
Adriana datang setelah sebelumnya tersesat hingga dua kali demi menemukan rumah bunda, ia membawa sebuah cooler bag berisikan stok air susu perah yang akan diberikan pada Angel.
Wanita itu turun dari mobil BMW putih yang di kendarai nya sendiri dari Jakarta, menenteng cooler bag di sebelah tangannya sementara tangan yang lain digunakan untuk mengetuk pintu. Ia menunggu kurang lebih hanya satu menit sebelum pintu tersebut dibuka oleh seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk memakai pakaian seadanya dengan sebuah kain lap di sebelah bahu nya.
"Permisi, benar ini rumah nya bu Erina?," Ucap Adriana dengan sopan.
"Nggih mbak, benar. Mbak siapa ya?"
"Saya Adriana, ingin bertemu dengan bu Erina."
"Oh.. Mbak Adriana, iya saya sudah dengar dari bunda. Mari mbak silahkan masuk." Bi Sari, asisten rumah tangga itu mempersilahkan tamu itu masuk ke dalam.
Adriana berjalan perlahan sembari mengamati interior rumah bunda yang bertema vintage dengan beberapa ornamen yang di tata sedemikian estetik.
"Halo Adriana, akhirnya sampai juga." Ucap bunda yang datang menyambut dan menggubris lamunannya. Lalu mereka saling cipika cipiki sebagai tanda pertemuan.
"Apa kabar bu Erina?"
"Kabar baik nak, gimana perjalanannya kesini? Lancar?"
"Ya, cukup lancar." Sahutnya sedikit berbohong. "Dimana Angie? Saya rindu sekali."
"Dia sedang bersama Nathan di halaman belakang. Ayo kita ke sana." Ajak bunda sembari mengarahkan Adriana agar mengikuti langkahnya sementara wanita cantik berdarah Arab itu menurut dengan patuh.
Mereka sampai di halaman belakang rumah bunda yang lebih mirip taman bunga sebab ada banyak jenis bunga ditanam di sana. Tampak Angel yang sedang begitu antusias berjalan tertatih di atas rumput yang hijau menghampiri Nathan di depannya.
Wajah anak susuannya itu bertambah cantik saja seiring usianya yang juga sudah menginjak tahun pertama. Adriana belum mengetahui secantik apa ibunya, namun ia menduga pasti dia adalah seorang wanita yang memiliki kecantikan di atas rata-rata manusia kebanyakan.
"Angiiee.." Panggil bunda sambil melambaikan tangannya, Angel menoleh dan tersenyum ceria melihat oma dan seorang wanita yang berdiri di sebelahnya.
Mereka berdua menghampiri gadis kecil itu, ingin bergabung dengan keseruannya. Dan secara alami Angel tampak langsung mengenal Adriana yang bersimpuh di depannya. Itu sudah pasti, mengingat ada DNA yang mengalir di tubuhnya dari wanita tersebut.
"Apa kabar Angie sayang. Kamu tumbuh dengan cepat, rasanya sudah lebih tinggi dari terakhir tante bertemu denganmu. Senyum dan wajah ceriamu juga nampak sangat cantik. Tante rindu sekali denganmu nak."
Angel jelas belum mengerti dengan apa yang dikatakan Adriana, ia hanya membalasnya dengan membelai-belai wajah ibu susuannya itu, serta melompat dalam pelukannya.
Aroma bayi yang menyesap dalam rongga hidungnya sungguh langsung mengobati kerinduan. Adriana memeluk dan mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya sembari mengusap-usap lembut punggungnya sementara Angel nampak begitu nyaman dengan perlakuan nya.
"Aduh.. Langsung nempel ya, Angie juga rindu ya dengan tante Adriana?" Ucap bunda.
"Tante kesini membawa stok susu untuk Angie, kamu suka nggak?"
Angel menatap Adriana dengan ceria sebab ada satu kata yang begitu familiar di telinga nya 'susu'.
"Terimakasih banyak ya, Adriana. Kamu sudah repot-repot datang kesini membawakan stok susu untuk Angie. Padahal, kamu bisa bilang saja padaku, biar nanti aku yang mengambilnya ke rumahmu." Ucap Nathan memecah keheningan di antara mereka.
"Sama-sama Nathan, nggak apa kok. Aku juga ingin sekalian jalan-jalan. Mumpung lagi cuti kerja juga." Jawab Adriana.
"Angie sayang, sini back to daddy, nanti tante Adriana capek lho gendong kamu." Nathan menjulurkan tangannya untuk mengambil alih Angel kembali yang nampak enggan melepaskan pelukannya dari Adriana.
"Hhmmmhhh...." Nada protes keluar dari bibir mungilnya yang baru bisa bergumam, ia juga menggelengkan kepala dengan cepat.
"Nggak apa Nath, Angie suka ya di gendong tante?"
Gadis kecil itu tak merespon dan malah melemahkan tubuhnya sendiri menunjukkan gelagat ingin turun dari gendongan lalu kembali berjalan demi memperlancar langkahnya. Adriana menyadari itu dan langsung menurunkan Angel ke atas rumput semula, kemudian kaki kecil itu kembali melangkah dengan yakin seolah sudah begitu mahir.
"Hati-hati sayang," Seru Nathan ketika melihat Angel tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur. Namun gadis kecil itu tak bergeming dengan melanjutkan kembali langkahnya tanpa merasa kesakitan sedikitpun.
"Angie menggemaskan sekali. Rambut pirang nya bahkan sudah bisa dikuncir." Ucap Adriana.
"Iya, dia tumbuh dengan cepat." Sahut Nathan sembari menyilangkan lengan di depan dadanya.
"Dia cantik sekali, lebih mirip orang barat di banding gadis lokal. Pasti ibunya juga sangat cantik ya?"
Nathan mengatupkan bibirnya sambil menghela napas mendengar ucapan Adriana yang kembali mengingatkannya pada Dara, istrinya tercinta.
"Uhm.. Maaf Nathan, aku terlalu lancang."
"Bukan masalah Adriana." Sahutnya kemudian. "Ibunya memang cantik. Sangat cantik."
Ia berjalan perlahan mengikuti langkah Angel yang sedang begitu antusias dengan rumput di bawah kakinya. Sambil sedikit terkenang dengan sosok yang ia janjikan akan jadi yang terakhir dalam hidupnya itu.
"Dara, dia bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Aku belum pernah menemukan yang seperti dia sepanjang hidupku."
Seiring dengan keluarnya pengakuan dari bibir Nathan tentang sosok istrinya, entah bagaimana membuat sedikit rasa sakit di hati Adriana yang kenyataannya tetap setia mendengarkan. Ia tahu, bahwa tidak ada hak sama sekali baginya untuk kesal, apalagi cemburu pada Dara. Dia wanita pujaan hati pria yang di sukainya. Ya, Adriana kini menyadari bahwa ia mulai sangat menyukai Nathan. Lebih dari sekadar perasaan seorang penggemar pada idolanya.
"Itu pasti sangat berat untukmu Nathan, kamu sangat mencintainya." Ucap Adriana akhirnya.
"Jika kematian bisa di tukar, aku akan menggantinya dengan nyawaku, agar Dara tetap hidup, agar Angie tidak kehilangan ibunya, agar orang sebaik dia bisa lebih lama bernapas di bumi."
Adriana menoleh pada Nathan yang tampak datar seperti sudah tak ada lagi beban kesedihan seperti setahun silam. Dia benar-benar sudah sembuh dari trauma psikis yang menyerang nya, dan mampu berdamai dengan kenyataan.
Angel datang berlari menuju ayahnya yang sudah siap menangkap, lalu memeluk penuh cinta tubuhnya ketika ia berhasil menggapai. Pemandangan seorang ayah dan anak perempuan ini sungguh manis, membuatnya berangan-angan jika saja putra nya masih hidup, ia pasti akan sangat berbahagia bersama suami yang saat ini justru lebih menyenangkan jika dipanggil 'mantan'.