
Pertandingan Final pun dimulai, terlihat Thira yang begitu tenang, begitu juga dengan Veliona, mereka tidak bergerak sedikitpun walau pertandingan sudah di mulai yang membuat para penonton sedikit kebingungan.
"Kenapa dia diam?" Gumam Thira kebingungan, saat sedang kebingungan tiba tiba kupu kupu merah pun melintas tepat di depan Thira yang membuatnya sedikit terkejut.
"Kupu kupu?" Bingung Thira karena ia yakin, tidak mungkin seekor kupu kupu akan memasuki arena colosseum.
Kupu kupu merah itu pun terlihat semakin bersinar dan tiba tiba.
(Boooooommmmmm!!!!!???!!???!!!!!!!!)
Semua orang yang melihat ledakan itu pun sangat terkejut dan tidak menduga jika hal itu akan terjadi.
"A?! Apa ini?! ledakan yang tidak terduga sekali!!?!!" Kejut komentator.
(Swushh!)
Angin pun menyapu kabut asap di dalam arena, terlihat Thira yang menjadi kebingungan karena Veliona yang tiba tiba saja sudah tidak ada di dalam arena.
"Kemana dia?!" Gumam panik Thira.
(Slash!)
Sebuah ayunan sabit pun mengarah tepat di leher Thira dari belakangnya.
"Belakang?!" Panik Thira yang langsung menghindar dan menjauhi Veliona sejauh jauhnya.
Thira pun melompat tinggi dan menjauhi Veliona sejauh jauhnya.
"Apa apaan gadis ini?!" Panik Thira.
"Aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya?!, terlebih lagi aku tidak bisa membaca pergerakannya!" Panik Thira.
"Aura pembunuhnya juga tidak bisa kurasakan, siapa gadis ini?!" Bingung Thira bersamaan dengan jatuhnya setetes keringat dingin dari dahinya ke permukaan.
Veliona pun terlihat berjalan dengan santai ke arah Thira dengan penuh celah, walau begitu Thira tidak berani menyerang Veliona karena ia masih belum mengetahui apa rencana Veliona selanjutnya.
"Aku harus memojokkannya terlebih dahulu!" Gumam Thira yang perlahan berubah karena menggunakan kekuatan Roh miliknya.
"Kaze No Nami"
...•...
...風...
...の...
...波...
...•...
...(Gelombang Angin)...
Thira pun mengayunkan tangannya dan bersamaan dengan munculnya angin kuat serta ratusan gelombang angin yang sangat tajam.
Veliona pun terlihat masih berjalan dengan santainya ke arah Thira dan perlahan mengangkat sabitnya.
"Aku akan membuktikannya, aku bukanlah seseorang yang harus terus ia lindungi!" Gumam Veliona menatap ke seluruh gelombang angin tersebut sembari mengingat dimana Zen selalu menyelamatkannya baik dari turnamen di akademi Destro, sampai ia bertarung melawan Ren.
"Bunga Mawar Merah" Veliona pun mengayunkan sabit miliknya dengan kuat dan cepat.
(Slash!!!)
"Red Rose!!!" Bunga bunga mawar berwarna merah pun muncul dan menghantam ratusan gelombang angin tersebut yang seketika menciptakan ledakan beruntun.
(Boom!!! Boom!!!! Boommmm!!!! Booommmm!!!!!!)
(Boomm!!! Boommm!!! Boom!!!)
Ledakan beruntun tersebut pun menciptakan kabut asap yang luar biasa tebal yang membuat para penonton penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Hebat sekali!" Kagum Yuuiki melihat Veliona yang begitu mahir dalam pertarungan.
Disisi lain, Thira terlihat semakin waspada karena Veliona yang mampu menahan serangannya.
"Wind!" Thira pun menyapu seluruh kabut asap yang ada di arena, tetapi saat ia menyapu habis kabut asap itu, ia pun kembali di kejutkan karena sudah terlihat banyak bunga mawar merah yang melayang di udara dan perlahan jatuh ke permukaan.
"Mawar?!" Panik Thira karena ia pikir jika mawar itu akan segera meledak seperti kupu kupu yang sebelumnya.
"Wind!!" Ia pun langsung menyapu mawar mawar tersebut, tetapi hal yang tidak ia duga adalah, mawar tersebut akan meledak jika ia sedikit menerima geseran baik dari angin sekalipun.
(Booommm!!!!!!)
Ledakan dasyat pun tercipta di dalam arena itu.
(Swof!!) Thira pun langsung menjauh dari Veliona, ia melompat ke udara dan tanpa berfikir panjang ia langsung membalas serangan Veliona.
"Wind Storms!!!!" Delapan badai pun langsung muncul di dalam arena dan menyapu seisi arena tersebut, bunga mawar yang tersisa pun seketika meledak, walau begitu Veliona tidak menerima dampak ledakan tersebut.
"Dia berbahaya!" Gumam Thira.
"Hancurkan dia!!" Seru gadis itu sembari mengarahkan tornado tornadonya untuk menghantam Veliona.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Zen sedang duduk di bangku teratas dan terlihat cukup gelap karena tidak tersinari oleh sinar matahari yang membuat tidak ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya.
Zen yang melihat Veliona pun sedikit tersenyum dan mengucapkan "Sepertinya kamu menahan diri ya Veliona.." Ucap Zen dalam hatinya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang Vel, apa kamu akan melihat tornado itu saja.." Ucap Zen sembari tersenyum.
...-Disisi Lain-...
"Red Phoenix!" Veliona mengayunkan sabitnya yang seketika menciptakan burung Phoenix yang besar berwarna merah, burung Phoenix itu pun langsung menghantam tornado tornado itu.
(Boomm!!!!!!!)
Ledakan pun kembali tercipta, kabut asap kembali menutupi arena yang membuat para penonton menjadi terkagum karena pertarungan kali ini benar benar luar biasa, pertarungan yang mereka tunggu tunggu akhirnya dapat mereka saksikan.
(Swof!!? Bom!!!!!)
"Sepertinya dia terkena tornado itu" Gumam Thira yang perlahan turun ke permukaan.
Thira pun mendarat ke arena, saat ia mendarat ke permukaan ia pun langsung menyapu kabut asap di dalam arena agar ia dapat memperlihatkan kepada para penonton jika ialah pemenangnya, ia pun kembali menjadi normal dan menyapu kabut asap itu.
(Swosh...)
Saat ia menyapu kabut asap itu, ia pun sangat terkejut karena di dalam arena terdapat banyak kupu kupu merah yang sudah siap meledak.
"Tidak mungkin?! Apa ini?!?!" Panik Thira, ia pun melihat jauh ke depannya dan ternyata yang menghantam dinding colosseum adalah sabit milik Veliona, Veliona sengaja melemparkan sabitnya jauh ke belakang agar Thira mengira jika dirinya lah yang terpelanting akibat kuatnya tornado itu.
"Maaf, tapi aku tidak akan kalah di sini.." Ucap Veliona yang sudah berada jauh di belakangnya.
Thira yang mendengar suara Veliona pun langsung menoleh dan sebuah kupu kupu sudah berada tepat di wajahnya.
"Maafkan aku" Veliona pun menjentikkan jarinya dan semua kupu kupu itu pun meledak.
(Boom!!!!! Boomm!! Boomm!! Boom!!! Booommmmm!!!)
Pertarungan itu pun berlangsung sangat singkat karena Veliona yang dari awal sudah memprediksi gaya bertarung Thira semenjak ia melawan Ayani, itulah sebabnya Veliona hanya menggunakan serangan jarak jauh karena jika ia mendekati Thira, Thira akan lebih mudah memprediksi gerakannya.
(Swof!!!)
Angin yang begitu kuat pun langsung menyapu seisi arena, terlihat Thira masih sanggup berdiri walau ia menerima luka, tidak hanya itu penampilannya pun berubah total ia menggunakan kekuatan roh miliknya secara keseluruhan sekaligus yang membuatnya memasuki mode roh, matanya yang berubah menjadi hijau tua sedikit putih, selendangnya yang berubah menjadi putih bening, gaunnya yang menjadi sedikit panjang, berwarna putih bening dan bercorak daun berwarna hijau muda, walau begitu ia tidak bisa menahan mode roh semaunya karena mode roh memerlukan begitu banyak kekuatan.
"Hah.. Hah... Aku tidak akan kalah!! Aku tidak ingin kalah!!! Aku tidak akan membuat mereka semua kecewa!!!" Kesal Thira menatap Veliona dengan tatapan tajam.
"Datanglah!!" Thira pun mengangkat tangannya ke atas dan angin pun menggumpal di tangannya membentuk sebuah senjata yakni kapak dua sisi dengan tongkat yang panjang seperti tombak.
"Jika kamu memang ingin kemenangan, maaf, aku tidak bisa memberikannya.." Ucap Veliona mengangkat tangannya dan perlahan muncul cahaya merah tua di telapak tangannya.
"Karena aku akan mempersembahkan kemenangan ini kepadanya dan teman teman ku!" Tegas Veliona menggenggam cahaya tersebut, cahaya tersebut pun memanjang dan membentuk sebuah sabit.
Sebuah sabit berwarna merah darah dengan corak garis hitam di sisi samping tajam sabit itu, tidak hanya itu, aura sabit itu pun perlahan muncul, aura yang menyeramkan berwarna hitam kemerahan muncul di punggung kepala sabit tersebut seakan akan membentuk sisi lain dari sabit itu.
"Ha!!!!!" Aura Thira pun menyambar seisi colosseum bersamaan dengan angin ribut yang menyapu seisi arena.
"Kalau begitu mari kita akhiri ini.." Ucap tenang Veliona yang tiba tiba menghilang.
Thira pun ikut menghilang dan mereka berdua pun muncul tepat di tengah tengah arena.
"Hakai No Kaze!!!"
...•...
...破...
...壊...
...の...
...風...
...•...
...(Angin Kehancuran)...
(Slash!!!!)
Thira pun mengayunkan kapaknya dengan sekuat kuatnya diiringi oleh angin kuat yang seakan akan mendorong kapaknya tersebut.
"Blood Scythe Strike!!!" Veliona pun mengayunkan sabitnya dengan sangat cepat dan kuat.
(Slash!!!!
(Ting!!!!!!!!!!!)
Hantaman dua senjata tersebut pun membuat arena retak, tidak hanya itu terlihat sabit Veliona yang mengeluarkan auranya sendiri, aura menakutkan yang begitu kuat.
"Ha!!!!!!!!!!" Thira pun mendorong kapaknya tersebut sekuat tenaganya tetapi perbedaan kekuatan yang tidak terduga membuatnya harus kehilangan senjatanya.
(Tcs!!!)
"Huh?" Thira pun terkejut melihat kapaknya yang hancur karena tidak mampu menahan kekuatan dari sabit Veliona.
(Slash!!!!)
(Bom!!!!)
(Swof!!!!)
(Bom!!!!!)
Thira pun terpelanting hingga dinding colosseum tersebut yang membuat seluruh penonton sangat terkejut.
...-Disisi Lain-...
Terlihat seluruh anggota guild Eternal Fire terkejut melihat Veliona yang berhasil mengalahkan Thira yang memiliki kekuatan roh.
"Hebat sekali!!" Kagum Siyon melihat Veliona yang berhasil mengalahkan Thira dengan begitu mudahnya.
Verina pun terlihat tercengang saat melihat Veliona, ia benar benar tidak menduga jika Veliona akan menang melawan Thira yang memiliki kekuatan roh.
"Hebat sekali!!!" Kagum Verina dalam hatinya.
"Pemenangnya adalah Veliona dari guild Eternal Fire!!!!!"
Para penonton pun bersorak ria atas kemenangan Veliona, pertarungan yang begitu hebat sehingga para penonton tidak dapat berkata apapun mengenai pertarungan yang hebat itu.
...-Disisi Lain-...
Zen pun menatap Veliona dari kejauhan dan mengucapkan "Selamat atas kemenanganmu Veliona..." Ucap Zen dalam hatinya sedikit tersenyum.
"Sepertinya kamu semakin kuat saja.." Ucap Zen dalam hatinya kagum dengan Veliona.
...~Bersambung~...