The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 105 : Water Dragon Academy



...Episode 105 - Water Dragon Academy...


...(Akademi Naga Air)...


Pagi hari pun tiba, Pukul 05:17 Zen pun bangun dari tidurnya dan ia segera bersiap untuk melanjutkan perjalanannya.


Saat terbangun dan sedang bersiap ia teringat dengan hal yang terjadi semalam yakni tangisan Veliona yang membuatnya sedikit risau dan kembali merasa bersalah.


Tetapi Zen tidak bisa merenungkan hal itu terus menerus karena ia harus melakukan hal yang harus ia lakukan agar dapat menepati janjinya.


...-Time Skip-...


Zen pun akhirnya siap untuk berangkat meninggalkan Rias, Silvia, dan Verina, ia pun melepaskan perban yang menutupi tubuhnya, saat ia membukanya tidak di duga luka di tubuhnya benar benar sudah sembuh total, tetapi bekas serangan Lucifer tidak menghilang walau sudah di sembuhkan dengan seluruh kekuatan Rias, Silvia, dan Verina.


Tetapi Zen tidak memperdulikan hal tersebut, Zen pun keluar dari rumah Rias tanpa membawa apapun, saat Zen keluar hal yang sangat tidak di duga pun terjadi.


Rias, Silvia, dan Verina sudah berada tepat di depan Zen seakan akan mereka sudah tau jika Zen akan segera meninggalkan rumah Rias.


"Selamat pagi Zen" Ucap Silvia sembari tersenyum, Zen yang melihat mereka bertiga pun terkejut karena ia tidak menduga jika mereka bertiga akan menghalanginya.


"Apa kita akan segera berangkat?" Tanya Silvia.


Zen yang mendengar pertanyaan Silvia kembali terkejut karena ia pikir mereka bertiga berniat untuk menghadangnya keluar melanjutkan perjalanannya.


Karena perkiraannya salah, Zen pun menjawab pertanyaan Silvia.


"Aku akan berangkat sekarang" Jelas Zen.


Silvia yang mendengarnya pun mengucapkan "Baiklah, ayo kita berangkat!" Ucap Silvia penuh semangat sembari tersenyum manis.


Zen pun berniat untuk menyuruh mereka tinggal, tetapi ia seketika teringat dengan kesalahan kesalahannya pada masa lalu.


"Apa aku akan meninggalkan teman temanku lagi?!" Tegur Zen dalam hatinya.


Zen pun tersenyum tipis dan bergumam "Berhentilah mengulangi kesalahan yang sama dasar bodoh" Gumamnya sekilas mengingat wajah Veliona dengan senyuman manisnya.


Zen mengangkat kepalanya dan mengucapkan "Ayo kita berangkat!" Semangat Zen diikuti oleh mereka bertiga.


Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan yang bertujuan ke perbatasan akhir musim yang dirumorkan akan mendatangkan bencana pada bulan November.


...-Time Skip-...


Setelah lama berjalan dalam perjalanan yang panjang mereka terus berjalan ke arah utara dengan tujuan yang belum jelas, semakin mereka berjalan ke arah utara, mereka perlahan merasakan hawa dingin yang membuat Zen seketika bergegas karena ia pikir jika hal yang ia cari sudah berada di depan mata.


"Ayo bergegas" Ucap Zen dan berlari terus menyusuri hutan.


Rias, Silvia, dan Verina hanya mengikuti Zen dari belakang, setelah lama berlari di dalam hutan, Zen akhirnya melihat seserca cahaya dari ujung hutan yang menandakan jika mereka sudah hampir keluar dari hutan itu.


"Itu dia!" Gumam Zen yang tiba tiba menghilang.


Rias, Silvia, dan Verina pun terkejut melihat Zen yang tiba tiba menghilang.


Zen pun keluar dari hutan tersebut dan terkejut saat melihat apa yang berada di depannya.


Beberapa saat kemudian, Rias, Silvia dan Verina pun akhirnya dapat menyusul Zen dan ikut terkejut melihat hal yang berada di depan mereka.


Akademi yang sangat besar dan mewah berada tepat di depan mereka, murid murid akademi yang sangat banyak dan rata rata adalah bangsawan dengan kekuasaan yang tinggi.


Saat mereka termakan lamunan, seorang pria tua menghampiri mereka dan bertanya "Tidak perlu terkejut seperti itu wahai pengembara.." Ucapnya yang membuat Zen, Rias, Silvia dan Verina menolehkan pandangan mereka ke pria tua itu.


"Mohon maaf kakek.. Jika boleh tau, ini dimana ya??" Tanya Rias dengan sopan.


Pria tua itu pun menjawab "Ini adalah akademi Water Dragon, akademi yang berisi murid murid elit dengan kekuatan yang di atas rata rata, akademi ini memiliki sebuah tujuan yakni menemukan sosok reinkarnasi dari roh agung yang sudah lama meninggal dunia pada zaman dahulu" Ucap pria tua itu sedikit menyombongkan akademi itu.


"Begitu ya.." Paham Rias, saat Rias akan kembali bertanya tiba tiba Zen menyela pembicaraan dan mengucapkan "Tidak perlu menyamar menjadi kakek tua untuk berbicara dengan kami" Ucap Zen.


Pria tua itu pun sedikit terkejut karena Zen yang menyadari jika ia sedang menyamar.


"Sangat tidak diduga jika penyamaranku dapat diketahui.." Ucap pria itu.


"Seperti pribahasa yang mengatakan, dunia itu luas" Ucapnya yang perlahan berubah ke wujud aslinya berupa seorang pria remaja.


"Hebat sekali kamu bisa mengetahui penyamaranku, siapa namamu?" Tanya pria itu.


Zen pun menjawab "Namaku adalah Zen" Ucap Zen.


Pria itu pun memberikan sebuah surat kepada Zen dan mengucapkan "Aku adalah kepala sekolah di akademi ini, kamu sangat berbakat, kemungkinan kamu adalah reinkarnasi dari salah satu roh ataupun pahlawan ratusan tahun yang lalu" Jelas pria itu.


Zen pun tersenyum tipis dan mengucapkan "Baiklah, aku terima dengan senang hati, tetapi aku ingin teman temanku juga di izinkan menjadi murid di akademi ini" Syarat Zen sembari tersenyum tipis menatap pria itu.


Pria itu pun membuat alasan dengan mengucapkan "Jika mereka aku tidak yakin, karena asrama di akademi ini sudah hampir penuh, kemungkinan hanya tersisa satu kamar untukmu saja" Ucap pria itu beralasan.


Tetapi Zen langsung mengucapkan "Tidak apa apa, satu kamar sudah cukup untuk kami berempat" Ucap Zen yang membuat Rias, Silvia, Verina dan pria itu terkejut.


Mereka tidak menduga jika Zen akan mengucapkan hal itu.


Rias, Silvia dan Verina sempat berfikiran aneh, mereka spontan memikirkan jika Zen ingin di layani oleh mereka, itu sebabnya Zen memaksakan kehendaknya kepada pria itu, terlebih lagi Zen terus tersenyum saat meminta hal tersebut.


Pria itu yang tidak bisa membuat alasan lagi pun dengan terpaksa mengizinkan Zen dan memberikan surat itu kepada Zen.


Zen pun mengambilnya dan tersenyum "Berhasil!" Gumam Zen.


...-Time Skip-...


Zen, Rias, Silvia, dan Verina pun telah resmi menjadi murid di akademi itu hanya dalam waktu singkat, mereka berempat sudah mendapatkan tempat tinggal, serta seragam akademi, tidak hanya itu, mereka berempat juga dapat menikmati fasilitas akademi tersebut yang sangat mewah.


Saat Zen sedang tiduran di ranjang, Rias, Silvia dan Verina pun menghampirinya dan bertanya "Ke.. kenapa kamu meminta hal ini kepada pria itu?" Tanya Silvia sedikit gugup.


Zen pun tersenyum dan bangun sembari mengucapkan "Tenang saja, aku hanya memanfaatkan situasi" Ucap Zen tersenyum tipis.


"Apa maksudmu?" Tanya Verina.


"Akademi ini adalah akademi yang mewah, terlebih lagi letak dari akademi ini sangat pas dengan cuacanya, aku yakin jika hari yang ku tunggu pasti akan sampai dan aku pasti akan lebih mudah mencarinya" Ucap Zen.


"Jika kita tinggal di desa sekitaran sini, kemungkinan kita akan hidup tenang adalah hal yang tidak mungkin, karena murid murid akademi di sini yang rata rata adalah bangsawan, bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi pasti akan menginjak yang lemah untuk memamerkan kekuatannya, dan keputusan yang tepat adalah menjadi murid di akademi ini, karena jika ada penindasan di akademi, kita akan lebih mudah menyelesaikannya" Jelas Zen.


"Tidak hanya itu, kita juga dapat menikmati kehidupan di sini untuk beberapa saat sambil menggali informasi tentang perbatasan akhir musim, kita tidak perlu khawatir tentang makanan, karena akademi pasti sudah menyiapkan kehidupan yang layak untuk setiap murid yang bersekolah di akademi ini" Jelas Zen.


"Pria yang mengaku kepala sekolah itu berniat mengumpulkan seluruh murid berbakat dan kuat bukan untuk mencari siapa reinkarnasi dari pahlawan ataupun roh agung, melainkan ia ingin melindungi kehidupan tenangnya dari para monster yang akan menyerang, di dalam hutan yang kita lewati terdapat beberapa monster kuat yang bersembunyi, bahkan aku sempat melihat sesosok monster yang sangat kuat sedang bersembunyi di dalam kegelapan, tentunya jika banyak murid yang kuat, akan meningkatkan pertahanan akademi ini" Jelas Zen.


"Itulah kenapa desa desa di sini tidak begitu terurus, karena pemimpin akademi ini hanya mementingkan dirinya sendiri, sehingga desa desa sekitar sini banyak yang sudah tidak berpenghuni" Jelas Zen sedetail mungkin kepada Rias, Silvia, dan Verina.


Mereka bertiga yang mendengar penjelasan Zen pun tercengang karena Zen sudah merencanakan semuanya sesuai dengan keinginannya.


Zen pun kembali tersenyum dan mengucapkan "Mari kita nikmati kehidupan yang damai ini untuk sesaat"


...~Bersambung~...