
"Aku telah selesai mengobati keduanya. Tapi kondisi mereka berdua cukup parah, jadi tidak bisa langsung sembuh dan beraktifitas langsung. Saya minta salah satu dari anda Panutua untuk menjaga mereka ketika kami bertiga berlaga!" ucap Xiao Yue pada kedua Panutua.
"Iya yue'er! Biar panutua 2 yang menemani kalian tanding di Turnamen Lingcup. Aku yang akan menjaga dan merawat Xiao Yubi maupun Xiao Hangbi," ucap Panutua 5 memberitahukan keputusannya kepada mereka semua.
Karena hari sudah tengah malam, mereka semua akhirnya memutuskan untuk istirahat dan meninggalkan kamar Panutua 2. Kembali ke kamarnya masing - masing.
Xiao Yue yang merasakan tubuhnya capek, letih dan lelah langsung saja memutuskan beristirahat di dalam ruang Gelang Semesta. Dengan adanya perbedaan waktu maka istirahatnya tercukupi.
Dalam tanding besok Xiao Yue harus fit. Dia harus maju ke babak putaran selanjutnya, karena dirinya sudah berjanji akan mendapatkan juara 3 besar kepada ayahnya Patriak Xiao Lang.
Waktu dengan cepatnya berganti dari malam ke pagi. Sinar mentari menyapa hangat masuk kedalam kamar Xiao Yue lewat celah cendela. Dalam kamar yang kosong itu tiba- tiba muncul seorang gadis cantik mengenakan hanfu hijau muda dengan riasan tipis menghias wajahnya.
CLIIING
Gadis cantik itu langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, dua pemuda tampan berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum menghias wajahnya.
"Kami baru saja mau membangunkanmu? Syurkurlah ternyata kamu juga sudah siap! Ayo kita kebawah, perutku lapar minta segera di isi. Dari tadi malam belum makan sama sekali.," ucap Xiao Low kepada kedua rekannya.
"Aih... Sama lapernya! Karena tenaga kita telah dikuras semua olah para senior Klan Chu. Harus makan cukup agar bisa bertanding!" ucap Xiao Qing bersungguh- sungguh.
"Yup... Benar sekali. Dan target kita maju babak selanjutnya, itu akan menjadi pukulan mental yang bagus untuk Klan Chu!" kata Xiao Yue kepada Xiao Qing dan Xiao Low.
Mereka bertiga berjalan beriringan ke lantai bawah dan ternyata di lantai itu Panutua 2 sudah menungguh Xiao Yue, Xiao Qing dan Xiao Low.
Dihadapan Panutua 2 telah tersediah berbagai makanan enak yang mampu memanjahkan lidah di jamin perut bakal kenyang serta puas.
"Ayo... Makanlah sepuas kalian tapi jangan sampai terlalu kekeyangan. Jangan lupa setelah ini kalian akan berlaga, jangan sampai kalian nanti kalah hanya karena perut yang kekeyangan, itu akan sangat memalukan!" Goda Panutua 2 kepada ketiganya.
"Haha... Panutua bisa juga bercanda! Aku pikir Panutua itu orang yang tidak bisa berkelalar, habisnya wajah Panutua selalu dingin dan datar, hehe..." ucap Xiao Yue menanggapi apa yang di lakukan oleh panutua 2.
Xiao Qing maupun Xiao Low langsung saja melototkan matanya pada Xiao Yue setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkannya.
Mereka tidak menyangkah, Xiao Yue bakal bicara blak- blakan pada Panutua 2 yang memang terkenal akan kedisiplinannya dan tidak perna tersenyum apa lagi tertawa.
"Haha.... Haha.... Haha..." Tawa terbahak- bahak Panutua 2 mendengar ucapan Xiao Yue dan reaksi dari Xiao Qing maupun Xiao Low.
"Keburuh dingin makanan ini bila kalian hanya melihat saja dan tidak segera menyantapnya!" tegur Panutua kepada ketiganya yang masih belum menyentuh makanan yang da di depan mata.
Ketiganya langsung memakan hidangan itu dengan lahapnya. Hidang yang banyak itu dalam waktu singkat telah habis ludes tanpa sisa. Mereka makan seolah - olah beberapa hari tidak makan saja. Panutua hanya bisa menggelengkan kepala akan tingka laku mereka.
Selesai makan mereka berempat langsung menuju Pavilium Gun Ling. Mereka melewati arae tempat pertarungan hidup mati dengan Klan Chu, yang sekarang ini telah menarik perhatian banyak orang yang mau pergi ke Pavilium Gun Ling.
"Apa yang terjadi? Kenapa tempat ini jadi seperti ini?" ucap seorang laki-laki tambun.
"Ini bekas bertarungan hebat dan dahsyat, lihat aja tempat ini jadi hancur! Tapi Siapa yang telah bertarung?" ujar perempuan cantik baju ungu.
"Yang pasti pihak Kerajaan akan mencari tahu siapa yang terlibat dalam pertarungan ini. Karena kejadiannya saat Turnamen Lingcup di langsungkan!" ucap lelaki tua janggut panjang.
Xiao Qing , Xiao Low, Panutua 2 dan Xiao Yue tidak mau berlama- lama berhenti di tempat itu, mereka segera melanjutkan perjalanannya kembali ke Pavilium Gun Ling.
Suasana di pelataran Pavilium Gun Ling ramai sekali. Sudah banyak penonton yang telah tiba, ada yang ke pasar dadakan, ada yang masih saja di pelataran ngobrol dengan teman dan lebih banyak lagi yang masuk ke Pavilium Gun Ling.
Xiao Yue dan rombongan langsung ke Pavilium Gun Ling masuk area khusus yang dilewati peserta turnamen. Selama perjalan mereka mendengar kabar simpang siur atas kejadian di area yang hancur. Tebak -menebak terka- menerka itulah yang dilakukan semua orang.
Anggota Klan Xiao tidak ada yang memperdulikan semua itu. Sekarang mereka telah duduk santai di tempat yang di khususkan buat Klan Xiao.
Cukup lama mereka menunggu dengan sabar Turnamen Lingcup di buka. "Aih... Sampai jenuh nungguhnya, tapi koq ya belum juga di buka! Apa jangan - jangan kami yang kepagian datangnya?" gumam Xiao Yue sambil menggerutu.
"Bukan kepagian memang pihak panitia yang belum datang. Semua peserta sudah hadir dan sama seperti kita, mereka juga menungguh dari tadi!" kata Xiao Low setelah dia melihat sekitarnya.
"Sabar, sabar, sabar tapi apa yang begitu menyita perhatian mereka lebih dari Turnamen ini? Apa jangan - jangan ada kendala dengan pernikahan Putri! Bukannya Turnamen ini di ajukan karena hal itu?" ucap Xiao Yue memandang pada Panutua 2 yang juga mengangkat bahunya.
Kasak -kusuk juga terjadi bukan hanya para penonton tapi juga para peserta Turnamen Lingcup. Mereka heran dan bingung, Panitia belum ada satu pun yang hadir padahal Turnamen harus segera di mulai.
Menungguh adalah hal yang paling menjenuhkan tapi mereka semua yang hadir, baik itu peserta maupun penonton di Pavilium Gun Ling mau tidak mau harus melakukannya, ketidak sabaran terlihat dari wajah- wajah mereka.
Tak lama kemudian satu persatu panitia Turnamen Lingcup hadir di Pavilium Gun Ling. Panglima Kerajaan berjalan ke Podium, dengan mengerahkan Energi Mana pada pita suara, dengan bertujuan suara menjadi keras agar terdengar oleh semua yang hadir.
"Maafkan atas keterlambatan kami! Bukannya ini kami sengaja, tapi kami terpaksa!" ucap Panglima Kerajaan