
Ratusan kepala oni itu pun langsung mengarah ke arah Kiguno dan yang lainnya, serangan yang begitu besar dengan aura yang mematikan langsung mengarah ke mereka dengan sangat cepat.
"Sial!!!" Gumam kesal Siyon yang terkapar lemas dan hanya bisa menatap serangan kegelapan itu.
Ratusan oni kegelapan pun semakin dekat ke arah mereka, dan tiba tiba dinding es yang sangat besar muncul menghalangi ratusan oni itu.
Ledakan pun tercipta saat oni kegelapan itu bertabrakan dengan dinding es tersebut.
(Booomm!!! Booooom!!!! Boomm!!!! Boommm!!! Bammm!!! Buar!!!!!!)
Dinding es pun hancur hanya karena 9 hantaman oni kegelapan itu, karena dinding es itu sudah hancur, gadis serigala itu pun menggunakan seluruh kemampuannya untuk melindungi Siyon dan yang lainnya dari kejauhan.
"Kurisutaruaisuu Oru!!"
...•...
...ク...
...リ...
...ス...
...タ...
...ル...
...ア...
...イ...
...ス...
...ウ...
...ォ...
...ー...
...ル...
...•...
...(Dinding Es Kristal)...
Dinding es yang sangat besar dan sangat tebal berwarna biru tua keunguan pun muncul melindungi Siyon dan yang lainnya.
(Boomm!! Booomm!! Baamm!!! Buar!!! Duar!!! Dharr!!! Booomm!!! Booomm!! Bamm!!! Bammm!!! Bhar!!! Dhar!! Duar!!!!!!!!!!!!)
Oni kegelapan itu pun terus menghantam dinding es itu tanpa henti yang membuat gadis itu sangat kewalahan untuk mempertahankan dinding es yang ia ciptakan.
"Ghh!!! Aaahhh!!!!!" Gadis itu pun terus berusaha menahan dinding es itu dengan kondisinya yang juga tidak mendukung, luka pada jantungnya belum pulih sepenuhnya, tetapi ia lebih tidak tega melihat banyak orang yang akan mati jika ia melepaskan pertahanannya.
"Haaa!!!!!!!!!!!!!!" Matanya pun perlahan memudar yang menandakan jika kekuatan sihirnya akan segera habis, walau begitu, ia tetap saja memaksakan diri demi melindungi semua orang.
(Booomm!!!!)
"Agh!!!" Gadis itu pun gagal menahan dinding itu karena ketidak mampuannya, ia pun menjadi kesulitan bernafas, kepalanya yang pusing dan jantungnya yang kembali terasa sakit.
"Ghh!!!" Gadis itu pun hanya dapat melihat puluhan oni kegelapan yang tersisa yang akan menghantam ke semua orang disana.
...-Disisi Lain-...
Veliona pun perlahan bangun dan mengambil darahnya pada bekas tusukan sabit soul reaper di tubuhnya, tatapan matanya yang kosong dan sangat berbeda dari Veliona yang semua orang kenal serta hawa keberadaannya yang tidak dapat di rasakan oleh siapapun.
Veliona pun menciptakan sabit miliknya dan mengoles darah pada sabitnya itu, seketika sabitnya pun bersinar merah gelap dan aura timbal balik sabit itu yang semakin mengancam.
Tiba tiba Veliona menghilang, kilatan merah gelap pun melintasi gadis itu dengan sangat cepat ke arah puluhan oni itu, dan di saat yang bersamaan, dua puluh oni kegelapan pun meledak akibat tebasan sabit Veliona.
"Apa yang terjadi?!" Gumam gadis itu sangat terkejut.
(Boooommm!!)
Veliona pun ikut terpelanting jauh karena ledakan yang dasyat itu dan tak sadarkan diri.
Gadis itu yang melihat masih tersisa tujuh puluh dua oni kegelapan pun memaksakan diri untuk bangun, dan kembali menciptakan sihir perlindungan, tetapi saat ia akan berdiri, ia malah terjatuh pingsan karena fisiknya yang sudah tidak mampu menahan rasa sakit yang ia terima terlebih lagi ia terlalu memaksakan diri yang menyebabkan ia mengalami Lost Consciousness.
...-Disisi Lain-...
Tiba tiba sambaran petir muncul dan menghantam tiga oni kegelapan itu, walau begitu hantaman petir itu tidak cukup kuat untuk memusnahkan oni kegelapan yang tersisa.
"Sial!! aku masih terlalu lemah!!" Kesal Siyon panik.
"Hakai no inazuma!!"
...•...
...破...
...壊...
...の...
...稲...
...妻...
...•...
...(Petir Kehancuran)...
Sambaran petir yang besar pun kembali menghantam oni kegelapan itu dan mampu melenyapkan 13 oni kegelapan.
Asuka pun kembali memasukkan katananya ke dalam sarungnya dan berniat menggunakan katana ketiga miliknya, tetapi ia mengurungkan niatnya karena rasa takut akan kutukan katana itu.
"Tanganku bergetar?" Gumam Asuka panik.
Tiba tiba tornado angin spiral pun mengarah ke puluhan oni itu dan berhasil menghancurkan 7 dari oni kegelapan itu.
"Apakah ini akhir dari kita?!" Gumam Yuuiki sangat panik.
(Krk!!)
Batu es yang berada di udara pun sedikit retak, Asuka dan Siyon yang memiliki pendengaran yang bagus pun menoleh dan melihat batu es itu.
(Krkk!!)
Retakan pun semakin melebar dan batu es itu pun pecah.
(Tcs!!)
(Swof!!!!!!)
(Krkkkk!!!!!!)
Tiba tiba puluhan oni kegelapan yang tersisa pun membeku yang membuat semua orang terkejut.
"Apa yang terjadi?!" Gumam Siyon sangat terkejut.
Terlihat Zen yang perlahan turun ke permukaan tepat di depan Asuka dan Siyon.
"Zen?" Ucap Siyon kebingungan.
Zen pun mengangkat tangannya, dinding sihir berwarna merah serta rantai miliknya yang melapisi dinding sihir itu, dan di saat yang bersamaan es yang menahan oni kegelapan pun pecah dan oni kegelapan kembali mengarah ke mereka semua.
"Awas!!!" Panik Asuka sembari menarik Siyon kebelakang.
(Booooooooooooooooooommmmmmm!!!!!!!!!!!!!!!!)
Ledakan yang besar dan dasyat pun tercipta saat puluhan oni kegelapan yang tersisa menghantam dinding sihir milik Zen.
Angin pun menghantam ke semua orang yang membuat orang orang terpelanting jauh kebelakang.
(Boooommm!!!!!!!!!!
Booooooooooooooooooooooommmmmmmmmm!!!!!)
(Swo!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
"Ahhhhh!!!!"
"Ghh!!" Walau begitu, terlihat Asuka, Siyon, Thira, Elia, Verina, Silvia, Ayani, Sayu, Kiguno, Rias, dan Aina berhasil menahan diri mereka.
"Bencana macam apa ini?!!!" Panik Aina yang sudah tidak mampu menahan dirinya, ia pun terpelanting ke udara tetapi ia langsung menciptakan sayapnya dan berusaha kembali melawan angin itu, tapi usahanya sia sia ia kembali terpelanting jauh ke udara akibat angin dari ledakan itu yang sangat kuat.
Beberapa saat kemudian, angin pun semakin pelan dan kabut asap mulai menghilang.
"Apa kita berhasil selamat?" Gumam Asuka melihat kedalam kabut asap.
Setelah seluruh kabut asap memudar, terlihat Zen yang berdiri tegap di depan mereka sembari menatap langit.
"Hebat sekali..." Gumam Asuka terkagum dengan Zen.
Zen pun menoleh kekiri dan melihat Veliona yang sedang terkapar di kejauhan, ia tiba tiba menghilang dan sudah muncul tepat di samping Veliona.
"Hilang?!" Gumam Siyon sangat terkejut.
Disisi Lain, Zen terlihat memeluk Veliona dan melihat kondisi tubuhnya, tubuhnya yang penuh bercak darah tetapi tidak terluka sedikitpun membuat Zen sedikit kebingungan.
Ia pun menyentuh denyut nadi di tangan Veliona dan kembali tenang karena Veliona yang masih hidup.
Zen pun menggendong Veliona dan kembali berpindah dengan cepat ke sebelah gadis serigala yang sebelumnya, Zen pun meletakkan Veliona di sana dan membakar mereka berdua menggunakan api berwarna hijau.
"Kalian berdua hebat sekali, terima kasih sudah mengulur waktu untukku.." Ucap Zen sembari tersenyum.
Terlihat mata Zen yang berubah menjadi biru sedikit putih seperti salju serta rambutnya yang berubah menjadi biru keputihan.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Koruga dan para bawahannya sedang berkumpul di kastil melihat kondisi Soul Reaper yang berada di luar kendali Koruga.
"Apa ini tandanya ia akan segera bangkit Koruga?" Tanya Lucifer.
Koruga yang mendengar pertanyaan Lucifer pun menjawab "Ia harus di segel sementara, hingga waktu yang di tentukan, jika ia bangkit sekarang, rencanaku mungkin akan hancur, pasti dia akan memusnahkan semuanya" Ucap Koruga.
"Serika" Koruga pun memanggil Serika, Serika yang mendengarnya pun langsung tunduk dan bertanya "Ada apa tuan muda?, apa yang harus ku lakukan?" Tanya Serika.
Koruga pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Tidak jadi, lupakan saja, Code, tolong jaga dia bersama Lucifer, hanya kalian yang mampu menyegelnya saat ini" Ucap Koruga.
Lucifer yang mendengarnya pun tersenyum dan mengucapkan "Tentu saja, kami pasti akan menjaganya!" Ucap Lucifer sangat bersemangat.
Berbeda dengan Code, Code hanya menundukkan kepalanya dan kembali menatap selendang putih yang terlilit di lengannya.
Ia pun tersenyum tipis saat melihat selendang putih itu.
Koruga pun memanggil Vielsa, Noile dan Yuno.
Mereka bertiga pun langsung tunduk dan bertanya "Apa yang bisa kami bantu tuan muda?" Tanya mereka serentak.
Koruga pun mengucapkan "Maaf jika ini permintaan egois, bisakah kalian bertarung melawan Zen?" Tanya Koruga sembari menatap mereka bertiga.
"Aku ingin tau sudah seberapa kuat Zen, kalian boleh membunuhnya jika kemampuannya di bawah kalian bertiga, berarti dia tidak pantas untukku" Ucap Koruga.
"Tapi jika kalian akan kalah, aku ingin kalian matilah di tangannya" Ucap Koruga.
Mereka yang mendengarnya pun menjadi senang karena Koruga mengutus mereka dan mengatakan untuk mati di tangan Zen jika mereka memang kalah, yang berarti mereka akan berkorban demi keinginan Koruga.
"Baik tuan muda!" Serentak mereka bertiga.
Tiba tiba Cendra pun menyela pembicaraan dan mengucapkan "Yah.. Padahal aku ingin bertarung melawannya.." Keluh Cendra.
Koruga yang mendengarnya pun tersenyum tipis dan mengucapkan "Jika bertarung melawan Zen, aku juga ingin, tapi aku harus mengikuti rencanaku" Ucap Koruga sembari tersenyum.
...~Bersambung~...