An Angel From Her

An Angel From Her
66# Sakit



Pagi ini, Dara bangun lebih awal dari biasanya karena merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Memang sejak tadi malam dia tak bisa tidur dengan nyenyak seperti hari-hari sebelumnya. Kepalanya terasa pusing disertai rasa tak nyaman di area perut. Ia mengira, ada yang tak beres dengan lambungnya.


Mungkin maag nya kembali kambuh. Meski sudah lama juga tak pernah bermasalah, tapi kemungkinan bisa saja terjadi.


Walau merasa kurang sehat, ia tak lantas melupakan kewajibannya untuk selalu menjamu sang suami. Dara tetap memasak menu sarapan meski di tengah terpaan rasa pusing yang kian kuat.


"Sshh.." Desahnya sambil memijit-mijit dahi.


"Non.. Tumben sudah mulai masak?" Sapa mbak Asih yang baru saja tiba di apartment. Wanita itu biasa datang pukul 06:00 pagi. Sedangkan Dara selalu memulai kegiatan masak memasaknya pukul 07:00, mengingat Nathan memang lebih sering bangun siang. Tapi berbeda dengan hari ini.


"Iya mbak.." Sahut Dara.


Mbak Asih tertegun menyadari wajah Dara yang begitu pucat. Tangannya juga terlihat gemetar memegang spatula.


"Non.. Non Dara baik-baik saja?" Tanya mbak Asih ragu.


"Ya.. Saya baik-baik saja mbak. Kenapa ya?"


"Wajah non pucat banget. Non Dara sakit?"


Dara berdehem pelan. "Cuma pusing sedikit mbak, tapi nggak apa-apa kok" Tangan terampil itu terus bekerja, menumis bumbu di atas wajan dengan cekatan.


"Beneran non ndak apa-apa?" Ulang mbak Asih yang tak yakin dengan jawaban majikannya.


Segaris senyum ramah tersungging di bibir pucat Dara, seolah menjawab pertanyaan asistennya yang nampak begitu mengkhawatirkannya. Wanita berumur sekitar 40 tahun itu akhirnya mengalah. Ia menerima isyarat dari sang majikan meski dengan berat hati.


"Hhmmpp.. Hmmppp.."


"Eh, non?" Dengan sigap mbak Asih merangkul tubuh Dara dari arah belakang akibat gelagat aneh yang mendadak dilakukannya.


Dara seperti menahan sesuatu yang memuncak dari dalam tubuhnya. Kedua telapak tangannya menutup sembari memberi penekanan pada mulutnya. Wajahnya memerah seketika, dan beberapa detik kemudian ia menumpahkan seluruh sisa isi perutnya ke wastafel.


Mbak Asih membantu memijit-mijit tengkuk Dara agar wanita itu merasa lebih baik. Ia tak menaruh sedikitpun rasa jijik sepanjang Dara mengerang dan muntah beberapa kali di depannya. Mbak Asih justru merasa begitu prihatin dengan keadaan majikannya yang nampak tak begitu dipedulikan oleh suaminya sendiri itu. Bahkan ketika sakit sekalipun.


"Hhh.. Hhh.." Dara merasa lebih baik dibanding tadi. Ia berusaha membersihkan sisa muntahannya di wastafel dengan air sebanyak mungkin, sambil sesekali menyeka mulutnya.


"Maaf mbak.."


"Kok minta maaf sih non.." Mbak Asih masih setia memijit tengkuk Dara yang belum berbalik badan ke arahnya.


"Mbak Asih jadi harus ngeliatin saya muntah-muntah begini" Nada penyesalan keluar dari mulut Dara.


"Ya Allah non, ndak apa-apa. Masa orang mau muntah mesti di tahan. Gimana sekarang non? Udah enakan?"


"Sudah lebih baik, makasih ya mbak" Dara membalikkan tubuhnya. Mbak Asih dapat dengan jelas melihat wajah Dara yang nampak lebih baik dari sebelumnya, meskipun masih pucat.


"Sudah non, biar saya yang lanjutkan. Non Dara istirahat saja"


"Nggak usah mbak.. Tanggung ini" Bantah Dara.


"Iih.. Jangan ngeyel. Non Dara sakit. Orang sakit harus banyak istirahat. Biar saya yang lanjutkan, sekarang non ke kamar, nanti saya bawakan teh hangat ya non" Perintah mbak Asih sambil mengarahkan Dara keluar area dapur.


"Beneran nggak apa-apa mbak?"


"Nggih non. Istirahat ya"


"Makasih banyak ya mbak"


Dara berlalu dari mbak Asih yang langsung sigap mengambil alih masakan di wajan. Perutnya sudah terasa lebih lega di banding tadi, tapi rasa pusing itu masih cukup kuat. Dara menaiki anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Tentu ia tak ingin mencederai kakinya sendiri.


"Apa iya sakit lambungnya kambuh lagi? Rasa-rasanya aku nggak pernah makan yang aneh-aneh. Telat makan juga nggak. Tumben banget" Gumam Dara bagai bicara dengan diri sendiri.


Ia membuka pintu kamar perlahan, dan mendapati Nathan yang tengah memainkan ponselnya sembari berbaring di atas sofa. Ternyata pria itu telah bangun, dan mungkin saja sebentar lagi akan pergi. Tapi semoga mbak Asih cepat menyelesaikan masakannya sebelum Nathan turun ke lantai satu.


Dara mengabaikan Nathan ketika melewatinya karena masih merasa sedikit mual. Tak ada tegur sapa yang biasa dilakukannya. Ia hanya fokus pada satu titik, yaitu ranjang yang nampak nyaman.


Sementara Nathan sedikit melirik wanita yang berjalan tanpa mengindahkan keberadaannya disana. Meskipun terbesit pertanyaan, namun pria itu memilih untuk mengacuhkannya dan kembali terfokus pada layar ponselnya. Karena ada beberapa pesan yang harus segera dibalasnya.


Dara merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan cepat, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala. Sembari memijit-mijit dahi, ekspresi wajahnya tampak jelas sedang kesakitan. Dan hal itu cukup menarik perhatian Nathan yang diam-diam memperhatikan dari kejauhan.


Pria itu bangkit dari sofa, setelah sebelumnya meletakkan ponsel disana dan berjalan menuju kamar mandi. Selain karena memang ingin membersihkan tubuhnya, Nathan juga mulai penasaran dengan gelagat Dara yang tak seperti biasanya. Ia ingin melihat lebih dekat kondisi sang istri. Tapi tentu tak ingin melakukannya terang-terangan.


Pria itu melanjutkan langkahnya, memasuki kamar mandi dan cepat-cepat membersihkan tubuh dibawah guyuran shower dengan air hangat. Berusaha mengabaikan Dara, dan bayang-bayang wajah kesakitannya.


...***...


Monica memandangi wajah sang kekasih dengan serius. Pria itu memetik gitar, menghasilkan melodi yang sedap di dengar. Sembari menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri yang dipersembahkan nya untuk Monica. Lagu yang terinspirasi dari pertemuannya dengan wanita itu bertahun-tahun yang lalu.


Suara jangkrik turut mengiringi moment romantis mereka yang tengah berduaan di gazebo halaman belakang rumah Monica. Suasana malam hari yang syahdu dengan semilir angin yang membelai lembut wajah keduanya seakan ikut merestui hubungan terlarang itu.


Nathan menyelesaikan bait terakhir dari lagu dengan suara yang indah, membuat Monica terpukau. Memang selain mahir memetik gitar, pria itu juga memiliki suara yang cukup bagus. Namun karena tipe suaranya tak se aliran dengan band nya, ia memilih untuk hanya memainkan gitar dan sesekali jadi backing vocal.


"Kenapa?" Nathan menoleh ke arah Monica di sebelahnya yang terus memandanginya dengan senyuman.


Wanita itu menggeleng pelan, masih mempertahankan senyumnya. "Nothing.."


"Hmm?"


"I'm just.." Monica menggantung kalimatnya.


"Just?" Ulang Nathan.


"You know, setiap mendengar lagu itu.. Aku selalu terkenang saat pertemuan kita dulu"


"Waktu.. Kamu ngejar-ngejar aku maksudnya?" Goda Nathan.


"Enak aja!" Protes Monica yang langsung melayangkan tepukan manja di bahu Nathan. Pria itu terkekeh geli. "I'm serious, honey"


Nathan melihat dengan jelas kedua mata Monica yang berbinar ketika menatapnya. Ucapannya saat itu, secara tak sengaja juga mengingatkannya pada moment pertemuan pertama mereka di club tempat Monica bekerja.


"Kita memulainya dengan indah" Monica berucap sembari memainkan kuku jarinya yang lentik dihiasi nail art itu. "Haruskah kita mengakhirinya dengan luka?"


"Sstt.. No.. No.. No.." Mendengar kalimat Monica barusan membuat perasaan Nathan berdenyut nyeri. Ia cepat-cepat meletakkan gitar di sebelahnya, lalu merangkul sang kekasih dan membawanya dalam pelukan.


"Nggak ada yang harus di akhiri"


"Entahlah Nath, aku.."


"Aku milih kamu. Dan akan selalu begitu"


Monica melepaskan rangkulan Nathan dan memberi sedikit jarak di antara mereka. Ia memandangi wajah Nathan yang tampak serius.


"Tapi.. Kamu sudah punya istri"


"Honey, kita sudah sepakat dengan rencana nya. Aku akan berpisah dengan Dara, lalu menikah denganmu"


Monica menghela napas, sambil mengedarkan pandangannya selain ke arah sang kekasih yang sedang berusaha mati-matian meyakininya.


"Ya.. But, i don't know.." Ucap Monica. "Aku hanya.. merasa takut kalau ternyata kamu sudah memiliki perasaan terhadapnya"


"Oh, please.." Nada bicara Nathan terdengar begitu sinis menanggapi apa yang terucap dari Monica barusan.


"Honey. Aku sudah bahas ini berkali-kali. Aku nggak ada perasaan apa-apa sama Dara.. Harus dengan apa lagi aku meyakinkan kamu?"


"Aku cuma.."


"Kemari" Nathan kembali merangkul Monica dengan erat. Kali ini ia juga melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu, mendekapnya bagai tak ingin dilepaskan lagi.


"You are my first love. I love you, so much.. Bagaimana aku bisa meninggalkan orang yang sangat ku cintai?"


Monica masih membisu. Malam ini, ia bagai kehilangan banyak kosa katanya.


"Aku akan membuktikannya. Semua ucapanku. Aku akan pastikan, kita akan mendapatkan masa depan yang selama ini kita impikan. Aku milikmu. Dan kamu milikku"


"Yes honey. Thanks.." Monica membalas pelukan sang kekasih dengan segenap perasaan yang menyesaki hatinya.


Wanita itu memilih untuk mempercayai saja apa yang diucapkan Nathan padanya. Meskipun ada setitik keraguan yang dirasakan. Terutama ketika melihat gelagat Nathan yang nampak khawatir telah melukai Dara saat ia mabuk beberapa waktu lalu.


Walau alasannya saat itu dapat diterima dengan logika, tapi instingnya sebagai seorang wanita tahu betul apa yang sebenarnya dirasakan oleh Nathan. Meski dia selalu menyangkalnya dengan ucapan, tapi rasa yang mulai tumbuh untuk Dara itu nampak dengan jelas ia gambarkan melalui sikap yang mengarah kesana.


Entahlah, Monica merasa lelah. Ia sudah sering patah hati. Sebelum dengan Nathan ia pernah berkencan dengan beberapa pria. Dan rata-rata semuanya hanya memberi harapan semu. Dia selalu berharap Nathan tak seperti pria yang lainnya. Ia meletakkan harapannya pada pria itu, semoga kali ini, dia tak melakukan kesalahan lagi dengan mempercayai orang yang salah.