
Nathan membuka kotak hadiah pemberian Dara dengan antusias, penasaran dengan isinya. Sebuah sweater rajut handmade warna biru donker dengan motif garis-garis yang saling bertautan pada bagian dada menyambutnya. Pria itu memperhatikan rumitnya bentuk motif yang dibuat Dara pada sweater tersebut. Dia, bagaimana bisa punya tingkat kesabaran di atas rata-rata?
Dan lagi, benang yang digunakan terasa sangat lembut saat disentuh. Selain itu sweater ini agaknya juga mampu membantunya tetap hangat jika suatu saat berada di tempat dingin. Dalam pandangan pertama Nathan sudah menetapkan bahwa ia menyukai hasil mahakarya Dara yang diam-diam sudah dilihat proses pembuatannya dari beberapa waktu silam.
Setelah puas dengan apa yang didapatnya dari dalam kotak itu, Nathan mengeluarkan ponselnya sejenak dari saku celana dan menekan tombol powernya. Ia baru sadar jika sejak tadi malam ponselnya mati total. Dia bertaruh, Monica pasti berulang kali menghubunginya karena memang sebelumnya dia sudah berjanji akan datang kerumahnya.
Nathan meletakkan ponselnya sembari menunggu selesai proses greeting. Ia beralih ke tiramisu di samping piring nasi gorengnya. Kali ini, dia tak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Takut kalau-kalau dirinya akan kecewa lagi seperti kemarin.
Tapi ini buatan Dara, yang sudah teruji dan terbukti akan keberhasilannya tiap acapkali membuat hidangan untuknya. Nathan tak ingin banyak berasumsi, ia segera membuktikannya dengan langsung menyendok dalam potongan kecil tiramisu tersebut dan melahapnya.
"Astaga.." Pupil matanya membesar. Dia takjub dengan rasa yang masuk ke dalam mulutnya.
"Luar biasa.." Nathan melahap lagi tiramisu yang rasanya sangat enak itu. "Parah sih.. Lebih enak dari yang pernah bunda buat" Gumamnya lagi.
Tak butuh waktu lama bagi Nathan menghabiskan semua hidangan buatan Dara. Ia sangat puas dengan apa yang baru saja di makannya. Semestinya, dia memberikan apresiasi pada sang istri atas jamuannya yang luar biasa itu.
Mengingat dia harus membayar dengan harga yang sudah pasti mahal jika harus mendapatkan makanan seenak itu dari luar. Sementara ini dibuat Dara untuknya secara cuma cuma. Tapi ego lagi-lagi melarangnya berbuat demikian.
"Ddrrtt... Drrttt... Drrrttt..." Getaran dari ponsel di atas meja mengalihkan perhatiannya. Pria itu langsung meraih dan menerima panggilan disana.
"Halo.." Ucapnya memulai pembicaraan.
"Kamu kemana aja sih Nath? Aku nungguin kamu dari semalam, tapi kamu nggak juga datang. Nomormu juga berulang kali ku hubungi tapi nggak aktif. Semua temanmu juga melakukan hal yang sama. Ada apa sih? Apa jangan-jangan semalam kamu pergi dengan Dara?! Tega ya kamu! Seenaknya membatalkan janji sepihak!" Nathan baru mengucapkan satu kata tapi Monica membalas dengan rentetan kalimat pertanyaan yang langsung menyerbunya.
Ia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Monica. "Boleh ku jawab satu per satu?"
"Ya.. Aku akan mendengarkan!"
"Oke.. Jadi semalam aku party. Dengan teman-temanku, di club. Disana aku banyak minum hingga mabuk berat. Aku benar-benar nggak sadar kalau ternyata ponselku mati. Sekarang aku baru saja mengaktifkannya, dan baru tau kalau kamu berulang kali meneleponku. Maaf ya?" Nada penyesalan tergambar jelas dalam kalimatnya.
"Kenapa kamu nggak pulang kerumahku aja sih?" Protes Monica lebih terdengar seperti seorang istri kedua yang meminta hak pada suaminya untuk bermalam di rumahnya.
"Aku nggak sadar Mon. Benar-benar nggak sadar. Itupun teman-temanku yang mengantar pulang ke apartment" Jelas Nathan berharap Monica puas dengan alasannya.
"Kamu nggak mengada-ada kan?!"
"Untuk apa sih, sayang? Untuk apa aku mengarang cerita?"
Monica tak menjawab berdetik-detik. Mungkin sedang mencoba untuk menetralisir perasaannya.
"Honey?" Panggil Nathan dengan lembut.
"Ya?"
"Kok diam aja?"
"Entahlah, aku nggak mengerti dengan perasaanku sendiri"
Nathan mengatupkan mulutnya. Tak memberi komentar apapun.
"Nath.." Panggil Monica tiba-tiba.
"Ya, honey?"
"Oke.. Dimana?"
"Di cafe"
"Noted, aku akan kesana sebentar lagi. Tunggu ya"
"Oke. See you.." Tutup Monica. "I love you.." Imbuhnya. Nathan baru membuka mulut untuk membalas pesan cintanya, tapi Monica keburu menutup panggilan itu.
...***...
Dara duduk termenung di ujung ranjang menghadap jendela kamar yang menyajikan pemandangan kota metropolitan di pagi jelang siang hari itu. Sambil memainkan jemarinya sendiri dia berusaha untuk mengatur napas agar kembali stabil. Memberi ruang bagi paru-paru dan jantungnya agar bekerja dengan normal sebagaimana mestinya.
Pertemuan dengan Nathan bagai suatu hal yang menakutkan bagi Dara setelah melewati malam panjang itu. Kalau bisa, sejujurnya ia tak ingin dulu bertemu dengan suaminya. Tapi mana mungkin? Mengingat mereka tinggal dalam satu apartment. Yang memaksa dirinya untuk selalu berhadapan dengan lelaki itu.
Kilas balik tentang apa yang mereka lakukan tadi malam terus membayangi otak Dara. Itu adalah kali pertama seorang laki-laki menggerayangi tubuhnya dengan intim. Mengingat bagaimana Nathan mencumbu seluruh tubuhnya. Lembut dan sangat memanjakan.
Kulit mereka yang saling bersentuhan, hangat tubuh pria yang menindihnya brutal serta memaksanya untuk memberikan mahkota paling berharga yang dimilikinya seumur hidup. Semua rasa itu bagai enggan pergi dari pikirannya. Memenuhi otaknya dengan garis-garis ruwet yang sungguh memusingkan.
Dara berusaha keras melupakan semuanya, tapi tak bisa. Dia terlanjur menyayangi Nathan, dan semua yang dilakukan pria itu sangat berarti hingga menambah level rasa sayangnya pada makhluk ber kromosom XY itu. Bisikan-bisikan juga ******* yang dikeluarkan Nathan sepanjang 'pertempuran' membuat Dara bergidik. Suaranya mendadak berubah, terdengar sensual.
Dia tak tahu, apakah ada yang lebih indah dari ini? Malam pertama yang molor hingga satu tahun lamanya terasa telah melemparnya hingga langit ke tujuh. Membungkam rasa ingin tahu nya tentang bagaimana sebenarnya kehidupan malam suami istri yang normal? Bukan seperti dirinya dan Nathan sebelum malam itu.
Dara sedikit menyesal, karena sempat berangan-angan ingin Nathan menyentuhnya. Saat itu dia memaklumi diri sendiri, wajar jika ia ingin merasakan 'hubungan' itu karena memang dirinya telah menikah. Semua wanita normal tentu penasaran.
Tapi meski begitu, ia tetap mengucap syukur berkali-kali karena akhirnya Tuhan mengabulkan salah satu do'a gila nya tersebut. Walau harus merasakan sakit yang luar biasa pada asset berharga miliknya yang telah di 'jebol' Nathan, dan membuat aktifitas berjalan pun bagai sebuah rintangan berat yang mau tak mau harus dihadapinya.
"Huuffhh..." Dara merasa seluruh organ dalam tubunya telah kembali bekerja dengan normal, sementara. Sebelum Nathan masuk ke dalam kamar dan melenggang masuk ke kamar mandi.
Pria itu sempat menaruh perhatiannya pada Dara juga memusatkan mata ke arahnya. Dara menoleh, dan dalam hitungan detik pria itu merusak usaha mati-matian Dara yang tengah mencoba melupakan rasa--entah--apa. Yang membuat dunianya berhenti sejenak.
Entah kenapa, pria memang se egois itu. Dara merasa tak adil, kenapa hanya dia yang berbunga-bunga sepanjang hari? Sementara Nathan begitu datar, usai meminta 'jatah', semua terasa tak ada yang spesial baginya. Dia seenaknya pergi, tanpa terlebih dahulu menanyakan kabarnya, apa yang dirasakannya?
Tak mungkin dia lupa dengan apa yang dilakukannya. Terlalu naif jika menggunakan kata mabuk sebagai alasan. Dia hanya minum bir, bukan obat penghilang ingatan. Apalagi tadi malam dia terlihat begitu menikmatinya, dan beberapa kali berganti posisi. Ahh, ingatan itu lagi.
Dara dapat merasakan bulu romanya yang kembali meremang.
...***...
Reaksi aneh yang ditunjukkan Dara ketika tengah berhadapan langsung dengan Nathan tentu juga memancing rasa penasaran pria blasteran itu. Sambil menyetir mobil jeep nya, pikirannya tak luput dari wanita yang telah satu tahun menyandang status sebagai istrinya tersebut.
Wajah yang cenderung pucat, bahasa tubuh yang kikuk sampai cara berjalannya yang nampak seperti sedang melebarkan kedua kaki sukses menggelayuti pikirannya. Sebenarnya ada apa dengan Dara? Sakit kah atau? Apa? Nathan terus bertanya dalam hati.
Dia masih kehilangan beberapa memori tentang kejadian tadi malam. Sampai dengan saat ini, Nathan baru bisa mengingat teman-teman, club, dan bir yang membuatnya takluk. Tak ada yang lain. Bahkan apa yang dilakukannya ketika sampai di apartment pun tak mampu di jabarkan nya secara gamblang dalam isi kepalanya.
Hal ini membuatnya frustasi. Dia takut kalau-kalau tanpa sadar telah berbuat sesuatu yang bisa menyakiti Dara. Seperti KDRT misalnya. Meski tak cinta, Nathan mengharamkan tangannya untuk melakukan hal buruk pada Dara. Biar bagaimanapun dia wanita, dan dirinya yang telah jadi manusia jangkung sekarang juga lahir dari seorang wanita.
Jika dia menyakiti Dara, sama saja dia telah menyakiti bunda. Dan itu takkan pernah terjadi.
Hari ini, jadwalnya sedang free. Dan Nathan akan memenuhi janjinya dengan Monica untuk bertemu. Membayar hutang janji yang telah diingkarinya semalam. Kemungkinan dia juga akan menemani wanita itu seharian penuh. Jadi setidaknya, ia dapat sedikit mengesampingkan rasa penasarannya tentang Dara. Semoga.