The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 104 : Emptiness And Longing



...Episode 104 - Emptiness And Longing...


...(Kehampaan Dan Kerinduan)...


Gadis berambut merah itu terlihat terus mengelus kepala Zen sembari tersenyum tipis, dan tiba tiba Zen pun terbangun yang membuat gadis itu sedikit panik.


"Ugh.." Zen pun membuka matanya perlahan, tetapi saat ia terbangun, ia hanya melihat sedikit percikan api yang perlahan memudar.


"Dimana ini" Zen bangun dan melihat sekelilingnya, kegelapan yang memakan segalanya perlahan memudar dan Zen perlahan sadar dari pingsannya.


"Hm?.." Zen membuka matanya perlahan dan kebingungan.


"Apa yang terjadi barusan?" Gumam Zen kebingungan karena ia lagi lagi merasakan hal yang aneh seakan akan mimpi yang tidak dapat di jelaskan.


Zen bangun dari tidurnya dan sangat terkejut "Tubuhku terasa ringan sekali" Zen melihat tubuhnya yang di perban, Zen tidak merasakan rasa sakit sedikitpun sembari menggerakkan bahunya.


Zen yang merasa sudah baikan pun bangun dari tempat tidur dan menggerakkan seluruh tubuhnya.


"Sepertinya aku sudah sembuh total" Ucap Zen dalam hatinya.


"Apa mungkin mereka yang menyembuhkanku?" Zen melihat sekelilingnya, tidak melihat siapapun di dalam ruangan.


Zen pun mengambil pakaiannya yang berada di atas meja dan langsung keluar dari ruangan sembari mencari siapapun yang berada di dalam rumah.


Zen pun keluar dan berjalan menuju halaman, angin yang segar langsung menyambut kehadiran Zen dengan sangat ramah, angin terus bertiup menyisir rerumputan dan pepohonan.


Suasana yang sangat mengenakan itu membuat Zen sedikit terkagum dan menikmati hembusan angin yang sangat segar.


"Zen??" Panggil seorang gadis yang berada di belakangnya sembari memegang talam yang terdapat ceret dan dua gelas di atasnya.


"Rias?" Gumam Zen melirik Rias yang terlihat anggun.


"Apa lukamu sudah sembuh?" Khawatir Rias yang langsung meletakkan talamnya di atas meja dan berjalan mendekati Zen.


Rias menyentuh tubuh Zen yang di perban dan bertanya "Apa kamu baik baik saja?" Tanya Rias.


Zen pun menurunkan tangan Rias dan mengucapkan "Aku sudah baik baik saja, aku rasa aku sudah sembuh total, semuanya berkat kalian" Ucap Zen ngasal padahal ia sendiri tidak mengetahui jika Rias, Silvia, dan Verina yang menyembuhkanya.


Rias pun sedikit berjalan mundur dan mengucapkan "Sama sama" Ucap Rias sembari tersenyum dan kembali mengambil talam yang ia bawa sebelumnya.


Rias pun berjalan mendekati Zen dan berbisik kepadanya "Ayo kita duduk di luar" Bisik Rias, Zen pun menoleh dan melihat ke halaman, terlihat Verina dan Silvia sedang duduk di ujung pagar halaman sembari berbincang bincang.


Ketiga gadis cantik dan anggun terlihat duduk bersamaan yang membuat suasana semakin tenang, tetapi di mata Zen, ia seketika teringat dengan Veliona, keangunan Veliona yang begitu luarbiasa di matanya, rasa rindu yang amat kuat langsung menghantam ke arahnya dengan sangat sangat keras, di saat yang bersamaan air mata mengalir di pipinya, hatinya yang begitu hancur dan kehampaan yang menimpa dirinya.


Disisi lain, Silvia yang sedang berbicara asik dengan Verina tiba tiba merasakan tekanan mental yang sangat kuat.


"Apa ini!?!" Panik Silvia yang membuat Verina kebingungan.


"Kenapa Silvia? Ada apa??" Tanya Verina kebingungan dan sedikit khawatir karena Silvia yang tiba tiba menjadi aneh.


Rias yang datang ke arah mereka pun bertanya kebingungan "Ada apa teman teman??" Tanya Rias perlahan meletakkan talam yang ia bawa di atas meja.


"Hah.. Hah.. Hah..." Silvia menekan dadanya yang sangat sesak, ia berkeringat dingin karena merasakan tekanan mental yang kuat, Silvia dapat merasakan tekanan dan keadaan mental seseorang yang berada di sekitarnya, tetapi ini adalah yang pertama kali baginya merasakan tekanan mental sekuat ini.


"Silvia??" Khawatir Rias.


"Aku tidak apa apa.." Lirih Silvia dan melirik ke arah Zen.


"Zen?!" Panik Silvia dan langsung bangun dari bangkunya.


"Agh!!" Silvia kembali merasakan tekanan yang kuat dan terjatuh, Rias terkejut pun langsung menangkap Silvia.


"Hei Silvia?!" Panik Rias.


"Silvia ada apa?!" Panik Verina.


Silvia hanya menunjuk ke arah Zen dan mengucapkan "Sadarkan Zen!.." Ucap Silvia yang tidak mampu menahan sesak di dadanya.


Rias dan Verina yang mendengarnya langsung menoleh, dan terkejut.


Mereka bertiga melihat mata Zen yang benar benar kosong, air mata yang mengalir di pipinya.


Kehampaan yang begitu kuat, bahkan aura milik Zen sampai sampai keluar dari tubuhnya secara tidak sengaja, dinding transparan yang melindungi tubuhnya perlahan terlihat dengan warna hitam pekat yang mengurung dirinya di dalam.


"Zen!!!" Panik Verina yang langsung berlari ke arah Zen dan berusaha mengeluarkan Zen dari dalam kehampaan tersebut.


Saat Verina menyentuh gelembung hitam itu Verina terpelanting akibat dinding transparan itu.


"Agh!!" Verina terpelanting keluar halaman, Rias yang melihat Verina langsung menciptakan dinding air untuk menahan Verina.


"Water Wall!!" Dinding air muncul dengan cepat dan langsung menahan Verina.


"Zen!!!" Teriak Silvia, tetapi teriakan Silvia tidak terdengar oleh Zen, Rias pun menciptakan panah air yang besar dan langsung mengarah ke Zen dengan cepat.


(Swof!!)


(Plash!!)


Panah air itu meledak dan menciptakan rantai penyegel yang langsung mengelilingi lingkaran tersebut.


"Water chain!!" Rantai pun mengikat gelembung hitam tersebut, tetapi saat rantai itu menyentuh gelembung tersebut, warna dari rantai tersebut seketika berubah menjadi warna hitam yang membuat Rias dan Silvia terkejut.


(Swof!!)


Rantai tersebut dengan cepat langsung mengarah ke Rias yang membuat Rias sangat terkejut bukan karena rantai itu yang mengarah ke arahnya, melainkan di dalam gelembung tersebut terlihat kobaran api yang sedang membara dan membakar Zen.


(Swof!!!!)


Api langsung menjalar mengikuti rantai itu, sebelum rantai itu mengenai Rias dan Silvia, rantai tersebut musnah terbakar oleh api dengan sangat cepat.


Seluruh kehampaan tersebut pun terbakar oleh api yang membara, Zen pun terbebas dari kehampaan tersebut untuk sementara.


"Maaf" Ucap Zen sembari menundukkan kepalanya secara mendadak yang membuat Rias dan Silvia terkejut dan sangat tidak memahami situasi.


Zen terlihat seakan akan dapat mengendalikan kehampaannya tersebut, tetapi hal yang tidak mereka ketahui adalah Zen yang di tolong oleh seorang gadis berambut merah itu.


...-Disisi Lain-...


...(Sesaat sebelum Zen tersadar)...


"Jangan termakan oleh kehampaan kak Zen, kak Zen harusnya bisa melakukan telepati dengan kak Veli" Suara seorang gadis terdengar jelas di telinga Zen dan berkat hal itu, Zen tersadar dari kehampaannya tersebut.


Sesaat sebelum Zen sadar, tubuh Zen terbakar oleh api yang membara, itulah sebabnya kenapa di dalam gelembung tersebut Zen terbakar oleh api.


...----------------...


"Apa kamu baik baik saja Zen?" Tanya Silvia mengkhawatirkan kondisi Zen yang ia rasa tidak stabil.


Zen pun hanya tersenyum dan mengucapkan "Aku baik baik saja" Ucap Zen dengan tersenyum tipis.


Zen pun menoleh dan melihat Verina, tubuhnya seakan akan termakan oleh kegelapan akibat tersentuh langsung dengan kehampaan Zen.


Kekuatan ilahi dapat ternodai oleh kehampaan, itulah sebabnya para berkah dewi tidak boleh putus asa, di saat dia putus asa, ia akan menjadi sesosok monster menyeramkan ataupun menjadi Iblis.


Zen yang melihat kondisi Verina tiba tiba menghilang dan muncul tepat di depan Verina.


"Fire!!" Zen menciptakan api berwarna hijau dan membakar Verina, kegelapan yang melahap tubuh Verina secara perlahan mulai musnah terbakar oleh api.


Zen pun menggendong Verina dan kembali menghilang, Zen tiba tiba muncul tepat di samping Rias dan mengucapkan "Maafkan aku telah menyakiti kalian" Ucap Zen perlahan meletakkan Verina di bangku.


"Cepat sekali?!" Silvia dan Rias sangat terkejut melihat Zen yang tiba tiba menghilang dan muncul di samping mereka.


"Kekuatannya meningkat sangat pesat" Ucap Silvia tidak percaya saat melihat kekuatan Zen menggunakan mata sihirnya.


"Sepertinya begitu, ini berkat kalian yang sudah menyembuhkanku sebelumnya, aku sangat berterima kasih!" Ucap Zen dan menundukkan kepalanya.


Zen perlahan mengangkat kepalanya dan tersenyum.


Rias dan Silvia kembali kebingungan dan secara spontan bertanya "Sepertinya kamu terlihat senang Zen, ada apa" Kalimat tersebut terlontar dari mulut Rias tanpa ia sadari.


"Entahlah.. aku tiba tiba merasa semua bebanku seakan akan terbakar" Jelas Zen yang membuat Rias kembali bertanya "Apa kamu benar benar Zen? kenapa aku merasa sangat aneh" Kalimat tersebut kembali terlontar dari mulut Rias yang membuat Silvia sedikit terkejut.


"Aku benar benar Zen, aku tetaplah diriku sendiri, aku merasa senang karena aku akhirnya menyadari sesuatu, selama ini aku sangat bodoh karna kegilaan akan kekuatan, sampai sampai aku terlalu tertekan dengan kondisiku, aku terlalu ingin melindungi seseorang yang bahkan tidak ingin di lindungi, aku benar benar telah membuat kesalahan yang sangat besar" Jelas Zen dengan raut wajah yang sedih.


Tiba tiba Zen kembali tersenyum dan mengucapkan "Aku akan melakukan telepati dengan Veliona" Ucap Zen yang membuat mereka berdua sangat terkejut.


"Telepati?!" Kejut mereka berdua.


Mereka berdua sangat terkejut karena mereka menyadari hal yang sebenarnya, yang dapat melakukan telepati hanyalah Iblis dan Vampire, karena insting dan indra mereka yang melebihi standar manusia rata rata kecuali pahlawan.


Dan Zen adalah seorang Iblis tetapi ia masih belum menyadari hal itu, Zen berfikir jika semua orang pasti dapat melakukan telepati.


Terlebih lagi, misteri kembali muncul, karena tanpa mereka semua sadari, gadis berambut merah yang melindungi Zen selama ini ternyata tau semua tentang Zen, bahkan dia sendiri yang memberi tau Zen jika Zen dapat melakukan telepati dengan Veliona.


Pertanyaan itu kembali membuat semuanya kebingungan, misteri yang sangat abstrak kembali muncul, siapa gadis tersebut dan apa niat gadis itu sebenarnya.


Di dalam situasi yang tenang, hembusan angin yang menyapu rerumputan, Zen menutup matanya dan mencoba melakukan telepati dari jarak yang sangat jauh dengan Veliona.


...-Disisi Lain-...


Veliona terlihat sedang meringkuk di dalam kamarnya dengan perasaan hampa dan tatapan kosong, saat sedang melamun dalam kekosongan tiba tiba suara seorang pria yang sangat familiar terdengar di telinganya.


"Veliona" Suara tersebut terdengar samar samar di telinga Veliona, tetapi ia masih belum menyadari jika suara tersebut adalah suara Zen.


"Veliona" Suara tersebut kembali terdengar di telinga Veliona.


Perlahan tatapan mata yang kosong kembali memancarkan seserca cahaya.


"Zen?" Veliona bergumam dalam ketidak percayaannya.


"Iya Veliona, ini aku Zen!" Suara yang sangat familiar membuat Veliona meneteskan airmatanya tanpa ia sadari.


"Zen?! Zen?!!" Veliona bergumam dengan nada suara yang tidak beraturan.


"Maafkan aku Veliona" Suara nada rendah kembali terdengar di telinga Veliona.


Veliona pun menangis dan memeluk kakinya dengan erat, teriakan tangisan Veliona akan kesepian dan kerinduan tidak dapat tertahankan.


"Haa!..." Zen mendengar suara tangisan Veliona yang sangat membuat hatinya terluka.


"Haaa!!... Huaa!..." Tangisan Veliona terus berlanjut, airmata terus menetes tanpa henti dan mengalir ke pipinya.


Zen yang mendengar tangisan Veliona merasa sangat bersalah, karena selama ini ia terlalu haus akan kekuatan yang membuatnya sudah berkali kali menyakiti Veliona, terus mengingkari janji dengan Veliona.


...-Disisi Lain-...


Zen membuka matanya dan menatap ke langit, Silvia dan Rias yang melihat Zen sedikit mewaspadai Zen karena Zen yang berubah drastis yang membuat mereka jadi ragu jika Zen yang berada di depannya adalah Zen yang sebenarnya.


Zen menatap langit yang perlahan menggelap karena awan yang menutupi matahari.


"Kenapa aku begitu bodoh!" Ucap Zen yang membuat Silvia dan Rias kebingungan mendengarnya.


"Sial!!" Zen menggertakkan giginya, Zen mengeluarkan auranya yang langsung menyambar seluruh desa dan hutan yang berada di sekitarnya.


"Zen?!" Panik Silvia melihat Zen yang tiba tiba kesal.


"Sadarlah dasar bodoh!!" Zen pun mengangkat tangan kanannya dan memukul dirinya sendiri dengan kuat.


(Pak!)


Rias dan Silvia terkejut serta kebingungan melihat Zen yang bertingkah aneh.


Aura yang menyambar pun memudar.


"Hah...." Zen menghela nafas panjang dan kembali menutup matanya.


"Veliona, aku sangat minta maaf kepadamu, tolong izinkan aku melakukan kewajibanku, aku akan kembali sesegera mungkin setelah aku berhasil mendapatkan segala hal yang aku perlukan" Telepati Zen ke Veliona yang sedang menangis.


Walau sedang menangis Veliona mendengar jelas ucapan Zen dan kembali menangis, ia tidak yakin jika Zen akan menepati janjinya kali ini.


Rasa ragu akan hal tersebut membuat Veliona menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Zen, ia hanya dapat menangis tanpa berkata apa apa.


...~Bersambung~...


...*Pesan Author*...


Maaf jika para pembaca merasa episode ini sedikit aneh, Author juga berusaha menjelaskan sedetail mungkin, tetapi karena lagi banyak pikiran, hanya ini yang dapat author jelaskan, maaf jika terdapat kesalahan kalimat, dialog, atau pun kesalahan lainnya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻