
Hari yang di tunggu tunggu pun tiba, hari dimana seluruh guild yang mewakili akademi di seluruh dunia pun berkumpul untuk mengikuti turnamen yang di adakan di akademi Water Dragon, akademi terbesar dan termewah dari seluruh akademi yang ada.
Terlihat sudah banyak perwakilan dari akademi akademi lain yang berjumlah 32 guild termaksud guild Eternal Fire.
...-Disisi Lain-...
Zen terlihat sedang bermeditasi di ruang tamu, Rias, Silvia, dan Verina yang melihat Zen pun menjadi kebingungan, karena Zen hari ini hanya duduk bermeditasi dari ia bangun, kira kira sudah sekitar dua sampai tiga jam Zen bermeditasi, hal tersebut membuat mereka khawatir dan berniat menyadarkan Zen.
"Apa kita harus memanggil Zen?" Bisik Rias kepada Silvia dan Verina.
"Sebaiknya kita membangunkannya, aku juga khawatir dengan Zen, ia belum sarapan dari pagi" Ucap Silvia yang perlahan mendekati Zen, tetapi saat ia berjalan mendekati Zen, tak di duga, ia menabrak dinding transparan yang membuatnya sangat terkejut dan kebingungan.
"Apa ini?" Bingung Silvia meraba dinding transparan itu.
"Ada apa Silvia?" Bingung Verina dan perlahan mendekati Silvia, ia pun ikut menyentuh apa yang Silvia sentuh dan ikut terkejut karena ia juga merasakan dinding transparan itu.
"Dinding?!" Kejut Verina yang membuat Rias dan Silvia bertanya tanya.
"Kenapa Verina? apa kamu mengetahui sesuatu?" Tanya Silvia.
"Memangnya ada apa?" Tanya Rias yang ikut mendekati dan menyentuh dinding itu, ia juga sangat terkejut karena ia benar benar tidak menduga jika akan ada dinding transparan di dalam ruangan itu.
"Ini adalah dinding transparan yang hanya di miliki oleh para Pahlawan dan Iblis karena aura dan kekuatan mereka yang sangat besar hingga menciptakan dinding transparan yang mampu melindungi mereka" Jelas Verina.
"Dan dinding transparan milik Zen sudah sederajat dengan dinding transparan milik leluhur Iblis itu sendiri" Jelas Verina yang membuat mereka berdua seketika sangat terkejut.
"Dinding transparan memiliki nama dan fungsinya tersendiri, nama dari dinding transparan adalah Blind Spot, fungsi dari dinding transparan ini adalah melindungi pengguna dari serangan fisik maupun sihir, kemampuan akan semakin meningkat sesuai kekuatan pengguna, tetapi Blind Spot hanyalah dinding yang berfungsi sebagai pertahanan, sampai sekarang belum ada yang mampu mengombinasikannya dalam pertarungan selain para pahlawan terdahulu dan leluhur Iblis" Jelas Verina.
"Menakjubkan sekali!" Kagum Silvia.
"Berarti Zen adalah reinkarnasi dari pahlawan?" Tanya Rias.
Verina pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Aku juga tidak tau, Zen adalah Iblis dan juga ia memiliki keempat senjata pahlawan, hal itu sangat tidak mungkin terjadi, tetapi Zen benar benar membawa keempat senjata legendaris itu, sampai sekarang aku juga belum mengerti apa Zen sebenarnya, ia adalah Iblis atau reinkarnasi dari pahlawan yang berubah menjadi Iblis" Jelas Verina.
Rias yang mendengarnya pun sangat terkejut dan bertanya "Zen adalah Iblis?!" Kejut Rias.
Verina pun ikut terkejut karena ia tidak sengaja membongkar rahasia Zen secara tidak langsung, dan terlebih lagi ia berbicara saat Zen ada di dekatnya.
Rias pun mendekati wajah Verina dan kembali bertanya "Apa Zen benar benar Iblis?" Tanya Rias dengan wajah serius.
Verina yang tidak tau harus berbuat apa pun hanya terdiam, Silvia yang melihatnya pun mengucapkan "Aku akan menjelaskannya secara rinci, tetapi tidak di sini" Ucap Silvia.
Rias yang mendengar ucapan Silvia pun menoleh ke arahnya dan Silvia pun mengajak Rias ke dalam kamar dan menjelaskan semuanya secara lengkap dan jelas.
...-Disisi Lain-...
Zen terlihat sedang berada di alam bawah sadarnya yang kosong hanya terdapat ruangan berwarna putih, ia terlihat berlatih keras walau hanya di dalam alam bawah sadar, ia kembali melakukan latihannya saat ia masih bersama para pahlawan, ia mengingat semua yang di ajarkan dan mengulang kembali pelajaran itu.
(Slash! Slash!! Slash!! Slash!! Slash!!!)
Zen menggunakan kedua pedang miliknya dengan sangat lincah dan cepat, kecepatannya semakin meningkat, tidak hanya itu, Zen juga sudah mahir dalam menggunakan dan mengendalikan semua senjata legendaris itu.
Zen pun melompat ke belakang dan memasang kuda kuda miliknya, kuda kuda memegang katana tetapi ia gunakan untuk pedang ganda miliknya.
"Teknik pedang ganda" Zen tiba tiba menghilang dan menebas dengan sangat cepat.
(Slash! Slash! Slash!! Slash!! Slash!!!)
"Inner Torment!!" Dua puluh tebasan api berbekas pada udara dan sambaran petir yang menyambar area sekitarnya.
Zen kembali menghilang dan muncul tepat di atas langit dan menciptakan katana miliknya.
"Teknik tebasan melintang!"
(Slash!!!!)
"Forced Crack!!" Ayunan katana milik Zen yang dengan cepat memotong udara tanpa menyentuh apapun, tetapi serangan itu langsung mengenai targetnya tanpa menyentuhnya.
(Krak!!!!!)
Permukaan di bawah Zen pun seketika retak dan hancur akibat tebasan itu.
"Terlalu dangkal!" Gumam Zen perlahan menghilangkan katana miliknya.
"C'Spear" Zen menciptakan tombak miliknya dan memegangnya dengan erat.
"Teknik tombak!" Zen memutar di udara dan jatuh dari atas udara ke permukaan dengan sangat cepat.
(Swof!!!)
(Brak!! Krak!!!!!!!!)
Permukaan pun menjadi hancur total akibat serangan barusan, tidak hanya itu, permukaan pun terbelah menjadi dua akibat serangan itu.
"Hah...." Zen pun menghembuskan nafasnya karena sudah kelelahan berlatih selama tiga jam di dalam alam bawah sadar miliknya.
"Bertahan di alam bawah sadar sembari berlatih adalah hal yang sulit" Gumam Zen dan melihat tangan kanannya.
"Aku masih harus berlatih lagi!" Gumam Zen mengingat kekalahannya saat melawan Lucifer.
"Huh.. Sebaiknya aku kembali bangun, aku juga sudah sangat kelelahan.." Keluh Zen sembari menatap ke atas langit yang tidak terdapat apapun disana.
...-Disisi Lain-...
Zen pun bangun dan sedikit kebingungan karena Silvia, Verina dan Rias yang sudah berada tepat di depannya sembari duduk minum teh dan menatapnya.
"Akhirnya bangun juga" Tegur Silvia yang membuat Zen bertanya tanya.
"Kenapa kalian disini?" Tanya Zen.
"Kami hanya menunggumu bangun dari meditasimu" Jelas Silvia kembali meminum teh miliknya.
"Kamu sudah bermeditasi selama tiga jam lebih, apa sebenarnya kamu itu tertidur??" Tanya Rias kebingungan.
Zen pun memalingkan wajahnya dan mengucapkan "Sepertinya begitu" Ucap Zen sembari menatap jendela dan bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati jendela dan terkejut saat melihat banyak sekali murid murid dari akademi lain yang berdatangan ke akademi Water Dragon.
"Ramai sekali!.." Ucap Zen terkejut melihat keramaian itu.
"Sepertinya murid murid dari akademi lain sudah berdatangan dan sebentar lagi akan dimulainya turnamen besar besaran" Jelas Rias sembari berjalan ke arah Zen.
"Tidak di duga sekali akan seramai ini..." Ucap Rias sedikit terkejut melihat keramaian itu, Verina dan Silvia pun menghampiri mereka berdua dan ikut melihat keramaian itu.
...-Disisi Lain-...
Terlihat guild Eternal Fire yang berada di dalam keramaian, mereka pun mengikuti instruksi dari pengawal akademi Water Dragon dan di antarkan ke ruangan mereka masing masing, sangking ramainya mereka juga sangat terkejut saat pertama kali tiba di akademi Water Dragon.
Di dalam keramaian, Rio yang berada di samping Siyon dan berada tepat di belakang Veliona terus tersenyum yang membuat Siyon merasa sedikit jengkel.
"Sudahlah dengan halusinasi anehmu itu, kita harus fokus" Bisik Siyon sembari menyenggol Rio yang membuatnya kembali sadar.
"Iya iya aku tau itu!" Bisik Rio sedikit kesal.
Dari seluruh guild yang mewakili akademi masing masing, terlihat beberapa guild yang terlihat sangat kuat dan berpotensi memenangkan turnamen kali ini yaitu guild Justice Servant dari akademi Moonlight, Blue Predator dari akademi Water Dragon, Natural Impact dari akademi Green Forest, Earth dari akademi King Fire, dan Valkyrie dari akademi White Bird.
"Tch!" Terlihat seorang pria dari akademi Water Dragon yang merupakan ketua dari guild Blue Predator menggigit bibirnya karena kesal dan merasa jika mereka pasti akan memenangkan turnamen kali ini, mereka meremehkan kekuatan dari akademi lain karena merasa merekalah murid muris terkuat dari seluruh akademi semenjak memimpin lantai labirin tertinggi.
...-Disisi Lain-...
Di Dalam labirin lantai 800, terlihat Cendra dengan santai berjalan ke arah seorang pria berjubah hitam mata yang mirip dengan Iblis dan terlihat kepanikan.
"Siapa kau sebenarnya?!!!!" Panik pria itu yang langsung menyerang Cendra dengan tombak kegelapan, bola api merah serta permukaan tanah yang berubah menjadi duri runcing dan langsung mengarah ke Cendra.
"Wah.. sambutan kali ini cukup menyenangkan juga.." Ucap Cendra dengan santai dan mengangkat kedua tangannya, ia pun membuat segel tangan dan mulai mengucapkan mantra "Hakai no shihai sha!"
...[>PENGENDALI KEHANCURAN<]...
Disisi lain, pria itu yang melihat Cendra mulai merapalkan mantra pun terkejut dan bersiaga, tetapi saat ia mendengar rapalan mantra Cendra, ia pun seketika langsung pasrah dengan kematian yang seakan akan sudah berada tepat di depan matanya.
"¥€`~¶×£-¶£π¶∆£°£" Pria itu hanya mendengar rapalan yang sangat cepat dan tidak jelas, berbeda dengan yang Cendra ucapkan, karena mantra itu adalah mantra sihir tingkat tinggi yang memiliki nama tersendiri, hal tersebut bukanlah sebuah keunikan atau kelangkahan, karena semua makhluk hidup dapat mengucapkan mantra tingkat tinggi jika mereka sudah mengerti tentang siklus sihir dan tingkat sihir yang mereka ciptakan, semakin kuat sihir yang di ciptakan, akan lebih kuat jika penggunanya memahami dasar dari sihir itu dan menciptakan nama sihirnya sendiri, begitu juga sebaliknya, jika asal memberikan tanpa nama mengetahui kemampuan sihir, dasar sihir, kekuatan sihir, dan kemampuan pengguna itu sendiri, sihir tersebut akan lebih lemah dari sihir dasarnya.
Sihir sihir yang di ciptakan oleh pria itu pun terpotong hancur oleh benang benang yang berbentuk jaring laba laba dan langsung mengarah ke pria itu dengan sangat cepat.
(Srk!!!)
"Ini akhir bagiku!!?!!" Panik pria itu yang sudah tewas tanpa ia sadari karena seluruh bagian tubuhnya sudah terpotong halus akibat serangan Cendra.
(Bf!)
Pria itu pun musnah menjadi abu hanya dalam sekali serangan, serangan yang begitu mematikan.
Cendra pun tersenyum dan mengucapkan "Sepertinya aku harus menunggunya di sini saja." Ucap Cendra dan tersenyum.
...~Bersambung~...