An Angel From Her

An Angel From Her
AAFH - Extra Part : Chapter 3



"Michelle!" Seru Angel saat sosok Michelle nampak di penglihatannya, ia duduk dengan manis di studio musik milik ayahnya. Pasangan itu tengah berbincang sembari memainkan alat musik di tangannya. Dengan Nathan yang memangku gitar, sementara Michelle memegangi biola nya.


"Hello sweety.." Balas Michelle yang langsung memeluk hangat tubuh Angel.


"I miss you Michelle. Kenapa baru sekarang muncul sih?"


"Maaf, aku sibuk belakangan ini. Sekarang aku punya tiga murid privat dan itu sungguh menyibukkan ku Angie."


"Kamu benar-benar guru yang hebat!," Puji gadis itu. Ia nampak begitu senang dengan kedatangan Michelle.


"Kamu juga gadis yang cerdas," Michelle memuji balik. Sementara Nathan terkekeh mendengar para gadis yang saling memuji di depannya.


"Sedang apa nih? Sepertinya asyik sekali," Ujar Angel sambil melemparkan pandangan pada ayahnya.


"Iseng aja," Sahut pria itu sekena nya.


"Hari ini aku rada senggang, trus sudah lama juga tidak datang kesini. Jadi tadi kebetulan lewat, aku mampir. Sekalian mau kasih kabar ke kalian tentang ini," Ucap Michelle seraya menyodorkan sebuah brosur pada Angel dan diterima dengan baik oleh gadis itu.


Sejenak ia membacanya, dan merasa terkejut dengan apa yang tertulis di selebaran tersebut. "Michelle, kamu akan jadi salah satu violis di acara ini?,"


Michelle memahat senyumnya seraya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Angel yang jelas nampak terpukau.


"Whooaa! Kamu benar-benar keren Michelle! Dad, Michelle akan tampil di Dorothy Candler Pavilion Music center! Ini luar biasa!," Seru Angel kegirangan.


Tempat yang di maksud Angel adalah salah satu gedung pertunjukan yang terdapat dalam satu wilayah bernama Music Center di pusat ibu kota Los Angeles, California. Gelaran resital biola ini akan jadi yang paling meriah tahun ini. Dan suatu kebanggaan bagi mereka sebab salah seorang kerabat dekatnya ikut berpartisipasi didalamnya.


"Ku harap, kalian bisa datang ya,"


"Tentu. Kami pasti akan datang," Sahut Nathan penuh keyakinan.


"Tenang saja Michelle, aku dan pacarmu ini pasti akan datang dan menempati kursi paling depan," Ucap Angel yang melemparkan guyonan untuk ayah dan wanita di depannya itu.


"Pacar?," Terka Michelle.


"Angie.." Tegur Nathan pada putrinya yang hanya di balas dengan cekikikan dari gadis tersebut.


Michelle memandang Nathan grogi, begitu pula sebaliknya hanya karena candaan Angel barusan. Suasana yang awalnya ceria berubah canggung sekarang, dan Nathan tak tahu lagi harus berbuat apa selanjutnya. Berpura-pura sibuk dan meninggalkan Michelle di studio, atau terus berdiam saja?


...***...


"Dad.." Panggil Angel yang diam-diam masuk ke kamar ayahnya di malam hari. Pria itu sedikit terperanjat ketika menyadari putrinya datang dan menghampiri ia yang sedang duduk sambil bersandar di ranjang. Di tangannya terbuka salah satu halaman dari sebuah buku yang tengah dibaca.


"Hei sweety, kok belum tidur?"


Gadis itu menempatkan diri di pinggir ranjang ayahnya. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan daddy," Tuturnya.


Nathan menutup sejenak buku di tangannya. Kemudian menatap putrinya dengan serius, sebab Angel juga menunjukkan wajah demikian.


"Ada apa nak?," Nathan memulai.


Angel meraih salah satu tangan Nathan lalu menempatkan sebuah kotak kecil di atasnya.


"Lho.. Ini.."


"Yes dad. Itu cincin milik ibu, yang pernah daddy berikan untukku."


Nathan mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan maksud putrinya. Dulu, saat Angel berulang tahun yang ke sepuluh, ia menyerahkan cincin pernikahan milik Dara dengan maksud agar Angel menyimpannya sebagai salah satu peninggalan ibunya.


Dan setelah beberapa tahun berlalu, tiba-tiba Angel mengembalikan cincin tersebut padanya, dan tentu hal itu membuat pertanyaan dalam isi kepalanya.


"Kenapa kamu berikan lagi ke daddy?"


"Apa?," Sambar Nathan tak percaya.


"Aku benar-benar ingin daddy menikah dengannya."


Pria itu terdiam sejenak meresapi ucapan Angel yang begitu mengejutkan. Anak gadisnya mendesak untuk segera menikah, tapi, pantaskah? Setelah melewati empat belas tahun dengan kesendirian, benarkah ia akan menikah lagi? Dengan reinkarnasi istrinya?


"Angie, i don't know. Daddy nggak yakin."


"Dad," Sambar Angel. "Cepat atau lambat, aku akan pergi meninggalkan daddy. Entah nanti aku akan sekolah di luar kota, atau malah kembali ke Indonesia. Daddy sudah cukup merawatku selama ini, dan kurasa sekarang sudah waktunya bagi daddy untuk memiliki pendamping. Yang akan mengurus daddy, menemani daddy. Aku hanya seorang anak yang memiliki takdirku sendiri, aku ingin saat nanti waktunya tiba, daddy tidak sendirian lagi," Ucap Angel dengan kalimat yang terurai lembut.


Nathan cukup terkesima dengan pemikiran putrinya yang baru berusia empat belas tahun itu. Tidak menyangka dia sudah menjadi begitu dewasa dengan memiliki kosa kata teratur sedemikian rupa.


"Dan aku, merasa bahwa Michelle adalah orang yang cocok untuk daddy. Ketika bersamanya, aku merasa seperti semuanya sudah cukup. Jauh berbeda dengan teman-teman wanita daddy yang lain."


Sorot matanya melembut, Nathan membelai puncak kepala Angel penuh kasih.


"Daddy mengerti, sayang. Kalau boleh jujur, sampai saat ini daddy masih belum bisa melupakan ibu. Tidak semudah itu menggantikan posisi seseorang yang kita cintai nak," Ucap Nathan.


Angel memandang ayahnya dengan tatapan penuh harap, Nathan paham akan hal itu, namun ia merasa berat hati untuk melaksanakan keinginan putrinya yang satu ini.


"Oke," Kata gadis itu sembari menghela napas. "Tapi aku yakin, daddy juga menyukai Michelle kan?," Sambungnya. Sementara Nathan membisu.


"Kalaupun daddy menikah lagi, aku percaya ibu tidak akan marah. Justru dia akan senang saat mengetahui orang yang dicintainya kembali bahagia. Simpanlah dad, jangan sia-siakan kesempatan!" Ucap Angel seraya menggenggam tangan ayahnya.


Gadis itu lalu bangkit dari duduknya, melenggang keluar dari kamar meninggalkan ayahnya yang termenung sambil memandang kotak cincin di tangannya.


"Ya Tuhan, apa lagi ini? Apakah benar aku akan menikahi Michelle? Setelah belasan tahun hidup tanpa pasangan?" Ucapnya bagai bicara pada diri sendiri.


"Michelle memang sangat mirip dengan Dara. Tidak, bukan mirip. Terkadang aku mengira bahwa mereka berdua adalah orang yang sama. Meski kenyataannya, Michelle jauh lebih muda dari Dara. Aku harus berbuat apa?" Lirih nya dalam kerisauan hati yang menyerbu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Haaiii.. maafin Rose ya baru update lagi 🙏🤧