
Hari pertama latihan Zen bersama para pahlawan pun dimulai.
Rex terus menyuruh Zen untuk menangkap bola api yang ia lemparkan ke Zen hanya dengan tangan kosong.
Zen yang haus akan kekuatan pun terus latihan keras, ia tidak peduli dengan jenis latihannya, walau tantangan yang sulit terus mengejarnya, ia akan terus berusaha untuk melewatinya.
Beberapa jam pun berlalu, Rex menyuruh Zen untuk beristirahat sejenak.
Zen pun langsung terduduk lemas.
"Hah.. hah.." Zen mengangkat kedua tangannya dan melihatnya.
"Healing" Zen pun menyembuhkan tangannya, tiba tiba Rex datang dan menyuruhnya untuk berhenti.
"Jangan sembuhkan luka di tanganmu Zen" Ucap Rex.
Zen pun bertanya "Kenapa?"
Rex dengan santainya menjawab "Jika kamu menyembuhkannya, latihanmu akan sia sia" Jelas Rex.
Zen yang mendengarnya langsung menghentikan penyembuhannya.
"Begitukah.." Paham Zen.
Zen yang masih penasaran bertanya kepada Rex "Tapi kenapa aku tidak boleh menyembuhkannya?, bukannya lebih bagus untuk persiapan ku di latihan selanjutnya??" Tanya Zen.
"Cara tercepat untuk belajar adalah dari rasa sakit, saat kamu merasakan rasa sakit, tubuhmu akan berusaha menetralkan luka, dan lama kelamaan tubuhmu akan terbiasa dengan rasa sakit" Jelas Rex.
Zen pun termenung dan mengingat semua latihannya "Berarti latihanku selama dua tahun terakhir ternyata sia sia" Ucap Zen.
Rex merangkul Zen dan mengucapkan "Latihanmu selama dua tahun tidak sia sia Zen, justru itu sangat bermanfaat, buktinya kamu sekarang sudah berkembang sangat drastis, tapi latihanmu hanya melatih kekuatan tidak dengan pertahananmu" Jelas Rex.
Berkat pujian dan penjelasan dari Rex, Zen pun akhirnya paham dan semangatnya untuk latihan pun semakin meningkat.
"Baiklah! ayo kita lanjut latihan! mohon bantuannya!" Semangat Zen dan langsung bangun mengajak Rex untuk melanjutkan latihannya.
Rex pun tersenyum melihat Zen penuh semangat, ia pun teringat masa kecilnya saat ia juga sering bersemangat seperti Zen dalam mengejar mimpinya.
Rex pun bangun dan tiba tiba menghilang.
Zen pun seketika kebingungan, tiba tiba Rex meneriakinya dari ketinggian.
"Zen!!" Rex~
Zen pun langsung melihat ke atas dan terkejut.
Rex sudah menciptakan bola api yang besar di tangannya.
"Tangkap dan tahan ini Zen!!" Rex pun langsung melemparkan bola api itu ke arah Zen sembari tersenyum bersemangat.
...-Disisi lain-...
Haruto yang melihat Rex terlalu bersemangat pun spontan mengucapkan "Sepertinya dia ingin membunuh Zen" Ucapnya dengan wajah polos.
"Sepertinya begitu" Ujar indra dengan wajah polos.
"Selagi Zen masih hidup, aku rasa dia akan baik baik saja" Ujar Ghil.
...-Disisi lain-...
Zen pun langsung mempersiapkan dirinya untuk menaham bola api itu.
(Swoof..)
Bola api itu pun terus mendekati Zen.
Rex pun melihat Zen dengan serius, ia ingin melihat apakah Zen benar benar akan menahan bola api itu atau tidak.
Bola api itu pun terus mengarah ke Zen dengan cepat.
(Bf!!)
Rex pun terkejut, karena Zen benar benar menahan bola api yang besar itu.
(Bf!!!!)
"Panas!!!" Gumam Zen.
Tangan Zen pun menerima luka bakar yang cukup parah karena bola api yang Rex lemparkan bukanlah elemen sihir melainkan sihir elemen.
Tetapi Zen terus menahan bola api itu, ia tidak peduli dengan semua rasa sakit yang ia terima, ia pun terus menahan bola api itu dan berusaha memadamkannya menggunakan kekuatannya.
"Ha!!!!" Bola api itu pun sedikit mengecil.
Rex pun tersenyum melihat Zen.
Tiba tiba Rex muncul di samping Zen dan membawa Zen menjauh dari bola api itu.
"Cepat sekali!" Gumam Zen terkejut dan kagum dengan Rex.
Mereka berdua pun muncul di samping Haruto, Haruto yang menyadarinya pun langsung menyapa mereka.
"Yo, sepertinya kamu tidak jadi mati Zen" Ucap Haruto.
"Eh?" Zen yang mendengarnya pun kebingungan.
(Boooooooooooooooooooommmmmmmmmmmm!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
Bola api itu pun menghantam permukaan yang seketika menciptakan ledakan yang sangat dasyat.
"Kekuatan macam apa itu!?" Gumam Zen sangat terkejut melihat kekuatan Rex.
"Hahaha" Rex pun tertawa puas, ia merasa Zen adalah reinkarnasi dari dirinya.
"Sepertinya Zen adalah reinkarnasi dari diriku di kehidupan sebelumnya!" Ucap Rex dengan penuh semangat.
Tiba tiba Haruto pun mengucapkan "Sepertinya kamu keseringan tidur Rex, Zen adalah reinkarnasi dari diriku, lihatlah dia pengguna pedang ganda sepertiku" Ucap Haruto.
"Tidak! Zen adalah reinkarnasi dari diriku!, lihatlah semangat dan tekadnya yang luarbiasa! kamu benar benar tidak pandai menilai Haruto!" Ucap Rex.
"Apa lagi yang mereka debatkan.." Gumam Zen.
(Dug! dug!)
"Apa ini??" Gumam Zen kebingungan karena matanya yang perlahan mulai tertutup sendiri.
Zen pun terjatuh pingsan, Rex, Haruto, Ghil, dan Indra yang melihatnya pun hanya melihat Zen dengan santai.
Rex pun mengucapkan "Sepertinya latihanku terlalu berlebihan ya" Ucap Rex.
"Ya, akal sehatmu memang sudah tidak ada" Ujar Haruto.
"Ha!!??" Rex pun merasa kesal dengan ucapan Haruto.
"Hahahahahaha..." Haruto, Ghil, dan Indra pun tertawa melihat tingkah Rex yang tidak berubah sama sekali.
Rex yang merasa bersalah pun mendekati Zen dan membakar Zen dengan api berwarna hijau.
Luka di tubuh Zen seketika pulih total.
Rex dan yang lainnya pun membiarkan Zen beristirahat karena Zen sudah berjuang keras selama satu harian.
...-Time skip-...
Hari ini adalah hari kedua Zen berlatih bersama para pahlawan.
"Teknik pedang ganda-" Zen~
(Slash! slash! slash! slash! slash!)
(Bf!!)
"Fire slash" Zen~
Zen pun membelah sebuah pohon ciptaan Haruto dengan mudah.
Haruto yang melihat Zen pun menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu Zen" Ucap Haruto.
Zen yang mendengar ucapan Haruto pun kebingungan.
Haruto pun menciptakan kedua senjatanya dan kembali menciptakan sebuah pohon sihir.
Haruto pun mengangkat satu pedangnya dan menebas pohon itu dengan sangat cepat.
Tiba tiba pohon itu sudah terbelah belah dan menghilang.
Zen pun sangat terkejut dan tercengang melihatnya.
"Begitulah kira kira" Ucap Haruto.
"Kecepatan macam apa itu?!" Gumam Zen.
...-Time skip-...
Hari ketiga pun tiba, kali ini Zen dilatih oleh Indra, Indra pun mengeluarkan Katana miliknya dari sarungnya.
(Thaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
Seketika petir yang sangat besar dan dasyat pun langsung menyambar habis gunung es yang Zen ciptakan.
Zen sangat terkejut dan sangat kagum dengan kekuatan Indra yang luarbiasa.
Indra pun melihat Zen seakan akan menyuruh Zen untuk mencobanya.
"Baiklah!" Gumam Zen.
"C'Katana!" Zen~
...-Time skip-...
Hari ke empat pun tiba, hari ini Zen di latih oleh Ghil, Ghil melatih Zen untuk menggunakan senjata miliknya yang berupa rantai, rantai miliknya bukan hanya rantai penyerang, rantai milik Ghil juga sangat kuat dalam pertahanan, bahkan dapat menyegel Iblis, tidak hanya Iblis bahkan Vampire, Spirit, Roh dan masih banyak yang lainnya dapat di segel menggunakan rantai itu.
Zen terus berlatih dengan keras setiap harinya bersama para pahlawan.
...-Disisi lain-...
Koruga pun sedang duduk bersemedi di sebuah lingkaran sihir yang sangat besar, tidak hanya sendirian, ia di temani oleh Cerberus dan Reaper yang menjaganya.
Di saat yang bersamaan, ia merasakan kekuatan yang sangat besar turun ke dunia, ia yang menyadarinya pun langsung mencari tau kekuatan besar apa yang turun ke dunia itu.
Beberapa saat kemudian Koruga pun tersenyum dan mengucapkan "Akhirnya kau membuat kesalahan dewi sialan!!" Kesal Koruga sembari tersenyum bengis, seketika aura pembunuh yang sangat kuat langsung terpancarkan dari dirinya, lingkaran sihir itu pun mengeluarkan cahaya merah yang sangat terang.
...-Disisi lain-...
Semua murid dan para petinggi akademi Arsenal pun berpamitan dari akademi Onyx, mereka sangat berterima kasih, karena akademi Onyx telah menolong mereka semua.
Mereka pun memutuskan untuk kembali, dan berniat membangun kembali akademi yang sudah hancur.
Saat Pemimpin akademi Onyx tau, Pemimpin akademi pun memutuskan untuk membantu membangun akademi Arsenal.
Perjalanan mereka semua menuju akademi Arsenal pun berjalan dengan mulus tanpa terhambat masalah sedikitpun.
...-Disisi lain-...
Rui bersama Shin pun berjalan kembali ke kediaman para Iblis dengan tujuan untuk mencari Kidra.
Rui kembali ke kediaman Iblis dengan aura yang mematikan, sehingga para Iblis bawah dan menengah sangat ketakutan dengan Rui.
...-Disisi lain-...
Jauh di timur, terlihat sesosok laki laki dengan seekor naga sedang duduk disebuah gunung sambil melihat kerajaan yang sudah hancur.
Pria itu dengan santai duduk sambil melihat kondisi kerajaan yang hancur, banyak orang yang sudah sekarat dan sangat tersiksa di sana.
...-Disisi lain-...
Terlihat seorang Iblis sedang menguntit dua anak laki laki yang sedang bermain di tengah hutan, dua anak itu terlihat sedang berlatih sihir, saat sedang asik berlatih, tiba tiba seekor monster datang dan berniat menyerang mereka.
...-Disisi lain-...
Di Istana Vampire, terlihat Raja Vampire sedang duduk dengan santai sambil melihat botol kaca yang kosong di tangannya.
Ia pun memanggil bawahannya berupa orang yang memberikan darah Vampire murni kepada Veliona.
Ia pun bertanya "Berapa lama lagi?" Tanya nya.
Laki laki itu pun menjawab "Dua tahun lagi" Jawabnya.
Raja Vampire itu pun menghancurkan botol kaca itu dan mengucapkan "Terus pantau anak itu!" Perintahnya.
Vampire itu pun mengikuti Instruksi Raja Vampire itu.
...-Disisi lain-...
Ice Zen pun terbangun di sebuah tempat aneh, tempat bersalju yang sangat besar dan luas seperti kutub salju, ia tidak menemukan sumber kehidupan di sana selain monster monster kuat.
Ia pun melihat sebuah portal dari kejauhan, ia langsung berlari dan berniat memasuki portal itu.
Saat ia ingin memasukinya, Portal itu seakan akan menolaknya dan mementalkannya.
Ice Zen pun kebingungan, karena ia baru tau jika ada portal seperti itu.
"Tempat macam apa ini?!" Gumam Ice Zen kebingungan.
...~Bersambung~...