
Pagi hari pun tiba, Zen dan Rily pergi kebelakang rumah Rily.
"Baiklah, kita latihan di sini saja" Ucap Zen.
"Baik!.." Ujar Rily.
"Kalau boleh tau, apa elemenmu?" Tanya Zen.
"Elemenku adalah air" Jawab Rily.
"Begitukah..." Zen pun menciptakan sebuah bola air di tangannya.
"Latihan pertamamu adalah menguasai aliran 'Mana' aliran 'Mana' sangat di butuhkan untuk menciptakan elemen sihir" Jelas Zen.
"Kenapa begitu?" Bingung Rily.
"Karena semakin teratur aliran 'Mana' mu, semakin kuat juga sihirmu" Jelas Zen.
Rily yang tidak mengerti pun terdiam, Zen pun melepas bola air itu.
"Huh.. Seperti ini" Ucap Zen sembari menciptakan bola air, tetapi bola air yang ia ciptakan sangat tidak teratur dan terus bergetar yang membuat Rily terkejut.
"Ini adalah bola air yang ku ciptakan tetapi dengan aliran 'Mana' yang tidak teratur" Jelas Zen.
Zen pun melempar bola air itu ke arah Rily, tetapi saat bola air itu akan di lemparkan, bola air itu langsung hancur.
"Begitulah hasilnya" Jelas Zen.
"Sebaliknya, jika aku menciptakan elemen sihir dengan aliran 'Mana' yang teratur, hasilnya akan seperti ini" Jelas Zen sembari menciptakan bola air di tangannya.
Zen pun melemparkan bola air itu ke pohon yang ada di sebelahnya.
(Swof!!)
(Brak!!)
Pohon itu seketika roboh akibat bola air yang di lempar Zen.
"Eh?" Gumam Rily terkejut.
"Kamu sudah paham sampai di sini?" Tanya Zen.
Rily pun hanya menganggukkan kepalanya seakan akan mengerti.
"Baiklah mari mulai latihannya!" Perintah Zen.
Lingkaran sihir pun muncul di hadapan Rily, tetapi bola api langsung menghancurkan lingkaran sihir milik Rily.
"Kalau kamu menggunakan lingkaran sihir, sama saja itu bukan latihan" Ucap Zen.
"Pertama tama tutuplah matamu dan rasakan aliran 'Mana' milikmu" Ucap Zen.
Rily pun mengikuti arahan Zen dan mencoba untuk mencari aliran 'Mana' miliknya.
"Ketemu!" Gumam Rily.
"Water ball" Rily menciptakan bola air di tangannya, tetapi bola air itu sedikit bergetar karena aliran 'Mana' milik Rily yang belum stabil.
"Jangan terburu buru, fokus dan aturlah aliran 'Mana' milikmu agar lebih tenang dan teratur" Ucap Zen.
Rily pun melepas bola air di tangannya dan mencoba apa yang di katakan Zen.
"Water ball!" Bola air yang di ciptakan Rily masih bergetar bahkan lebih parah dari yang sebelumnya.
Zen pun terus memantau Rily, dan Rily terus me coba tanpa henti sampai sore hari tiba.
"Hah.. hah... hah.. hah.." Rily terlihat sangat kelelahan dan telah mencapai batasnya.
"Kita sudahi dulu hari ini" Ucap Zen.
"Ba.. baik.." Ujar Rily.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah Rily dan keluarganya, Zen pun memutuskan untuk mandi sementara Rily menjenguk Ayahnya yang sedang di rawat oleh Ibunya.
Malam pun tiba, mereka semua pun berkumpul di meja makan kecuali Ayah Rily.
"Selamat makan" Ucap Zen.
"Selamat makan" Serentak Rily dan Ibunya.
Sebelum Ibu Rily makan, ia pun bertanya kepada Zen.
"Zen apakah anakku mempunyai bakat dalam sihir?" Bisik Ibu Rily.
"Dia punya bakat yang sangat bagus, dia tidak pernah menyerah dan terus mencoba, ia tidak peduli sebanyak apapun ia gagal" Jawab Zen dengan nada pelan.
"Begitukah.." Ibu Rily pun memahami ucapan Zen dengan jelas dan memutuskan untuk makan.
"Rily emang berbakat, tetapi aku punya pertanyaan yang akan kutanyakan padanya suatu saat nanti" Gumam Zen.
Setelah selesai makan, Zen pun memutuskan untuk tidur di ruang tamu saat Ibu Rily dan Rily sudah masuk ke kamar mereka masing masing.
Zen pun mematikan lampu ruang tamu dan memutuskan untuk tidur.
...-Disisi lain-...
Zen terbangun di alam bawah sadarnya, ia pun mencari Sayu untuk bertemu dengannya.
Ia pun membuka pintu kamar Sayu dan menyapanya "Hai Sayu, kakak kembali" Ucap Zen.
Sayu pun terkejut dan bertanya "Kak Zen? ini benar kak Zen?" Tanya Sayu.
"Iya" Ucap Zen.
Sayu pun langsung berlari dan memeluk Zen dengan erat.
(Hug!!)
Zen pun mengelus kepala Sayu sembari mengucapkan "Aku pulang"
Sayu pun terharu karena ia pikir Zen yang ia kenal sudah tiada.
"Sudah tidak ada yang perlu di tangisi" Ucap Zen.
Sayu pun mengusap airmatanya dan tersenyum melihat Zen.
"Dimana cermin yang pernah ku berikan Sayu?" Tanya Zen.
Sayu pun murung mendengar ucapan Zen.
"Kenapa?" Tanya Zen.
"Cermin yang kakak berikan hancur kak" Ucap Sayu sedikit sedih.
"Begitukah.. baiklah lupakan saja" Ucap Zen.
Tiba tiba Zen dan Sayu pun berpindah tempat ke suatu tempat yang belum pernah mereka kunjungi.
"Apa ini?!" Gumam Zen.
"Indahnya.." Ucap Sayu terkagum karena ia pikir Zen lah yang menciptakannya.
(Swof!!!)
Zen pun menyadari seseorang yang sedang menuju ke mereka dengan sangat cepat.
"C'Sword"
(Slash!!)
(Ting!!!!!!!!!!!!)
"Ah!!!" Teriak Sayu.
"Tunggu di sini Sayu" Ucap Zen.
(Swof!!!)
(Slash!!!)
(Slash!!!)
(Ting!!!!!!!!!!)
Zen pun terkejut karena kekuatan orang yang berada di hadapannya sangat tidak masuk akal.
Tiba tiba seseorang pun muncul sembari mengucapkan "Hoi Rex sudahlah jangan menyiksanya" Ucap Haruto.
"Rex?" Gumam Zen kebingungan.
Tiba tiba ujung tombak Rex pun bersinar terang dan menciptakan ledakan yang besar.
(Bom!!!!!!!!!!!!!!!!!)
Zen berhasil selamat sembari membawa Sayu.
Rex pun kagum karena Zen mampu menghindar dan bahkan melindungi Sayu dari ledakan yang besar itu.
"Hebat juga dia" Ucap Rex.
(Punch!!)
Haruto memukul kepala Rex dengan kuat.
"Aduh!!!!" Rex pun langsung meringkuk kesakitan.
"Aduh duh!!.. Hei Haruto!! buat apa itu barusan?!" Tanya Rex sedikit kesal.
"Buatmu karena berniat membunuh anak itu!.." Ucap Haruto sedikit kesal.
"Sudah sudah kalian" Ucap Indra.
"Yo Ghil kamu masih hid-" Sebelum menyelesaikan kata katanya, rantai pun sudah mengelilingi Rex dan akan mengikatnya.
"Ucapkan lagi jika kau ingin mati" Kesal Ghil.
"Ehehe.." Rex pun sedikit tertawa karena ia dan teman temannya masih seperti dulu.
"Siapa mereka?" Gumam Zen kebingungan.
"Hei namamu Zen kan?" Tanya Haruto.
"Iya itu namaku" Jawab Zen.
Haruto pun memperkenalkan diri dan memperkenalkan teman temannya.
"Namaku Haruto, dia adalah Rex, ini Indra, dan ini Ghil" Ucap Haruto sembari menunjuk mereka satu persatu.
"Kami adalah pahlawan yang telah mati ratusan tahun yang lalu" Jelas Haruto yang membuat Zen terkejut serta kebingungan.
"Kalian pahlawan? kenapa kalian bisa berada di sini?" Tanya Zen yang masih meragukan mereka berempat.
"Kami semua sudah mati karena melawan leluhur Iblis" Jelas Haruto.
Zen pun kembali terkejut karena ia tau leluhur Iblis yang Haruto maksud adalah Koruga.
"Bisa kamu menceritakan apa yang terjadi kenapa kalian bisa mati?" Tanya Zen.
Haruto pun menceritakan kejadiannya kepada Zen secara mendetail.
Setelah mendengar cerita Haruto, Zen pun percaya, tiba tiba cahaya merah muncul tepat di depan mereka berenam.
Sebuah tas dengan senjata legendaris pun muncul dan langsung berterbangan mengelilingi Zen, Zen pun terkejut dan kebingungan dengan semua senjata yang terbang mengelilingi dirinya.
"Sepertinya dia emang anak yang di takdirkan" Ucap Rex dengan serius.
"Ya, benar berarti kita bisa percayakan kepadanya" Ucap Haruto.
"Apa maksud kalian?" Tanya Zen kebingungan.
"Zen kita akan kembali bertemu di saat umurmu mencapai 14 tahun" Ucap Haruto.
Tiba tiba cahaya merah yang sangat terang pun muncul yang membuat Zen membuta.
Saat Zen membuka matanya ia terkejut karena ia dan Sayu kembali ke tempat mereka berada.
"Kita kembali ke kamar ini" Ucap Zen sedikit terkejut.
Sayu pun terlihat tertidur pulas dan Zen kebingungan.
"Sayu kamu tertidur atau pingsan?!" Gumam Zen.
Zen pun meletakkan Sayu di kasurnya.
"Tidur yang nyenyak Sayu.." Ucap Zen.
Zen pun berjalan keluar dari kamar Sayu, sesampainya di luar, ia pun kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Kenapa kami bisa berpindah, dan bagaimana kami bisa kembali?, apa semuanya di kendalikan oleh Haruto?, atau jangan jangan kami di tarik ke dimensi lain olehnya?" Gumam Zen kebingungan.
Tiba tiba Zen pun merasakan kantuk yang luarbiasa.
"Apa ini?!, apa yang terjad?-" Zen pun jatuh dan tertidur lelap di permukaan.
...-Disisi lain-...
Pagi pun tiba, Rily yang baru keluar dari kamarnya pun memutuskan untuk mandi, saat ia melewati ruang tamu ia melihat Zen, ia pun terkejut karena ia melihat sosok gadis kecil yang kotor tertidur di atas tubuh Zen.
Rily pun mendekatinya dan terkejut.
"Si!.. siapa dia?!" Teriak Rily.
Zen yang mendengar teriakan Rily pun terbangun.
"Mm..." Zen perlahan membuka matanya.
"Apa yang terjadi?" Gumam Zen.
Zen pun kebingungan melihat Rily yang menatapnya sembari bertanya "Siapa dia ini Zen?!" Tanya Rily.
"Apa maksudmu?" Bingung Zen.
Zen pun sadar ada seorang anak kecil yang tertidur pulas di tubuhnya.
"Eh???" Zen seketika sangat kebingungan.
"Zen! jelaskan siapa dia?!" Kesal Rily.
"Aku juga tidak tau" Ucap Zen
Gadis kecil itu pun terbangun karena teriakan Rily.
"Selamat pagi kak Zen.." Ucapnya.
Zen yang mendengar suaranya pun sadar.
"Sayu?!" Ucap Zen kebingungan.
...~Bersambung~...