The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 110 : Unexpected Meeting



Terlihat sebuah bangunan yang seperti apartemen besar yang memiliki banyak ruangan mewah di dalamnya dan ternyata bangunan itu adalah bangunan yang berisi ruangan untuk seluruh murid perwakilan dari guild yang akan bertanding.


Didalam ruangan, terlihat anggota guild Eternal Fire yang sedang duduk sembari mengobrol santai.


(Clap Clap Clap!)


Yuuiki pun menepuk tangannya tiga kali memanggil teman temannya yang sedang duduk santai di dalam ruangan guild itu.


"Teman teman.." Panggil Yuuiki.


"Hari yang di nantikan sudah tiba, kita sudah semakin dekat dengan pertandingan, sekedar mengingatkan, jaga kesehatan dan berlatihnya secukup dan sewajarnya, jangan berlebihan, karena dapat mengganggu kesehatan..." Ucap Yuuiki mengingatkan teman temannya.


"Baik..." Ucap mereka serentak.


Tiba tiba Veliona pun mengangkat tangannya dan bertanya "Apa ada yang sudah mengetahui sistem pertandingannya?" Tanya Veliona.


"Untuk sistem turnamen kali ini, kita akan bertarung melawan 32 guild dari akademi lainnya, sistem pertandingannya adalah 160 pertandingan, dari setiap satu anggota perwakilan guild" Jelas Yuuiki.


"Berarti 5 orang yang akan bertanding itu terpisah?" Tanya Rara.


"Iya.." Jawab Yuuiki.


"Berarti sistem pertandingannya adalah satu lawan satu" Paham Siyon.


Veliona pun kembali menurunkan tangannya, dan Yuuiki kembali bertanya "Apa ada yang ingin di tanyakan lagi?" Tanya Yuuiki.


Ayani pun mengangkat tangannya dan bertanya "Apa ada guild yang harus kita waspadai?" Tanya Ayani.


Yuuiki pun terdiam sejenak dan berfikir mengingat guild guild yang menurutnya berbahaya.


"Menurutku itu guild Justice Servant, Blue Predator, Natural Impact, Green Forest, Earth, dan yang paling berbahaya Valkyrie" Jelas Yuuiki.


"Kenapa kamu bisa tau jika Valkyrie adalah guild yang paling berbahaya dari semua guild?" Tanya Rio sedikit serius.


"Ada kakakku di guild itu" Ucap Siyon tiba tiba menyela percakapan.


"Kakakmu?" Tanya Yuuiki sedikit kebingungan.


"Iya, kakak perempuanku" Ucap Siyon yang membuat mereka semua penasaran dengan siapa kakak Siyon sebenarnya sampai Siyon seakan akan mewaspadainya.


"Akemino Asuka, dia adalah kakakku yang bersekolah di akademi White Bird" Jelas Siyon memikirkan tentang kakaknya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


Tiba tiba Rara pun bertanya "Kenapa kakakmu tidak bersekolah di akademi destro saja??" Tanya Rara penasaran.


Siyon pun menjelaskan alasan kenapa kakaknya tidak bersekolah di akademi destro, alasannya adalah Asuka kakak dari Siyon di bawa oleh seorang pria yang pernah datang ke akademi destro dikarenakan Asuka adalah kandidat seorang pahlawan karena hawa keberadaan dan kemampuannya yang kuat, hal itu membuatnya harus bersekolah di akademi yang benar benar cocok untuknya, pria itu pun memutuskan untuk membiarkan Asuka bersekolah di akademi White Bird dikarenakan ia lebih percaya dengan akademi White Bird di banding akademi Water Dragon, karena akademi Water Dragon menilai tinggi seseorang melalui jabatan, keluarga, dan lain sebagainya di banding sifat, kekuatan, kepintaran dan sifat umum lainnya.


Setelah Siyon menjelaskan hal itu kepada teman temannya, Rio kembali bertanya "Kalau begitu kamu sebagai adiknya seharusnya tau kemampuan kakakmu sebelum ia pergi bukan?" Tanya Rio.


Siyon pun menjawab dengan rasa gelisah "Kakakku sangat kuat, bahkan dialah yang memegang ranking tertinggi di akademi Destro sebelum ia pergi, itu juga sudah bertahun tahun yang lalu sebelum dia pergi ke akademi White Bird, dan mungkin sekarang kemampuannya melebihi kita semua" Jelas Siyon dengan raut wajah serius.


"Hem..." Mereka semua pun termenung memikirkan cara mengatasi kakak Siyon karena mereka belum tau seberapa besar kekuatan kakaknya itu.


"Aku punya pertanyaan, siapa orang yang membawa kakakmu itu? dan bagaimana dia bisa tau jika kakakmu adalah kandidat pahlawan?" Tanya Veliona yang membuat mereka seketika tersadar.


"Iya iya, siapa dia??" Tanya Rara penasaran dan mendekatkan wajahnya ke Siyon.


"Hm... Aku juga tidak tau, pria itu selalu menutupi wajahnya dengan tudung hitam" Jelas Siyon.


"Hm..." Rara kembali duduk dengan rasa penasaran.


...-Disisi Lain-...


Zen terlihat sedang mengemas barang barangnya, Rias, Verina, dan Silvia hanya melihat Zen walau tau Zen akan pergi meninggalkan akademi tanpa bertanya sedikitpun karena Zen sudah memberi tau mereka untuk tetap tinggal, karena Zen hanya akan berpetualang beberapa hari dan pulang pada sore atau malam hari.


"Zen, kapan kamu akan kembali?" Tanya Silvia.


"Aku juga belum tau" Jawab Zen.


"Baiklah.." Ucap Silvia sedikit sedih karena ia tidak diizinkan ikut oleh Zen dalam petualangan kali ini.


Setelah selesai mengemas kebutuhannya, Zen langsung bergegas keluar dari ruangan mereka.


"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa" Zen melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan, Silvia, Rias, dan Verina pun menjawab "Sampai jumpa Zen.." Sembari melambaikan tangan mereka.


Zen pun menutup pintu ruangan, saat Zen menutup pintu ruangan, Silvia melihat sebuah benda kecil aneh berbentuk patung warna putih dan terlihat seperti patung dewi, Silvia yang mengira itu adalah barang milik Zen pun mengambilnya dan berjalan mendekati pintu dan membukanya, saat ia membuka pintu itu ia terkejut karena Zen sudah tidak ada padahal Zen baru saja keluar tapi ia sudah menghilang dengan cepat, Silvia pun berjalan ke jendela yang membuat Rias dan Verina kebingungan.


Silvia pun melihat keluar jendela dan terkejut karena ia tidak melihat Zen dimanapun.


"Silvia?" Bingung Rias.


"Aku tidak apa apa" Jawab Silvia.


Rias dan Verina kembali kebingungan dan penasaran mendengar jawaban Silvia.


...-Disisi Lain-...


Zen terlihat sudah berada di hutan tepatnya di luar akademi Water Dragon, Zen terlihat bersembunyi di belakang pohon yang cukup tinggi, ia melihat dan menghitung semua monster yang bersiap menyerang akademi, walau belum di ketahui kapan monster monster itu akan menyerang, Zen berniat memusnahkan mereka semua karena tidak ingin ada kekacauan di akademi, jika terjadi kekacauan akan membuatnya repot jika harus mengurus monster monster itu sebelum hari yang ia tunggu tiba.


"Tiga puluh sembilan, empat puluh, empat puluh satu, empat puluh dua" Zen menghitung semua monster yang sedang berkumpul di sudut hutan tepatnya di samping dinding akademi.


"Sembilan puluh delapan" Zen terus menghitung jumlah monster itu.


"Semuanya berjumlah seratus dua belas, baiklah kalau begitu bagaimana sekarang aku mengatasinya" Ucap Zen dalam hatinya sembari menyusun rencana.


"Swift"


(Swof!!!)


Zen tiba tiba menghilang dengan cepat dan hanya menyisakan kilatan petir.


(Swof!! Swof!!! Swof!! Swof!!!)


Yang terlihat hanyalah kilatan berwarna kuning di dalam hutan itu karena gerakan Zen yang sangat cepat.


(Slash!!)


Zen terus menebas setiap monster itu bertahap tanpa membuat dirinya terlibat dalam pertarungan yang sulit.


Monster monster itu juga tidak mengetahui keberadaan Zen karena kecepatan Zen yang sangat cepat.


(Slash slash slash slash!!)


"Seratus sembilan" Zen terus menghilang dan menebas monster monster itu bahkan tidak ada satu monster pun yang berhasil lolos dari Zen.


(Slash!!)


"Seratus dua belas" Zen pun dengan mudah mengatasi seratus monster di dalam hutan itu.


Zen menatap ke arah monster monster yang ia bunuh dan mengucapkan "Ternyata aku kurang berpengalaman dengan jenis monster" Keluh Zen karena ia hanya membunuh monster monster itu tanpa mengetahui nama dari monster itu, bahkan ia belum mengetahui kemampuan monster monster itu, bahkan dari beberapa monster yang Zen ketahui, ia tidak mengenali monster monster yang barusan ia bunuh.


"Sungguh bodohnya aku"


...-Disisi Lain-...


Silvia, Rias, dan Verina pun terlihat sedang berbelanja di toko yang berada di akademi itu, saat sedang asik mengobrol dan berbelanja, Silvia secara tidak sengaja menabrak seseorang yang berada di depannya.


"Eh?!" Barang barang belanjaan milik Silvia pun terjatuh ke permukaan bersamaan dengan barang belanjaan milik orang yang berada di depannya.


"Aduh, maafkan aku..." Ucap Silvia sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa.." Ucap seorang gadis yang perlahan turun dan mengambil sayuran sayuran yang ia beli.


"Cantik sekali.." Gumam Silvia terkagum dengan kecantikan gadis itu dan ternyata gadis itu adalah Veliona yang juga sedang berbelanja disana.


"Silvia, apa kamu tidak apa apa?" Tanya Rias mendekati Silvia.


"Aku tidak apa apa.." Ucap Silvia.


Veliona pun bangun dan Rias pun menatap Veliona dengan perasaan familiar.


Rias terus menatap Veliona dan Veliona juga menatap Rias dengan perasaan kebingungan.


Kesunyian pun terjadi didalam toko itu.


"Veliona?!" Ucap Rias sangat terkejut saat ia menyadari jika gadis yang berada di depannya adalah Veliona, ia mengetahui hal itu saat ia melihat tali kalung yang berada di leher Veliona.


"Hum?" Veliona pun memiringkan kepalanya dan sangat kebingungan karena ia tidak mengenali gadis yang berada di depannya, benar benar pertemuan yang tidak terduga.


...~Bersambung~...