The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 39 : Blue Ring Academy



"Akademi Blue ring?!" Gumam Zen kebingungan.


"Aku tidak menduganya akademi ini adalah akademi Blue ring, aku beruntung sekali!" Gumam Zen.


"Yah, aku ke asrama dulu ya" Ucap Rily.


"Baiklah" Ujar Ayahnya.


Rily pun keluar dari ruangan pemimpin.


"Nama kamu siapa?" Tanya Ayah Rily.


"Namaku Zen" Ucap Zen.


Pemimpin akademi membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kunci, ia pun meletakkannya di meja sembari mengucapkan "Ini kunci ruanganmu Zen, selamat datang di akademi Blue ring"


"Ah.. Terima kasih pak pemimpin" Ucap Zen sembari menundukkan kepalanya, Zen pun mendekati meja pemimpin akademi dan mengambil kunci itu.


"Kamar nomor 31?!, besar sekali akademi ini!!.." Gumam Zen kagum.


...-Disisi lain-...


(Ting!! ting!! ting!!)


"Red rose!" Veliona~


"Twilight dragon!" Fallen~


(Boomm!!!!)


Ledakan yang kuat pun terjadi di ruangan latihan


"Stop!!" Teriak Yuuiki sembari mengangkat tangan kanannya.


Veliona dan Fallen pun berhenti mendengar teriakan Yuuiki.


Semua anggota guild eternal fire pun bertepuk tangan melihat pertarungan Veliona dan Fallen yang sangat sengit


"Lagi lagi mereka seri" Ucap Siyon sembari bertepuk tangan.


"Mereka berkembang dengan cepat" Ujar Rias.


Fallen pun berjalan mendekati Veliona sembari memujinya "Hebat sekali Vel, sudah yang ketiga kali kita seri" Ucap Fallen.


"Menurutku kamu yang hebat, kamu menjadi sangat kuat sekarang, berbeda dengan saat pertama kali kita bertarung" Ucap Veliona memuji Fallen.


(Swof!!)


(Bom!!)


Veliona dan yang lainnya pun terkejut karena melihat seorang laki laki yang terpelanting ke arah mereka dan menabrak dinding ruangan.


"Apa yang terjadi?!" Bingung Rio.


Laki laki tersebut ternyata adalah petinggi akademi yang pernah berniat membunuh Zen sebelumnya, ia terlihat memiliki banyak luka sayatan di tubuhnya.


"Aku akan menolongnya!" Ucap Uika sembari berlari ke arah laki laki tersebut di ikuti dengan teman temannya.


"Healing!" Uika pun menyembuhkan laki laki tersebut yang terlihat sudah sekarat.


"Apa yang terjadi?" Tanya Siyon.


"Sepertinya mangsaku semakin banyak saja.." Ucap sesosok Iblis laki laki.


Veliona dan teman temannya yang kaget langsung melihat ke sumber suara, terlihat sesosok Iblis laki laki yang sedang berdiri di depan pintu masuk ruangan latihan dengan membawa sebuah pedang yang panjang.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas, tigabelas" Iblis tersebut menunjuk kearah mereka satu persatu sembari menghitung.


"Wah jumlah kalian banyak juga ya.." Ucap Iblis tersebut dengan wajah kagumnya.


"Swift!!" Veliona, Siyon, Rio, dan Raft pun berlari ke arah Iblis tersebut dan menyerangnya.


(Slash! Ting! slash!! slash! ting!! slash! ting! slash slash slash! ting!!)


(Ting! ting! ting!! ting!!)


"Dia cepat sekali!!" Gumam Raft terkejut.


"Red phoenix!" Veliona pun mengayunkan sabitnya yang menciptakan Phoenix berwarna merah dan langsung mengarah ke Iblis tersebut.


Iblis tersebut pun tersenyum.


"Aegis!" Serangan Veliona pun bertabrakan dengan pelindung sihir berwarna hitam dan tiba tiba Iblis itu menjentikkan jarinya yang membuat pelindung sihir itu meledak.


(Bom!!!)


Siyon dan yang lainnya pun berhasil menghindari ledakan tersebut, tiba tiba Iblis itu memuji mereka "Hebat sekali, hebat, kalian bisa menghindari jebakanku" Ucap Iblis tersebut sembari bertepuk tangan.


"Tapi, kalian masih terlalu lemah untuk berurusan dengan Iblis tingkat tengah sepertiku!" Seru Iblis tersebut sembari tersenyum dan menatap tajam kearah mereka.


"Aura!" Veliona dan teman temannya pun seketika terkejut karena merasakan hawa yang tidak enak dan sedikit ketakutan melihat Iblis tersebut, Uika yang sedang menyembuhkan laki laki tersebut seketika pingsan karena Aura Iblis itu.


"Apa yang terjadi?!" Gumam Siyon kebingungan.


...-Disisi lain-...


Zen pun memasuki asrama dengan penampilan yang berbeda, ia merubah warna rambutnya menjadi biru es, Zen menaiki tangga hingga mencapai lantai 3 di asrama.


"Tidak ku sangka asramanya sampai seluas ini" Gumam Zen sembari berjalan ke kamarnya


Setelah lama berjalan Zen akhirnya sampai di ruangannya dan ia pun membuka pintu ruangannya, saat ia memasuki ruangan, ia pun sangat terkejut dan kagum melihat isi ruangan yang sangat mewah.


"Luar biasa sekali!!" Gumam Zen kagum.


Zen pun menutup pintu dan menguncinya, perlahan rambut dan matanya pun kembali normal.


Zen pun melihat isi ruangannya yang benar benar menakjubkan bahkan sangat luas dibandingkan dengan akademi arsenal.


"Aku tidak bisa berkata kata lagi" Gumam Zen.


Zen pun meletakkan perbekalannya di dalam kamar, ia pun memutuskan untuk mandi.


Beberapa saat kemudian, Zen akhirnya selesai mandi dan tiba tiba seseorang mengetuk pintunya.


(Knock knock!)


"Iya sebentar" Ucap Zen.


"Iya ad-" Tiba tiba seorang perempuan menyerang Zen menggunakan pedang tetapi Zen dapat menghindarinya.


Perempuan tersebut pun kembali menyerang Zen


(Ting!!!)


Zen pun menangkis serangan Perempuan tersebut menggunakan pedangnya.


"Apa yang kau lakukan kepada tuan putri!?!" Seru Perempuan tersebut yang membuat Zen kebingungan.


"Apa maksudmu?" Tanya Zen.


"Tidak usah berlagak tidak tau! dia menangis saat keluar dari ruangan pemimpin akademi!, terakhir kali aku melihat kalian berdua masuk bersama ke ruangan pemimpin! sebaiknya kamu jujur apa yang kamu lakukan!?!" Seru Perempuan tersebut.


"Aku tidak melakukan apa apa" Ucap Zen jujur.


Tetapi Perempuan itu terus ngotot dan tidak percaya dengan Zen.


"Teknik pedang" Perempuan tersebut pun melompat dan bersiap menyerang Zen.


"Water Fall!!" Air terjun yang kuat pun muncul dari pedang Perempuan tersebut.


Pupil mata dan Rambut Zen tiba tiba berubah menjadi biru es.


Sebelum hantaman air tersebut mengenai Zen, air tersebut tiba tiba langsung membeku yang membuat Perempuan tersebut terkejut.


"Es?!" Gumam Perempuan itu.


"Hani berhenti!" Teriak Rily.


Perempuan tersebut pun terkejut melihat Rily yang muncul secara tiba tiba, ia pun menuruti perintah Rily dan berhenti menyerang Zen.


"Kenapa kamu menyerangnya Han?" Tanya Rily.


Hani pun menjawab "Aku hanya tidak suka dengannya, karena ia telah membuat tuan putri menangis" Ucap Hani.


Rily pun menjelaskan "Aku menangis bukan karena dia, justru aku menangis karena bersyukur masih bisa hidup hari ini, karena dialah yang menyelamatkanku" Jelas Rily yang membuat Hani terkejut.


Rily pun menceritakan kejadian sebenarnya kepada Hani.


"Maafkan aku!.." Ucap Hani meminta maaf sembari menundukkan kepalanya


Zen hanya tersenyum sembari mengucapkan "Iya, tidak apa apa" Ucap Zen.


Hani pun sedikit terkejut saat melihat tubuh Zen yang memiliki bekas luka dan ia teringat masa lalunya saat ia di culik oleh laki laki misterius, ia mengingat ada seorang laki laki yang sedang mandi di sumur dan memiliki bekas luka yang sama dengan Zen.


Hani pun bertanya kepada Zen "Apa kamu adalah orang yang pernah menyelamatkanku dulu saat di sebuah desa perampok?" Tanya Rily.


Zen yang menyadari Hani adalah salah satu orang yang di culik pun membohonginya "Maaf, aku tidak mengenalmu, dan aku juga tidak pernah pergi ke sebuah desa" Ucap Zen.


"Begitukah.." Ujar Hani.


Hani pun berfikir ia salah orang, tiba tiba Zen bertanya.


"Kenapa kamu memanggil Rily tuan putri?" Tanya Zen.


Hani pun menjawab "Kak Rily adalah orang yang telah menyelamatkan hidupku, saat orang yang menculikku sudah mati di bunuh seseorang, aku berjalan tak tentu arah dan di hadang oleh bandit yang sedang merusak desa, saat itu para bandit berniat menjadikanku alat untuk kesenangan mereka, aku yang sudah tidak memiliki tujuan hidup hanya pasrah, tetapi kak Rily menyelamatkanku dan menyadarkanku" Jelas Hani.


"Karena kak Rily sudah menyelamatkanku aku bersumpah untuk mempertaruhkan nyawaku di saat kak Rily membutuhkannya" Ucap Hani.


"Hei jangan begitu Hani" Ujar Rily memotong pembicaraan.


"Ini adalah pilihanku kak, hanya kakak satu satunya tujuanku hidup saat ini" Ucap Hani.


"Aku akan memakai bajuku dulu, aku merasa tidak enak jika begini" Ucap Zen.


"Eh.." Wajah Rily sedikit memerah karena ia baru sadar, ia melihat Zen yang dari tadi tidak mengenakan baju.


Zen pun masuk ke kamar dan mengenakan pakaiannya.


...-Disisi lain-...


"Hahahaha! gimana gimana?, sudah paham perbedaan kekuatan kita?" Ucap sesosok Iblis sembari menatap Veliona dan yang lainnya.


(Tst!)


"Swift!"


(Swof!)


Tiba tiba Siyon muncul tepat di depan Iblis tersebut dan menyerang menggunakan katana miliknya


(Slash!!)


Iblis tersebut pun menyampingkan tubuhnya yang membuat serangan Siyon meleset.


"Kecepatanmu masih dibawahku bocah!" Seru Iblis tersebut sembari tersenyum.


Tiba tiba Iblis itu menghilang dan muncul tepat di hadapan Rias.


"Cepat sekali!" Gumam Rias terkejut


Iblis tersebut pun menyerang Rias dengan pedangnya yang cukup panjang.


(Slash!!)


(Ting!!!!)


Iblis itu sedikit terkejut karena Siyon tiba tiba muncul dan menangkis serangannya.


"Siyon?!" Gumam Rias terkejut.


Siyon pun menatap Iblis tersebut dengan tatapan tajam dan menyerang Iblis itu dengan cepat.


(Slash! slash! slash!!)


(Ting!! ting!! ting!!)


Tetapi serangan Siyon dapat di tangkis oleh Iblis itu dengan mudah.


"Menarik sekali!" Gumam Iblis tersebut.


...~Bersambung~...