisi tersebut membeberkan bukti-bukti di atas meja, tepat di hadapan Dara yang kian shock.


"Nath.. Kamu.." Lirih Dara.


"Sudah saya katakan berapa kali bahwa saya di fitnah. Saya yakin ada seseorang yang menjebak!" Bantah Nathan untuk yang kesekian kali yang hanya di anggap angin lalu oleh polisi. Ia menoleh ke arah Dara yang menatapnya nanar. "Ra.. Kamu percaya aku kan?"


Dara tak mampu berkata lagi. Dia hanya termenung menyaksikan kenyataan di depan matanya.


"Pak.. Saya Keenan, kakak dari Nathan, saya sangat mengenal adik saya. Apa tidak bisa di pertimbangkan lagi pengakuan darinya? Bisa jadi apa yang diucapkannya benar. Dia di fitnah, setahu saya, sekarang Nathan ini sudah tidak pernah lagi menyentuh barang-barang tersebut" Bela Keenan berusaha mengeluarkan argumennya.


"Semua bukti sudah sangat kuat. Kami juga menemukan dia dalam keadaan setengah sadar. Saudara Nathan juga punya riwayat dengan barang-barang haram ini. Sempat masuk pusat rehabilitasi pula. Kemungkinannya cukup besar jika dia punya hasrat untuk kembali mengulanginya" Bantah polisi tak mau kalah.


Nathan tertunduk lesu. Dia sudah lelah dengan pembelaannya yang tak ada pengaruh sama sekali.


"Apa? Nathan ada riwayat.."


"Dara, itu sudah berlalu cukup lama. Yang pasti sebelum kamu menikah dengannya" Ucap Keenan berusaha mendinginkan suasana.


"Malam ini Nathan harus kami tahan, sambil menunggu investigasi lebih lanjut. Jika terbukti tidak bersalah, maka saudara Nathan akan kami bebaskan. Harap saudara sekalian mengerti"


Salah seorang rekan polisi yang lain segera memberi instruksi pada Nathan agar bangkit dari kursi. Lengannya di genggam erat oleh sang polisi dan di arahkan mengikuti langkahnya. Dara terkesiap, tak kalah cepat ia meraih lengan Nathan yang lain dan berusaha menahan langkahnya.


"Nath.." Tatap Dara mengiba. Tak ada kata yang mampu terucap selain hanya memanggil-manggil namanya dengan lirih. Dia tak menyangka suaminya akan menjadi narapidana dengan kasus seperti itu.


Nathan membalas tatapan mata Dara yang berkaca-kaca. Wanita ini, begitu mengkhawatirkannya. Nampak sekali pancaran perasaan tulus darinya yang dapat ia tangkap. Ketika akhirnya dia menyadari itu, secara refleks bibirnya memahat senyum yang dihadiahkan untuk Dara. Sebagai isyarat bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Pria itu melepaskan genggaman tangan Dara dari lengannya. Ia membelai lembut pipi istrinya yang memerah, lengkap dengan secercah air mata yang masih nampak disana. Dara tak merespon, dia membiarkan dirinya hanyut dalam belaian Nathan yang dicintai.


Namun semua tak merubah apapun. Polisi itu tetap membawa Nathan menuju sel yang akan di tempatinya. Belaian hangat itu seakan memuai seiring dengan menghilangnya Nathan dari hadapan Dara.


"Naathh.." Lirih Dara. Dia masih berdiri di tempatnya dengan tubuh yang bergetar. Semua bagai mimpi, sisi Nathan yang belum pernah diketahuinya secara gamblang di jejalkan ke dalam kepalanya hingga terasa sesak.


Dara masih tidak mampu mencerna dengan baik peristiwa yang terjadi. Air mata semakin deras membasahi wajahnya, dengan sigap Keenan mendekat dan merangkul Dara dari punggungnya. Memeluk dan berusaha memberinya ketenangan.


Sementara Mike masih di tempatnya, serupa dengan Dara dan Keenan ia pun tak menyangka sama sekali dengan apa yang menimpa Nathan saat ini. Mereka baru belum lama berjumpa, dan sekarang Mike harus menyaksikan kawannya di kurung. Mengulang apa yang seharusnya sudah di kubur dalam-dalam.


...***...


Dara adalah pihak yang paling terpukul. Rasa kecewa seakan menjalari seluruh pembuluh darah, meremukkan tulang-tulangnya dalam waktu yang bersamaan. Otaknya sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja akan terjadi. Salah satunya adalah ketakutan terbesarnya, sang buah hati yang akan kehilangan sosok seorang ayah.


Air mata masih membuat jejak di wajahnya, seakan belum puas keluar dari tempatnya. Dara melangkah gontai menuju kamar, diiringi Keenan dari belakang. Kakinya terhenti, tepat di ambang pintu. Ia merasakan kepalanya yang tiba-tiba pusing dan pandangannya kabur. Dara berusaha menghilangkan rasa tak nyaman itu dengan memijit-mijit dahinya, meskipun tak berhasil.


Tubuhnya mendadak lemas. Ketika ia mencoba untuk melanjutkan langkah, kakinya seakan tak dapat dipergunakan dengan baik. Dara oleng dan hampir jatuh, tapi Keenan dengan sigap menangkap tubuh wanita lemah itu.


"Dara.. Kamu kenapa?" Nada ke khawatiran terucap jelas dari bibir Keenan.


"Aku.. Tiba-tiba pusing.."


"Ayo.. Kakak bantu ya. Kamu harus segera istirahat"


Keenan membantu Dara dengan membopong tubuhnya menuju kamar. Dengan penuh perhatian ia mendudukkan Dara di pinggir ranjang agar adik iparnya itu beristirahat.


"Hiks.. Hiks.." Air mata nampak makin deras membasahi wajah cantik Dara.


"Dara.." Panggil Keenan. Suaranya melembut.


"Aku.. Benar-benar nggak menyangka.. Aku.."


Keenan duduk di sebelah Dara dan berusaha memberi ketenangan dengan merangkulnya. Dia amat prihatin melihat kondisi Dara yang masih belum bisa menerima kenyataan. Dara tampak begitu tak berdaya, dengan peristiwa yang baru saja terjadi.


"Aku nggak tau kalau ternyata Nathan terlibat kasus seperti itu, dan bahkan ini bukan kali pertama"


Keenan membelai lembut puncak kepala Dara yang menempel di dadanya. Ia dapat dengan jelas merasakan tubuh wanita itu bergetar. Perasaan sayang yang tulus mengalir tiba-tiba untuknya, membuat Keenan bahkan tak mampu mengendalikan laju jantungnya yang mendadak mengalami peningkatan.


"Dara.. Tenangkan dirimu ya. Semua pasti akan baik-baik saja" Keenan menarik napas dalam-dalam pada akhir kalimat nya.


Dara tak menjawab, ia terus terisak dan tenggelam dalam kesedihannya. Bagaimana bisa nasehat-nasehat semu seperti yang baru saja Keenan ucapkan mampu memperbaiki hatinya yang terlanjur kecewa.


.


.


.


Keenan membiarkan Dara terbenam dalam pelukannya. Meski tahu seharusnya dia tak berada dalam jarak sedekat ini dengan Dara, tapi ia memilih untuk mengabaikan aturan-aturan tersebut. Yang bisa dilakukannya hanya memberi Dara ketenangan di tengah masalah yang sedang menerpa. Tak ada yang lain.


Isak tangis Dara sudah benar-benar lenyap, ia sudah terlelap dari sekitar dua puluh menit yang lalu. Meski terasa lumayan pegal, namun Keenan justru menikmati momen ini. Bukan bermaksud mencari kesempatan atau istilah-istilah keji lainnya, tapi dia terlalu iba jika harus membiarkan Dara yang tengah hamil itu melewati saat-saat seperti ini sendirian. Bukankah itu fungsi seorang kakak laki-laki? Menjaga dan melindungi adiknya?


Kepala Dara yang lemah tergolek di atas lengan sebelah kanan milik Keenan. Matanya hampir sembab, rona merah masih menonjol di wajahnya. Keenan mengusap dengan hati-hati air mata yang menjejak di pipi Dara, khawatir wanita itu akan bangun jika ia sembrono. Kulit Dara terasa sangat halus dibawah jemarinya.


Keenan merebahkan Dara di atas ranjang perlahan, dia benar-benar sudah sangat lelap. Sudah pasti karena kelelahan. Sebelum meninggalkan kamar, Keenan memandangi Dara sejenak memastikan wanita itu akan baik-baik saja. Napasnya nampak naik turun dengan ritme yang beraturan. Pria itu dapat bernapas lega.


Ia melangkahkan kaki menjauh dari Dara, keluar dari kamar dan membiarkan adik ipar yang disayangi nya mendapatkan istirahat yang cukup.