
Setelah keluar dari hutan, Zen, Sayu dan Rily pun menemukan sebuah kota kecil dan memutuskan untuk menginap disana karena hari juga sudah mulai gelap.
Mereka pun mencari penginapan dan kebetulan ada sebuah penginapan yang tersisa. Zen pun masuk dan bertanya kepada pemilik penginapan, tetapi pemilik penginapan mengatakan hanya tersisa satu kamar kosong.
Zen pun tidak pikir panjang, ia menyewa kamar itu selama tiga hari untuk mereka beristirahat, Zen pun membayar dan pemilik memberikannya kunci kamar.
Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka pun naik ke lantai dua dan mencari kamar nomor 13.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya menemukan kamar nomor 13 dan membuka pintunya.
Saat di buka, ternyata kamarnya sedikit mewah.
"Horei!!" Sayu langsung berlari masuk kedalam ruangan dengan sangat bersemangat.
Zen dan Rily pun ikut masuk kedalam ruangan dan meletakkan perlengkapan mereka.
"Hah... lelahnya.." Rily pun terduduk lemas.
"Aku akan mengecek kamarnya dulu" Ucap Zen.
"Eh, okey" Ucap Rily.
Zen pun berjalan menuju pintu kamar, ia pun membukanya, ternyata kamar itu cukup luas dan kasurnya yang cukup besar.
Tiba tiba Sayu pun masuk kedalam dan terkagum melihat kamarnya yang cukup luas "Wah kerennya.."
"Tidak, padahal biasa saja, rumah Rily malah lebih bagus dari pada ini" Gumam Zen dengan wajah yang datar.
Sayu pun berlari dan melompat ke atas kasur yang luas itu.
"Ha!... Nyamannya!.." Sayu pun berguling guling di atas kasur itu.
Tiba tiba Rily masuk.
Rily pun terkejut karena kamarnya cukup luas padahal mereka sedang berada di penginapan.
"Mewah sekali penginapan ini.." Ucap Rily terkagum.
"Iya.. kalian tidur saja di sini" Ucap Zen.
Tiba tiba Sayu pun bertanya "Kakak tidur dimana?, kakak tidak akan meninggalkan Sayu kan??" Tanya Sayu dengan raut wajah yang sedikit sedih.
Zen pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Aku tidak akan kemana mana, aku hanya akan tidur di ruang tamu saja" Ucap Zen.
Zen pun berjalan keluar sambil mengucapkan "Sudah sebaiknya kalian tidur, istirahat lah sepuasnya, kita akan kembali berangkat dalam dua hari lagi" Ucap Zen.
"Baik kak!.." Sahut Sayu semangat.
Zen pun tersenyum.
"Selamat malam" Ucap Zen sembari menutup pintu kamar.
Zen berjalan menuju sofa, tetapi ia tidak tidur, ia duduk dan memikirkan sesuatu.
"Bagaimana bisa penginapan ini mewah? sungguh tidak masuk akal, dari semua penginapan yang pernah ku kunjungi ini adalah satu satunya penginapan yang mewah" Gumam Zen.
"Jika pemilik penginapan memiliki banyak uang, kenapa ia malah mempermewah penginapan ini? seharusnya penginapan yang sederhana saja sudah bisa menghasilkan penghasilan yang cukup banyak" Gumam Zen.
Zen pun sedikit mencurigai pemilik penginapan, ia merasa pemilik penginapan menyembunyikan sesuatu tentang penginapan ini.
"Lupakanlah, aku juga akan pergi dari sini dalam dua hari lagi" Gumam Zen.
Zen pun berbaring di sofa dan memutuskan untuk tidur.
...-Time skip-...
Pagi hari pun tiba, Zen terbangun dari tidurnya dan sedikit kebingungan kenapa Rily dan Sayu masih belum bangun.
Ia pun mengecek kamar, ia membuka pintu perlahan dan melihat mereka berdua yang sedang tertidur nyenyak.
Zen pun kembali menutup pintunya perlahan dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Zen yang telah selesai mandi pun keluar dari ruangan dan turun ke bawah.
Saat turun kebawah ia pun sedikit kebingungan karena banyak orang di bawah yang sudah berkumpul untuk memesan minuman.
"Ternyata ramai juga" Gumam Zen.
Zen pun berjalan ke sebuah meja kosong dan duduk disana menunggu pelayan datang.
Setelah cukup lama menunggu, pelayan pun datang dan bertanya apa yang ingin di pesan Zen. Zen pun hanya memesan segelas air biasa yang membuat orang orang di sekitarnya sedikit terkejut dan menatap Zen.
"Kenapa mereka semua melihatku?" Gumam Zen sedikit kebingungan.
"Ahaha.." Tiba tiba seseorang tertawa.
"Hei nak, sepertinya kamu salah tempat, disini adalah bar penginapan, lihat sekelilingmu!. semua orang memesan sake! kamu pesan air kosong? hahaha" Ucap laki laki itu.
Zen pun tidak memperdulikannya dan membiarkan laki laki itu terus mengoceh.
Pelayan itu pun pergi mengambil pesanan Zen dan memberikannya.
"Ini, maaf sudah lama menunggu" Ucap pelayan itu.
"Terima kasih" Ucap Zen.
Zen pun segera meminum air itu, setelah selesai ia pun bangun dari bangkunya dan berjalan menuju pintu keluar.
Disaat yang bersamaan Zen berpapasan dengan empat petualang yang masuk kedalam penginapan itu.
Empat petualang itu terlihat lebih tua dari Zen 5 tahun.
"Oi sobat! apakah hari ini ada??" Tanya seorang petualang kepada pemilik penginapan.
"Tentunya ada" Ucap Pemilik penginapan.
Zen pun kebingungan dengan apa yang di maksud mereka, tetapi Zen merasakan niat jahat dari para petualang itu.
Zen pun berjalan keluar dan pergi ke toko makanan yang ada di sebelah penginapan itu.
Zen pun melihat beberapa sayuran, daging, dan roti yang di jual.
"Tante, roti ini harganya berapa?" Tanya Zen
"Itu harganya 2 perunggu saja nak" Ucap penjual itu.
Zen pun mengambil tiga buah roti itu.
-Disisi lain-
Sayu dan Rily pun terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka.
"Siapa itu?" Tanya Rily.
Rily pun berfikir kemudian tetapi ia sedikit kebingungan dan bertanya kepada Sayu.
"Sayu apa kau mendengar langkah kaki?" Tanya Rily.
Sayu pun fokus sejenak dengan langkah kaki yang di maksud Rily, Sayu pun terkejut dan kebingungan "Kenapa banyak sekali langkah kaki?" Bingung Sayu.
Tiba tiba pintu kamar mereka pun terbuka dan ternyata yang masuk kedalam ruangan mereka adalah empat petualang yang sebelumnya berpapasan dengan Zen.
"Siapa kalian?!" Tanya Rily yang sudah siap menyerang
"Hei tenang tenang.. kami di sini untuk menyelamatkan kalian" Ucap seorang petualang.
"Menyelamatkan kami?, dari siapa?" Tanya Rily.
Rily pun menurunkan tangannya, saat Rily lengah ke empat petualang itu langsung berlari ke arah mereka.
"Wind!!" Sayu pun menggunakan elemen anginnya dan langsung mengarah ke empat petualang itu, ketiga petualang itu berhasil menghindari serangan Sayu tetapi yang satunya terpelanting akibat serangan Sayu yang cukup kuat itu.
Saat Sayu akan kembali menyerang, Sayu pun langsung di terkam oleh seorang petualang dan Rily yang di terkam oleh dua orang petualang.
Para petualang itu pun memasangkan gelang di tangan mereka berdua.
"Wind!!" Saat Sayu mencoba untuk melawan, ia tidak bisa menggunakan sihirnya yang membuatnya terkejut dan kebingungan.
"Apa yang terjadi?!?" Gumam Sayu kebingungan.
"Lepaskan aku!!" Teriak Rily.
Tiba tiba seorang petualang langsung menampar Rily dan membungkam mulutnya.
"Mmhhmmm!!!" Kedua tangan Rily pun di tahan oleh satu petualang lainnya.
"Kakak!!!" Teriak Sayu.
Tiba tiba mulut Sayu pun ikut di bungkam oleh seorang petualang itu, kedua tangan Sayu ditahan oleh petualang itu menggunakan kakinya.
"Hmmhhmm!!!!" Sayu pun berusaha melawan tetapi ia kekuatan fisiknya tidak sekuat petualang itu.
Petualang itu pun perlahan merobek pakaian Sayu dengan sebuah pisau.
(Serk!..)
"Hmm!! mhmm!!!" Sayu pun berusaha memberontak tetapi petualang itu langsung mengancam Sayu.
"Jika kau melawan, kau akan mati!!" Seru petualang itu.
Sayu pun hanya bisa menangis, saat ia melihat Rily, Rily pun terlihat menangis.
Seorang petualang yang menahan Rily perlahan membuka bajunya dan menjilati lehernya, Rily pun menangis pasrah dengan keadaan.
Sayu pun menangis ketakutan.
"Kak Zen!.." Gumam Sayu sembari menangis.
Petualang itu pun merobek dan melepas pakaian Sayu, ia pun perlahan mendekati leher Sayu dan menghela nafas.
"Kak Zen!!!" Gumam Sayu sangat ketakutan dan menangis.
Petualang itu pun melepas bungkamannya.
"Tolong berhenti.." Ucap Sayu memohon sambil menangis tak berdaya.
"Hahahaha!! hei kalian! lihat lah yang satu ini! dia sangat ketakutan!! ini pasti akan menjadi yang terbaik!!" Seru petualang itu, yang membuat petualang lainnya langsung melihat Sayu dengan tatapan aneh.
"Tenang saja.. setelah kami puas menikmati tubuh kalian berdua kami pasti akan membunuh kalian!..." Bisik petualang itu di telinga Sayu yang membuat Sayu sangat ketakutan.
"Tentunya kau akan mati terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi!!.." Bisik Zen dengan nada yang sangat menyeramkan dari belakang petualang itu.
Petualang itu pun terkejut dan langsung menoleh kebelakang, tetapi saat ia menoleh kebelakang.
(Slash!!!)
Zen menebas leher petualang itu dengan belati di tangannya yang membuat petualang itu seketika tewas, para petualang lainnya pun sangat terkejut dan sangat ketakutan melihat temannya yang di bunuh tepat didepan mata mereka berdua.
Mereka berdua pun melihat temannya yang terpelanting akibat serangan Sayu, ternyata Zen juga sudah membunuh teman mereka.
"Pembunuh!!!!!" Teriak seorang petualang sangat ketakutan.
Zen tiba tiba muncul di hadapan mereka berdua dan mencekiknya.
"Ugh!!! agh!!!!!!!" Kedua petualang itu tidak berdaya sama sekali dan tidak dapat melepas cekikan Zen yang sangat kuat.
"Jangan menyentuh sesuatu yang berharga bagiku!!.." Bisik Zen dengan suara yang sangat menyeramkan.
Zen pun langsung membanting mereka berdua ke permukaan dengan sangat kuat yang membuat permukaan itu hancur, kedua petualang itu pun langsung jatuh tepat di atas meja dan tewas.
Semua orang di lantai bawah pun terkejut bukan main melihat kedua petualang itu yang tewas tepat di depan mata mereka, mereka langsung melihat ke atas dan menatap Zen dengan tatapan sinis.
...-Disisi lain-...
"Zen??" Ucap Rily.
"Ka.. kakak??" Ucap Sayu sedikit ketakutan dengan Zen.
Zen pun melemparkan dua pakaian ke mereka berdua.
"Pakailah itu, apa kalian ga malu jika aku melihat kalian dengan pakaian seperti itu?" Tanya Zen.
Wajah mereka berdua pun langsung memerah dan dengan cepat mereka mengenakan pakaian yang diberikan Zen.
"Kakak dari mana saja??" Tanya Sayu.
"Aku hanya membeli roti di toko sebelah" Ucap Zen.
"Ini ambillah" Zen pun melemparkan dua roti kepada mereka berdua dan mereka berdua langsung mengambilnya.
"Kita tidak akan bisa keluar dari kota ini jika kota ini tidak hancur" Ucap Zen.
"Kenapa gitu kak??" Tanya Sayu.
"Sudah Zen, jangan menghancurkan kota ini, petualang petualang itu juga sudah kena imbasnya kok.. jangan merugikan orang lain yang tidak bersalah.." Ucap Rily.
"Jika bisa begitu aku juga mau, bukan aku ingin menghancurkan kota ini, tapi seluruh orang di kota ini sebenarnya berniat membunuh kita" Jelas Zen yang membuat Rily dan Sayu terkejut.
"Kenapa begitu Kak?!/Zen?!" Tanya Sayu dan Rily serentak.
"Saat aku akan berbelanja di toko sebelah, aku melihat ada beberapa sayuran dan daging di toko itu, dan semuanya beracun, hanya lima roti yang tidak beracun di situ, dan saat aku membayar, penjual itu langsung menyerangku dengan parang di tangannya" Jelas Zen.
"Tapi aku menghindari serangannya dan langsung membunuh penjual itu dengan belati milikku" Jelas Zen yang membuat Rily dan Sayu kembali terkejut.
...~Bersambung~...