
Esok hari, Nathan memboyong Dara ke tempat wisata tujuannya. Menebus janji yang dibuatnya kemarin. Sekaligus mewujudkan keinginan kecil sang istri yang sangat menginginkan naik wahana kincir angin raksasa.
Hari sudah siang, matahari cukup terik. Dara mengenakan dress hamil polos berlengan pendek, dan panjangnya mencapai bawah lutut warna broken white, dengan aksen karet di atas perut. Cuttingan bagian dada nampak manis menyatu dengan lingkar dadanya yang kecil. Pemilihan warna nya juga sangat tepat, menjadikan tampilannya sederhana namun tetap memesona bagai bidadari.
Dia membiarkan rambut hitam panjang nan tebalnya tergerai indah, dengan hanya mengikat sedikit pada bagian atas menggunakan jepitan di bagian belakang. Dengan make up tipis, aura wajahnya nampak terpancar dengan cerah. Membuat Nathan kesulitan memalingkan pandangan darinya.
Pria itu terpesona sebegitu dalam pada ibu hamil yang duduk di sebelahnya, sejak berangkat dari apartment, ia hampir tak bisa berhenti menatap Dara sambil senyam senyum sendiri di belakang setir.
Hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Nathan lebih suka membiarkan Dara berjalan kegirangan di depannya karena telah berhasil menapakkan kaki di sana.
Nathan mengulas senyum, mengamati tingkah Dara yang mendadak childish. Jelas sekali dia amat bahagia, dan hal ini tentu juga otomatis membuatnya bahagia.
Cuaca di kota Jakarta begitu panas siang ini, Nathan mengenakan kacamata hitam nya, mengurangi efek silau. Ia memakai kaos polos berbahan cotton warna putih juga, senada dengan Dara. Lengkap dengan celana blue jeans dan sepatu sneakers yang melindungi kakinya.
Beberapa orang yang menyadari kehadirannya sesekali melempar pandangan ke arahnya, kemudian pada Dara. Sedikit berbisik, sambil tersenyum yang entah apa makna nya. Yang bisa Nathan lakukan hanyalah membalas senyum mereka se ramah mungkin.
"Ini dia.." Ucap Nathan sambil menyodorkan es krim cone rasa vanilla yang diterima dengan baik oleh Dara.
"Waah.. Makasih!" Wanita itu dengan antusias menjilati setiap bagian dari es krim di tangannya. "Kapan kita naik kincir anginnya Nath?" Lanjutnya mengajukan pertanyaan yang entah sudah keberapa kalinya sejak tadi.
"Sebentar lagi sayang. Sekarang masih panas. Kita jelajahi yang lain dulu, oke?"
Dara mengerucutkan bibirnya, memberi isyarat protes pada suaminya yang justru terkekeh karena tingkahnya.
"Duh.. Ibu hamil ini sekarang kerjaannya ngambek terus ya. Dara, kamu itu benar-benar seperti anak kecil. Gemesin!" Nathan mengoles ujung es krim nya ke hidung Dara, meninggalkan setetes krim yang manis di sana.
"Aahh.. Nathaann!!"
"Ha.. Ha.. Ha.. Tangkap aku kalau bisa!" Pria itu berlari kecil menjauh dari Dara yang nampak jengkel.
Dara berusaha mengejar, namun beban perutnya yang besar menghambat langkahnya. Ia berhenti berlari, berusaha mengambil napas teratur, di iringi dengan gelak tawa dari suaminya yang jahil.
"Ayo sayang. Masa segitu aja lari nya" Kelakar Nathan yang berada dalam jarak beberapa langkah di depannya.
"Hosh.. Hosh.. Kalau anak kita sudah lahir, aku pasti akan mengalahkanmu Nath!"
Nathan kembali padanya, mulai tak tega karena Dara nampak kelelahan. Namun ketika akhirnya ia sampai di depannya, Dara malah membalas dengan mengoleskan krim ke wajahnya, tepatnya di bagian pipi. Kemudian berlari kecil menjauh dari pria itu.
"Hhmm.. Balas dendam ya"
Dara tergelak sambil terus melangkahkan kaki, tapi tentu ia akan selalu kalah dari Nathan yang langkahnya dua kali lipat lebih lebar darinya.
Nathan menangkapnya, mendekap tubuhnya erat. Di tengah-tengah beberapa pasang mata yang menyaksikan kemesraan mereka dengan pikiran masing-masing.
...***...
"Akhirnya.. Kakiku menapakkan wahana ini juga" Ucap Dara dengan mata berbinar. Nathan yang duduk di depannya menatap wajah ceria itu dengan senang.
Wahana kincir angin itu mereka naiki setelah puas berkeliling taman hiburan sampai jelang sore, dengan sinar matahari yang mulai bersahabat dibanding siang tadi. Perlahan mereka naik sampai di ketinggian yang cukup membuat Nathan bergidik, lalu turun, dan tak lama naik lagi.
Dara tak hentinya mengulas senyum, merasa amat senang dengan permainan itu. Rambutnya yang halus tergerai, nampak melambai terbawa mengikuti arah angin.
"Nath.." Panggil Dara, berusaha menggubris lamunan Nathan sembari menatapnya.
"Iya?" Pria itu mengerjap.
"Makasih ya, sudah mengabulkan keinginanku"
Nathan memahat senyum, membuat kadar ketampanannya naik seratus kali lipat.
"Sama-sama. Sepertinya kamu sangat menyukainya ya"
"Sangat!" Sahut Dara, ia mengedarkan pandangannya lagi ke pemandangan laut Jakarta yang terpampang jelas di sekelilingnya.
"Ra.. Boleh aku tanya?" Ucap Nathan membuka obrolan.
"Boleh.." Dara menyahut tanpa mengalihkan sorot matanya.
Dara menoleh, kali ini menatap suaminya dengan serius.
"Simple saja. Karena kamu suamiku"
"Lalu kenapa kamu mengijinkan aku jadi suamimu?"
Dara nampak menghela napas sejenak. Kemudian memberi Nathan sebuah senyum menawan.
"Pertanyaan kamu itu terdengar sederhana, tapi cukup sulit untuk dijawab Nath.." Ucap Dara.
"Kamu pasti tau dengan yang namanya takdir kan? Aku nggak kenal kamu sama sekali. Begitu juga sebaliknya. Ketika aku mengenal bunda dan ia menjodohkanku denganmu, entah bagaimana hatiku selalu berkata 'iya'. Sampai aku nggak bisa mengerti perasaanku sendiri" Lanjutnya.
Nathan memasang telinga dan menyimak baik-baik kalimat istrinya yang terdengar belum selesai.
"Lalu ketika akhirnya kita menikah, rasa cinta itu timbul begitu saja. Nggak peduli bagaimana perlakuanmu padaku, perasaan itu justru terus berkembang. Dan.. aku merasa bahwa apa yang dibilang orang-orang itu benar. Mencintai seseorang terkadang tidak butuh alasan"
Dara menatap intens kedua mata Nathan yang tampak berkaca-kaca dibuatnya.
"Ya itulah takdir. Kita nggak pernah tau kapan dan bagaimana ia datang. Tiba-tiba udah ada di depan mata. Seperti aku, tiba-tiba jatuh cinta sama kamu, yang nggak pernah aku sadari sejak kapan"
"Makasih ya Ra, karena kamu sudah memilih takdir itu"
Dara kembali tersenyum, menampakkan lesung pipi nya. Mereka saling memandang penuh cinta, ketika wahana yang ditumpangi mencapai puncaknya, paling tinggi, sambil menggumamkan perasaan dan harapan satu sama lain di hati masing-masing. Berharap Tuhan akan langsung mendengar dan mengabulkannya.
Matahari sore yang indah bersinar begitu terang, posisinya ada di belakang Dara, sedikit menyamping dari sorot mata Nathan. Gerakan wahana yang perlahan juga membuat rambut panjang indah itu menari-nari lembut mengikuti angin.
Dara menoleh ke arah lautan lepas, tempat matahari akan terbenam dalam beberapa jam lagi. Memandangnya damai sambil menangkap oksigen dan mengatur napas se teratur mungkin.
Siluet dari tubuhnya yang dibingkai sinar mentari di sekelilingnya nampak begitu mempesona. Sekilas, Nathan seakan sedang menyaksikan malaikat yang baru turun dari surga. Dengan helaian rambut yang tak hentinya menari.
Nathan hampir tak mampu bergerak, terhipnotis dalam waktu lama oleh kecantikan Dara.
"Ini indah sekali Nath.." Ucap Dara yang merujuk pada pemandangan di depannya, dengan suaranya yang terdengar pelan. Disaat itulah, Nathan baru tersadar.
"Apa aku akan bisa merasakan keindahan ini lagi?"
"Tentu bisa, kita akan kesini lagi nanti, membawa anak kita"
Dara tidak menoleh, tidak juga menjawab. Ia nampak tenggelam dengan perasaan takjubnya. Dan entah dengan apa lagi.
......***......
.
.
.
.
.
Haii.. apa kabar?? terimakasih teruntuk kalian yg masih setia dengan karya pertama saya An Angel From Her (Malaikat darinya). Nggak nyangka yg awalnya novel ini sangat amat sepi, alhamdulillah skrg udh lumayan ada beberapa yang baca 🤧 *terharu.
Tentu hal ini makin memecut semangat saya untuk menyelesaikan kisah Nathan dan Dara yg sdh bertahun-tahun terkonsep namun blm di up karena segala keterbatasan saya.
nah, saya mau spoiler dikit nih, novel ini sebentar lagi akan tamat. Belum bisa diperkirakan berapa bab lagi sih.. stay tune aja yaa 😉
menurut kalian cerita ini bagus nggak sih? alurnya bagaimana? apakah mudah di mengerti, atau berbelit²?
silahkan drop komentarnya, jgn sungkan. saya akan sangat senang jika dapat masukan dari kalian 💞
Sekali lagi, terimakasih banyak atas kesediaan kalian untuk membaca karya amatir saya. Apalah arti seorang author tanpa para reader 😘🥰