An Angel From Her

An Angel From Her
56# Malam Yang Terulang



Dua hari setelahnya, Monica kembali mendatangi Nathan yang tengah sibuk di basecamp dengan maksud untuk menagih janji dari pria itu. Teror yang dilakukan Monica cukup membuatnya lelah, tapi tak lantas membuat dirinya membenci wanita yang masih dicintainya itu.


Kehadiran Monica yang sebelumnya tak diketahui kawan-kawan dari Nathan sontak membuat mereka terkejut dalam waktu yang bersamaan, mengingat Nathan sudah mulai bisa menerima Dara dalam hidupnya dan akan segera memulai kisah yang baru bersama istri sah nya.


Siang ini, wanita berperawakan tinggi dan seksi dambaan banyak lelaki itu menghampiri Nathan yang tengah meeting bersama kawan-kawan dan produsernya di sebuah ruangan dalam basecamp. Dia melenggang dengan santai, walau semua mata tertuju padanya ketika ia masuk ke dalam ruangan dan mendekat pada Nathan.


"M-monica.. Kamu ngapain kesini?" Bisik Nathan yang merasa tak enak dengan orang-orang disana.


"Mau ketemu kamu.." Jawabnya santai.


Nathan gelagapan sendiri. Ia meraih lengan Monica dan menyeretnya keluar dari ruangan setelah sebelumnya berpamitan sejenak pada kawannya.


"Kamu kenapa sih Mon? Apa nggak lihat aku sedang meeting? Itu disana ada produserku lho.. Apa nggak bisa ditunggu sampai selesai?" Protes Nathan. Mereka berbicara di area teras.


"Aku sudah nunggu sejak tadi di mobil. Berkali-kali aku kirim pesan, berkali-kali juga aku telepon kamu nggak respon sedikitpun"


"Ya tunggu Mon tunggu.. Huft.." Ucap Nathan gusar. "Sekarang apa? Kamu ingin apa dariku?" Lanjutnya.


"Aku ingin menagih janjimu"


"Aku akan menepatinya!"


"Mana? Sudah dua hari kamu belum ada itikad untuk menemuiku"


"Ya karena aku sibuk! Bisakah kamu mengerti posisiku sekarang?" Gertak Nathan yang mulai jengkel dengan rengekan Monica.


"Kamu berubah Nath! Apa yang wanita itu lakukan sampai membuatmu jadi seperti sekarang?!"


"Kamu yang berubah!" Balas Nathan tak mau kalah.


"Kamu meninggalkanku seenaknya. Pergi tanpa kejelasan. Padahal aku masih bisa berupaya agar bisa membalikkan keadaan waktu itu. Apa kamu tahu aku mencarimu ke mana-mana? Satu tahun Mon kamu menghilang! Dan selama itu pula aku berusaha berdamai dengan egoku untuk bisa melupakanmu. Lalu sekarang, ketika aku mencoba untuk memulai hidup yang baru bersama Dara kamu malah datang. Lagi-lagi kamu mengacak-acak perasaanku dengan tingkahmu itu. Maumu apa?" Sambung Nathan panjang lebar mengeluarkan seluruh unek-uneknya yang selama ini terpendam.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Monica, ia malah mengganti kata-katanya dengan memeluk erat tubuh Nathan di depannya.


"Maafkan aku.. Maaf jika aku nggak memperhitungkan perasaanmu" Lirih Monica dalam pelukannya.


Nathan diliputi kebimbangan, sejujurnya ia ingin membalas pelukan Monica yang sangat dirindukannya. Perasaannya untuk Monica tak pernah berubah sejak dulu.


Merasa pelukannya tak berbalas, Monica kembali melepaskannya. Dia mengecup bibir Nathan tiba-tiba, membuat pria itu membeku sekian detik akibat serangan mendadak barusan.


"Aku tunggu kamu dirumahku. Malam ini" Usai menyelesaikan kalimat terakhirnya Monica langsung berlalu dari hadapan Nathan dan meninggalkan pria yang masih terpaku di tempatnya berdiri itu.


Nathan menyentuh bibirnya yang baru saja di beri kecupan oleh Monica, rasa itu, masih rasa yang sama dengan yang waktu itu. Sensasinya juga tak berubah. Monica, sebegitu mudahnya dia mempermainkan perasaannya. Menjungkir balikkan perasaan pria yang begitu mencintainya mati-matian.


Seseorang menepuk bahunya dari arah belakang, membuyarkan lamunannya seketika itu juga. Nathan sedikit terperanjat, apalagi ketika menyadari bahwa orang yang menepuk nya barusan ternyata adalah produsernya.


"Eh, mas Emil.. Sudah selesai?"


"Sudah. Nath, saya cuma mau saran. Tolong jangan bawa-bawa urusan pribadi ke dalam urusan pekerjaan. Ada kalanya kamu perlu fokus dan menghindari interupsi dari orang luar selama membicarakan masalah pekerjaan"


"Ah, iya mas. Saya minta maaf.." Ucap Nathan dengan nada penyesalan sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Yasudah. Saya pamit dulu.." Ucap sang produser melanjutkan langkahnya kembali.


"Hati-hati di jalan mas.." Pesan Nathan.


"Nath.." Panggil Mike yang ikut bergabung dengan Nathan di teras.


Nathan menoleh lemah.


"Gue nggak salah lihat kan tadi? Itu.. Monica?"


"Yaiyalah Monica. Lo pikir apa? Jin?" Sahut Nathan asal.


"Ngapain lagi dia nyamperin lo? Bukannya waktu itu lo bilang dia menghilang? Kalian udah putus kan?" Interogasi Mike.


"Gue juga nggak ngerti tujuannya apa"


"Jangan-jangan dia kembali cuma karena sekarang lo lagi sukses Nath.. Saran gue, abaikan aja lah.. Lo kan udah punya Dara"


Nathan diam entah sedang memikirkan apa.


"Jangan kebanyakan melamun! Udah yuk masuk. Dicariin Regy tuh" Ajak Mike.


Nathan masih tetap di posisinya tanpa bergeser sedikitpun. Perasaannya sungguh gundah, ia terus memikirkan Monica dan pesan yang di sampaikannya tadi.


Kata-kata itu terus bergumul di dalam kepalanya. Bertanya-tanya, apa yang ingin disampaikan Monica padanya? Kenapa harus dirumahnya? Apakah ini adalah sesuatu yang penting? Haruskah dia memenuhi permintaan wanita itu?


...***...


Pukul 21:00 malam ini, setelah menimbang-nimbang pilihan di tangannya, Nathan akhirnya benar-benar datang ke rumah Monica, memenuhi apa yang di minta oleh wanita itu siang tadi. Dari luar, rumah itu tampak sepi. Memang bukan sebuah hal yang aneh, mengingat Monica hanya tinggal berdua bersama asisten rumah tangganya.


Pria itu menekan bel beberapa kali sebelum akhirnya dibuka oleh sang tuan rumah sendiri. Tampilan Monica sungguh sangat seksi. Membuat Nathan sedikit terpana pada pandangan pertama.


"Akhirnya kamu datang. Mau dibuatkan minum apa?" Tanya Monica berbasa-basi setelah diam-diam mengunci pintu utama dan berjalan di belakang Nathan yang melewatinya.


"Nggak usah repot-repot. Aku mungkin nggak akan lama" Sahut Nathan acuh.


"Duh.. Jangan kaku-kaku banget dong. Sebentar ya.." Monica langsung bergegas menuju dapur, membuatkan minuman untuk Nathan.


Sementara menunggu Monica selesai dengan urusannya, Nathan mengoperasikan ponselnya sembari duduk di sofa ruang tengah. Membalas beberapa pesan teks yang menumpuk disana.


"Ini.. Silahkan minum dulu.." Ucap Monica yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Nathan sambil menyuguhkan minuman untuknya. Pria itu sedikit terkejut di buatnya.


"Terimakasih.." Ucap Nathan singkat. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Jadi.. Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" Lanjut Nathan.


"Mmm.. Aku rindu" Jawab Monica singkat. Wanita itu menempatkan dirinya tepat di samping Nathan.


"Apa?"


"Aku rindu.. Apa kurang jelas?"


Nathan tersenyum sinis mendengar apa yang baru diucapkan Monica.


"Hanya itu?"


"Iya.. Aku sangat rindu padamu sampai rasanya penuh disini" Sahut Monica sambil menempatkan telapak tangannya di atas dadanya yang tampak menyembul.


"Kamu membuang waktuku Mon.."


Nathan yang mulai merasakan rasa yang aneh dalam dirinya langsung cepat-cepat beranjak dari sana sebelum semua hal lain terjadi diluar kendalinya.


"Tunggu!" Panggil Monica yang langsung menyambar lengan Nathan.


Pria itu terhenti, dan Monica langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk tubuh Nathan dari arah belakangnya.


"Nath.. Aku minta maaf. Sangat minta maaf padamu. Aku sangat kecewa waktu itu. Aku nggak sanggup kalau harus menyaksikan laki-laki yang kucintai menikah dengan wanita lain. Makanya aku pergi tanpa pamit, aku juga nggak menyangka sama sekali ternyata kamu cari-cari aku.." Ucap Monica mengiba.


Nathan menghela napas berat, dengan tubuhnya yang menempel semakin erat dengan tubuh Monica.


"Aku juga berpikir, mungkin aku bisa melupakanmu jika menjauh. Tapi.. Semakin aku berusaha melupakanmu, justru aku semakin merindukanmu Nath.." Sambung Monica.


"Tahukah kamu bahwa aku menjalani hari-hari yang sulit tanpa adanya dirimu? Aku juga membohongi perasaanku sendiri, berusaha berpikir bahwa aku akan bisa mencintai Dara sebanyak aku mencintaimu" Balas Nathan.


"Kamu benar-benar nggak mencintai Dara?"


"Jujur, aku menyukainya.. Tapi kalau cinta, kurasa masih sangat jauh untuk aku bilang iya" Jawab Nathan.


Pria itu melepaskan pelukan Monica, lalu berbalik arah menghadapnya. Menatap wajah Monica yang mengiba, membuat hatinya makin tersentuh.


"I love you, Nathan.." Ucap Monica.


Perlahan wajah mereka mendekat, sambil terus saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya kedua bibir itu saling bertemu dan berlanjut ke tahap yang lebih intim. Nathan ******* bibir seksi Monica penuh kerinduan, dan sesekali Monica juga membalasnya.


"I miss you.." Bisik Nathan di sela-sela ciuman panas mereka.


Monica kembali ******* bibir Nathan dengan nafsu. Sembari menurunkan sebelah tali pakaiannya dari atas bahu.


"Jangan disini. Nanti ada bi Nah.." Ucap Nathan.


"Aku sendirian dirumah. Bi Nah akan kembali lusa.. Jangan khawatir" Jawab Monica.


Wanita itu mendorong tubuh Nathan ke atas sofa, dan mengambil alih semuanya. Ia juga turut melucuti beberapa pakaian yang dikenakannya. Pemandangan indah terpampang nyata di hadapan Nathan yang memilih untuk diam, dan membiarkan Monica menguasainya.


Monica melanjutkan aksinya dengan menduduki Nathan, saling melumatkan bibir satu sama lain, dan mengadu napas yang sama memburunya. Tubuh mereka makin panas, seiring dengan ditambah nya ritme dari permainan mereka.


Seluruh isi pikiran Nathan dipenuhi oleh Monica, dan hatinya hanya milik wanita itu seorang. Dia hanya menikmati apa yang diberikan Monica malam ini tanpa sedikitpun memikirkan Dara yang tengah menunggunya hingga terlelap secara tidak sengaja di ruang keluarga apartment nya.