
Malam itu, saat udara di sekeliling sedang sejuk-sejuknya, Nathan bersama Angel datang ke Dorothy Candler Pavilion Music Center demi menyaksikan pagelaran resital biola yang akan menampilkan Michelle sebagai salah satu violis nya.
Nathan tampak begitu tampan dan gagah dengan setelan tuxedo hitam, rambut yang pendek dan rapi, serta sepatu pantofel hitam mengkilap membungkus kakinya. Sementara putrinya, Angel tampil sangat manis dengan dress warna broken white selutut yang memiliki aksen renda di bagian bawahnya. Rambut pirang kecoklatan nya di cepol rapi ke belakang. Serta sepatu heels yang makin membuat tubuhnya nampak tinggi.
Mereka masuk ke gedung sambil bergandeng tangan, sebab Nathan selalu merasa tak rela jika putrinya secara tidak sengaja tersandung lantaran kurang fokus berjalan. Atau jika ada orang iseng yang dengan kurang ajar berani menggodanya. Dia sangat posesif melindungi Angel seolah menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk menjaga gadis itu.
Menduduki kursi yang berada di area VVIP, Nathan dapat dengan jelas melihat para musisi di depannya. Ia begitu menghayati alunan musik yang dibawakan para violis saat acara telah di mulai. Begitupun Angel yang nampak terkesima saat sosok Michelle terlihat jelas tersorot lampu putih terang dan menampilkan bagaimana piawainya wanita itu menggesek biola.
Tepuk riuh dari penonton menggema di gedung tersebut mengakhiri pagelaran resital biola yang berlangsung selama tiga jam. Penampilan terakhir diisi oleh Michelle yang didapuk untuk bersolo. Ia tersenyum bangga, matanya juga sempat memandang Nathan dari kejauhan dan menghadiahi senyum penuh kebahagiaan untuknya.
Kini, satu per satu para penonton dan tamu undangan keluar dari gedung secara teratur. Sementara Nathan bersama Angel datang menemui Michelle di back stage. Pria itu membawa satu rangkaian bunga yang sangat cantik untuk ia persembahkan pada sang violis.
"Michelle!" Angel setengah berlari menghambur ke arah Michelle yang nampak anggun dengan dress merah silk panjang membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Wanita itu menyambut Angel dengan pelukan hangat.
"Heii sweety, terimakasih sudah datang," Ucap Michelle yang masih memeluk Angel.
"Kamu hebat sekali Michelle, aku sangat bangga!," Ucap Angel penuh rasa haru.
Keduanya saling melepaskan pelukan hingga membuat Michelle dapat melihat kedua mata Angel yang nampak berkaca-kaca.
"Hei, kamu kenapa?," Michelle bertanya lembut sembari membelai pipi sebelah kiri Angel. Namun gadis itu hanya menggeleng sembari mengukir senyum beserta lesung pipi yang menawan.
"Sepertinya dia terharu. Hatinya tersentuh ketika mendengar alunan biola yang kamu mainkan tadi," Sahut Nathan. "Anyway, selamat atas kesuksesan pertunjukan malam ini. You're so gorgeous!," Tambahnya seraya menyerahkan rangkaian bunga yang cantik untuk sang violis cantik itu.
"Thank you Nath," Michelle menerimanya dengan perasaan bahagia yang meluap.
Mereka bertiga berdiri saling berhadapan, dan mendadak suasana berubah canggung di antara dua orang dewasa yang entah sejak kapan mulai tak berani saling menatap. Angel menyadari itu, dan otaknya mencetuskan ide brilliant.
"Uhm.. Dad, Michelle, aku permisi mau ke toilet sebentar ya," Pamit gadis itu sambil mengerlingkan mata kepada ayahnya.
"Hi.. Hi.. Angie.. Angie.." Gumam Michelle yang memandang ke arah Angel.
"Mmm.. Michelle, boleh kita bicara sebentar?," Tanya Nathan dengan nada bicara ragu-ragu.
"Oh, iya.. Iya boleh Nath."
"Gimana kalau kita.. Cari tempat untuk duduk-duduk?"
"Uhm.. Oke. Sepertinya di belakang gedung ini ada taman. Kita bisa duduk di sana."
"Oke."
Mereka berdua keluar dari back stage menuju taman yang berada di belakang gedung tersebut. Ada sebuah area untuk menikmati suasana outdoor, dengan air mancur di bagian tengah taman yang membentuk lingkaran tersebut.
Rumput-rumput hijau terhampar subur dan nampak terawat, ada juga pohon-pohon kecil di sekelilingnya. Serta terdapat beberapa kursi panjang untuk pengunjung. Pada malam hari, lampu-lampu taman selalu di nyalakan menerangi area tersebut. Sekilas nampak indah dan menenangkan.
Michelle menduduki salah satu kursi, kemudian Nathan menyertainya. Mereka duduk bersebelahan dengan perasaan yang entah bagaimana cara mendeskripsikan nya, sebab terlalu rumit.
"Tamannya bagus ya," Ucap Nathan yang berusaha mencari topik pembuka untuk memecahkan situasi canggung ini.
"I-iya, bagus. Nyaman dan tenang," Sahut Michelle sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang tampak sepi.
"Seandainya tadi orang tuamu hadir, mereka pasti akan sangat bangga melihat penampilanmu," Ujar Nathan.
"Lain waktu, kamu harus melaksanakannya di Indonesia. Resital biola yang seperti ini."
"Itu salah satu keinginanku Nath, mudah-mudahan segera terwujud ya."
"Aku selalu mendo'akan dan mensupport semampuku Chel," Ucap Nathan sambil mengukir senyum.
"Thanks.. Uhm.. Jadi.. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Nath?," Michelle mencoba untuk mengakhiri obrolan basa basi di antara keduanya, sebab sedari tadi sejujurnya ia cukup dibuat penasaran oleh duda tampan tersebut.
"Oh.. Ya.." Nathan berusaha mati-matian menahan rasa gugupnya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan.
"Uhm.. Michelle, kita sudah mengenal cukup lama. Meskipun sejujurnya aku nggak tau apakah ini waktu yang tepat. Tapi, daripada memikirkan itu, aku lebih merasa sekarang sudah saatnya," Ucap Nathan sembari merogoh sesuatu dari dalam jas yang ia kenakan.
Michelle terdiam memasang telinga baik-baik menunggu ujung dari pembicaraan Nathan yang jelas tampak gugup.
"Michelle, menjadi suatu kehormatan bagiku karena telah mengenalmu dan diizinkan untuk menjalin pertemanan sampai saat ini. Namun, sudi kah kamu untuk menerima lamaranku?,"
Nathan menyerahkan kotak cincin pada Michelle dan membukanya.
"Maukah kamu jadi istriku, Michelle?," Ucap pria itu akhirnya.
"Apa?," Michelle jelas nampak tak percaya. Ia memandang Nathan, kemudian cincin yang dipegangnya, berulang kali memastikan bahwa ia tak salah mendengar dan indera penglihatannya tidak sedang bermasalah.
Wanita itu merunduk dengan segala rasa terkejut dalam hatinya.
"Nath, kamu yakin?," Terka Michelle.
"Jika aku sudah mengatakannya padamu, itu artinya aku sudah benar-benar yakin."
Michelle diam lagi, menciptakan keheningan dan ketidakpastian berdetik-detik. Menggantung pria yang terlihat mengharapkannya.
"Aku ingin bertanya dulu. Bisa kamu jawab?," Ucap wanita itu pada akhirnya. Raut wajahnya nampak serius.
"Silahkan."
"Cincin ini milik ibunya Angie kan?"
"Iya. Kamu benar. Tapi ini hanya simbolis, aku akan memberikan yang lain di hari pernikahan nanti. Jika kamu bersedia," Jawab Nathan yang tak mengerti bagaimana Michelle bisa tahu bahwa cincin yang diberikannya adalah milik Dara.
"Jadi, yang akan kamu nikahi ini aku.." Michelle menggantung kalimat sejenak. "Atau Dara?," Sambungnya.
"Michelle.."
"Maaf Nath," Ucapnya seraya bangkit dari kursi. "Aku belum bisa jawab sekarang." Dan kemudian pergi berlalu dari Nathan. Ia bahkan juga melupakan bunga yang diberikan Nathan untuknya.
Pria itu merasakan hatinya yang berdenyut nyeri. Ia sudah meramalkan hal ini pasti akan terjadi, Michelle pasti takkan semudah itu menerimanya. Apalagi statusnya yang seorang duda dengan seorang anak dan jarak usianya yang cukup jauh.
Nathan menggenggam kotak cincin itu lagi. Menutupnya dan kembali memasukkan ke dalam jas. Ia mengusap wajah dan menutupinya dengan telapak tangan sembari menempatkan dua ujung siku di atas lututnya.
Angin malam yang dingin berhembus seolah tengah berusaha mencairkan suasana hatinya. Sementara Angel dari kejauhan mengintip dan mengamati kegagalan ayahnya dalam rasa kesedihan.