
(krk)
(Broke)
Kristal yang menyegel Zen perlahan mulai retak pecah.
Zen yang sudah sadar pun membuka matanya perlahan.
"Dimana ini? bukannya aku seharusnya berada di hutan?" Gumam Zen kebingungan.
(Cklk)
Suara pintu terbuka pun terdengar di telinga Zen, ia pun langsung melihat ke sumber suara, ternyata yang membuka pintu ruangannya adalah Veliona.
Veliona pun terlihat sangat kelelahan ia pun tiba tiba terduduk.
"Kemana lagi aku harus mencari bantuan.." Gumam Veliona.
"Veliona?" Zen~
Veliona yang mendengar suara Zen pun langsung melihat ke sumber suara.
"Kamu baik baik saja?" Tanya Zen.
Veliona pun berdiri, ia langsung berlari menghampiri dan memeluk Zen dengan erat sambil menangis.
"Veliona?" Zen yang kebingungan pun merasa seperti berbuat salah ke Veliona sedangkan Veliona terus memeluk Zen dan menangis dengan sangat kuat.
Beberapa saat kemudian setelah Veliona cukup tenang, Zen pun bertanya kepada Veliona "Kenapa kamu menangis??" Tanya Zen.
Veliona pun menjawab Zen "Aku tidak ingin kehilanganmu." Ucapnya.
Zen yang tidak mengerti apa maksud Veliona pun kembali bertanya "Aku tidak menghilang, aku masih di sini.." Ucap Zen dengan nada yang lembut.
Veliona yang mendengar ucapan Zen pun sedikit menangis sambil mengucapkan "Kamu sudah mengkristal selama 1 bulan" Ucap Veliona sembari meneteskan air matanya.
Zen yang mendengar ucapan Veliona pun sedikit terkejut karena ia merasa hanya seperti tertidur dan bermain di alam bawah sadarnya selama satu hari.
Zen pun mengusap air mata di pipi Veliona sembari mengucapkan "Makasih ya Veliona.. Karena kamu sudah merawat dan menunggu ku selama ini" Ucap Zen sambil tersenyum menatap Veliona, tiba tiba Veliona pun pingsan tepat di depan mata Zen, Zen pun langsung menangkap tubuh Veliona.
"Veliona?? Vel??" Zen pun kebingungan apa yang terjadi, tetapi saat ia melihat mata Veliona, ia pun sedikit mengerti situasinya.
"Healing" Zen pun mulai menyembuhkan Veliona.
"Aku tidak begitu mengerti apa yang kamu lakukan Vel, tetapi kamu terlalu berlebihan" Gumam Zen dengan raut wajah yang sedikit sedih.
#Time skip
Veliona pun terbangun dari tidurnya dan sedikit kebingungan karena ia berada di kamar Zen, ia pun keluar dari kamar Zen dan berniat mencari Zen.
Veliona yang telah keliling ruangan pun kebingungan karena Zen yang tidak ada, saat ia kembali ke ruang tamu, ia pun melihat Zen yang masih mengkristal dan menjadi sangat syok "Apa yang terjadi?!.." Gumamnya.
Veliona pun menangis dengan sangat histeris.
#Disisi lain
"Ha!!..." Teriak Veliona histeris.
Zen yang mendengar teriakan Veliona pun langsung ke kamarnya dan melihat Veliona, ternyata Veliona sedang menangis seperti mengalami mimpi buruk, Zen pun berusaha membangunkannya.
"Vel bangun!" Ucap Zen sambil sedikit menggoyangkan tangan Veliona.
Veliona pun akhirnya terbangun, ia yang melihat Zen pun langsung memeluknya dengan erat sambil menangis, Zen pun mengelus kepala Veliona untuk menenangkannya.
Saat Veliona sudah tenang, Zen pun mengucapkan sesuatu ke Veliona "Aku ada di sini, jangan menangis, jika ada masalah, ceritalah kepadaku, aku akan menjadi rumah untukmu" Ucap Zen.
Veliona yang mendengar ucapan Zen pun sedikit terkejut tetapi ia sangat bahagia mendengar ucapan Zen.
"Satu lagi yang ingin aku ucapkan, jangan memaksakan dirimu Vel, kamu juga ada batasnya." Ucap Zen karena ia tau penyebab Veliona pingsan karena ia kehabisan 'Mana'.
Veliona pun terdiam mendengar ucapan Zen yang ia kira Zen memarahinya.
Zen pun mengangkat tangannya dan Veliona berfikir Zen akan menamparnya, ia pun ketakutan dan menutup matanya "Sekarang mandilah, kita akan keluar." Ucap Zen sambil mengelus kepala Veliona yang membuat Veliona terdiam.
"Kamu baik baik saja Veliona?" Tanya Zen.
Tiba tiba Veliona pun tersenyum dan mendorong Zen yang membuat Zen terbaring di kasurnya, saat Zen ingin bangun, tiba tiba tubuhnya di duduki Veliona dan Zen kembali di dorong.
Zen pun menjadi bingung, gugup, dan tidak tau harus berbuat apa dalam situasi seperti ini, ia pun mencoba berguling ke samping, tetapi Veliona langsung menghalangi Zen menggunakan tangannya.
Zen yang tidak dapat berbuat apa apa pun pasrah dengan keadaan, tetapi Veliona menatap mata Zen yang membuat Zen semakin gugup dan detak jantungnya semakin berdebar.
Veliona pun tersenyum melihat Zen dan sedikit tertawa.
"Hahaha.. Kamu tidak perlu segugup itu Zen" Ucap Veliona dengan nada yang lembut.
Veliona pun bangun sembari mengucapkan "Aku akan mandi dulu" Ucap Veliona.
"Hah.. hah.. hah.. hah.." Zen pun akhirnya bisa bernafas lega.
"Huh... Untung saja" Ucap Zen sambil menghela nafas lega.
Zen pun kembali mengingat ucapan Ice Zen.
"Mereka semua mati" Zen pun menggertakkan giginya karena kesal.
"Aku harus menjadi lebih kuat!, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi!" Gumam Zen sambil mengangkat dan menggenggam tangannya.
"Sebaiknya aku mandi dan bersiap siap" Ucap Zen sembari bangkit dark tidurnya.
#Time skip
Zen yang sudah bersiap siap pun keluar dari ruangan dan mengetuk pintu ruangan Veliona.
(Knock knock)
"Iya sebentar!.." Teriak Veliona dari kejauhan.
Veliona pun membuka pintu ruangannya, Zen pun terpaku melihat Veliona yang sangat cantik dan tak bergerak sama sekali.
"Zen?" Ucap Veliona kebingungan.
"Eh maaf" Ujar Zen sedikit gugup.
"Baiklah ayo kita pergi" Ajak Zen.
"Ayo" Ujar Veliona dengan bahagia.
Mereka berdua pun meninggalkan asrama dan berjalan ke toko akademi.
Saat di perjalanan Zen pun bertanya kepada Veliona "Vel, sudah berapa lama aku tidak masuk akademi?" Tanya Zen.
Veliona pun menjawab "Tidak ada, kita emang di liburkan selama dua bulan karena Pemimpin akademi, para petinggi dan guru guru seluruh akademi sedang mengadakan rapat" Jawab Veliona.
"Tumben sekali, biasanya para petinggi juga tidak rapat bukan?" Tanya Zen sedikit kebingungan.
"Aku juga sempat kebingungan, tetapi ya sudahlah, jika tidak ada rapat seluruh akademi, kita juga tidak ada liburnya" Ucap Veliona.
Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai di toko akademi.
"Akhirnya sudah sampai" Ucap Zen.
"Apa kamu ingin membeli sesuatu di sini Zen?" Tanya Veliona.
"Banyak yang ingin ku beli di sini" Ucap Zen sembari menunjukan sebuah kertas kepada Veliona yang bertuliskan barang yang ingin di beli Zen.
"He.. Kamu sudah seperti perempuan saja Zen, banyak sekali belanjaan mu" Ucap Veliona sedikit tersenyum.
"Baiklah, ayo kita masuk" Ucap Veliona sembari menarik tangan Zen yang membuat Zen sedikit gugup
Mereka berdua pun berbelanja bersama sambil tertawa bersama di dalam toko.
#Time skip
"Kalau di pikir pikir banyak juga ternyata belanjaanku" Gumam Zen.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Veliona.
"Sudah sore juga sebaiknya kita pulang" Ucap Zen.
"Ayo" Ajak Veliona.
Mereka berdua pun kembali ke asrama dan sesampainya di asrama, mereka pun meletakkan semua barang belanjaan di ruangan Zen.
"Lelahnya.." Ucap Zen sambil duduk
Saat Zen sedang beristirahat tiba tiba Zen mengingat sesuatu.
"Veliona, kamu masih bisa berjalan?" Tanya Zen.
"Aku masih bisa, kenapa Zen?" Tanya Veliona kembali.
Zen pun bangun dan menarik tangan Veliona yang membuat wajah Veliona seketika memerah.
"Hangatnya!.." Gumam Veliona sangat gugup bercampur bahagia.
Mereka berdua pun meninggalkan asrama dan pergi ke toko aksesoris, Veliona yang kebingungan pun bertanya kepada Zen "Kenapa kita kesini?" Tanya Veliona.
"Sudah jangan di pikirkan, ayo masuk" Ucap Zen sambil menarik tangan Veliona.
"Selamat datang anak muda!" Sapa penjaga toko dengan ramah.
"Paman, apa ada aksesoris yang bagus?" Tanya Zen.
"Tentunya ada!" Ucap penjaga toko sambil mengambil sebuah kotak kalung yang sangat cantik.
Zen pun melihat kalung tersebut yang sangat cantik.
"Kalung ini cukup cantik tetapi sayangnya aku tidak bisa membeli kalung ini" Gumam Zen sambil melihat ke arah luar toko.
"Cukup sulit juga untuk membeli kalung di sini huh.." Ucap Zen sedikit mengeluh.
Zen pun melihat Veliona yang sedang terpukau dengan satu kalung yang berbentuk kupu kupu berwarna merah.
Zen pun tersenyum dan mengucapkan "Paman, aku beli kalung yang ini" Ucap Zen sambil menunjukkan kalung yang di maksudnya.
"Ah baiklah.." Ujar penjaga toko
Veliona pun sedikit terkejut karena Zen tiba tiba membeli kalung yang dari tadi ia perhatikan, setelah membayar Zen dan Veliona pun keluar dari toko akademi.
"Veliona, coba berbalik" Ucap Zen
"Eh?.. maksudmu, seperti ini" Ujar Veliona sambil berbalik badan
Tiba tiba Zen pun memasangkan kalung yang barusan ia beli di leher Veliona
"Eh??" Bingung Veliona
"Itu untukmu karena sudah menolongku selama ini, dan kamu juga dari tadi melihat kalung itu, karena aku berfikir kamu menyukainya jadi aku langsung saja membelinya" Ucap Zen sambil tersenyum.
Wajah Veliona pun memerah.
"Zen bisa tutup matamu?" Tanya Veliona.
"Emangnya kenapa?" Bingung Zen.
"Tutup saja!.." Perintah Veliona dengan nada lembut.
Zen pun menutup matanya dan tiba tiba Veliona mencium pipinya.
"Eh????" Zen pun menjadi sangat gugup sedangkan Veliona terlihat senang.
"Kamu itu aneh ya Zen" Ucap Veliona sedikit meledek.
"Eh. hah?? gimana gimana" Ucap Zen gugup dan sangat kebingungan.
Veliona pun tertawa melihat Zen.
"Baiklah ayo kita kembali" Ucap Veliona.
"Baiklah, ayo" Ujar Zen.
Saat mereka sudah berjalan cukup jauh tiba tiba ada gerombolan orang yang sepertinya sedang menunggu kedatangan mereka.
"Hei hei, mau kemana kalian?" Tanya seorang laki laki.
"Maaf kak, bisa biarkan kami lewat?" Tanya Veliona.
"Bisa saja, jika kamu menyerahkan kalung itu kepadaku" Ucap laki laki tersebut.
"Maaf kak, ini kalung kesayanganku dan aku tidak akan memberikannya kepada siapa siapa" Ucap Veliona.
"Kalau begitu aku akan merampasnya!!" Laki laki tersebut pun langsung menyambar dan menangkap kedua tangan Veliona, tiba tiba laki laki tersebut terpelanting akibat tendangan Zen.
"Agh!!!! Sialan kau!!" Kesal laki laki tersebut.
"Jangan sentuh dia!" Ucap Zen tegas.
"Berisik sekali kau!" Laki laki tersebut pun kembali bangun dan berniat menyerang Zen.
(Slash!)
(Ck!!)
Pergerakan laki laki tersebut pun terhenti karena Veliona mengeluarkan sabit miliknya dan di tancapkan tepan di hadapan laki laki tersebut.
"Kemari lah dan nikmati ruang perawatan" Ucap Veliona dengan senyuman yang mengerikan.
"Tch! awas saja kau!" Ucap kesal Laki laki tersebut, ia pun langsung meninggalkan Zen dan Veliona.
Veliona pun mendekati Zen dan menatap matanya sambil mengucapkan "Ayo kita pulang" Ucap Veliona sambil tersenyum dan menarik tangan Zen
Bersambung...