
Apa maksud kalian?..." Tanya gadis itu.
Zen pun menjawab "Aku tidak tau apa yang membuatmu sampai lupa dengan ingatan dan kekuatanmu sendiri, tetapi kekuatan dalam dirimu yang menyadari kesedihanmu itu menciptakan dunia milikmu sendiri" Jelas Zen.
"Semua orang yang berada di kota ini, adalah sihir milikmu" Jelas Zen dengan wajah serius.
Di saat yang bersamaan, gadis itu pun terduduk lemas dan menangis, ia merasakan rasa kesedihan yang luar biasa di dalam dirinya.
"Kenapa?? Kenapa aku menangis??" Ucap gadis itu sembari mengusap airmatanya.
Silvia pun mendekati gadis itu dan menenangkannya.
"Aku bisa merasakannya, aku bisa merasakan kesedihanmu.., aku merasakannya.." Ucap Silvia sembari memeluk gadis itu dengan erat.
"Apa yang kamu katakan.." Ucap gadis itu sembari menangis.
"Aku tidak mengerti sama sekali!.." Ucap gadis itu.
Zen pun perlahan mendekati Silvia dan gadis itu, dan ia pun memberikan gadis itu sebuah bunga teratai, saat Zen memberikan teratai itu, ia pun mengingat apa yang di katakan Haruto sebelum ia menghilang.
...-Ingatan masa lalu-...
"Hei Zen, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, karena aku pernah bermimpi jika kamu akan bertemu dengannya" Ucap Haruto.
"Apa maksudmu Haruto?" Tanya Zen.
"Aku pernah bermimpi jika kamu akan bertemu dengan adikku suatu saat nanti, entah reinkarnasi dari adikku, atau memang adikku yang masih hidup hingga saat ini" Ucap Haruto.
"Intinya jika kamu bertemu seorang gadis misterius dan terus mengatakan ia tidak tau, tidak ingin, atau tidak mengerti, kemungkinan ia adalah orang yang berada di dalam mimpiku" Ucap Haruto.
Zen pun memasang muka kesal dan mengucapkan "JELASKAN DENGAN BENAR! AKU TIDAK MENGERTI APA YANG KAU JELASKAN DARI TADI!! KAU NGOMONG BERULANG ULANG DAN GA NYAMBUNG SAMA SEKALI!!" Ucap Zen sangat kesal.
"Eh, ahahaha" Haruto pun tertawa mendengar ucapan Zen yang membuat Zen semakin kesal.
"Apa yang kau tertawakan?!" Kesal Zen.
"Hahaha... Maaf maaf" Ucap Haruto.
"Intinya jika kamu bertemu dengan seorang gadis yang menurutmu ia adalah gadis yang ku maksud, cobalah ambil berikan teratai yang bisa kamu ambil dari sungai atau danau yang ada di hutan agung, jika ia benar benar adikku, ia akan mengingat kenangan itu" Ucap Haruto.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu Haruto" Ucap Zen.
"Sudah sudah, intinya lakukan saja yang ku katakan, itu akan menguntungkanmu nantinya" Ucap Haruto.
......................
Zen pun memberikan bunga teratai itu, gadis itu yang melihat teratai itu pun terdiam dan perlahan inti sihir gadis itu memancarkan energi sihirnya ke luar.
Di saat yang bersamaan, seluruh warga di sana pun keluar dari dalam rumah mereka dan perlahan kembali menjadi sihir, semua sihir pun kembali berkumpul menjadi satu dan kembali masuk ke dalam tubuh gadis itu.
"Teratai.." Ucap gadis itu sembari menangis.
Tiba tiba gadis itu mengeluarkan sayap berwarna putih yang membuat Silvia seketika terpelanting.
"Ahh!!" Silvia pun terpelanting sangat kuat, dan Zen pun langsung menangkap Silvia.
"Siapa dia?" Gumam Zen.
Saat Zen sedang kebingungan tiba tiba suara yang familiar terlintas di kepalanya, dan ternyata suara itu adalah suara Haruto.
"Zen, dia adalah adikku, adikku yang di berkahi kekuatan dewi, aku menyerahkannya kepadamu Zen, terima kasih" Perlahan suara itu pun menghilang.
"Dasar Haruto sialan! kenapa tidak bilang dari awal saja jika dia adalah adikmu yang di berkahi kekuatan dewi?!, jika seperti ini, aku jadi tidak tau bagaimana harus mengatasinya!!" Gumam Zen kesal.
"Terima kasih Zen.." Ucap Silvia.
Tiba tiba ratusan gelombang cahaya pun terpancar dari gadis itu dan menyerang daerah sekitarnya secara membabi buta.
"Silvia! Gunakan sihir pelindung!" Perintah Zen.
"Baik!" Silvia pun mulai merapalkan sihir perlindungan.
"Perlindungan agung, aku, atas nama Silvia, Silvia Forestia sang penjaga hutan agung, memerintahkan, lindungilah aku dari segala macam bahaya!!" Tiba tiba muncul pohon yang perlahan tumbuh di belakang Silvia dan Zen dengan sangat cepat.
"Forest Protection!!!" Seketika perlindungan sihir alam berwarna hijau pun melindungi Silvia dan Zen dari serangan sihir yang terus menghantam apapun di sekitarnya.
Tiba tiba gadis itu pun berteriak histeris, perlahan warna rambutnya yang awalnya berwarna hitam seketika berubah menjadi warna kuning terang, pakaiannya yang compang camping seketika berubah, tidak hanya itu kekuatannya pun seketika meningkat sangat pesat.
"Katakan jika ini bohong kan?!!" Gumam Silvia sangat terkejut.
"Sial! Jika kondisinya sudah seperti ini apa yang harus ku lakukan!!?!" Gumam Zen panik dan kebingungan.
...~Bersambung~...