An Angel From Her

An Angel From Her
121# Berpamitan



Nathan bersyukur memiliki keluarga yang suportif, sebab mereka mau mendukung semua keputusannya. Bahkan bunda yang dulu seringkali mengekang, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ia dengan mudah menyetujui keinginannya untuk hijrah, meski di sisi lain, Nathan tidak tahu pasti apakah ada pergolakan batin yang di alami ibunya.


H-2 sebelum keberangkatannya ke Amerika Serikat, Nathan menyempatkan diri untuk mampir ke apartment yang sudah cukup lama tak di huni. Mbak Asih masih bekerja di sana dengan datang ke apartment sekitar tiga hari sekali hanya untuk sekadar bersih-bersih.


Bunda berencana akan menyewakan nya, tapi Nathan mengusul agar dijual saja beserta semua furnitur yang ada, kecuali isi dalam studionya.


Pria itu berjalan gontai menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Melangkahkan kaki ke kamar lama nya bersama Dara. Nathan membuka pintunya, dan pemandangan kamar yang tak berubah sama sekali menyambut nya.


Dengan keraguan yang mengacaukan hati, Nathan memasuki kamar tersebut. Sembari melangkah ia mengamati fotonya yang di pigura cukup besar menggantung di dinding. Ia mengulas senyum getir, mengingat sebentar lagi ia akan meninggalkan semuanya.


Ketenaran, gemerlap panggung bertabur para penggemar yang memenuhi lokasi membentuk lautan manusia, teriakan mereka yang histeris ketika ia memainkan gitar dengan piawai, semua hal yang mampu melambungkan perasaannya hingga ke langit, kini hanya tinggal kenangan manis yang akan di ingatnya seumur hidup.


Nathan menoleh, ke arah ranjang empuknya, itu adalah tempat dimana pertama kalinya ia bercinta dengan Dara, walau dalam keterpaksaan yang pada akhirnya mendatangkan Angel ke dunia. Tempat yang mereka gunakan untuk saling bercerita, mencurahkan isi hati satu sama lain sebelum terlelap. Tempat dimana semuanya bermula, rasa cinta yang mengakar di hati yang begitu menyesakkan.


Kemudian ia beralih ke lemari pakaian lalu membukanya perlahan, dan ternyata masih ada cukup banyak pakaian miliknya juga beberapa milik Dara di dalam. Matanya terpaku pada sebuah kotak persegi empat yang tersimpan di bagian atas, Nathan meraih dan langsung membukanya.


Ia baru ingat, ternyata itu adalah kotak hadiah ulang tahun yang Dara berikan, berisi sweater rajut hangat hasil tangan terampilnya. Ia bahkan belum sempat memakainya sama sekali, sebab waktu itu, setelah Dara menyerahkan padanya ia hanya melihat sekilas lalu menyimpannya dalam lemari tanpa membuang kotaknya.


Nathan memeluk sweater itu mengusap-usap wajah di permukaannya yang lembut.


"Hadiah yang sangat bagus sayang, inilah salah satu yang akan selalu mengingatkanku padamu," Gumam Nathan. Lalu ia mengenakannya, sweater itu membalut tubuhnya hangat, mengingatkannya dengan pelukan Dara.


Ia baru hendak menutup pintu lemari seperti semula ketika sebuah amplop panjang tiba-tiba jatuh dari sana. Nathan membungkuk untuk meraihnya, lalu membuka isinya.


Itu adalah sebuah brosur fakultas kedokteran yang terdapat di salah satu universitas bergengsi, dan rencananya ia akan mendaftarkan Dara untuk mengikuti studi kedokteran sesuai impiannya setelah nanti ia melahirkan.


Flashback on..


"Apa ini Nath?," Nampak jelas ekspresi wajah Dara yang bertanya-tanya ketika Nathan menyerahkan sebuah amplop putih panjang ke atas tangannya.


"Buka dong."


Dara mengikuti instruksi dari Nathan dengan langsung membuka amplop tersebut. Menarik isi di dalamnya lalu membuka lipatan kertas di tangannya.


"Fakultas kedokteran?," Ucapnya setelah mengambil jeda satu menit untuk membaca tulisan yang tertera di sana.


"Hu'um.." Gumam Nathan sambil menganggukkan kepala.


"Apa maksudnya Nath?"


"Begini sayang," Ucap Nathan bersiap akan menjawab pertanyaan Dara. "Aku kan pernah bilang sama kamu, kalau suatu saat ada kesempatan, jangan ragu untuk mengambilnya. Karena aku juga nggak akan membatasi ruang gerakmu. Jadi, aku berencana akan mendaftarkan kamu di fakultas kedokteran setelah nanti melahirkan. Gimana?"


Dara tentu terkejut dengan apa yang baru disampaikan suaminya barusan, apakah ini waktunya? Dimana pada akhirnya ia benar-benar bisa mewujudkan impian yang sempat tertunda karena keadaan? Benarkah? Dara bahkan hampir tak memercayai nya.


"K-kamu.. Sungguh-sungguh Nath?"


"Tentu. Untuk apa aku bercanda sayang?"


Dara memandang lagi brosur di tangannya, universitas ini adalah salah satu incarannya dulu. Dan sekarang, ia benar-benar akan menjalani pendidikan di sana. Ia lalu menatap wajah suaminya dengan mata yang berbinar, hatinya dipenuhi kebahagiaan hingga mencapai puncak nya, membuat kedua matanya terasa panas kemudian mengeluarkan air mata secara sembrono.


"Kamu suka? Kampusnya?"


Dara tidak menjawab, ia langsung menyambar tubuh Nathan dan menariknya dalam dekapan yang sangat erat. Menangis haru dalam pelukan suaminya yang juga melingkarkan kedua lengan di punggungnya, lalu salah satunya ia gunakan untuk membelai lembut puncak kepala nya.


"Cukup menjadi istriku selamanya, dan seorang dokter yang dermawan."


"Aku sangat mencintaimu. Terimakasih banyak.. Hiks.." Ucap Dara dengan suara yang bergetar.


Flashback end


Momen indah dimana Dara begitu terharu dengan pemberian nya yang ia nilai belum seberapa sungguh selalu melekat dalam ingatan. Melihat betapa polosnya uraian kata terimakasih yang berkali-kali diucapkannya, pendar penuh keharuan yang bermain di kedua mata teduhnya, semua hal darinya sungguh menciptakan kenangan manis dengan rasa sakit yang datang bersamaan.


Nathan menyimpan lagi brosur tersebut sambil berangan-angan, semoga di masa depan putri semata wayangnya itu juga memiliki cita-cita yang sama dengan ibunya. Menjadi seorang pengabdi bagi masyarakat, seorang yang cerdas, dan memiliki ilmu yang bisa membawa manfaat bagi banyak orang.


...***...


Selesai dengan wisata masa lalu nya, Nathan juga menyempatkan diri untuk mendatangi kawan-kawannya di basecamp dan tentu di sambut dengan antusias oleh mereka, mengingat pria itu memang sudah cukup lama tak datang.


Regy sampai memeluknya hangat sebab ia begitu merindukan salah satu anak buahnya tersebut, dan kemudian berkata, "Black Romance nggak pernah sama lagi semenjak lo vakum Nath," Dengan nada mengiba.


"Kenapa? Karena ditinggal fans?," Guyon Nathan.


"Gue nggak tau sih kalau soal itu, nggak pernah ngitungin. Tapi rasanya jadi lain," Keluh nya lagi.


Mike, Adly, dan Nico duduk di sofa ruang tamu basecamp, dengan sorot mata yang sama-sama memandang ke arah Nathan namun dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya satu hal yang sama mungkin muncul dalam benak mereka, bagaimana Nathan bisa kehilangan banyak berat badan jika di lihat dari postur tubuh nya yang lebih kurus?


"Lo yakin Nath bakal hijrah ke LA?," Mike menimbrung.


"Yakin Mike."


"Kalau lo pingin buka usaha jual beli alat musik kan bisa disini Nath, kenapa mesti ke sana?," Nada bicara mengandung ketidaksetujuan terdengar jelas dari kalimat Nico.


"Ini bukan soal toko nya Nic, gue merasa masih belum sepenuhnya sanggup kalau harus diam terus di sini. Terlalu banyak kenangan gue sama Dara, kemanapun gue pergi, itu adalah tempat yang pernah gue datangi bersamanya. Ini benar-benar nggak mudah," Jelas Nathan.


"Ya. Gue paham Nath, memang selain lo, kita di sini belum pernah ada yang mengalami peristiwa sesakit yang lo alami sekarang. Kalau gue sangat memaklumi alasan lo, kita juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisi lo," Ucap Regy menengahi, sementara Nathan hanya memandangnya sambil mengulas senyum.


"Apapun itu, kita sebagai sahabat cuma bisa mensupport semua keputusan lo Nath, sukses selalu ya di manapun lo berada," Adly ikut menambahi.


"Thanks ly," Sahut Nathan. "Untuk kalian semua, terimakasih karena sudah mau membersamai gue, bertumbuh sama-sama dalam suka duka, saling mensupport, kompak, dan semua hal yang nggak bisa gue sebut satu-satu. Pokoknya makasih banyak, terutama Regy yang sudah memberi wadah untuk gue berkarya dan menjalankan passion yang gue miliki. Lo manager terbaik gy!" Sambung nya.


Regy yang duduk tepat di sebelahnya tak kuasa lagi menahan haru yang sejak tadi ia tahan mati-matian sebab menyadari sebentar lagi ia akan kehilangan salah satu anak asuh yang di sayangi nya. Ia memeluk Nathan sambil mengusap-usap punggung bagian belakangnya, lalu Nathan juga membalasnya.


Kebersamaan mereka sudah lebih dari lima tahun, nyaris mencapai tahun ke sepuluh jika Nathan tetap tinggal. Meski berat, ia harus legowo menerima keputusan yang di ambil Nathan, itu semua demi kebaikannya, demi seorang gadis kecil yang ia miliki sekarang.


"Gue pasti bakal kangen banget sama lo Nath," Ucap Regy.


"Lo bener-bener ninggalin gue Nath. Kita udah bareng-bareng dari SMU, sekarang lo mau pergi.." Keluh Nico yang nampak begitu berat melepas sahabat baiknya.


"Gue nggak akan ngelupain lo Nic, Mike, Adly," Tanggap Nathan sembari memandang teman-temannya satu per satu.


Black Romance, dan semua cahaya nya yang bersinar ia tutup dengan rasa bahagia sebab telah mendapat support dari semua orang di dalamnya. Nathan merasa beban ini amat berat bertumpu di atas pundaknya, namun semua takkan berubah jika ia tak mau mengambil langkah baru yang bisa saja akan menyelamatkannya dari keterpurukan.


Dia selalu menganggap dirinya masih berada dalam lembah keterpurukan, meski sudah sembuh dari depresi, sebab rasa itu seakan abadi, semesta menghukumnya tanpa belas kasih. Ia hampir menyerah dan memilih untuk mengakhiri semua jika tak ada Angel, hanya Angel, cuma Angel satu-satu nya alasan untuk tetap bertahan.