An Angel From Her

An Angel From Her
112# Menjenguknya



Tak ada apapun yang mampu menahannya untuk kembali saat mengetahui bahwa Dara sudah melahirkan. Nathan langsung memberi kabar pada Regy sekaligus meminta ia mencarikan gitaris untuk menggantikannya.


Sang manager yang begitu pengertian tentu tidak berpikir dua kali, ia segera mengizinkan Nathan membatalkan keikutsertaan nya di acara konser. Meski sudah pasti ketidakhadiran Nathan akan memancing pertanyaan para penggemarnya.


Pria itu melesat dengan cepat, keluar dari lounge area bandara sambil menyeret kopernya. Lalu langsung menaiki taksi yang berhenti sejenak di zona drive-thru. Napasnya terengah-engah dengan pikirannya yang melayang pada Dara.


Nada bicara Keenan di telepon mengisyaratkan sebuah kondisi yang kurang baik, Nathan tak tahu pasti, tapi ia yakin Dara atau bayinya mungkin dalam bahaya.


Kecemasan yang bernaung di hati menciptakan gelisah yang tak kunjung usai. Beberapa kali ia meminta pengemudi taksi itu mempercepat laju kendaraannya, sembari matanya memandang jalanan yang nampak ramai.


Jarak dari bandara ke rumah sakit akan menempuh sekitar satu setengah jam perjalanan, bisa lebih jika mendadak macet. Nathan berharap semesta ikut membantunya agar cepat sampai ke lokasi tujuan. Ia menyandarkan punggung di jok mobil, sambil mengusap gusar wajahnya. Tanpa hentinya menyalahkan diri sendiri. Nathan takkan memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk menimpa dua orang yang ia cintai.


Pria itu beruntung sebab lalu lintas malam ini terbilang lancar. Saat taksi yang ditumpanginya tiba di lobby rumah sakit, ia buru-buru menghambur dan mencari keberadaan Keenan lewat telepon. Dia yang tahu dimana Dara di tempatkan saat ini.


Matanya mengedar ke sebuah lorong dimana ruang rawat ICU berada. Ia segera melangkahkan kakinya cepat-cepat begitu menyadari bunda sudah berada di sana, bersama mbak Asih yang juga duduk di sebelahnya. Sementara Keenan sang kakak berdiri dengan cemas.


Hal yang tidak di duganya adalah ketika bunda tiba-tiba berdiri di hadapannya dan menyambut kedatangannya dengan mendaratkan tamparan cukup keras di pipinya. Nathan tahu betul, ibunya sudah sangat murka sebab ia tipe orang yang tidak mudah main fisik jika belum melewati batas.


"Suami macam apa kamu, hah?!." Hardik bunda. Wajahnya menyeramkan dengan isyarat kemarahan yang tergambar jelas.


"Benar-benar kelewatan kamu Nath! Bisa-bisanya malah pergi konser sementara istrimu sedang berjuang! Dia melahirkan bayimu. Darah daging kamu! Kok bisa sih kamu menjelma jadi suami yang brengsek seperti ini!."


Keenan menengahi, berusaha menenangkan bunda yang tersulut emosi. Ia mengusap lembut bahu ibunya.


"Bunda.. Tenanglah. Nathan baru sampai, dia tentu ingin melihat keadaan anak dan istrinya lebih dulu."


Bunda masih menatap garang wajah putra bungsunya, sedangkan Nathan tertunduk dengan segenap perasaan bersalah menghimpit dada.


"Maaf bun." Ucap Nathan penuh sesal. "Kak, apa aku boleh menjenguk Dara?,"


"Boleh. Tapi jangan lupa pakai perlengkapannya ya. Ayo ikut kakak." Jawab Keenan sambil mengarahkan adiknya untuk mengenakan surgical gown, masker dan penutup kepala seperti yang masih melekat di tubuhnya.


Nathan masuk ke ruang ICU setelah memakai semua yang diberikan oleh Keenan. Menemui Dara yang terkulai lemah di atas ranjang rawat, dengan oksigen yang menutup hidung serta mulut, alat pendeteksi detak jantung, selang infus dan peralatan medis yang lain di sekelilingnya.


Pria itu mendekat, secara tak sengaja mengurai air mata ketika penyesalan datang merundung nya. Kilas balik tentang apa yang ia lakukan saat kali terakhir bertemu Dara kembali berseliweran dalam ingatannya. Menghujam hatinya dengan sesak tak tertahankan.


Mengingat bagaimana ia mengabaikan permintaannya, meninggalkan dan mencampakkannya, Nathan sungguh merasa amat jahat. Jika bisa, dia sangat ingin kembali memutar ulang waktu. Setidaknya Dara takkan jadi seperti ini kalau tidak terlambat mendapat pertolongan.


Pada detik ini Nathan baru sadar bahwa kecemburuan nya sudah keterlaluan. Tak semestinya ia mengabaikan Dara berhari-hari. Dia yang paling mengenalnya, paling tahu bagaimana karakter istrinya sendiri, tuduhan tak mendasar yang dilontarkannya juga amat kejam. Nathan tidak mampu membayangkan betapa sakit perasaan Dara.


"Ra.." Panggil Nathan, suaranya mendadak serak.


"Aku tau kamu kuat, bertahan ya? Demi anak kita.. Demi aku." Tambahnya sambil mengecup punggung tangan Dara.


Di pandangi nya wajah teduh nan cantik yang berubah jadi pucat dengan kantung mata menghitam di depannya. Wajah itu yang selalu menyambutnya di pagi hari, senyum manis mekar sempurna lengkap dengan dua lesung pipi mempesona.


Tangan dalam genggamannya adalah salah satu anggota tubuh yang terampil meracik dan menyajikan makanan, memuaskan perutnya dengan hidangan-hidangan lezat. Ia yakin tak ada orang yang mampu memasak seenak buatannya.


Selain itu jemari lentiknya juga selalu lentur menari-nari membentuk sebuah mahakarya berupa kreasi rajutan. Nathan masih ingat, terakhir Dara membuatkannya sebuah sweater hangat yang dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun. Juga beberapa baju bayi diperuntukkan bagi anaknya.


Dara hanyalah Dara, dia hanya satu. Tidak ada yang bisa menyamai atau menggantikannya. Nathan tak tahu bagaimana hidupnya tanpa kehadiran Dara di sisinya. Dan jujur, ia belum dan tidak akan pernah siap dipisahkan darinya.


...***...


Nathan melangkah gontai keluar dari ruang ICU. Setelah membisikkan kalimat cinta juga penyemangat di telinga Dara, ia berpikir untuk menemui obgyn yang menangani proses persalinan istrinya. Mencari tahu bagaimana kronologi penyebab Dara koma.


Bunda masih di tempat yang sama, duduk termenung dengan air mata yang menjejak di wajahnya. Mbak Asih tampak membantu menenangkan dengan mengusap-usap punggungnya.


Tak lama dari itu Keenan yang baru tiba dari ruang NICU menghampiri dengan informasi yang dibawanya.


"Bagaimana kondisi cucu bunda Nan?," Tanya bunda pertama.


"Belum stabil bun. Dia lahir kurang dari tiga puluh enam minggu, dan sekarang dia membutuhkan air susu ibu untuk mempercepat recovery." Jelas Keenan.


"Air susu ibu? Tapi ibunya.." Tanggap bunda kemudian.


"Kondisi Dara yang koma tentu tidak bisa menyusui bayinya. Setelah memeriksa kondisinya, aku lebih prefer ke ASI dibanding susu formula, jadi jika memungkinkan, sebaiknya kita segera menemukan pendonor ASI untuknya."


Mereka berempat kompak berpikir, mencoba menemukan solusi terbaik untuk permasalahan ini.


"Bunda akan coba cari pendonornya. Kebetulan bunda kenal dengan seorang konselor laktasi, barangkali dia punya info tentang ibu yang bisa mendonorkan ASI nya."


Keenan mengangguk dengan cepat. "Terimakasih bunda, mudah-mudahan kita bisa segera menemukannya."


Wanita paruh baya itu langsung bangkit dan mengoperasikan ponsel untuk menelepon kenalannya. Sambil perlahan-lahan berjalan di sepanjang koridor, berbicara serius dengan lawannya di seberang.


Sementara Nathan melenggang pergi menuju ruangan obgyn untuk melancarkan niatnya sejak tadi, dengan langkahnya yang sedikit terburu-buru.