
Tiga hari pun berlalu
Seorang Perempuan yang menginap di penginapan kota kecil yang sebelumnya Zen kunjungi pun memutuskan untuk keluar dari kota tersebut karena urusannya sudah selesai, saat ia berniat untuk pulang ke akademi tempat ia tinggal, ia pun berhenti di tengah jalan karena sedikit kebingungan.
"Apakah aku salah jalan? seharusnya ini jalan yang benar, aku yakin ini jalannya, tetapi kenapa.." Gumam Perempuan tersebut sembari melihat hutan yang sangat lebat.
Perempuan tersebut pun memasuki hutan berniat untuk memastikan jika itu adalah jalan menuju akademinya.
Saat ia memasuki hutan, tiba tiba ia merasa ada aura monster kuat yang langsung menyambarnya.
"Tunggu dulu! apa ini?!" Gumamnya kebingungan dan tidak percaya.
...-Disisi lain-...
"Haruto?!! jangan bilang kau menciptakan hutan itu?!" Ucap Indra.
"Eh, anu... aku hanya berniat memperbaiki alam yang rusak ehehe" Ujar Haruto sembari tersenyum dan menggaruk kepalanya.
"Astaga Haruto!..." Ngeluh Indra.
"Ahahaha" Rex pun tertawa terbahak bahak.
"Bagus Haruto!.. jadi aku bisa melihat kemampuan anak ini!" Ucap Rex dengan semangat.
"Aku tau kamu ingin melihat kekuatan anak itu Rex, tapi jika di hutan Cuervo apa kamu yakin?" Tanya Ghil.
"Tenang saja, hutan yang di ciptakan Haruto hanyalah copypaste, belum tentu juga benar benar sama dengan hutan Cuervo ratusan tahun yang lalu" Ucap Rex meyakinkan teman temannya.
"Hah... karena sudah terjadi ya sudahlah, kita hanya bisa melihat apa anak ini bisa keluar dari hutan Cuervo ciptaan Haruto" Ucap Indra.
"Ehehe.. maaf teman teman, aku akan bertanggung jawab jika dia tidak bisa keluar.." Ucap Haruto sambil menundukkan kepalanya.
#Disisi lain
Perempuan tersebut pun sedikit ragu untuk masuk lebih dalam tetapi karena ia harus segera pulang ke akademi, ia tidak punya pilihan lain selain melewatinya.
Ia pun memasuki hutan lebih dalam, setelah lama berjalan ia kehilangan petunjuk, karena hutan tersebut benar benar tebal dan banyak aura yang menyeramkan.
"Apa yang harus aku lakukan?..." Gumamnya kebingungan dan sedikit ketakutan.
Ia pun melihat ke kanan dan kiri, saat ia melihat ke kiri, ia menyadari ada seseorang yang sedang terkapar di bawah pohon, ia pun menghampirinya dan berniat menolongnya.
Saat ia mendekati sosok tersebut, ternyata itu adalah Zen.
"Hei...bangun.. bangun.." Ucapnya sembari menggoyangkan tubuh Zen.
Zen pun perlahan membuka matanya dan sedikit terkejut, ia pun langsung bangun dari tidurnya dan bertanya tanya "Apa yang terjadi?!" Gumamnya.
"Kamu baik baik saja?" Tanya Perempuan tersebut.
Zen yang terkejut pun sedikit menjauhi Perempuan tersebut.
"Eh. Aku baik baik saja.." Ujar Zen.
"Kamu siapa?" Tanya Zen.
"Namaku Rily salam kenal.." Ucap Perempuan tersebut.
"Salam kenal.." Ujar Zen.
"Nama kamu siapa?" Tanya Rily.
"Namaku Zen, ngomong ngomong ini dimana?" Tanya Zen sembari melihat sekitar.
Rily pun menggelengkan kepalanya sembari mengucapkan "Aku juga tidak tau, saat aku keluar dari kota dan ingin kembali ke akademi, jalan yang ku lewati sebelumnya tiba tiba menjadi hutan seperti ini" Jelas Rily.
Tiba tiba permukaan pun bergetar seperti gempa bumi dengan skala kecil.
(Bom!!)
"Suara apa itu?" Ucap Zen kebingungan.
"Sepertinya suara itu berasal dari tengah hutan" Ujar Rily.
Zen pun berdiri dan berjalan ke tengah hutan, Rily yang ketakutan pun hanya mengikuti Zen.
"Ada yang aneh disini, dan yang jadi pertanyaan, kenapa bisa ada hutan disini?" Gumam Zen kebingungan
(Krk!)
(Bom!)
Suara pohon tumbang pun terdengar jelas di telinga Zen, Zen pun langsung berlari ke sumber suara, setelah lama berlari Zen melihat sesosok monster Minotaur yang sangat besar.
"Apa apaan ini?!" Gumam Zen kebingungan
Rily pun terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Jang..an jangan.. ini" Ucap Rily patah patah.
"Kenapa Rily?" Tanya Zen.
"Ini adalah hutan Cuervo, hutan dimana semua monster besar tinggal" Ucap Rily.
"Tetapi seharusnya hutan Cuervo tidak berada di sini, hutan ini adalah tiruan, ada seseorang yang menciptakan hutan ini di sini" Jelas Rily.
Tiba tiba monster Minotaur tersebut langsung menyerang mereka berdua, mereka berdua pun menghindari serangan Minotaur tersebut.
Rily pun terlihat ketakutan, tiba tiba Minotaur tersebut kembali menyerang.
"Bergerak!.. menghindar!!..." Gumam Rily sembari mengeluarkan sedikit airmata
(Ting!!!)
Serangan Minotaur tersebut pun di tangkis dengan Zen menggunakan dua pedangnya.
"Ice thorn!"
(Srk!!!)
Minotaur tersebut pun berteriak kesakitan karena sebuah duri es yang sangat besar menembus perutnya.
Zen pun menutup matanya "Tenang.. Fokus.." Gumam Zen
Zen pun mengangkat tangannya dan muncul bola api yang sangat besar di tangannya.
"Lepaskanlah!!!" Gumam Zen sembari membuka matanya
"Wra!!!" Minotaur tersebut pun terbakar dan hangus menjadi debu.
(Dug dug!)
"Agh!!!!" Zen tiba tiba terduduk kesakitan yang membuat Rily panik.
"Kamu kenapa?!" Tanya Rily panik.
"Gh!.. Hah... hah... Aku ba..ik baik saja" Ucap Zen.
"Sial!! sakit sekali!" Gumam Zen
"Tubuhku benar benar masih belum bisa menyeimbangi kekuatan sihir elemen" Gumam Zen.
"Healing!" Rily pun menggunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan Zen.
"Terima kasih Rily" Ucap Zen.
"Tidak usah di pikirkan, aku selamat juga karena kamu" Ujar Rily.
Rily pun termenung sejenak dan bertanya kepada Zen.
"Apa yang kamu gunakan tadi Zen?" Tanya Rily.
"Em.. Apa maksudmu Rily?" Ucap Zen kebingungan.
"Barusan saat kamu menggunakan sihir tapi kenapa kamu kesakitan?, tadi kamu menggunakan elemen es tanpa efek samping, tapi kenapa saat menggunakan elemen api kamu berteriak kesakitan?, apa yang terjadi?" Tanya Rily.
"Itu hanya ketidak mampuan tubuhku untuk mengimbangi kuatnya sihir elemen" Ucap Zen.
"Apa maksudmu??" Tanya Rily.
"Sihir elemen dengan elemen sihir itu berbeda, Sihir elemen itu kita menciptakan elemen menggunakan 'Mana' dari inti sihir kita, sedangkan elemen sihir hanya menggunakan energi sihir dari inti sihir kita" Ucap Zen.
"Em.. aku tidak mengerti" Ucap Rily.
Zen pun mengangkat tangan kanannya.
"Fire" Sihir api pun muncul di tangan Zen.
"Ini adalah sihir api, sihir api ini diciptakan menggunakan aliran 'Mana' atau sering di sebut energi sihir" Ucap Zen.
Zen pun menggenggam api di tangannya.
"Berbeda dengan elemen sihir. Sihir elemen adalah elemen asli atau sihir murni dari elemen yang kita miliki, sihir elemen di ciptakan menggunakan 'Mana' yang langsung dari inti sihir, simpelnya saat menggunakan sihir elemen, perlu menggunakan 'Mana' yang banyak dan langsung dari inti sihir, bukan dari 'Mana' yang mengalir di setiap tubuh kita" Jelas Zen.
"Apa sudah cukup jelas??" Tanya Zen.
"Aku mulai mengerti, tetapi kenapa kamu merasakan sakit??" Tanya Rily.
"Karena saat menggunakan sihir elemen api, aku merasakan panas, semakin besar kekuatan sihir elemen yang ku ciptakan, semakin panas juga tubuhku, seakan akan seperti terbakar" Jelas Zen
"Tetapi tergantung dari elemen yang dimiliki, misalnya elemenmu angin, kamu akan merasakan tubuhmu seperti terkoyak koyak setelah menciptakan dan menggunakan sihir elemen angin" Jelas Zen
"Baiklah aku mulai mengerti" Ucap Rily.
Tiba tiba hutan tersebut pun menghilang seperti ilusi sihir yang membuat Zen dan Rily kebingungan dengan apa yang terjadi.
Rily pun akhirnya melihat akademi tempat ia bersekolah yang sudah tidak terlalu jauh darinya.
"Zen ayo ikut aku ke akademiku" Ucap Rily.
"Emangnya dimana akademimu?" Tanya Zen.
"Itu disana" Ucap Rily sembari menunjuk ke arah akademi.
"Wah.. Dilihat dari jauh saja kelihatan sangat besar apalagi dari dekat" Ucap Zen sedikit kagum
"Ayo!" Rily pun menarik tangan Zen dan mereka pun ke akademi tersebut.
Sesampainya di akademi, Rily pun dengan santai memasuki gerbang akademi.
"Kita mau kemana?" Tanya Zen.
"Kita akan ke ruangan pemimpin akademi" Ucap Rily.
Mereka pun terus berjalan menuju ruangan pemimpin akademi yang cukup jauh, setelah lama berjalan, mereka pun akhirnya sampai di ruangan pemimpin akademi.
Rily pun langsung membuka pintu tanpa mengetuk sembari mengucapkan "Ayah aku pulang!.." Ucap Rily.
Zen yang mendengarnya pun seketika terkejut.
"Dia anak pemimpin akademi ini?!?" Gumam Zen kebingungan.
"Selamat datang kembali Rily, ngomong ngomong siapa dia?" Tanya Ayah Rily.
"Oh iya yah.. apa dia boleh bersekolah di akademi ini?? dia telah menyelamatkanku dari monster Minotaur yang sangat besar dan bahkan dia memberiku pelajaran yang cukup bermanfaat yah!" Jelas Rily.
"Benarkah?" Ucap Ayah Rily sembari menatap Zen.
Zen yang kebingungan harus jawab apa pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Begitukah... Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan anakku dari monster, dan telah memberi anakku sedikit pengalaman" Ucap Ayah Rily.
"Aku tidak tau harus berbuat apa, mungkin hanya satu yang bisa aku tawarkan, apa kamu mau bersekolah di akademi ini? semua kebutuhanmu akan ku tanggung" Ucap Ayah Rily
Zen pun terdiam sejenak dan berfikir.
"Apa aku bisa mendapatkan pengalaman di sini?? kemungkinan di sini aku bisa mempelajari apa yang belum ku pelajari di Akademi Arsenal, dan juga tawarannya sangat di sayangkan jika di tolak, tapi jika aku menerima tawarannya aku merasa tidak enak, dan juga di izinkan bersekolah di akademi sebesar ini saja sudah cukup bagiku" Gumam Zen.
Setelah lama berfikir Zen pun memberikan jawabannya.
"Jika boleh aku ingin bersekolah di akademi ini, tetapi maaf, aku tidak bisa menerima tawaran pak pemimpin, karena aku sedang mencari pengalaman, jika aku menerimanya kemungkinan aku akan menjadi anak yang manja, aku tidak akan mendapatkan pengalaman dan tidak akan berkembang" Jelas Zen
Ayah Rily pun terdiam sejenak dan menjawab "Baiklah jika itu maumu, akan ku kabulkan" Ucapnya
"Kalau begitu selamat datang di akademi Blue Ring!, aku sebagai pemimpin akademi menyatakan, mulai sekarang kamu adalah murid di akademi ini!" Ucap Ayah Rily yang membuat Zen terkejut
Rily pun tersenyum sembari mengucapkan "Selamat datang di akademi Blue ring.."
...-Disisi lain-...
Jauh dari arah timur, terlihat seorang Iblis dengan kekuatan dan aura yang sangat kuat sedang berjalan tak tentu arah dengan tatapan mata yang sangat tajam, sosok Iblis tersebut terlihat seperti Iblis tingkat atas yang sedang menjalankan perintah dari Raja Iblis tetapi masih belum di ketahui apa yang di perintahkan Raja Iblis.
...~Bersambung~...