The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 134 : Unknown Purpose



"Mmm..." Veliona pun terbangun dari pingsannya, saat ia terbangun ia pun kebingungan karena ia berada di tempat yang tidak ia kenali.


"Dimana ini?" Bingung Veliona.


"Kita ada di ruang perawatan akademi water dragon" Ucap Zen yang terlihat sedang duduk di jendela ruangan perawatan itu.


Veliona pun terpaku melihat Zen yang sedang duduk di jendela.


"Apa kamu baik baik saja?" Tanya seorang gadis.


Veliona yang mendengar pertanyaan itu pun menoleh dan ternyata yang bertanya kepadanya adalah Luca yang sebelumnya ia kalahkan pada pertandingan final.


"Kamu.." Veliona yang melihat Luca pun kebingungan, karena ia tidak mengenali nama gadis itu.


"Namaku Eri, Eriza" Ucap gadis itu.


"Eriza.. Salam kenal, namaku Veliona.." Ucap Veliona.


Zen pun melihat gadis itu dan mengingat hal yang ia lakukan pada gadis itu sebelumnya.


...-Beberapa Waktu Yang Lalu-...


Zen pun terlihat berjalan ke bangku colosseum dan mendekati Luca yang pingsan dan di jaga oleh Yuuiki bersama dengan teman temannya.


Zen pun mendekati Luca dan meletakkan tangannya di kepala Luca.


"Siapa kamu!? Apa yang ingin kau lakukan!?" Tanya Yuuiki.


Zen pun tidak memperdulikan Yuuiki dan menghiraukannya, Endo yang merasa Zen adalah ancaman pun langsung menyerang Zen.


"Fire Spear!!!" Endo mengayunkan tombaknya tepat ke arah Zen.


(Ting!!!)


(Tcs?!!!)


Tak di duga, tombak milik Endo hancur saat menghantam dinding transparan milik Zen yang membuatnya sangat terkejut.


"Apa yang barusan saja terjadi?!" Bingung Endo.


Zen pun menggunakan sihir elemen cahaya untuk menghilangkan kutukan kegelapan yang berada di kepala Luca.


Kutukan elemen sihir kegelapan itu pun berhasil di hapus dengan mudah oleh Zen, dan perlahan gadis itu pun membuka matanya.


Ia pun terlihat kebingungan karena berada di tempat yang tidak ia kenali.


"Dimana ini?" Bingung gadis itu.


"Kamu berada di colosseum akademi water dragon, siapa namamu" Tanya Zen.


Gadis itu yang mendengarnya pun terdiam sesaat dan menjawab "Namaku Eri, Eriza" Ucap gadis itu.


Zen yang mendengarnya pun tanpa basa basi langsung menarik tangan gadis itu dan mengucapkan "Ayo ikut aku" Ucap Zen.


Eriza yang terkejut pun hanya bisa pasrah mengikuti Zen, tetapi tiba tiba tombak api kembali mengarah ke dirinya dengan sangat cepat.


(Ting!!!)


Lagi lagi tombak itu tertahan oleh dinding transparan milik Zen.


"Berhenti! Siapa kau?! Mau apa kau?!" Tanya Endo menatap Zen dengan tatapan tajam.


Zen pun menoleh dan menatap Endo sembari mengucapkan "Aku hanya teman lama kalian yang sudah lama menghilang" Ucap Zen sembari berjalan meninggalkan mereka semua.


"Teman?" Bingung Yuuiki.


Zen pun menatap Eri sembari mengucapkan "Aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang.


Eriza yang mendengarnya pun menjadi penasaran dan bertanya "Ada perlu apa dengan diriku?" Tanya Eriza.


Zen pun menjawab "Aku hanya akan memberikan kalian pilihan di saat yang tepat nantinya" Jelas Zen.


...-Kondisi Di Dalam Ruang Perawatan-...


Terlihat pintu ruang perawatan pun terbuka, dan terlihat Asuka, Thira, Verina, Rias, Silvia, Aini, Kiguno, Elia, dan gadis serigala pun masuk secara bersamaan.


Zen yang melihat mereka sudah datang pun turun dari jendela "Terima kasih sudah menuruti keinginanku" Ucap Zen.


Silvia yang mendengarnya pun bertanya "Ada apa Zen? Sampai meminta kami berkumpul disini?" Tanya Silvia.


Veliona pun langsung menoleh ke arah Zen dan bertanya "Ada apa Zen?" Tanya Veliona.


Zen pun mengucapkan "Aku akan mengalahkan Koruga sang leluhur Iblis" Jelas Zen yang seketika membuat mereka semua sangat terkejut.


"Koruga?!" Panik mereka semua saat mendengar perkataan Zen.


"Bukannya leluhur Iblis sudah lama di kalahkan pahlawan terdahulu?" Tanya Thira.


"Iya, bahkan para pahlawan terdahulu sampai mengorbankan nyawa mereka demi mengalahkan leluhur Iblis" Jelas Eriza.


Veliona pun terlihat hanya terdiam karena ia juga tau jika leluhur Iblis masih hidup, tetapi ia tidak menduga jika Zen nekat untuk mengalahkan leluhur Iblis.


"Dia belum mati, kalian juga sudah melihatnya bukan? Iblis murni" Jelas Zen.


Seketika mereka pun mengingat Iblis Iblis yang berada di luar akademi saat itu.


Mereka pun terdiam dan tidak bisa berkata apapun karena jika ada Iblis murni, sudah dipastikan jika leluhur Iblis masih hidup karena yang dapat menghidupkan kembali Iblis murni hanyalah leluhur Iblis.


Zen pun menatap mereka semua dan mengucapkan "Jika kalian tidak ingin terlibat dalam kekacauan dunia ini, aku hanya ingin meminta tolong untuk melindungi seluruh ras yang ada di dunia ini, aku akan mengurus mereka sendirian" Ucap Zen dengan sangat percaya diri.


"Aku tau kamu itu kuat, sangat kuat, tapi jika kamu nekat melawan mereka sendirian kamu pasti akan mati" Ucap Veliona.


Zen yang mendengarnya pun mengucapkan "Tidak ada pilihan lain, walau aku harus mengorbankan nyawaku, karena jika tidak dunia ini akan terus di ambang kekacauan, aku membenci Iblis karena mereka yang sudah menghancurkan kehidupanku, dan leluhur Iblis juga ancaman bagi dunia ini, jika ia tidak di hentikan, dunia ini akan hancur" Jelas Zen.


"Tentu saja aku tidak akan melakukan hal yang tidak aku sanggup, aku akan mengumpulkan inti core sihir alam terlebih dahulu, jika tidak sihir core alam akan musnah dari dunia ini, dan juga aku membutuhkan core sihir alam untuk meningkatkan kekuatanku dan mengalahkan mereka semua" Jelas Zen.


"Apa kamu akan berpetualang Zen?" Tanya Kiguno.


"Iya, aku akan melatih diriku lebih jauh lagi" Ucap Zen


"Kalau begitu biarkan aku ikut" Ucap tegas Veliona yang langsung menatap mata Zen.


"Maaf aku tid-" Sebelum menyelesaikan perkataannya Veliona langsung membantahnya "Kamu tidak ingin melihat teman temanmu menderita? Apa aku akan terlihat bahagia jika kamu meninggalkanku lagi? Apa aku akan bahagia jika kamu mati dan meninggalkanku?" Tegas Veliona yang membuat Zen tidak bisa berkata kata.


Veliona pun bangun dari tempat tidurnya dan mendekati Zen.


"Aku bukan orang yang ingin terus di lindungimu Zen, aku ingin diakui olehmu, itulah alasanku masih hidup hingga saat ini" Jelas Veliona sembari menggenggam dan menatap mata Zen.


"Kalau begitu kami juga akan ikut denganmu Zen, tidak mungkin kami sebagai orang yang memiliki kekuatan roh hanya berdiam diri saat dunia akan mengalami kiamat?" Ucap Asuka.


"Aku juga akan ikut denganmu Zen, apapun yang akan terjadi kedepannya aku akan terus mengikutimu" Ucap Kiguno yang sangat yakin dengan keputusannya.


"Kami semua akan ikut denganmu Zen, tidak mungkin kami membiarkanmu mati sendirian" Ucap Silvia sembari tersenyum.


Zen yang mendengar perkataan mereka semua pun hanya bisa terdiam dalam kepasrahannya, ia tidak ingin teman temannya mati, ia rela dirinya yang berkorban daripada melihat teman temannya terluka dalam perperangan.


Veliona yang melihat kegelisahan di mata Zen pun mengucapkan "Bertarung denganku Zen" Ucap Veliona yang membuat Zen terkejut.


"Kamu sudah berjanji bukan? Jika kamu akan melawanku saat aku memenangkan turnamen" Ucap Veliona sembari tersenyum.


"Dan akan aku buktikan, jika aku pantas berada di sisimu Zen!" Ucap Veliona menatap mata Zen dengan senyuman indahnya.


"Bodohnya, apa yang aku khawatirkan? Bukannya aku sudah berjanji untuk berubah?" Gumam Zen sembari tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu, aku terima tantanganmu Veliona" Ucap Zen sembari tersenyum.


...-Time Skip-...


Di dalam arena pun terlihat Zen dan Veliona yang sedang berhadapan dari kejauhan, terlihat juga banyak penonton dari berbagai akademi yang menonton pertandingan tersebut karena sangat penasaran dengan siapa pria yang menjadi lawan Veliona.


Mereka mendapat izin dari wakil pemimpin akademi Water Dragon yakni ayahnya Rily yang ternyata salah satu petinggi di akademi water dragon itu.


Terlihat Asuka pun memasuki arena yang akan menjadi wasit dalam pertandingan tersebut, sorakan penuh semangat pun membanjiri colosseum dan saat Asuka berada di tengah arena ia pun mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Siapa dia?" bingung Yuuki sangat penasaran melihat pria yang berada di dalam arena tersebut.


"Dia bilang dia adalah teman kita bukan?" Tanya Rara.


"Iya" Ucap Rio sembari menatap pria itu.


...-Didalam Arena-...


"Pertandingan antara Veliona dan Zen akan kita mulai!" Tegas Asuka.


Yuuiki dan yang lainnya pun sangat terkejut saat mendengar ucapan Asuka.


"Zen?!!"


"Tiga! Dua!! Satu!!! pertandingan dimulai!!!" Tegas Asuka yang langsung menurunkan tangannya.


"Aku tidak boleh kalah! Aku ingin Zen mengakuiku!!" Gumam Veliona yang langsung menciptakan sabit miliknya.


"Aku akan membantumu.." Suara yang sama persis dengan dirinya pun terdengar di telinga Veliona, matanya pun seketika berubah menjadi tatapan kosong dan auranya yang meningkat sangat drastis.


...-Disisi Lain-...


Zen pun merasakan aura yang luar biasa dari Veliona dan hawa keberadaan yang tidak ia kenali.


"Luarbiasa sekali!" Gumam Zen sembari mengingat perkataan Lucifer sesaat sebelum ia tiba di colosseum untuk mendatangi Eriza.


...-Sesaat sebelum Zen menghampiri Eriza-...


"Gadis itu memiliki kepribadian lain didalam dirinya, cepat atau lambat dia pasti akan kehilangan kendali dirinya, dia adalah Vampire kan? kamu harus membunuh kepribadian lain yang berada dalam dirinya, atau dia akan kehilangan hidupnya" Pinta Lucifer sembari menatap Zen sedikit serius.


Zen yang berfikir jika Lucifer hanya ingin ia membunuh Veliona dengan tangannya sendiri pun mengucapkan "Aku tidak semudah itu di bodohi, kamu hanya ingin aku membunuhnya dengan tanganku sendiri kan?" Tanya Zen.


Lucifer yang mendengar perkataan Zen pun mengucapkan "Kalau begitu terserah kepada pilihanmu saja, aku sudah memberi tau kenyataannya, jika kamu tidak percaya buktikan saja, dia adalah gadis yang sangat langkah karena memiliki darah Vampire murni, ini adalah perintah Koruga, setidaknya aku sudah menyampaikan pesannya, selamat tinggal" Ucap Lucifer yang langsung kembali masuk kedalam portal.


Zen yang mendengarnya pun terdiam dan kebingungan "Kenapa dia selalu membantuku? Aku merasa aneh dengan semua ini" Gumam Zen sangat penasaran.


...-Di dalam arena-...


Veliona pun mengayunkan sabitnya dengan hasrat pembunuh yang luarbiasa dan terlihat puluhan gelombang darah merah pekat langsung mengarah ke Zen.


"Dia ingin membunuhku" Gumam Zen yang seketika langsung serius.


Zen pun mengayunkan tangannya dan rantai merah langsung menghalangi puluhan tebasan gelombang darah tersebut.


Di saat yang bersamaan semua orang yang berada di colosseum seketika langsung pingsan dan hanya menyisakan Zen, Veliona, Asuka, Thira, Siyon, Kiguno, Rias, Ayani, Eriza, Verina, Silvia, Aini, Elia dan gadis serigala yang belum di ketahui namanya.


"Kalau sudah seperti ini tidak ada yang boleh menonton" Ucap Koruga sembari tersenyum menatap Zen dari atas colosseum.


"Koruga pun menoleh dan sedikit terkejut karena ada beberapa orang yang tidak pingsan saat ia mengeluarkan sedikit aura mengancamnya.


"Sepertinya mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan di atas manusia pada umumnya" Gumam Koruga sedikit tersenyum tipis.


...~Bersambung~...