The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 145 : Lose Control And Depression



...Eps 145 : Lose Control And Depression...


...(Kehilangan Kendali Dan Depresi)...


"Hentikan!!!!!!!!" Teriak Zen.


(Srk!!!!!!)


(Tsk!!!!!)


Pedang tersebut pun menancap hingga menembus tubuh dan meja persembahan itu.


Siyon dan yang lainnya pun sangat terkejut saat melihat Veliona yang sudah di eksekusi di depan mata mereka.


Keheningan pun terjadi, suasana terasa sangat dingin dan sunyi, perasaan tidak enak yang tiba tiba muncul menyambar semua orang dan waktu yang terasa begitu lama seakan akan waktu terhenti sementara, serta bulan di langit yang berwarna merah pekat seperti warna darah.


"Veliona?!! Veliona!!!!" Gumam Zen sangat frustasi karena ia gagal menyelamatkan Veliona, padahal hanya satu langkah lagi Zen berhasil menyelamatkannya, tetapi Zen tidak mampu membangkitkan dirinya yang membuatnya kembali merasa kecewa dengan dirinya.


"Gh!!" Zen pun merasa sangat frustasi.


Zen pun seketika teringat dengan Veliona, pertama kali ia bertemu dengan Veliona, pertama kali ia mendapat makanan dari Veliona, pertama kali mereka tidur bersama walau tidak di sengaja, mendengarkan cerita Veliona, membuat janji dengan Veliona hingga kembali bertemu dengan Veliona.


"Aku tidak akan membiarkan teman temanku mati!" Sekilas suara Zen yang terlintas di kepalanya.


...-Disisi Lain-...


Silvia pun menyadari jika hal yang tidak beres akan terjadi, ia pun merasakan rasa kekecewaan, frustasi, emosi yang tidak stabil yang semakin meningkat, saat ia menyadari jika itu adalah Zen, tiba tiba saja ia di sambar oleh perasaan yang keputusasaan yang sangat pekat dan kuat yang membuatnya seketika langsung pingsan.


"Aaghhh!!!! graaaaaaaaaaghhhhh!!!!!!" Mata kanan Zen pun seketika berubah total menjadi merah darah dan di saat yang bersamaan punggung Zen mengeluarkan tulang tulang yang langsung menghantam permukaan di bawahnya, dan seketika tulang tulang berwarna putih muncul dengan jumlah yang sangat banyak dan langsung menghantam seisi kastil hingga menembus kastil itu.


"Aaahh!!!!" Siyon dan yang lainnya pun seketika terpelanting keluar kastil karena terhantam oleh angin yang dasyat.


"Aghh!!! aahh!!!!!!" Tulang tulang itu pun kembali memunculkan tulang lainnya dan kembali menusuk para Vampire dan menghancurkan seisi kastil itu.


"Aaaaahhhhhh!!!!!!!!" Para Vampire banyak yang tewas akibat itu.


"Monster!!!! monster!!!!!!!" Teriak para Vampire kepanikan karena hanya dalam hitungan detik, Zen sudah membunuh ratusan hingga ribuan Vampire.


Terlihat Raja Vampire dan pria yang memberikan Veliona darah Vampire murni itu sangat terkejut dan tidak menduga jika hal itu akan terjadi, bahkan pria itu terlihat sangat panik dan ketakutan "Katakan ini bohong kan!!? aku tidak melihat masa depan seperti ini!!!!!" Panik pria itu.


Zen pun perlahan bangun, tulang belulang yang keluar pun kembali menyusut dan masuk ke permukaan tanah lalu menghilang.


"C'A Sword" Pedang berwarna merah dengan corak hitam pun muncul, Zen menciptakan pedang awakening yang bahkan Haruto si pahlawan legendaris belum pernah membangkitkan pedang itu.


Aura pedang itu pun menyambar ke seluruh kastil, tekanan yang sangat kuat membuat para Vampire menjadi sangat kepanikan dan ketakutan.


Zen pun mengangkat kepalanya dan menatap raja Vampire dengan tatapan mematikan, tatapan dingin dengan hasrat pembunuh yang luar biasa.


Raja Vampire yang menyadarinya pun seketika ketakutan dan melangkah mundur berniat melarikan diri, tetapi saat kaki kirinya baru akan menyentuh permukaan, Zen sudah berada di depan matanya dan menebas lehernya.


(Slash!!!!)


(Krk!!!!)


(Brakkkk!!!!!)


(Boooooooooommmmm!!!!)


Saat Zen menebas kepala raja Vampire, dinding kastil pun ikut terbelah dan hancur seketika walaupun pedang Zen tidak mengenai dinding kastil.


Pria itu pun sangat terkejut dan berniat melarikan diri, tetapi baru saja saat ia menoleh dan melihat Zen, kepalanya sudah terbelah dan sudah berada tepat di permukaan sehingga ia hanya dapat melihat permukaan tanah.


"Paduka!!!!" Para Vampire pun berteriak sangat histeris saat melihat raja mereka yang sudah tewas hanya dalam kedipan mata.


Zen pun turun ke permukaan dan menginjak kepala pria itu yang membuat kepala itu seketika hancur.


Zen pun menciptakan api hijau berniat menyembuhkan Veliona dan membakarnya.


(Bff!!)


Tetapi hal itu tidak berhasil, api hijau penyembuh tidak berefek sedikitpun yang membuat Zen kembali frustasi.


"Gkh!!!" Zen pun tiba tiba saja menghilang dan muncul kilatan berwarna merah kehitaman yang menyusuri seluruh kastil di iringi dengan tewasnya para Vampire yang di lintasi kilatan itu.


...-Disisi Lain-...


Veliona pun terbangun, tetapi saat ia terbangun ia bukanlah bangkit melainkan ia sudah mati dan hanya menjadi arwah yang masih berada di kastil itu.


"Apa yang terjadi kepadaku?" Bingung Veliona.


Sesaat Veliona berfikir, ia pun teringat jika ia sempat kehilangan kendali saat pukul 11 malam di saat bulan purnama merah darah terbentuk total.


Veliona pun melihat sekitarnya dan sangat terkejut karena ia melihat dirinya sendiri yang sudah tewas di atas meja persembahan dan melihat kilatan merah yang bergerak begitu cepat memusnahkan para Vampire.


...-Disisi Lain-...


(Slash!!!! Slash!!!!!!!! Slash!!!!!!!!!! Slash!!!!!!!)


"Graaakhhhhhhhh!!!!!!!" Zen pun menebas secara membabibuta di dalam kastil, tebasan tersebut membasmi Vampire tanpa tersisa sedikitpun bahkan menghancurkan kastil dengan sangat mudah, seakan akan kastil tersebut hanyalah kastil rapuh.


(Slash!!!!!!!!!!!!)


(Boooooommmmmmmm!!!!!!!)


Kastil pun seketika hancur, di saat Asuka, Siyon dan yang lain tersadar mereka hanya melihat kastil yang tiba tiba saja sudah hancur total.


"Aa?!! apa yang terjadi?!" Ucap Asuka sangat sangat terkejut.


Di saat yang bersamaan, akhirnya Rio, Ayani, Endo, Raft, Uika, Lyn, Rara, Yuuiki, Sayu pun tiba di lokasi, mereka juga sangat terkejut karena hanya dapat melihat puing puing kastil yang sudah hancur berkeping keping.


"Apa yang terjadi di sini?!!" Panik Rio karena ia berfikir jika Veliona berada di dalam sana.


Di saat kabut asap mulai memudar, terlihat Zen yang berjalan ke arah mereka semua sembari menggendong Veliona yang sudah mati dengan ekspresi keputusasaan.


"Zen.." Gumam Asuka bersyukur saat melihat Zen yang tidak kenapa kenapa.


Tetapi rasa bersyukurnya seketika hilang saat melihat ekspresi keputusasaan Zen karena ia baru sadar jika Veliona mati tepat di depan mata Zen.


"Zen!!!" Gumam Asuka sangat khawatir melihat kondisi Zen.


Saat Rio melihat Veliona, Rio pun langsung berlari ke arah Zen sembari berteriak "Veliona!!!!" Teriak Rio sangat panik.


Zen pun berhenti di tempat saat mendengar Rio yang memanggil Veliona, ia seketika merasa sangat depresi dan teringat semua janjinya ke Veliona yang bahkan ia belum bisa tepati sekalipun.


"Veliona!!!" Rio pun terlihat sangat frustasi saat melihat Veliona yang sudah tewas di depan matanya.


Rio pun merasa sangat frustasi, ia berfikir jika Zen lah yang membunuh Veliona, karena pada dada Veliona terlihat bekas tikaman pedang yang membuat Rio berfikir jika Zen lah yang telah menikam Veliona.


"Pe!! Pembunuh.. Pembunuh!!! Kau pembunuh!!!!!" Teriak Rio sangat histeris yang seketika membuat suasana menjadi sangat mencekam.


"Apa yang kau katakan brengsek!!?!!!!" Murka Elia saat melihat Rio yang malah mengatai Zen membunuh Veliona.


Disisi Lain, Zen pun terlihat semakin depresi, ia kembali mengingat seberapa tidak berguna nya dirinya saat Veliona di eksekusi, ia hanya dapat melihat Veliona di eksekusi seperti para Vampire lainnya.


"Zen!!! Zen!!!" Panik Veliona saat melihat Zen yang begitu suram, Veliona pun berlari ke arah Zen tetapi tiba tiba sebuah dinding muncul yang menahannya.


"Apa ini?!! Zen!!!!" Teriak Veliona sangat khawatir dan panik saat melihat Zen, tetapi teriakannya tidak di dengar siapapun, karena bagaimanapun ia sudah berada di dimensi yang berbeda, ia sudah menjadi arwah gentayangan.


"Zen!!!!!" Teriak Veliona histeris dan menangis, ia pun terjatuh ke permukaan dan di saat yang bersamaan ia tiba tiba berpindah ke dimensi yang berbeda, seluruhnya sangat gelap dan juga tidak ada kehidupan sedikitpun di tempat itu.


...-Disisi Lain-...


Terlihat sosok pria bermata merah darah pun tersenyum sangat puas, ia pun berjalan ke dinding perbatasan dirinya dengan Zen dan mendekati Zen yang sedang terduduk lemas pasrah di alam bawah sadarnya.


"Kau sudah kehilangan Veliona, inilah kenapa kau harus bergantung kepadaku bocah..." Ucapnya dengan nada yang sangat mencekam sembari tersenyum puas.


Zen pun terlihat putus asa dan merasa sangat hampa.


Di dalam kesempatan itu pria misterius itu berniat menguasai tubuh Zen dan bangkit ke dunia, ia pun menyentuh bahu Zen dan perlahan tubuhnya mulai menyatu dengan Zen.


Keputusasaan pun semakin kuat saat sosok tersebut mulai menyatu dengan Zen dan hampir sempurna, tetapi tiba tiba kehampaan yang begitu kuat langsung muncul dan ikut menyatu dengan Zen yang membuat pria misterius itu sangat terkejut, karena ia tidak menduga jika dirinya tidak dapat menyatu sempurna dengan Zen, ia juga tidak menyadari jika ada sosok selain dirinya yang bersemayam di tubuh Zen.


...-Disisi Lain-...


Zen pun mengangkat kepalanya, tiba tiba mata kanannya berubah menjadi merah darah, dan langsung meneteskan darah ke permukaan, sayap tulang dan aura kegelapan yang muncul di punggung nya di sebelah kanan, tidak hanya itu, mata kirinya juga ikut berubah menjadi hitam gelap, lengan kirinya yang berubah menjadi hitam seakan akan di lahap oleh kegelapan dan juga sebuah portal dimensi yang berbentuk sayap di belakang punggungnya sebelah kiri.


Tidak hanya itu, perlahan permukaan di bawah Zen berubah menjadi darah hitam total dan lengan kanannya yang mulai muncul luka sayatan kecil dan mengeluarkan darah.


Tekanan yang sangat luar biasa dasyat pun keluar dari tubuh Zen, cahaya merah pun keluar dari tubuh Zen dan terpelanting sangat jauh hingga menghantam pepohonan hutan di belakang Asuka dan yang lainnya.


(Booooommmmm!!!!!!!!)


"Uhk!!!" Terlihat seorang gadis berambut merah memuntahkan darah dari mulutnya karena hantaman yang keras itu.


"Apa ini?!! tekanan macam apa ini?!!!!" Panik Valine karena ia belum pernah merasakan tekanan yang tidak masuk akal seperti ini.


Di saat yang bersamaan, langit pun menggelap, berbagai portal dimensi pun muncul.


...-Disisi Lain-...


Terlihat Koruga yang sedang bersantai di ruangannya bersama bawahannya, saat Koruga akan meminum sebuah minuman bir di buatkan oleh Lucifer, ia tiba tiba saja meletakkan minuman itu kembali di mejanya yang membuat seluruh bawahannya terkejut.


"Ada apa Koruga???" Bingung Lucifer.


"Dunia ini akan hancur" Ucap Koruga yang langsung bangun dari bangkunya.


"Eh? apa maksudmu Koruga???" Tanya Lucifer kebingungan.


"Aku sedang tidak bercanda, ikuti aku" Ucap Koruga yang langsung menciptakan portal yang sangat besar.


Koruga pun langsung masuk ke dalam portal itu, bawahannya pun hanya mengikutinya karena mereka juga tidak tau apa yang Koruga ingin beri tau mereka.


Saat mereka masuk dan keluar dari portal, mereka pun seketika sangat terkejut saat melihat banyak portal dimensi yang terbuka.


"Ada apa ini tuan muda?" Tanya Ren dengan raut wajah yang serius.


"Aku juga tidak tau, tapi aku merasakan hadirnya sosok yang sangat kuat di dunia ini selain aku" Ucap Koruga yang membuat mereka semua terkejut.


di saat yang bersamaan muncul sosok pria berjubah hitam berambut putih dengan wajah keputusasaan terlebih lagi pria itu sangat mirip dengan Zen.


"Tuan muda? apa it-" Sebelum Cendra menyelesaikan kalimatnya, Koruga tiba tiba saja menghilang dan langsung menghantam pria itu.


Koruga menendang pria itu dengan sangat kuat, tetapi tulang belulang muncul dan melindunginya dari tendangan Koruga.


Koruga pun terlihat sangat serius, bahkan ia tidak tersenyum sedikitpun saat melihat pria itu, ia menyadari jika pria itu adalah Zen dimasa depan, terlebih lagi jika Zen masa depan muncul di hadapannya, berarti Koruga akan kalah saat melawan Zen.


"Mengganggu" Ucap pria itu dengan nada yang sangat mencekam, tulang berbentuk tangan yang cukup besar pun muncul dan langsung menampar Koruga tetapi Koruga dengan cepat kembali menghantam tulang itu dengan pukulannya yang membuat tulang itu seketika hancur.


...-Disisi Lain-...


Di sebuah dimensi es, terlihat ice Zen yang sedang duduk santai sembari menatap portal yang belum berhasil ia masukin sekalipun, saat ia sedang melamun dan memikirkan cara untuk ia bisa keluar dari situ, tiba tiba sebuah portal lain muncul di hadapannya yang membuat ia sangat terkejut.


"Apa yang terjadi" Gumam ice Zen menatap portal itu dengan tatapan dingin.


...~Bersambung~...