
Pagi hari pun tiba, Zen dan Silvia pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju akhir perbatasan.
"Hei Silvia, apakah kita masih jauh untuk keluar dari hutan agung?" Tanya Zen.
"Sepertinya masih jauh.." Ucap Silvia.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk keluar dari hutan agung.
...-Disisi lain-...
Veliona pun terlihat sedang duduk di dalam kamarnya, wajahnya terlihat sangat murung, ia mengingat jelas kematian Lucia di tangannya.
Lucia mati tepat di tangan Veliona, karena ia tidak berhasil menahan rasa nafsunya terhadap darah, terlebih lagi Lucia terus menghasutnya, Veliona pun akhirnya kembali terhasut dan menghisap seluruh darah bahkan mana milik Lucia yang membuatnya harus tewas.
Veliona pun merasa sangat trauma dengan hal itu yang membuatnya terus mengurung diri di kamar, bahkan saat teman temannya datang untuk menjenguknya, ia mengusir mereka.
"Kenapa aku melakukannya!?!, Lucia adalah orang yang menolongku dan menyelamatkanku waktu itu!! Kenapa aku malah membunuhnya?!!" Veliona pun sangat marah pada dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!!" Veliona pun menangis, ia merasa sangat menyesal dan sangat frustasi.
"Ha!!!!!!" Veliona pun berteriak histeris dan aura miliknya seketika menyambar ke seluruh akademi.
Disisi lain, Siyon, Rara, Rily dan Sayu yang sedang berlatih sihir di ruangan latihan pun merasakan perasaan tidak enak secara tiba tiba.
"Kak Rily, aku merasakan perasaan yang sama lagi" Ucap Sayu sedikit ketakutan.
"Aku juga merasakannya, tenang saja Sayu, tidak akan terjadi apa apa kok.." Ucap Rily sembari tersenyum.
"Akhir akhir ini perasaan ini terus muncul pada diriku, apa yang terjadi?" Gumam Siyon kebingungan.
Siyon pun menatap ke langit yang cerah tanpa ada tanda tanda kedatangan Iblis atau monster yang membuatnya semakin kebingungan dengan perasaan tidak enak yang terus menyambar mereka.
...-Disisi lain-...
Setelah lama berjalan, Zen dan Silvia pun memutuskan untuk istirahat sejenak, saat sedang beristirahat, Silvia pun bertanya kepada Zen "Zen, apakah kamu tau tentang hutan ini? dan dari mana kamu tau perbatasan akhir?" Tanya Silvia.
"Aku tau dari para pahlawan yang sempat memberi tauku sebelum mereka menghilang untuk selamanya" Ucap Zen.
"Begitu kah... Berarti kamu pernah bertemu dengan para pahlawan di dalam mimpimu?" Tanya Silvia.
"Ya, begitulah kira kira" Ujar Zen.
Saat sedang berbincang, seekor burung pun mendekati Silvia "Sepertinya semua hewan di sini sangat menyukaimu ya Silvia" Ucap Zen.
Silvia pun tersenyum dan mengucapkan "Ya begitulah.."
Zen pun berbaring di permukaan sembari memikirkan keadaan teman temannya di akademi sembari tersenyum, disisi lain, Veliona juga berbaring di kasurnya sembari menangis.
Di saat yang bersamaan, Zen kembali mendengar suara seorang gadis yang meminta tolong kepadanya, tetapi Zen menghiraukannya karena ia berfikir jika ia hanya sedang berhalusinasi.
Zen pun menutup matanya, di saat yang bersamaan ia melihat kobaran api yang tiba tiba menyambarnya yang seketika membuatnya langsung terbangun.
"Apa itu tadi?!" Gumam Zen terkejut dan kebingungan.
"Ada apa Zen?, kamu baik baik saja?" Tanya Silvia.
"Ah, aku baik baik saja" Ucap Zen.
Zen pun kembali menutup matanya dan ia kembali melihat kobaran api yang menyambar ke arahnya, sesaat kobaran api itu menyambar, Zen melihat sesuatu yang aneh, ia melihat bayangan hitam seperti bola di dalan kobaran api tersebut.
Tiba tiba Silvia memukul bahu Zen yang membuatnya kembali tersadar.
"Ah maaf" Ujar Zen.
"Kamu benar tidak apa apa?" Tanya Silvia dengan serius.
"Iya, aku baik baik saja.., ayo kita lanjutkan perjalanan kita" Ucap Zen.
"Kalau begitu baiklah.." Silvia pun bangun dan mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka keluar dari hutan itu.
...-Time skip-...
Tiga jam pun berlalu, Zen dan Silvia pun akhirnya keluar dari hutan agung, saat mereka sudah keluar dari hutan agung, mereka pun terkejut melihat jurang yang sangat besar dan dalam tepat di hadapan mereka.
"Apa ini?!" Silvia pun sangat terkejut dan kebingungan, karena ia baru pertama kali berjalan hingga ke ujung hutan agung.
"Sepertinya kita sudah sampai" Ucap Zen.
"Sampai? Maksudmu kita sudah sampai di akhir perbatasan?" Tanya Silvia.
"Iya, ini adalah perbatasannya" Ucap Zen.
"Baiklah, ayo kita lompat Silvia, kamu bisa menggunakan sihir angin kan?" Tanya Zen.
"Tentu saja, sihir angin adalah keahlianku" Ucap Silvia.
"Baiklah kalau begitu" Zen pun melompat sangat tinggi di susul oleh Silvia, saat berada di tengah tengah jurang, Zen pun menyadari jika jurang itu terus menghembuskan angin yang kuat dari dalam jurang yang membuat orang berkemungkinan melayang jika berada di atas jurang itu.
Zen dan Silvia pun mendarat dengan selamat dan mereka pun tiba di akhir perbatasan.
"Hah.. Sepertinya perjalanan kita baru akan dimulai" Ucap Zen.
Silvia pun tersenyum dan mengucapkan "Aku sangat menantikan petualangan yang menyenangkan ini" Ucap Silvia sembari tersenyum bahagia.
Zen yang melihat Silvia sangat bahagia pun sedikit tersenyum "Baiklah, ayo kita berpetualang" Ucap Zen sembari berjalan dengan santai.
"Ayo!!" Silvia pun mengikuti Zen dengan rasa penasaran dan semangatnya yang meronta ronta.
Saat mereka sedang berjalan, tiba tiba mereka berdua merasakan tekanan yang luar biasa dan perasaan kebingungan di campur dengan rasa keanehan yang tidak pernah mereka rasakan dan tidak bisa di jelaskan menggunakan kata kata.
"Perasaan apa ini?!" Gumam Zen sangat kebingungan dan panik.
Zen pun melihat sekitarnya, di saat yang bersamaan, Silvia memukul bahu Zen sembari mengucapkan "Zen.., lihat ke langit.." Ucap Silvia dengan sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Zen pun melihat ke langit dan sangat terkejut, ternyata langit terbelah dan terlihat portal yang entah dari mana, portal itu sangat berbeda dari berbagai portal yang pernah Zen lihat, portal tersebut adalah portal dimensi yang berkemungkinan jika portal dimensi itu menghubungkan dua dunia di saat yang bersamaan.
Tiba tiba sesosok monster bercahaya dengan bentuk naga yang panjang dan sangat besar pun menampakkan dirinya keluar dari portal itu dan mengaum.
"Gha!!!!!!" Zen dan Silvia pun langsung menutup telinga mereka karena raungan dari monster itu sangat keras.
"Apa apaan itu!!?!!" Gumam Zen sangat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Beberapa saat kemudian, suara raungan pun menghilang bersamaan dengan hilangnya monster dan portal dimensi itu.
Silvia pun terduduk lemas dan sangat syok karena ia baru pertama kali melihat sesosok monster yang sangat besar bahkan seakan akan besarnya seperti separuh dari dunia mereka.
"Aku tidak mengerti ini, perasaan aneh ini tidak menghilang sama sekali, apakah ini halusinasi?! Ataukah ini peringatan jika melewati akhir perbatasan?!" Gumam Zen sangat kebingungan.
...~Bersambung~...