
Hidup memang penuh kejutan. Apapun itu, terkadang seringkali kenyataan berada pada titik paling jauh dari ekspektasi. Malam itu Nathan hanya ingin berpesta dengan kawan-kawannya setelah sekian lama sangat jarang punya waktu luang. Karir yang melejit begitu menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran.
Tapi siapa sangka? Meskipun intensitas pertemuannya dengan Dara tergolong jarang, komunikasi hanya sekadarnya walau tinggal dalam satu atap, mereka tetap bisa berkembang biak.
Semua mengalir seperti air, pernikahan yang dipaksa itu pun berjalan cepat tanpa di sadari. Kini, Nathan tak mampu berpikir jernih akan masa depan hubungannya dengan Monica. Kehamilan Dara bagai mengikatnya, agar tak memiliki lagi celah untuk bertindak semaunya.
Nathan tak menyalahkan Dara sepenuhnya. Dia wanita, seberapa kuat tenaganya untuk melawan seorang pria matang yang tengah dilanda hasrat menggebu-gebu? Mungkin jika Dara adalah seorang atlit gulat, barulah dia bisa menghajar balik Nathan yang menidurinya dengan beringas.
Jika saja malam itu dia mengindahkan ucapan Regy yang menasehati nya agar tidak terlalu banyak minum, sudah pasti tak akan begini jadinya. Orang cerewet satu itu memang kadang ada benarnya. Nathan menyesal karena malah mencekoki dia dengan minuman sampai teler. Nanti, jika ingat, dia akan meminta maaf untuk itu.
Seharusnya siang ini Nathan ada kegiatan jamming yang rutin di laksanakannya. Tapi mendadak semangatnya memuai dibawa angin kemalasan. Sejak pagi, dia hanya berdiam diri dalam ruang studio. Belum membersihkan tubuh, belum sarapan, belum menjawab beberapa panggilan di ponselnya. Termasuk panggilan dari Monica. Dia merasa tak ada yang harus dibicarakan dengannya.
Sembari melamun, dengan tatapan kosong menerawang entah telah sampai dimensi keberapa. Duduk bersandar di atas sofa, memegangi gitar dan memetik asal senarnya. Nathan tampak seperti orang yang sedang depresi.
"What should i do?" Gumamnya.
Berdiam diri berjam-jam dalam ruangan kedap suara membuatnya jenuh. Kerongkongannya pun terasa kering. Ia akhirnya bangkit dari sofa, mengalahkan rasa malasnya dan berjalan gontai menuju dapur. Mungkin segelas jus jeruk akan sedikit mampu melegakan dahaga dan perasaannya.
"Apa kabar bunda?" Samar-samar terdengar suara Dara menyapa seseorang yang baru saja datang. Dan dia menyebut "bunda".
Nathan baru saja keluar dari studio, ia menoleh, mendapati bunda yang tiba-tiba datang. Memang bukan hal aneh, karena bunda selalu datang dadakan. Dia nampak sedang berdiri di ambang pintu berpelukan dengan Dara. Mereka seperti ibu dan anak kandung yang sudah sangat lama tak bertemu.
Jika diingat-ingat bunda sudah lama juga tak datang ke apartment, sepertinya dia begitu sibuk dengan bisnisnya. Pulang pergi keluar kota, membuatnya hanya bisa bertukar kabar melalui panggilan telepon sesekali. Nathan merindukannya, ia bergegas menghampiri bunda yang mulai masuk.
"Apa kabar bunda?" Tanya Nathan sambil menyambut bunda dengan pelukan.
"Hhmmm... Bunda baik nak.. Baik sekali" Bunda melepas pelukannya. Ia memandangi wajah putra bungsu kesayangannya penuh kasih "Nathan gimana kabarnya?"
"Aku juga baik bun.. Aku rindu, sudah lama nggak ketemu bunda"
"Bunda juga. Rinduu sekali sama anak-anak kesayangan bunda ini. Maaf ya, baru sempat datang lagi" Ungkap bunda pada Nathan dan Dara yang berdiri di sebelahnya.
"Seharusnya aku yang datangi bunda. Tapi.. Nggak sempat-sempat juga" Ujar Nathan.
"Tidak apa-apa.."
"Ngobrolnya sambil duduk aja yuk. Bunda pasti lelah kan" Ucap Dara sembari mempersilahkan bunda untuk duduk di sofa.
Wanita paruh baya itu mengikuti instruksi Dara. Ia langsung maju beberapa langkah mencapai sofa dan melepas penat di atas sana. Sementara mbak Asih datang dengan secangkir teh hangat dan menyuguhkannya untuk bunda.
"Ngomong-ngomong Dara, sepertinya kamu kurusan nak? Sedang sakit kah?"
Dara seketika salah tingkah. Ia melirik Nathan yang duduk disampingnya, pria itu juga mendadak kaku. Bagaimana kalau sampai bunda curiga bahwa menantunya tengah hamil? Bisa-bisa rencananya untuk menceraikan Dara diam-diam akan gagal.
"Uhm.. Eee.. Ya.. Dara memang baru pulih, bunda" Jawab Dara terbata.
"Sakit apa nak?" Raut wajah bunda berubah khawatir.
"Sakit.." Dara gelagapan hanya karena pertanyaan sederhana seperti itu. Sebenarnya, dia sangat takut keceplosan bicara soal kehamilannya. Ditambah lirikan bengis dari kedua mata Nathan di sebelahnya, membuat nyali nya makin menciut.
Bunda masih menunggu dengan penasaran jawaban dari mulut menantunya dengan sabar. Sejujurnya, gelagat Dara sedikit membuat pertanyaan di benaknya.
"Sakit mag, bunda"
"Hhmm.. Ya ampun, sudah minum obat?"
"Kamu yakin?" Terka bunda.
"I-iya.. Dara yakin bunda"
Bunda mengangguk perlahan. Sementara Dara nampak mendapatkan kelegaan di hatinya. Ia menghembuskan napas, mencoba menetralisir perasaan dan memberi oksigen pada tubuhnya.
"Bunda kira karena apa"
"Memang, bunda kira kenapa?" Selak Nathan.
"Ya.. Tadinya bunda pikir ini adalah berita baik. Mengingat kalian kan sudah satu tahun lebih menikah ya? Bunda rasa sudah waktunya memikirkan untuk memiliki.. Momongan"
Segaris senyum getir tergambar di bibir Dara. Untuk yang satu ini, dia merasa amat berdosa karena telah membohongi mertua yang amat menyayanginya itu. Dara makin dilema ketika menyaksikan sendiri wajah bunda yang diliputi raut kekecewaan.
Dara berperang dengan isi pikirannya sendiri. Dia benar-benar tak berdaya.
"Nathan, kamu tidak ingin punya anak?" Tembak bunda ke arah Nathan.
"Hm? Aku?" Pria itu mengedarkan pandangannya, mencoba berpikir mencari-cari alasan yang masuk akal. "Aku.. Ya.. Belum kepikiran sih"
"Usiamu sudah tiga puluh lebih lho Nath, sudah waktunya kalian memikirkan untuk melanjutkan program lagi. Memangnya kamu tidak ingin punya keturunan?"
"Nggak" Sahut Nathan asal.
Dara menoleh dengan tatapan lirih pada sang suami di sebelahnya. Apa yang baru saja terucap dari mulut Nathan terdengar begitu lantang penuh keyakinan. Dia tak ingin memiliki anak, lalu calon bayi yang sedang di kandungnya? Apakah ketika lahir nanti dia takkan merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah?
Haruskah anak ini mengalami kepahitan hidup seperti dirinya yang harus kehilangan sosok ayah akibat keegoisan?
"Huss.. Kalau bicara jangan sembarangan!" Sergah bunda.
Dara nyaris menumpahkan air matanya. Tapi dia tahu itu tidak mungkin jika di hadapan bunda. Tapi dia berjanji sewaktu-waktu nanti, dia akan meminta validasi dari kalimat Nathan barusan.
...***...
Usai makan malam, Dara langsung memutuskan untuk beristirahat di kamar karena mendadak mual. Meskipun hanya sedikit, dia tetap tak ingin bunda melihat kondisinya. Sementara bunda tampak serius menelepon dengan seseorang disana. Dia memang selalu sibuk dengan bisnis nya yang semakin berkembang. Dan Nathan, pria itu kembali bertapa di dalam studio.
Beberapa hari ini, entah kenapa rasa mualnya bertambah hingga malam. Walau tak separah di pagi hari, tetap saja hal itu membuatnya sedikit kewalahan. Dara tak menyangka, hamil akan seperti ini rasanya. Menguras seluruh tenaga yang dimiliki.
Wanita itu menerobos pintu kamar mandi yang tertutup rapat, tujuannya adalah wastafel. Dalam hitungan detik seluruh isi perutnya tumpah di atas sana. Rasa mual memaksanya untuk mengeluarkan sisa makanan yang baru saja mendiami lambungnya. Seakan tak mengizinkan dirinya memiliki energi.
"Hooeekk... Hooeekk..." Wajahnya berubah kemerahan dengan urat-urat halus yang tampak menonjol.
"Hhh.. Hhhh..."
Dara mengatur napas perlahan, menetralkan rasa mual yang berangsur hilang. Sembari membuka kran dan mengaliri wastafel dengan air yang banyak agar sisa muntahannya larut terbawa ke pembuangan.
Sesekali dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan sambil memandangi pantulan dirinya lewat cermin.
"Semangat Dara. Kamu nggak boleh lemah. Ini hanya mual, bukan sesuatu yang berat. Bersabarlah sampai sembilan bulan, dan kamu akan bertemu seorang bayi mungil yang keluar dari rahimmu sendiri. Kuat.. Kuat.. Semangat!" Ucap Dara pada dirinya sendiri. Memberi afirmasi positif agar makin semangat menjalani kehamilan pertamanya ini.
Dara merasa sudah lebih baik, dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya. Saat pintu kamar mandi terbuka, Dara mendapatkan surprise yang membuatnya cukup shock. Seseorang berdiri di kamar, dengan tatapan interogasi memandang ke arahnya sambil memegangi sesuatu di tangannya.