XIAO YUE

XIAO YUE
Chapter 171



Xiao Yue yang mendengar ucapan semua orang, yang ada di dalam kamar itu, hanya bisa menghela nafas.


Tubuh Xiao Hangbi berubah menjadi hitam karena proses pertarungan racun melawan racun. Dan ini adalah titik krusial, kondisi yang sangat khawatirkan, pertarungan antara hidup dan mati.


Kalau Xiao Hangbi bisa bertahan melewati ini semua, dia akan hidup. Tapi kalau tidak, maka ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya di dunia ini.


Jarum- jarum emas mulai dicabut satu persatu dari tubuh pemuda yang tak berdaya itu. Xiao Yue langsung mencelupkan jarum-jarum itu pada ember yang berisi air, yang sudah dipersiapkan lebih dulu oleh Panutua 5.


Jarum-jarum emas yang ada di dalam ember air mulai mengeluarkan asap. Begitu juga dengan air yang ada di dalam ember telah berubah menjadi hitam jelaga. Bau busuk sangat menyengat mencemari kamar Panutua 2. Beberapa orang langsung menutup hidungnya tidak tahan dengan baunya.


Xiao Yue menghentakkan tangannya untuk mengambil jarum- jarum emas dari dalam ember. Begitu jangan dihentakkan jarum-jarum emas langsung melesat ke telapak tangan Xiao Yue. Hal itu bisa terjadi, karena sebelum jarum emas masuk ke dalam ember air, telah dipasang tali Mana oleh Xiao Yue.


Xiao Yue langsung membersihkan jarum-jarum emas itu dengan kain bersih. Setelah itu..


"Teknik Akupuntur Yangyin!"


Kemudian gadis cantik itu mengerahkan kembali jarum jarum emas itu satu persatu menancap pada tubuh Xiao Hangbi.


AAHHHH....


Dan sekali lagi pemuda itu menjerit - jerit kembali saat jarum -jarum emas mulai menancap di kepalanya.


Proses itu dilakukan berulang kali selama 2 jam. Jangan tanya bagaimana keadaan Xiao Yue. Gadis itu kelelahan dan kecapekan. Setiap dia merasa tenaganya habis terkuras langsung saja meminum air spiritual yang ada dalam guci minuman yang disimpan dalam cincin dimensi.


"Maaf Yue'er kami telah membebanimu! Padahal besok kau harus bertanding lagi! Kau harus bisa maju ke putaran selanjutnya! Menuju ke babak final!" ucap Panutua 2 merasa tidak berdaya.


"Wduch... Kita datang ke sini bukannya ikut membantu!"


"Oalah... Lagi dan lagi kita menimpakan tanggung jawab kepadanya! Ini benar -benar kelewatan."


"Ohhh... Tidak, kita hanya bisa nonton saja! Kenapa jadi begini? Seharusnya kan kita bisa melakukan sesuatu? Tapi..."


" Aku malu sekali kepadamu Yue'er! Seharusnya ini aku yang mengerjakan. Bukannya dirimu, padahal besok kau harus bertanding lagi, tapi apa yang telah kami lakukan? Kami justru yang menyusahkan dirimu!"


Ucap Xiao Yang agak terpukul dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Bukannya mereka datang untuk membantu tapi malah tetap tidak ada artinya, ada atau tidak ada anggota Merah Xiao masih sama saja.


Dan itu bukan hanya terjadi dengan Xiao Yang, tapi itu juga yang sedang dialami oleh semua anggota Merah Xiao maupun kedua sesepuh Klan Xiao.


Xiao Yue yang menyadari keputusan asahan, perasaan malu dan rendah diri dari orang -orang yang ada di sekitarnya langsung saja berkata.


"Aih... Hilangkan perasaan semacam itu! Sudah sewajarnya saling bantu! Apalagi kita ini satu kelompok, satu Klan. Sudah menjadi tugas dan juga kewajiban untuk berbagi dan saling melindungi!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...