
Kira-kira sekitar selepas ashar, Nathan akhirnya berhasil menginjakkan lagi kakinya di apartment yang telah ditinggalkannya hampir dua minggu. Tubuhnya terasa begitu lelah akibat menapaki jalan yang begitu panjang sebelum akhirnya ia mendapatkan sebuah tumpangan dari seseorang yang mengendarai sepeda motor dan kebetulan lewat disana.
Menumpang setengah jalan dengan orang baik itu, hanya hingga dirinya menemukan alat transportasi lain untuk ditumpangi. Tak lupa ia juga menghadiahi orang tersebut dengan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Hahh" Mbak Asih begitu terkejut kala mendapati sang tuan muda tiba-tiba saja berada di apartment. Mbak Asih baru akan pulang setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Mbak.. Apa bunda disini?" Tanya Nathan.
"M-mas Nathan, kemana saja?" Ucap mbak Asih terbata.
"Ceritanya panjang mbak. Saya mengkhawatirkan bunda. Apa bunda disini? Bunda baik-baik saja kah mbak?" Tanya Nathan cemas.
"Emm.. Anu.. Mas.. Ibu.. Di opname di rumah sakit. Sudah hampir dua minggu"
"Apa?!"
"Waktu itu, ibu kolaps. Tiba-tiba tergeletak dikamar. Jadi saya dan non Dara langsung membawa ibu ke rumah sakit. Keadaan ibu cukup gawat, lalu dokter bilang ibu harus di rawat inap mas"
Nathan tercengang dengan apa yang baru saja disampaikan mbak Asih. Tubuhnya terasa lemas seketika, ternyata bunda benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Ya ampun.." Gumam Nathan. Tanpa pikir panjang ia segera pergi ke rumah sakit tempat bunda di rawat, setelah sebelumnya menanyakan nama rumah sakit tersebut pada mbak Asih terlebih dahulu.
.
.
.
.
Nathan membuka salah satu pintu ruang rawat inap di depannya dengan tergesa-gesa. Tak ada yang difikirkannya saat ini selain melihat sendiri kondisi sang ibu. Sepanjang jalan menuju rumah sakit ia hanya terus mengutuki dirinya yang telah dengan bodohnya menghilang dan menyebabkan kekacauan ini.
Cklek...
"Ah?" Ucap seseorang dari dalam ruangan yang juga membuka handle pintu secara bersamaan.
"N-nathan?" Dara yang saat itu tengah menemani bunda sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
Nathan menghentikan langkahnya sejenak, tak berbeda dari Dara, ia juga cukup terkejut dengan keberadaan wanita itu disana.
"Nath.. Kamu.. kemana saja" Tanya Dara lirih.
"Bunda di dalam?"
Dara menjawab dengan anggukan perlahan. Ia juga sedikit menggeser tubuhnya dari depan pintu agar Nathan dapat masuk dan melihat sendiri keadaan bunda. Nampak bunda terbaring lemah dengan infus yang menempel di punggung tangannya, serta selang oksigen di hidungnya.
Wajah bunda terlihat sangat pucat. Pemandangan ini, benar-benar sangat mengiris hati dan perasaan Nathan.
"Sakit jantung bunda kambuh, beberapa hari setelah kepergianmu. Itu, di tanggal pernikahan kita. Aku dan mbak Asih memutuskan untuk langsung membawa bunda kesini. Karena kondisi bunda cukup gawat, dokter meminta agar bunda di rawat inap saja" Tutur Dara, menjelaskan kronologi yang dialami bunda pada Nathan yang berdiri dengan gontai disamping ranjang tempat bunda terbaring.
"Bunda mengalami penyempitan pembuluh darah lagi. Maka dari itu, dilakukan kembali operasi pemasangan ring yang baru" Lanjut Dara.
Nathan tak menanggapi, namun tetap mendengarkan penjelasan dari Dara dengan fokus. Meski tidak menolehkan kepalanya sedikitpun pada Dara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sekitar satu minggu disini, bunda membaik. Kami membawa bunda pulang ke apartment, tapi, baru satu hari disana, bunda drop lagi. Karena tidak mau makan dan juga minum obatnya. Aku benar-benar tidak mampu lagi membujuk bunda. Rasanya seperti, bunda tak punya kemauan untuk hidup lagi"
Hati Nathan makin pedih seiring dengan meluncurnya penjelasan dari mulut Dara. Dirinya tak menyangka, bunda akan jadi korban akibat ulahnya. Tangannya menggenggam lembut tangan bunda yang terasa dingin. Ia dapat melihat nafas bunda yang sedikit lemah.
"Aku senang kamu kembali. Semoga setelah ini, bunda segera pulih seperti sedia kala" Tutup Dara.
"Bunda.." Lirih Nathan. Matanya berkaca-kaca memandangi sang ibu yang nampak begitu tak berdaya.
Isi kepalanya bergemuruh, menyesali perbuatannya dan sedikit flashback pada momen-momen kebersamaannya dengan bunda sedari kecil.
Bunda, adalah garda terdepan baginya. Ia malaikat tak bersayap yang tak kenal lelah merawat, mendidik dan menjaga dirinya bersama Keenan sang kakak. Ketika kaki kecilnya tak pandai berpijak dan terluka, bunda selalu dengan sabar dan lembut membantunya bangkit kembali. Menyemangatinya penuh kasih sayang, dan mendukung langkahnya kemanapun angin membawanya.
Saat tubuh lemahnya diserang demam dan merasakan sakit di sekujur tubuh. Bunda adalah orang yang paling khawatir dengannya, dirinya tak segan terjaga dua puluh empat jam demi merawat dan melayani apa yang diperlukannya. Menyuapi sesendok demi sesendok makanan yang didapatkannya dengan susah payah, karena kemiskinan yang dialami semasa kecil Nathan sungguh membuat mereka sering menahan lapar.
Ketika mendapat makanan enak yang sesekali diberikan oleh orang baik pun bunda hanya mengambil sisa-sisa dari yang telah dimakan anak-anaknya. Tak mengapa, yang penting buah hatinya tak kelaparan. Pikirnya.
Pun saat Nathan beranjak dewasa dan memilih untuk kuliah di luar kota. Bunda yang telah meraih kesuksesan sebagai pengusaha kala itu selalu sigap menanyakan kabar dan mengiriminya uang serta beberapa makanan yang di sukainya. Nathan tak pernah luput dari perhatian bunda sekecil apapun, dirinya dan juga sang kakak selalu jadi prioritas dalam hidupnya.
Dari semua yang telah diberikan bunda padanya, rasanya amat tidak adil jika dirinya hanya akan terus jadi beban bagi seseorang yang pasti rela jika harus menukar nyawa untuk dirinya. Seperti yang pernah dikatakan Mike waktu itu, 'membalas semua jasa orang tua pada kita adalah sebuah ketidakmungkinan. Namun membahagiakannya, adalah hal yang paling masuk akal'.
Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri takkan lagi membangkang dan berusaha untuk membahagiakan bunda. Walaupun harus ditempuh dengan cara yang berlawanan dengan kehendaknya.
...***...
"Sst.. Jangan menangis lagi sayangku. Jadilah laki-laki tangguh yang tak mudah menyerah, layaknya mentari yang senantiasa menerangi dan memberi kehidupan, serta rembulan yang tak kenal lelah menerangi malam di tengah mimpi milyaran orang dibumi"
Nathan merasakan sedikit pergerakan dari tangan bunda yang ia genggam sepanjang malam hingga pagi hari datang. Pria itu terlelap dengan posisi terduduk di kursi, hanya bagian kepala hingga setengah bahunya yang di sangga pada tepi ranjang.
"Hhmmh.." Rintih bunda.
Nathan mengerjap dan langsung membangunkan tubuhnya. Ia memperhatikan bunda, yang mulai memberi respon.
"Bunda?" Panggil Nathan pelan.
"Hhh..hh"
"Bunda? Bunda sadarlah. Ini aku. Aku datang. Lihatlah.. Aku disini" Ucap Nathan berusaha membantu menyadarkan bunda yang masih belum membuka matanya.
Disaat yang bersamaan dokter datang untuk melakukan pemeriksaan rutin. Nathan segera memberitahu bahwa baru saja ada respon yang diberikan bunda. Sang dokter dan satu perawat yang menyertainya segera mengecek kondisi bunda dengan saksama.
Nathan mundur beberapa langkah memberi ruang pada dokter, namun pandangannya juga tetap tak luput dari bunda yang terlihat mulai sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Selamat pagi bu, bagaimana keadaannya? Apa sudah merasa lebih baik?" Sapa sang dokter pada bunda yang telah sepenuhnya mencapai kesadaran.
"Anak saya.." Balas bunda dengan suara yang lemah.
Nathan melangkahkan kaki dan menghampiri bunda.
"Bunda?" Sapa Nathan yang berdiri tepat di sebelah dokter. Bunda tertegun sekian detik memastikan matanya tak salah melihat.
"Na..Nathan.." Ucap bunda yang masih kesulitan berucap.
"Aku disini bunda. Maafkan aku" Lirih Nathan.
Bulir-bulir air menyembul di ujung pelupuk mata bunda, mengalir mengikuti setiap lekukan wajahnya. Ia tak menyangka, pada akhirnya Nathan muncul di hadapannya. Dirinya sangat ingin memeluk putra kesayangannya tersebut, namun tubuhnya tak mendukung sama sekali.
"Nak.." Ucap bunda dengan suara yang hampir hilang.
Dokter menggeser tubuhnya, agar Nathan bisa lebih dekat dengan sang ibu. Ia meraih salah satu tangan bunda dan menciumnya sembari terisak, menyesali setiap perbuatan yang telah dilakukannya.
"Maafkan aku bunda. Tolong ampuni aku" Isak Nathan. Pria bertatto itu memang tak segarang penampilannya, walau sering membangkang, dia juga adalah seorang anak yang sangat mencintai ibunya. Dan tentu bercita-cita untuk jadi anak yang berbakti.
...******...