
Pagi hari pun tiba, Veliona pun terlihat sedang duduk di atas pohon tepat di tengah hutan seakan akan sedang menunggu seseorang di sana.
Ia terlihat sangat senang sekali setelah memenangkan turnamen sebelumnya, beberapa saat kemudian, Zen pun berjalan ke arah Veliona dan menyapanya.
"Selamat pagi Veliona.." Sapa Zen.
"Pagi Zen.." Sahut Veliona sembari tersenyum dan melambaikan tangannya.
Zen pun berjalan mendekati Veliona dan melompat ke atas pohon itu.
"Bagaimana perasaanmu setelah mendapatkan kemenangan di babak final kemarin?" Tanya Zen.
"Senang sekali, karena aku bisa membuktikan kepadamu jika aku bukanlah seseorang yang harus terus kamu lindungi, dan aku juga ingin agar kamu mengizinkan aku untuk mengikuti mu mulai sekarang!.." Pinta Veliona sedikit memaksa.
"Hm..." Zen pun termenung memikirkan hal itu, ia tidak tau apa ia harus mengizinkan Veliona mengikutinya atau tidak.
"Hei Zen.. Apa kamu berniat meninggalkanku lagi? Apa aku masih selemah itu di matamu?" Tanya Veliona sedikit kesal.
"Eh??" Zen yang mendengarnya pun terkejut dan kebingungan karena ia tidak bermaksud menghina Veliona sedikitpun, ia hanya termenung memikirkan keadaan Veliona karena ia pasti akan sibuk dengan sekolahnya terlebih lagi kegiatan guild pasti akan membuatnya semakin sibuk.
"Bukan begitu maksudku, aku hanya memikirkan kondisimu nantinya, pasti guild Eternal Fire membutuhkanmu, terlebih lagi jika kalian memenangkan pertandingan ini, kalian akan menjelajahi dungeon bukan?" Tanya Zen.
"Hm.. Iya memang begitu, tetapi aku bisa meminta izin kepada Yuuiki untuk istirahat sejenak dari kegiatan guild, dan pergi mengikutimu" Ucap Veliona.
"Hm... lebih baik tidak sekarang, karena aku juga akan melakukan perjalanan yang panjang, jika kamu mengikuti ku pasti kamu tidak akan pulang ke guild Eternal Fire dalam waktu yang panjang.
"Apa kamu beralasan agar aku tidak ikut?" Tanya Veliona sedikit kesal.
"Eh? Bukan bukan begitu" Ucap Zen.
"Aku sudah menceritakan tujuanku bukan? Kenapa aku datang kesini.." Jelas Zen.
Veliona yang mendengar ucapan Zen pun termenung mengingat apa yang pernah Zen jelaskan kepadanya.
"Baiklah.. Aku mengerti.." Ucap Veliona.
"Huh... Baguslah kalau begitu.." Ucap Zen.
"Hei Zen.." Panggil Veliona.
Zen yang mendengar Veliona memanggilnya pun bertanya.
"Kenapa?" Bingung Zen.
Veliona pun bangun dari duduknya dan mengucapkan "Apa kamu mau bertarung melawanku?" Tanya Veliona.
"Eh?" Zen yang mendengarnya pun menjadi kebingungan.
"Apa maksudmu Vel?" Tanya Zen.
"Aku hanya ingin bertarung melawanmu, apa aku sudah pantas untuk mengikutimu atau belum" Jelas Veliona.
Zen yang mendengarnya pun terdiam sejenak, beberapa saat kemudian Zen pun menjawab "Jika kamu memang ingin melawanku, mungkin aku akan melayanimu, karena aku juga ingin melihat sekuat apa kamu sebenarnya, sebelum itu kamu harus memenangkan turnamen ini terlebih dahulu baru aku akan bertarung melawanmu" Ucap Zen sembari tersenyum.
Veliona yang mendengarnya pun spontan bertanya "Apa kamu benar benar akan bertarung melawanku setelahnya???" Tanya Veliona.
Veliona pun kembali bertanya untuk memastikan "Kamu berjanji?" Tanya Veliona.
Zen yang mendengarnya pun mendekati Veliona dan mengelus kepalanya sembari mengucapkan "Iya.. Aku berjanji.." Ucap Zen sembari tersenyum ramah.
Veliona pun tersenyum bahagia mendengar jawaban Zen dan semangatnya pun kembali membara, ia semakin bersemangat untuk memenangkan pertandingan terakhir nantinya.
"Vel, aku ingin bertanya" Tanya Zen.
"Ada apa Zen??" Bingung Veliona.
"Apa kamu yakin ingin di sini? Kamu tidak ingin menonton pertandingan selanjutnya?" Tanya Veliona.
Veliona pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Tidak apa apa, mungkin pertandingan juga sudah di mulai, aku hanya ingin bersama Zen sekarang.." Ucap Veliona sembari tersenyum.
...-Disisi Lain-...
"Pertandingan babak final grup B, apakah kalian sudah siap?!???" Tanya komentator tersebut memanaskan suasana colosseum.
"Yaa!!!!!!" Para penonton pun sudah sangat bersemangat untuk menonton pertarungan final grup B antara Asuka dari guild Valkyrie melawan Luca dari guild Blue Predator.
Terlihat Asuka dan Luca sudah berada tepat di dalam arena, mereka berdua yang terlihat sudah sangat serius untuk bertarung satu sama lain.
"Baiklah!! Kalau begitu tanpa berlama lama! Mari kita mulai!!!!!"
(Ngom!!!!)
Aba aba pertandingan di mulai pun berbunyi, para penonton pun langsung bersorak ria setelah mendengar suara tersebut.
"Hei kamu, biarku perjelas, aku tidak akan kalah" Ucap Luca dengan serius menatap Asuka dari kejauhan.
"Begitukah.. Aku juga tidak berniat kalah.. Jadi janganlah berharap kamu bisa mendapatkan kemenangan yang mudah" Ucap Asuka datar.
"Baguslah kalau begitu, berarti tidak ada lagi yang perlu di pastikan bukan?" Tanya Luca.
"Aku rasa tidak ada, lagian kamu juga tidak berniat berbicara baik baik denganku bukan, jadi mari kita mulai saja pertandingannya." Ucap Asuka menatap Luca dengan tatapan tajamnya.
Auranya pun keluar dan menyambar seisi colosseum, Luca yang merasakan aura milik Asuka pun membalas dengan aura miliknya, bentrokan dua aura tersebut pun memanaskan pertarungan di dalam arena.
"Baiklah kalau begitu, mari akhiri pertarungan ini' Ucap Luca yang perlahan berubah, gaunnya yang berubah, serta naga biru air yang muncul dari permukaan dan melingkar di tubuh hingga lehernya, tidak hanya itu, trisula pun muncul dari genangan air pada permukaan tepat di bawahnya dan ia pun mengambil trisula tersebut.
Para penonton yang melihat Luca sudah sangat serius pun bersorak ria, pertandingan di dalam arena semakin memanas terlebih lagi sorakan para penonton.
"Begitu kah.." Ucap Asuka perlahan menutup mata dan kembali membuka matanya, di saat yang bersamaan ia pun berubah.
Matanya yang berubah menjadi kuning terang, pakaiannya yang berubah menjadi gaun serta selendang kuning yang melingkar di lehernya, tidak hanya itu, cincin berwarna kuning tepat di belakangnya dengan lambang petir di kelilingi enam cahaya kuning yang melingkari cincin itu serta tiga katana yang bergabung menjadi satu tepat di bawah cincin tersebut.
Petir pun menyambar seisi arena pada sisi Asuka sebelah kiri dari pertengahan arena, di sisi Luca sebelah kanan dari pertengahan arena terlihat genangan air yang terus meluas tidak hanya itu, genangan air itu pun terus bergelombang dan perlahan muncul harimau dan serigala air dari dalam genangan air tersebut, terlihat juga terdapat hiu air yang sedang berenang di genangan air tersebut.
Tatapan tajam antara mereka berdua pun semakin memanas di tambah sorakan dari para penonton tersebut yang mencapai ribuan orang.
...~Bersambung~...