The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 101 : Question



"Teknik Iblis!!" Mereka berdua pun meletakkan tangan mereka ke permukaan tanah "Akuma no kabe!!" dinding sihir berwarna hitam pekat yang langsung muncul dari permukaan tanah dan mengurung mereka berempat di dalam pembatasan sihir tersebut.


Keadaan alam di dalam sihir penghalang itu pun seketika menjadi berantakan, munculnya badai dan petir dimana mana disusul gempa kuat yang menyebabkan permukaan tanah menciptakan banyak jurang.


(Thar!!! Thar!!!!)


Petir pun menyambar dimana mana, Keadaan alam di dalam penghalang Lucifer dan Code sudah sangat kacau, terciptanya badai dimana mana dan petir yang terus menyambar tak tentu arah, permukaan tanah yang retak dan kondisi alam yang sudah sangat hancur.


Tatapan dingin antara pria misterius dengan leluhur Iblis pun terus berlangsung, tatapan dingin tetapi penuh dengan ancaman dan sambaran aura yang mematikan.


...-Disisi Lain-...


Zen pun bangun perlahan dari tempat tidurnya di bantu oleh Rias dan Silvia.


"Zen?? Kamu mau kemana???" Tanya Silvia.


"Aku hanya ingin keluar sebentar.." Ucap Zen.


"Tapi, luka luka mu masih belum sembuh" Ucap Silvia khawatir dengan Zen.


Rias yang melihat Zen juga sedikit khawatir.


"Ugh!!" Tiba tiba Zen memuntahkan darah dari mulutnya yang membuat Silvia, Verina, dan Rias seketika panik melihatnya.


"Zen!?!" Panik mereka bertiga.


Zen pun terjatuh ke permukaan, Rias dan Silvia pun spontan langsung menahan tubuh Zen.


"Zen jangan paksakan dirimu!.." Ucap Rias sangat mengkhawatirkan Zen.


"Tidak bisa.. aku harus menjadi lebih kuat" Ucap Zen perlahan kembali bangun dan melawan rasa sakit pada tubuhnya.


Silvia, Verina dan Rias yang melihat Zen menjadi semakin khawatir serta kebingungan kenapa Zen selalu memaksakan dirinya.


"Jika tidak.. aku tidak akan bisa menepati janjiku!" Tegur Zen yang membuat Rias, Silvia dan Verina menjadi kebingungan.


"Kenapa kamu selalu memaksakan dirimu Zen?!" Tanya Silvia sangat khawatir.


"Hanya aku yang bisa melawannya! aku harus menjadi lebih kuat lagi!, Ukh!" Ucap Zen kembali memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.


"Zen?!" Panik mereka bertiga.


"Apa maksudmu Zen? untuk apa kamu menjadi lebih kuat? dan kenapa? siapa yang harus kamu kalahkan?" Tanya Rias.


"Akhir dari dunia ini, Koruga sang leluhur Iblis" Jelas Zen yang membuat mereka bertiga seketika sangat syok dan tidak percaya.


"Tidak mungkin sang leluhur Iblis masih hidup sampai saat ini!" Ucap Silvia membantah perkataan Zen.


Zen yang mendengar bantahan Silvia pun menghiraukannya dan terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menyembuhkan luka luka di tubuhnya dan kembali melanjutkan perjalanannya.


...-Disisi Lain-...


Keadaan di akademi arsenal sangat damai, keseharian pun berjalan seperti biasanya, guild eternal fire pun sudah semakin terkenal di akademi manapun bahkan sudah menduduki guild terkuat peringkat ke 11 dari kelima akademi tersebut.


Di ruangan pelatihan terlihat seluruh anggota guild eternal fire sedang berkumpul dan membahas tentang turnamen antar akademi yang akan segera di mulai.


"Turnamen kali ini akan melibatkan seluruh anggota guild, apa kalian sudah siap untuk merebut kejuaraan akademi? kita harus berhasil kali ini" Ucap Yuuiki.


"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Yuuiki.


"Aku juga sudah siap" Sahut Rio.


"Aku juga.." Ujar Ayani.


Tiba tiba Siyon menyela pembicaraan mereka dan bertanya "Bagaimana dengan Veliona? akhir akhir ini Veliona sepertinya sangat murung, ia bahkan jadi jarang berbicara dengan kita, apa dia baik baik saja?" Tanya Siyon.


"Aku juga semakin khawatir dengan Veliona, tatapan Veliona akhir akhir ini sangat kosong, terlebih lagi Zen yang tidak berada di sampingnya, padahal mereka sudah bertemu kembali, tapi kenapa Zen malah meninggalkannya?" Bingung Rara.


"Zen sialan!!" Kesal Rio.


"Seenaknya saja meninggalkan Veliona!!" Kesal Rio.


Siyon yang melihat Rio pun bertanya kepada Rio.


"Apa kamu menyukai Veliona?" Tanya Siyon.


Wajah Rio seketika memerah saat mendengar ucapan Siyon.


"Ti.. tidak mungkin aku menyukai gadis polos seperti dia!?. ha.. haha.. hahaha..." Tawa Rio.


Siyon yang melihat Rio pun sedikit tertawa meledeki Rio yang ternyata diam diam menyukai Veliona.


"Kenapa kau lihat lihat Siyon!!" Kesal Rio karena sangat malu di ledeki oleh Siyon.


"Hehehe.." Siyon pun kembali tertawa yang membuat Rio semakin kesal.


...-Disisi Lain-...


Veliona terlihat sedang duduk di kursi tepat di depan jendela dengan tatapan mata kosong melihat ke arah seekor rusa yang berada di dalam hutan.


Veliona pun mengingat masa lalunya yaitu saat ia masih bersama dengan Zen, selalu bercanda bersama, makan bersama, bahkan sempat tinggal di ruangan yang sama.


Veliona merasa dirinya sudah di bohongi oleh Zen, Veliona berfikir jika Zen sebenarnya hanya memperalatnya kemudian menghianatinya.


Tetapi jauh di dalam diri Veliona, Veliona masih percaya jika Zen pasti akan kembali padanya walau harapan tersebut masih belum terwujud sampai sekarang.


...-Disisi Lain-...


Silvia, Verina dan Rias pun kembali menidurkan Zen dan membuka perban di tubuh Zen.


Mereka pun berniat menyatukan seluruh kekuatan mereka untuk menyembuhkan Zen karena melihat luka Zen yang begitu mematikan.


"Bersabarlah Zen, kami akan menyembuhkanmu sekarang.." Ucap Rias sembari mengangkat tangannya.


Mereka bertiga pun menyembuhkan luka luka di tubuh Zen dengan segenap kekuatan mereka.


Zen yang pingsan pun terlihat kembali masuk ke alam bawah sadarnya, tetapi di alam bawah sadar Zen, Zen sedang tertidur dan di pangku oleh seorang gadis yang sempat memberi inti sihirnya kepada Zen.


Gadis itu pun terus mengelus kepala Zen sembari mengucapkan "Istirahat sejenak kak Zen.." Ucap gadis tersebut, gadis tersebut pun terlihat sangat mirip dengan Sayu, tetapi yang membedakannya hanyalah satu yaitu warna rambut dan matanya.


Hal itu pun menjadi sebuah pertanyaan, siapakah gadis bermata dan berambut merah itu?.


...~Bersambung~...