An Angel From Her

An Angel From Her
70# Mengakui



Hati yang dongkol tentu tidak mengubah sikap Dara terhadap sang suami. Ia tetap dengan setia menyajikan makan malam untuk Nathan yang sampai dengan saat ini masih berkutat di studio. Aroma ayam bakar minang favorit Nathan yang memang seorang berdarah minang itu menyebar di seluruh ruang dapur. Tak terkecuali ruang studio yang letaknya cukup berdekatan dari sana.


Hidung mancungnya memang cukup tajam menangkap aroma makanan, terlebih masakan favoritnya.


"Duh.. Wangi banget" Gumam Nathan yang bunyi keroncongan perutnya mengalahkan suara gitar.


"Kayak nya si Dara masak ayam bakar.. Duh.. Tapi tanggung ini"


Ia menimbang-nimbang dua hal yang akan dilakukan sekarang. Duduk manis dan meneruskan pekerjaannya, atau beranjak dari sana dan segera membungkam cacing-cacing di perutnya yang sudah mulai rusuh sejak aroma ayam bakar itu menyesap masuk ke dalam studio.


Akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi hasrat kelaparannya, dan cepat-cepat pergi ke dapur. Terlihat dari kejauhan Dara masih sibuk menata meja makan. Wajahnya terlihat lesu.


"Makan malam Nath.." Sapa Dara dengan ramah.


"Hhm.." Nathan menjawab seadanya seraya menarik kursi untuk di dudukinya. Di hadapannya telah tersaji satu porsi nasi, serta ayam bakar yang terlihat begitu menggugah selera. Dara memang selalu bisa memenangkan hati Nathan lewat masakan nya yang lezat.


Dara membantu meletakkan ayam bakar ke piring Nathan dengan cekatan. Tanpa aba-aba Nathan segera menyantapnya dengan lahap. Ia baru teringat bahwa sejak siang dirinya memang belum makan. Pantas saja rasa lapar itu sangat tak tertahankan.


Dara memperhatikan suaminya dengan tatapan lembut penuh kasih. Ia membayangkan seandainya Nathan bisa mencintainya, mungkin pernikahan ini akan terasa sangat membahagiakan.


Nathan makan begitu lahap hingga tidak menyadari wajah Dara yang sedang asyik memandanginya berangsur pucat. Wanita itu merasakan gejolak dalam perut yang membuatnya mual dan hendak mengeluarkan semua isinya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan nya cepat-cepat, dan beranjak menuju wastafel.


"Hoooekk...hoooeeekk...." Rasa mual itu membuat Dara mengeluarkan semua makanan yang telah di makan sejak siang tadi.


"Ra.. Bisa nggak jangan disitu muntahnya? Aku lagi makan lho.. Nggak sopan sekali sih kamu! Kan bisa ke toilet!" Bentak Nathan gusar.


"Mm-maaf Nath.. Aku.. Benar-benar gak tahan lagi kalau harus ke toilet" Di tengah napasnya yang terengah-engah ia berusaha menjelaskan alasannya yang tentu masih tidak bisa diterima Nathan.


Pria itu kemudian memerintah Dara untuk meninggalkan dapur dan segera beristirahat, agar suara muntah-muntahnya tak lagi mengganggu kenikmatan makan malamnya. Dara menuruti dan berjalan lemah meninggalkan dapur.


"Hamil sama siapa coba.. Hah.." Ucap Nathan yang langsung terdengar oleh telinga Dara.


"Apa katamu?" Dara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nathan dari arah belakang.


"Kamu.. Hamil sama siapa? Itu kataku barusan"


"Hamil sama siapa kamu bilang?" Dara mengulang kata-kata Nathan untuk memperjelas.


"iya. Kamu hamil, dan aku gak merasa membuat bayi itu" Ucap Nathan dengan entengnya. Dara mulai murka dengan kata-kata suaminya barusan. Ia merasa seperti di tikam dengan tuduhan yang kejam.


"Nath.. Kamu lupa?"


"Lupa apa?" Sahut pria itu tanpa menolehkan wajahnya satu senti pun.


"Ssh.. Ya ampun.." Dara menepuk keningnya.


"Rasanya tidak ada yang aku lupakan. Aku sangat ingat. Sejak aku menikahimu, tubuhmu tidak pernah ku sentuh sedikitpun. Jadi bagaimana bisa anak itu adalah anakku" Nathan masih bersikeras berkilah tidak mau mengakui anaknya.


"Hey.. Coba kamu ingat-ingat! Kejadian kurang lebih satu bulan yang lalu, saat kamu pulang dalam keadaan mabuk, dengan wajah lebam dan banyak darah. Lalu aku berusaha membopongmu ke kamar karena kamu kehilangan keseimbangan" Terang Dara.


Nathan mengernyit dan berusaha mengingat peristiwa yang di ceritakan Dara barusan. Ada sekelebat ingatan di dalam kepalanya yang hampir terlupakan. Ia menghentikan aktifitas makannya dan mulai merangkai tiap kejadian di malam itu, malam dimana semua janjinya pada Monica di runtuhkan.


Dara meninggalkan Nathan setelah selesai dengan penjelasannya dan membiarkan suaminya mengingat sendiri apa yang telah terjadi.


"Memangnya apa yang sudah ku lupakan?" Batin Nathan berusaha mencerna baik-baik kalimat Dara barusan.


"Akh.." Kepalanya mendadak pusing dan sedikit sakit ketika mencoba untuk mengingat hal yang mungkin terlupakan. Nathan berusaha meringankan nyeri nya dengan memijit-mijit pelan.


Tiba-tiba saja sekelebat ingatan tentang kejadian malam itu lewat dalam kepalanya. Raut wajah kesakitan seorang wanita, erangan serta cengkramannya seakan dapat dirasakannya sekarang. Bibir pink yang terasa manis dan lembut, serta suatu robekan yang terngiang itu.


Suara candu nya ketika sesekali memanggil namanya.


"Nathaann.."


"Tolong.. Jangan.."


"Nath.. Sakit.. Sakit sekali"


"Astaga.." Nathan meletakkan dengan kasar sendok di tangannya ke atas piring. Selera makannya mendadak hilang. Pria itu menenggak segelas air mineral hingga habis tak tersisa. Peluhnya berjatuhan, seiring dengan pergolakan batin yang dialami.


Dia baru menyadari, setelah satu bulan lebih berlalu bahwa dirinya menghamili Dara. Nathan yakin betul wanita dalam ingatannya adalah Dara. Si pemilik wajah cantik berlesung pipi itu.


Dia juga baru sadar, bahwa bercak darah yang ditemukannya di atas ranjang ketika secara tak sengaja tidur di sana adalah milik Dara, dan bukan berasal dari luka di wajahnya. Nathan mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasrat bahkan ketika sedang mabuk berat.


Tapi, bagaimana bisa dia melakukannya dalam keadaan setengah sadar? Orang bodoh macam apa?


"Nggak mungkin.. Tapi, kenapa? Bisa-bisanya aku melakukan itu dalam keadaan.. Argh! Nathaannn... Stupid!" Umpatnya geram.


...***...


Air mata kekecewaan mengalir perlahan membasahi wajah cantik Dara. Ia duduk di salah satu sudut ranjang kamarnya yang sunyi. Sesekali Dara menyeka tiap tetes air matanya yang terus jatuh sembarangan. Khawatir kalau-kalau Nathan datang dan memergokinya.


Harapannya pupus. Rasanya sudah tidak mungkin Nathan akan bisa menerima pernikahan ini. Mungkin semuanya akan berakhir sebentar lagi. Meski mereka akan memiliki anak, tapi Dara tak ingin berharap banyak. Bermimpi saja ia sudah takut. Nathan pasti akan meminta untuk berpisah.


Dara sedikit terperanjat ketika mendengar pintu kamar yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Dia tahu, itu pasti Nathan.


"Ra.." Panggil Nathan dengan suara yang terdengar berat.


Tak ada jawaban dari Dara yang lidahnya mendadak kelu. Dia juga merasa enggan berbicara lagi pada pria itu.


"I'm sorry.. Aku sudah merenggutnya darimu"


Dara tersenyum sinis mendengar pengakuan suaminya yang menyebalkan itu.


"Aku benar-benar nggak sadar waktu melakukannya. Sungguh, jika saja aku tahu. Pasti akan ku hentikan" Aku Nathan mengiba.


"Aku nggak butuh penyesalanmu, dan permintaan maaf mu karena sudah sembarangan meniduri ku!" Serobot Dara yang mulai terpancing emosinya. Hormon kehamilan membuat perasaannya begitu sensitif.


"Karena secara agama dan hukum, kamu nggak bersalah sama sekali" Sambungnya. Nathan terdiam sambil mendengarkan baik-baik apa yang terucap dari mulut Dara. "Aku cuma butuh pengakuanmu. Atas anak yang ku kandung"


"Uhmm.. Yaa.."


"Dia anak kamu! Nath, kamu boleh nggak mau terima aku sebagai istrimu. Sumpah, aku ikhlas! Tapi kalau kamu juga nggak mau mengakui bahwa dia adalah anak kamu, darah daging kamu, aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!" Hardik Dara melampiaskan semua unek-unek yang dirasakannya.


Nathan hanya melongo, tak menyangka Dara akan memiliki kosa kata yang tajam seperti itu. Dia seperti bukan Dara yang selama ini di kenalnya. Dara yang selalu santun, lembut dan cenderung mengalah.


"Ya.. Ya oke.. Oke.. Aku sudah ingat semua yang ku lakukan padamu. Jadi sekarang aku percaya jika kamu bilang bahwa itu adalah anakku. Dan aku pasti akan bertanggung jawab atas kehidupannya"


Kedua bahu Dara naik turun, napasnya nampak cepat. Pengaruh dari emosi negatif yang baru saja diluapkannya. Kedua sorot matanya berapi-api menatap Nathan yang berdiri terpaku di tempatnya sejak tadi. Membuat pria itu sedikit bergidik.


"Makasih. Karena kamu masih punya otak yang waras untuk berpikir" Tembak Dara.


"Tapi. Boleh aku minta satu hal?" Tanya Nathan ragu-ragu. Jujur, dia sedikit ngeri Dara akan meledak-ledak lagi.


"Apa?!"


"Tolong rahasiakan ini dari bunda dan ibu ya? Kehamilan kamu?"


Dara berdecak kesal.


"Hanya sementara. Aku.."


"Apa kamu bisa kasih alasan yang logis? Yang makes sense?"


"Iyaa.. Uhm, sebatas aku ingin memberi surprise untuknya. Yahh.. Biarlah mereka tau ketika nanti perutmu membesar" Jawab Nathan asal. Dia tak tahu apakah Dara akan bisa menerima alasannya.


"Oke.." Sahut Dara. "Aku nggak akan bilang ke ibu atau bunda. Aku setuju" Sambungnya.


"Thanks.." Usai membuat persetujuan dengan Dara, Nathan langsung melenggang keluar dari kamar. Dara yakin, alasan yang Nathan ucap tak sepenuhnya benar. Seperti ada sesuatu yang lain.


Namun meski begitu, Dara lebih memilih untuk mengabaikan perasaan tersebut. Pikirnya, yang terpenting adalah Nathan sudah mau mengakui anak yang dikandungnya. Itu sudah cukup, lebih dari cukup.