The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 86 : Forecast



Zen yang sedang termenung pun terkejut karena tiba tiba gadis Driad itu memegang bahunya.


"Apakah kamu seorang pahlawan?" Tanya gadis itu.


"Apa maksudnya? Apakah dia mengetahui jika aku pernah bertemu para pahlawan?!" Gumam Zen terkejut dan kebingungan.


"Apa maksudmu?" Tanya Zen.


Gadis itu pun menunjuk ke arah pedang yang di pegang oleh Zen "Itu pedang kak Haruto, seorang pahlawan ratusan tahun yang lalu, apakah kamu adalah reinkarnasinya?" Tanya gadis itu.


"Begitu ternyata" Gumam Zen.


"Bukan, aku bukan pahlawan" Ucap Zen.


"Kalau begitu, bagaimana pedang itu bisa berada di tanganmu? Pedang itu hidup dan akan mencari tuannya sendiri yang ia rasa layak, dan kenapa kamu bisa memilikinya?" Tanya gadis itu.


"Aku jaga tidak mengerti, tapi pedang ini datang kepadaku dengan sendirinya, tidak hanya pedang" Zen pun mengeluarkan semua senjata legendaris yang pernah digunakan oleh para pahlawan yang seketika membuat gadis itu sangat terkejut dan tidak percaya.


"Tidak mungkin?!.. Kalau begitu, kamu adalah orang yang di ramalkan?!" Ucap gadis itu sangat terkejut.


"Di ramalkan?" Zen pun kebingungan mendengar ucapan gadis itu.


Driad itu pun menundukkan kepalanya sembari mengucapkan "Selamat datang di hutan Calveria tuan Zen" Ucapnya dengan sangat hormat.


"Heh?" Zen kembali kebingungan karena ia tidak mengerti apa yang di maksud dengan ramalan yang di katakan gadis itu.


"Angkat kepalamu.." Ucap Zen.


Gadis itu pun menuruti perintah Zen dan mengangkat kepalanya.


"Apa maksudmu dengan ramalan? Apa ramalan itu? Dan siapa yang meramalkannya?" Tanya Zen kebingungan.


"Baik, izinkan saya menjelaskannya, saya adalah Driad yang menjaga hutan ini, dan saya mempunyai saudara yang menjaga hutan agung area selatan, dan ia memiliki seorang ayah, ayahnya adalah seorang peramal, ia meramalkan jika akan ada seseorang yang akan bertemu denganku, orang itu adalah orang yang sangat penting bagi keseimbangan dunia, dan orang itu adalah kamu tuan Zen" Ucap gadis itu.


"Ramalan yang aneh" Ucap Zen dengan santai yang seketika membuat gadis itu sangat terkejut, karena ia berfikir jika Zen tidak percaya dengan ramalan.


"Tu.. tuan.. Apakah aku boleh tau, apa tujuanmu sebenarnya datang kesini?" Tanya gadis itu.


Zen pun kembali menjawab "Bukannya tadi aku sudah menjelaskannya? Aku kesana untuk melatih diriku" Jelas Zen.


"Kalau begitu, tolong Izinkan aku ikut bersamamu tuan!" Ucap gadis itu.


"Hah? Tidak tidak tidak.. Jika kamu mengikutiku, bagaimana dengan hutan ini?" Tanya Zen.


Tiba tiba cahaya hijau pun muncul bersamaan dengan munculnya beberapa sosok Driad lainnya.


"Tolong izinkan kak Silvia tuan.. Kami yang akan menggantikannya untuk menjaga hutan ini" Ucap seorang gadis.


"Tapi kan dia seorang Driad, bukannya seorang Driad tidak boleh meninggalkan hutan agung ya?" Tanya Zen.


"Boleh tuan, jika ada seseorang yang menggantikan posisinya, kami akan menggantikan posisi kak Silvia, karena kak Silvia sudah berkerja sangat keras" Ucap seorang pria.


"Kalian.." Gadis itu pun terharu karena ia memiliki bawahan yang sangat mengerti dirinya.


Zen pun termenung sejenak, beberapa saat kemudian, Zen kembali bertanya kepada para Driad "Kenapa kalian memaksanya untuk ikut denganku? dan apa tujuanmu mengikutiku?" Tanya Zen.


"Aku ingin berpetualang bersama tuan Zen, aku ingin tau siapa sebenarnya tuan Zen, dan aku juga ingin tau, apa maksud ayah dari temanku yang mengatakan jika tuan Zen adalah orang yang sangat berpengaruh dalam keseimbangan dunia" Jelas gadis itu.


"Kalau begitu, bagaimana jika kamu mengenakanku kalung perbudakan saja?" Ucap gadis itu dengan sangat yakin dan percaya diri.


Semua Driad disana pun sangat terkejut mendengar ucapan Silvia yang benar benar rela menjadi budak hanya demi mengikuti Zen.


Zen yang mendengarnya pun sedikit terkejut dan tersenyum "Baiklah, kalau begitu aku akan mengizinkanmu ikut denganku, tapi dengan satu syarat" Ucap Zen.


"Apa itu?" Tanya gadis itu.


"Perjalananku ini memiliki tujuan rahasia, suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya, jadi berjanjilah untuk tidak memberi tau siapapun kecuali aku mengizinkannya" Jelas Zen.


"Baik!" Ucap gadis itu.


"Kalau begitu mohon bantuannya mulai sekarang" Ucap Zen sembari mengangkat tangannya.


"Mohon bantuannya tuan Zen..." Ucap gadis itu sembari menjabat tangan Zen.


"Oh iya, satu lagi, jangan panggil tuan, panggil Zen saja" Ucap Zen.


"Tapi, itu tidak sopan" Ujar gadis itu.


"Tidak apa apa, aku tidak suka jika di panggil tuan begitu" Jelas Zen.


Gadis itu pun menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah Zen.


Para Driad pun senang melihat Zen dan Silvia.


"Kalau begitu bolehkah aku melewati hutan ini?" Tanya Zen.


"Tentu saja, silahkan lewat!" Serentak para Driad.


Silvia pun menarik tangan Zen sembari mengucapkan "Ayo Zen, aku sangat menantikan petualangan kita" Ucap gadis itu.


Zen pun mengikuti Silvia melewati hutan, Zen sangat terkejut saat melewati hutan karena ia baru pertama kali melihat bagian dalam hutan agung, terlihat berbagai makhluk hidup yang sangat unik dan cantik, terlebih lagi terlihat sungai yang memanjang dan sebuah tempat air terjun yang sangat jernih.


"Seseorang.. Tolong..." Saat sedang berjalan, tiba tiba Zen mendengar suara seorang gadis yang meminta tolong kepadanya.


"Silvia, apakah kamu mendengar suara?" Tanya Zen.


"Suara? Aku tidak mendengar apapun" Jawab gadis itu.


Zen pun termenung dan kebingungan, karena ia mendengar jelas suara seorang gadis yang sedang meminta tolong.


...-Disisi lain-...


Terlihat seorang gadis perempuan dengan rambut berwarna putih sedang terikat oleh rantai dan segel yang sangat banyak di sebuah tempat aneh yang terbakar oleh api biru dan banyak zombie yang hidup di sana, terlihat para zombie menyerap energi sihir dari gadis itu yang menyebar keluar akibat segel tersebut.


Tiba tiba seorang pria dengan zirah yang terbakar oleh api biru mendekati gadis itu dan mengucapkan "Kamu pasti akan menjadi milikku!" Ucapnya.


"Ugh?!!" Tiba tiba pria itu terpelanting jauh, dan ternyata Yoe menendang pria itu dengan sangat kuat sembari mengucapkan "Jangan mengganggunya!" Seru Yoe.


Yoe pun menatap gadis itu dengan tatapan sinis.


Gadis itu pun terlihat tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa apa karena semua segel yang menyegelnya, ia hanya bisa menatap Yoe dengan tatapan kemarahan sembari mengucapkan "Aku pasti akan bebas!" Seru gadis itu.


...~Bersambung~...