
Zen terlihat sangat hampa, tatapan matanya sangat kosong dan ia hanya duduk di tengah tengah kegelapan.
Sebuah tombak kembali muncul dan mengarah ke Zen.
(Swof!!)
(Ting!!!)
Tetapi tombak itu tidak berhasil mengenai Zen, tombak itu seperti menabrak dinding pelindung transparant seperti milik Kenma.
Tiba tiba banyak tombak dan berbagai macam sihir yang menyerupai senjata tajam langsung mengarah ke Zen.
(Ting! ting! ting! ting! ting! ting!!)
Semua sihir yang menyerupai senjata itu juga terpental akibat dinding transparant itu, Zen meringkuk dan mengeluarkan airmata dari matanya.
(Tst!!!)
(Swof!!!)
(Slash!! Ting!!!)
Tiba tiba Siyon muncul dan mencoba untuk menebas Zen, tetapi ia malah terpental karena dinding transparan itu.
Ternyata dinding transparant milik Zen sangat berbeda dengan Kenma, dinding transparant milik Zen mampu menahan serangan bentuk fisik maupun sihir, tetapi Zen masih belum menyadari kekuatan barunya itu.
Zen terus murung dan tidak memperdulikan sekitarnya, ia terus menangis dan merasa sangat kesakitan di dalam hatinya.
"Kenapa mereka menghianatiku!?" Gumam Zen kebingungan dan sangat frustasi.
"Aku sudah percaya dengan mereka! kenapa mereka juga menghianatiku!?!" Gumam Zen frustasi.
"Kenapa!!?? kenapa dunia ini tidak adil??? kenapa!?" Gumam Zen sembari sedikit menangis.
"Ha!!!!!!" Zen pun berteriak frustasi, aura miliknya muncul dan langsung menyambar Siyon.
Siyon seketika tak sadarkan diri akibat aura milik Zen yang sangat mematikan itu.
"Kenapa!!!!!????" Teriak Zen frustasi.
Veliona pun langsung berlari ke arah Zen dan mengayunkan sabitnya.
(Slash!!)
(Ting!!!!)
Lagi lagi dinding transparant itu melindungi Zen.
Veliona memaksakan untuk menyerang Zen, tapi tiba tiba ia terpelanting sangat jauh dan sabitnya pun seketika hancur.
"C'Sword" Zen yang frustasi menciptakan pedang miliknya dan berniat untuk bunuh diri.
"Aku sudah lelah dengan semua ini!!" Kesal Zen sembari menusuk dadanya.
(Ting!!)
Tetapi sebuah dinding es muncul dan langsung menghentikan serangan Zen.
Zen sangat terkejut dan kebingungan.
"Apa ini?" Gumam Zen.
(Tk... tk... tk.. tk.. tk...)
Suara langkah kaki pun terdengar di telinga Zen, ia langsung melirik ke sumber suara itu.
"Siapa disana?" Ucap Zen kebingungan dengan nada suara yang sudah sangat frustasi dan sangat ingin mengakhiri hidupnya.
(Tk.. tk... tk... tk...)
Suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas di telinga Zen.
Tiba tiba seseorang muncul dari balik kegelapan.
"Yo, Zen.. bagaimana kabarmu?" Ucap laki laki itu.
Zen sangat terkejut dan merasa sangat sedih, ternyata yang muncul dari dalam kegelapan itu adalah Ice Zen.
"Zen??... bagaimana kamu bisa hidup kembali??" Tanya Zen sembari menangis.
Ice Zen mendekatinya sembari tertawa "Hahaha.."
"Hal konyol apa yang kamu ucapkan Zen" Ucap Ice Zen.
Zen kebingungan dengan ucapan Ice Zen.
"Tentu saja aku sudah mati, aku tidak mungkin hidup kembali, hanya saja, aku masih tetap bersamamu, kita adalah satu" Ucap Ice Zen.
"Apa kamu sudah lupa? aku yang membuat segelan untukmu? dan inti core sihir kita sudah menyatu" Ucap Ice Zen.
"Tapi, ini kemungkinan terakhir kali kita bertemu" Ucap Ice Zen.
"Apa maksudmu Zen?!" Tanya Zen kebingungan.
"Aku sudah mati Zen, yang kamu lihat, hanyalah halusinasimu saja" Jelas Ice Zen sembari tersenyum.
"Tenang saja.. semua yang di sini tidak nyata Zen" Ucap Ice Zen yang kembali membuat Zen kebingungan.
"Apa maksudmu Zen?" Tanya Zen.
Ice Zen pun menjawab "Mereka tidak menghianatimu, itu adalah ulah Koruga yang menggunakan teknik mata Iblis" Jelas Ice Zen.
"Ingatlah apa yang terjadi sebelumnya Zen" Ucap Ice Zen.
Zen kebingungan dengan apa maksud Ice Zen.
Ice Zen tersenyum sembari mengucapkan "Kamu sedang berperang di akademi Arsenal Zen..."
Zen pun seketika mengingat semua kejadiannya dan ia pun baru sadar dan merasa sangat menyesal, karena ia sudah menganggap teman temannya sebagai penghianat.
Zen seketika menangis dan Ice Zen pun merangkul Zen sambil menenangkannya.
"Semua akan baik baik saja, tenang saja Zen" Ucap Ice Zen.
Ice Zen pun terlihat seperti kakak kandung yang sangat menyayangi adiknya.
Setelah Zen mulai tenang Ice Zen pun mengucapkan "Semangat Zen, perjalananmu masih panjang, kamu pasti bisa mengalahkannya" Ucap Ice Zen.
Zen pun menarik nafasnya dan kembali tersenyum.
"Baiklah! terima kasih, Zen!" Ucap Zen.
Tiba tiba dimensi itu pun hancur, dan Zen pun terbangun di alam bawah sadarnya.
Tetapi ia tidak berada di alam bawah sadarnya, ia berada tepat di depan empat pahlawan.
...-Disisi lain-...
Veliona yang sudah sedikit sembuh pun mengikuti Elys berjalan mencari teman temannya yang lain.
Elys pun merangkul Veliona dan membantunya untuk berjalan.
Mereka berjalan menuju ruangan pemimpin akademi Onyx, sesampainya di sana, terlihat para petinggi dan pemimpin akademi sedang menyembuhkan Haxor menggunakan bantuan dari peri elf dan lingkaran sihir.
Veliona pun terkagum melihat kekuatan para petinggi dan pemimpin akademi yang sedang menyembuhkan Haxor.
Haxor pun sedikit bergerak, dan Veliona pun spontan memanggilnya.
"Pemimpin!" Teriak Veliona.
Pemimpin akademi Onyx pun menggunakan mata sihirnya dan melihat detak jantung Haxor.
Detak jantung Haxor pun kembali normal dan pendarahannya akhirnya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
"Fiuh..." Pemimpin akademi Onyx mengelap keringat yang ada di keningnya.
"Apakah pak Haxor baik baik saja pemimpin?" Tanya Elys.
Pemimpin pun menjawab "Dia baik baik saja.." Ucapnya dengan lembut.
Veliona pun sempat terpaku karena kecantikan pemimpin itu.
"Kamu salah satu murid akademi Arsenal ya?" Tanya Pemimpin.
Veliona pun menjawab "Iya.. aku salah satunya.." Ucap Veliona.
Pemimpin akademi pun menjabarkan tangannya seakan akan ingin berkenalan dengan Veliona.
"Namaku Dhia, salam kenal" Ucap Pemimpin akademi.
Veliona pun menggapai tangan Dhia dan mengucapkan "Salam kenal..."
Dhia pun tersenyum dan Veliona merasakan tubuhnya seketika menjadi ringan, luka luka di tubuhnya pun sembuh.
"Apa ini??" Bingung Veliona.
"Itu adalah partikel penyembuh" Jelas Dhia.
Veliona pun terkagum karena ia baru tau ada sihir penyembuh seperti itu.
...-Disisi lain-...
Zen pun kebingungan dan bertanya tanya.
"Kenapa aku bisa berada di sini??" Gumam Zen.
Rex dan yang lainnya pun juga ikut kebingungan dan bertanya.
"Zen? bagaimana bisa kamu tiba tiba muncul disini??" Tanya Rex.
Zen pun menjawab "Aku juga tidak mengerti, tiba tiba saat aku terbangun, aku tiba tiba di sini" Jelas Zen.
Mereka berlima pun sangat kebingungan dan Rex bertanya kepada Zen "Apa kamu berhasil mengalahkan Iblis itu?" Tanya Rex.
Zen pun menjawab.
"Aku tidak tau" Ucap Zen.
...~Bersambung~...