An Angel From Her

An Angel From Her
23# Rencana



"Halo.." Ucap Nathan ketika akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut. Ia sedikit menjauh dari Dara dan tante Anne yang menoleh ke arahnya.


"Betapa bahagianya mempersiapkan pernikahan. Sayang sekali ya, itu bukan aku" Ucap Monica dari balik telepon.


"Monica.."


"Tengoklah ke bawah lewat jendela di depanmu. Kamu akan menemukan yang mungkin sedang dirindukan" Tutur Monica.


Ucapan Monica barusan membuat Nathan penasaran dan langsung menghampiri jendela. Ia mendapati Monica yang berada di bawah, berdiri di tempat dirinya memarkir mobil.


"Kamu disini"


"Kemarilah sebentar. Ada hal yang ingin ku sampaikan. Aku pastikan kamu tertarik mendengarnya" Ucap Monica seraya mengakhiri panggilan.


Nathan tergoda dengan ajakan Monica, dia memang sangat ingin melihat wajah wanita yang dicintainya itu. Walau mungkin hanya bisa sebentar, tapi hendaknya akan sedikit mengobati kerinduannya yang menumpuk.


Dia langsung bergegas menghampiri Monica setelah sebelumnya berpamitan dengan tante Anne sementara Dara yang tepat berada di sebelahnya diabaikan. Pria itu bahkan menganggap Dara tak ada.


Nathan menuruni tangga, melangkahkan kakinya buru-buru bagai dikejar waktu. Ia tak ingin wanita nya menunggu dirinya terlalu lama. Senyum kemenangan merekah di bibir Monica kala melihat Nathan yang datang padanya. Ia menyambut pria itu dengan pelukan hangatnya.


"Sayangku.. Aku sangat merindukanmu" Ucap Monica.


Nathan melepaskan pelukannya dan menarik tubuh Monica ke belakang mobil, demi menghindari mata yang bisa saja menyaksikan mereka.


"Kamu ada disini, sedang apa? Apakah mengikutiku lagi?" Tanya Nathan.


"Aku rindu.." Monica memeluk Nathan lagi.


Nathan diam, membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan Monica.


"Tidakkah kamu merindukanku?" Tanya Monica.


"Aku.."


"Bohong kalau kamu bilang tidak" Serobot Monica.


"Aku juga.. Aku merindukanmu. Tapi seharusnya kamu tidak seperti ini. Jawab aku, apa kamu membuntutiku lagi seperti waktu itu?" Tanya Nathan sembari melepaskan pelukan Monica.


"Duh.. Kita baru bertemu lagi lho sayang. Kenapa malah itu yang kamu tanyakan" Celoteh Monica.


"Bukan begitu, kalau kamu ingin bertemu, kan bisa bilang dulu. Jangan diam-diam mengikuti, seperti penguntit saja" Protes Nathan.


"Bagaimana aku bisa bilang kalau kamu saja tidak pernah hubungi aku, datang kerumahku. Kamu melupakanku begitu saja. Kamu buang aku seenaknya!" Hardik Monica.


"Aku minta maaf.. Aku.."


"Nath!" Potong Monica. Ia menatap serius kedua mata Nathan di hadapannya.


"Aku hamil!" Ucap Monica dengan lantang. Nathan membeku, ia terkejut berkali-kali lipat dengan apa yang baru di dengarnya.


"Apa?! Ha.. Hamil?" Ucap Nathan terbata.


"He'em.. Aku hamil. Anak kamu" Jawab Monica santai.


"Yang benar saja. Tapi ini kan.."


"Sudah satu bulan berlalu, aku terlambat datang bulan. Begitu aku cek, ternyata dokter bilang aku hamil. Ini.." Ucap Monica sambil menyerahkan selembar kertas yang dilipat.


Nathan membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan diatasnya baik-baik.


NAMA : MONICA JESSY MAHARANI


USIA : 25 TH


HASIL PEMERIKSAAN + HAMIL


"Ini.."


"Iya.. Itu hasil pemeriksaanku. Kamu lihat sendiri kan? Sekarang aku sedang mengandung anakmu. Duh.. Senangnyaa" Ujar Monica sembari mengelus-elus perutnya.


Nathan masih tak percaya, ia bolak balik memeriksa tulisan yang tercetak tebal disana. Tidak ada yang salah dengan penglihatannya, tulisan itu tak berubah satu kata pun. Monica hamil, sementara pernikahannya dengan Dara sudah kurang dari dua minggu lagi.


"Kamu akan menikahiku kan?" Tanya Monica menggubris lamunan Nathan yang masih begitu shock.


"T-tapi aku.." Nathan bagai kehilangan kosa kata seketika.


"Aku punya tawaran untukmu. Kamu pasti menyukainya. Mendekatlah, aku tak ingin ada seorangpun yang tidak sengaja mendengar" Ucap Monica.


"Aku tidak minta jawabanmu sekarang juga. Akan kuberi waktu. Tapi jangan berpikir terlalu lama, atau hasil tes ini akan sampai pada bundamu sebelum kamu sempat menjelaskan padanya" Ancam Monica.


"Aku akan memikirkannya. Tolong bersabar. Jika itu benar anakku, aku pasti akan bertanggung jawab" Jawab Nathan.


"Ya sudah pasti ini anakmu dong sayang.. Kita melakukannya waktu itu. Kamu pasti belum lupa kan? Kenikmatan di malam itu, malam terakhir kamu menyentuhku. Permainan yang sungguh luar biasa. Ha..ha..ha.." Ucapan Monica terdengar seperti seorang psycho. Nathan sedikit bergidik dibuatnya. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang lain dari diri wanita itu.


"Tentu aku ingat"


"Bagus! Artinya ingatanmu masih oke.. Baiklah kalau begitu, kurasa tidak ada lagi keperluanku disini. Aku pergi dulu ya. Kemarikan kertas itu. Aku akan membutuhkannya untuk bukti. Bye sayang.. Pikirkan baik-baik ya!" Ucap Monica seraya merebut kembali kertas di tangan Nathan.


Wanita itu menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Nathan, membuka pintunya, kemudian menempatkan diri di belakang kemudi. Monica menurunkan kaca mobil setelah menutup pintunya dengan rapat. Ia melambai pada Nathan yang masih berdiri terpaku ditempatnya semula.


"Oh iya.. Sampaikan salamku pada calonmu ya!" Teriak Monica, ia lalu memacu mobilnya dengan cepat meninggalkan Nathan disana.


Nathan mengutuki dirinya sendiri yang tak becus menahan hawa nafsunya. Bagaimana bisa dia menghamili Monica sementara pernikahannya dengan Dara sudah di depan mata? Apa yang akan di katakannya pada bunda? Haruskah dirinya yang penuh dosa ini menyakiti perasaan bunda lagi untuk yang kesekian kalinya?


"Nathan.." Panggil Dara dari arah belakangnya. Pria itu menoleh, senyum manis dari wanita yang sebentar lagi jadi istrinya menyambutnya dengan hangat.


"Kamu.. Sejak kapan ada disini?" Tanya Nathan.


"Aku baru turun. Ingin memastikan kamu baik-baik saja. Fitting nya sudah selesai, kamu bisa mengganti pakaianmu lagi" Ucap Dara.


Nathan tersadar bahwa ia masih mengenakan baju pengantinnya.


"Yasudah, aku ganti baju dulu" Ujar Nathan yang langsung bergegas masuk kembali ke dalam boutique.


Dara memandangi Nathan yang baru saja menghilang dari pandangannya. Ia berdiri disana, tepat di depan mobil Nathan yang terparkir. Sebenarnya, tadi Dara sedikit melihat pertemuan Nathan dengan Monica.


Dari kejauhan ia menyaksikan bagaimana Monica memeluk Nathan dengan mesra, bahkan mencium calon suaminya. Tatapan mata Monica yang penuh cinta, menyadarkan Dara bahwa sudah pasti wanita itu adalah kekasih Nathan yang terpaksa ditinggalkannya karena perjodohan ini.


Respon Nathan yang terlihat tidak keberatan ketika wanita itu memeluknya, juga mengisyaratkan rasa cintanya yang masih ada hingga sekarang. Namun sayang dirinya tak dapat mendengar dengan baik percakapan mereka berdua dikarenakan jarak yang cukup berjauhan.


Dara memang belum mencintai Nathan, tapi apa yang dilakukan pria itu membuatnya sedikit patah hati.


...***...


Sejak tawaran dari Monica dilayangkan, hampir tiap hari pula Nathan mendapat teror darinya. Berbagai pesan singkat, juga panggilan telepon membanjiri ponselnya. Membuatnya sedikit terganggu.


Sama halnya dengan hari ini. Nathan terbangun akibat ponselnya yang berdering cukup kencang di meja sebelah ranjang. Rasa lelah yang menyerang membuat nya lupa untuk me-non aktifkan ponselnya sebelum beristirahat.


"Halo.." Ucap Nathan dengan suaranya yang serak.


"Jangan nyenyak-nyenyak tidurnya. Ayo, putuskan sekarang! Aku sudah menunggumu" Ucap Monica.


"Menungguku?" Ucap Nathan. Ia mengecek ponselnya untuk mengetahui pukul berapa saat ini. Pupil matanya membesar ketika terfokus pada layar ponsel tersebut.


"Ini masih jam 03:00. Tunggulah sampai pagi, aku juga sudah memutuskan kok" Sahut Nathan.


"Kalau kita pergi pagi-pagi, nanti malah akan banyak yang tahu Nath! Aku tidak ingin mengambil resiko" Ucap Monica.


Nathan terdiam sejenak sembari menimbang-nimbang keputusan yang harus diambilnya secepat mungkin. Pria itu memijit-mijit dahinya, merasa sedikit tertekan.


"Aku sudah di depan gerbang apartment lho" Ucap Monica lagi.


"Di depan?!" Ucap Nathan tersentak kaget.


"Yap.. Uhm.. Aku tunggu 25 menit lagi ya sayang. Kamu tentu perlu berkemas terlebih dahulu kan. Jangan lewat dari waktu yang sudah ditentukan ya. Atau aku akan menghampirimu kesana" Ucap Monica yang kemudian mengakhiri panggilan.


Nathan segera beranjak dari ranjang dan dengan sigap mengepak beberapa pakaiannya dalam sebuah ransel. Meski rasa kantuk masih menggelayuti matanya, ia tak punya pilihan lagi selain mengikuti instruksi yang diberikan Monica barusan. Karena dia sendiri telah memutuskan untuk menyetujui persyaratan yang di beri Monica beberapa hari yang lalu.


Setelah beres dengan barang-barang yang hendak dibawa, Nathan bergegas memakai jaket hoodie dan topi hitam untuk sedikit menyembunyikan identitasnya. Berjalan dengan mantap meninggalkan apartmentnya dan menemui Monica yang tengah menunggu di dalam mobilnya. Wanita itu berpakaian sangat seksi, walau hari masih terlalu dini.


"Akhirnya sampai juga sayangku" Sambut Monica.


"Apa kita akan pergi sekarang juga?" Tanya Nathan sembari menutup pintu mobil.


"Tentu. Kamu santai saja, biar aku yang menyetir" Ucap Monica, wanita itu mengencangkan tali seat belt nya.


"Tapi, kamu sedang hamil. Apa tidak apa-apa menyetir jarak jauh seperti itu?"


"Hey.. Aku hamil sayang, bukan sakit parah. Tidak masalah. Jangan khawatir" Jawab Monica enteng.


Nathan memilih diam dan membiarkan Monica melakukan apa yang di kehendakinya. Wanita itu memacu mobilnya dengan cepat, menyusuri setiap kelok jalanan ibu kota dini hari yang masih terlihat sepi.


Nathan memperhatikan Monica yang tengah fokus menyetir dengan mulutnya yang tak henti berdendang. Wanita itu kini berubah, dia tak pernah melihat Monica se-nekat ini. Semua rencana yang telah di susunnya, bagai strategi yang di siapkan untuk berperang. Sangat apik.