An Angel From Her

An Angel From Her
123# Hari Bahagia Keenan dan Adriana



"Apa kabar Ra?," Ucapku sambil bersimpuh di samping makam Dara istriku yang sangat kucintai. Aku membawakannya rangkaian bunga mawar putih cantik favoritnya. Dan ku letakkan tepat di atas pusara.


Dulu, dia pasti akan langsung memelukku ketika aku menghadiahkan bunga mawar putih untuknya, pelukan hangat yang tak pernah bisa ku lupakan sepanjang hidup.


Setelah empat tahun berselang, baru detik ini aku datang menemui Dara lagi, waktu-waktu sebelumnya aku benar-benar tidak punya nyali. Pun ketika akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Los Angeles, aku tak menyempatkan diri untuk datang sekadar untuk berpamitan.


Semua penyesalan itu seakan kembali merundungku tanpa ampun, menyisakan sakit yang menghujam jantung dengan brutal bahkan ketika aku hanya akan berencana untuk datang kesini.


"Kamu sudah sehat kan? Di sana kamu pasti sangat bahagia. Kami disini merindukanmu Dara, sayang. Bahkan anak kita sudah tumbuh jadi gadis kecil yang cantik, persis seperti bayanganku dulu," Aku berucap sembari mengusap lembut batu nisan bertuliskan namanya.


"Dan kamu harus tau, bahwa aku benar-benar menjelma menjadi ayah yang super protektif, mengerikan," Saat mengingat guyonanku bersama Dara ketika itu, rasanya sedikit menggelitik hingga membuatku terkekeh pelan.


Itu adalah momen saat kami dengan begitu antusias membeli peralatan bayi, dan Dara memegang sebuah baju bayi perempuan sembari membayangkan jika anak kami adalah perempuan.


"Aku memanggilnya Angie, ku rasa itu nama panggilan yang lucu. Tapi maaf ya, hari ini aku belum membawanya kesini. Ibu sangat merindukannya dan belum mengizinkan Angie untuk pergi kemana-mana. Dia memeluknya sangat erat, sangat lama, mungkin sambil membayangkan mu" Ucapku lagi, pada Dara.


Makam Dara sudah lebih rapi dibanding yang dulu. Papan namanya sudah diganti dengan batu nisan hitam berisikan tulisan warna emas yang terukir di atasnya. Tanahnya juga sudah di tumbuhi rumput hijau yang nampak segar dan subur.


Aku membayangkan, Dara sudah jadi bidadari di surga, dengan sepasang sayap cantik, cahaya berkilauan di seluruh tubuhnya, bersenang-senang bersama bidadari lainnya. Dan mungkin sekarang ia sedang memandang ke arahku yang menderita oleh kerinduan akut.


"Ra.." Mendadak dadaku terasa sesak, hingga untuk sekadar bernapas saja sungguh sulit.


"Aku sangat merindukanmu sayang. Datanglah ke mimpiku, datangi aku sekarang dalam wujudmu yang bagaimana saja, entah jadi seekor burung, kupu-kupu yang cantik, atau jika kamu hanya ingin jadi angin silahkan, apapun itu, asal aku tau itu kamu.."


Kedua mataku terasa panas bulir-bulir air yang mendesak ingin keluar pun tak mampu lagi ku tahan. Aku menangis, lagi, menangisi kepergianmu, menangisi diriku yang menyedihkan ini.


Dara, mungkin dulu aku pernah membencimu karena secara tidak langsung kamu sudah memisahkan ku dari Monica. Waktu itu aku hanya memikirkan diri dan keinginanku dan ego ku sendiri, tanpa mempertimbangkan dirimu yang rela menikah dengan penjahat sepertiku.


Bodohnya aku baru menyadari bahwa kamu lebih berharga dari segalanya. Jika waktu bisa diputar ulang, aku akan mencintaimu sejak awal, takkan ku torehkan luka di hati sucimu, takkan ku sia-siakan kehadiranmu.


Walau sekarang aku sudah bisa bangkit, tapi sampai kapanpun kamu takkan tergantikan Dara, sayangku. Ku pastikan kamu yang terakhir, hatiku sudah tertutup sebab kepergianmu bukan hanya membawa raga dan jiwa milikmu sendiri, tapi juga hati dan separuh jiwa milikku yang juga ikut bersamamu.


Aku menyeka sendiri jejak air mata yang membasahi wajah menggunakan punggung tangan. Dan entah hanya perasaanku atau memang benar adanya, aku merasakan kehadiran seseorang di arah belakangku, agak jauh, namun seperti nya dia memperhatikan ku.


Aku bukan mengira itu jin, iblis, atau mungkin Dara yang menjelma jadi seorang manusia. Ya, tapi ini benar manusia, hanya saja aku tak tertarik untuk menoleh. Siapapun itu, aku tidak peduli, sebab saat ini aku hanya ingin menikmati kebersamaan ku dengan Dara. Sebab aku terlalu merindukan nya.


...***...


Dua minggu berlalu sejak kedatangan ku ke tanah air. Satu minggu pertama aku dan Angie tinggal di rumah ibu, dan di minggu kedua barulah aku datang ke rumah bunda di Bandung.


Pesta pernikahan Keenan dan Adriana dilangsungkan di sana dengan mengusung tema outdoor, mereka menyewa sebuah lahan yang lumayan luas, banyak pepohonan rindang dan sejuk juga bunga-bunga cantik yang di tanam di sekelilingnya.


Dekorasi nya juga nampak elegan dengan konsep wedding garden. Ada banyak meja bentuk lingkaran dengan bunga-bunga kecil menghiasi sekeliling nya beserta kursi yang senada.


Altar nya juga di hiasi dengan bunga serupa, dan beberapa tanaman rambat mirip akar bergantungan di arah belakang kursi untuk pengantin.


Sementara Angie, dia sungguh sangat cantik dan menggemaskan. Mengenakan dress warna putih mekar mirip gaun cinderella, dengan rambut panjangnya yang di gerai dan mahkota dari bunga melingkar di kepalanya.


Dia diminta untuk membawa sebuah keranjang kecil berisi kelopak bunga mawar putih yang akan di sebar-sebar nanti.


Ketika aku sampai di lokasi bersama dengan calon pengantin pria, nampak sudah banyak orang yang datang. Beberapa di antaranya adalah keluarga kami. Bahkan ibu, Rangga, dan Lisa juga sudah datang. Mereka langsung menghambur ke arah kami ketika menyadari Angie tiba.


Semua terlihat normal dan berjalan sesuai dengan rencana. Keenan resmi menjadi suami untuk Adriana, begitupun Adriana yang sudah mendapat pengganti suaminya yang dulu. Membuka lembaran baru yang ironi bersama seorang lelaki yang jelas-jelas belum mencintainya.


Tapi, harapku, mereka akan bisa saling mencintai nantinya. Seperti aku dan Dara.


Ketika kedua mempelai itu berdiri di pelaminan untuk menyalami para tamu, aku lantas membayangkan jika saja waktu itu pernikahanku dengan Dara di selenggarakan seperti ini. Tentu akan menyisakan kenangan manis untukku dan dia.


Ah, Nathan! Sadarlah! Beginilah rasanya penyesalan. Sebanyak apapun kamu menghayal, bahkan sampai gila sekalipun, semua yang telah terjadi takkan bisa dirubah lagi.


"Daddy.."


Panggilan Angie seketika membuyarkan lamunan dan khayalanku. Dia menatapku dengan manis.


"Hei sweetheart.."


"You're so handsome"


Aku terkejut dengan ucapan Angie barusan. Dia memujiku.


"Terimakasih. Kamu juga sangat cantik Angie sayang," Balasku sambil membelai pipi kemerahannya.


"Terimakasih.." Balasnya lagi, suaranya lembut sekali.


Setelah memuji dengan manis ia langsung menghambur kembali, bermain dengan teman-teman barunya. Begitulah Angie, dia seolah tahu dengan kegundahan yang tiba-tiba menyerang hatiku.


Saat perasaanku mulai kalut, seringkali Angie datang padaku, dan memberi penghiburan dengan cara apapun yang terlintas di pikirannya. Tapi memuji seperti tadi, memang baru di lakukannya.


Aku memandang lagi Keenan dan Adriana. Wanita itu, entah apa yang menimpa nasibnya, tak ada keluarganya yang datang selain seorang lelaki paruh baya yang ia klaim sebagai pamannya, dan dia juga yang menjadi wali nikahnya.


Sebelum hari ini datang, dia memang pernah bilang bahwa ayahnya sakit dan kemungkinan besar tak bisa hadir, pun dengan ibunya yang juga berhalangan sebab harus mengurus ayahnya.


Dalam diam aku berdo'a semoga Keenan menjadi laki-laki terakhir dalam hidupnya. Dan aku sangat tahu, orang seperti apa kakakku.


Aku pernah menolaknya, sebab memang aku tak pernah mencintainya. Aku tidak ingin menikahinya hanya karena kasihan, atau sebagai tanda terimakasih atas ketersediaan nya menjadi ibu susuan untuk anakku.


Aku sadar, pernikahan tidak bisa dilandasi dengan alasan-alasan seperti itu. Adriana pantas bahagia, bagaimanapun masa lalunya, seperti apapun keluarganya.


Dan aku, mungkin akan bertahan dengan gelar ku sebagai single parent, untuk putriku, Angie tersayang.