
Siyon pun perlahan membuka matanya.
"Siyon?!" Kejut Rara dan yang lainnya saat melihat Siyon sudah siuman.
"Dimana ini?.." Tanya Siyon dengan pandangannya yang begitu buram dan tubuhnya yang di penuhi rasa sakit.
"Agh.."
"Jangan banyak bergerak dulu bodoh.." Tegur Rara yang langsung membaringkan Siyon kembali.
"Apa yang terjadi?.." Tanya Siyon.
"Kita kalah pada di grup b" Ucap Yuuiki.
"Begitu ya..." Siyon pun menatap ke atas merenungkan kakaknya.
"Tidak apa apa Siyon, kita kalah karena lawannya yang terlalu kuat.." Ucap Ayani menenangkan Siyon agar dia tidak merasa bersalah.
"Tidak kok, Siyon hanya kurang dalam pengalaman bertarung saja.." Ucap seorang gadis yang berada di pintu masuk kamar perawatan.
Mereka semua pun menoleh dan terkejut karena gadis itu adalah Asuka sang kakak yang datang untuk melihat kondisi adiknya.
Asuka pun berjalan dan bertanya "Bagaimana dengan kondisimu Siyon?" Tanya Asuka sedikit khawatir.
"Kurang lebih aku tidak bisa bergerak" Jelas Siyon yang membuat kakaknya merasa sedikit bersalah.
"Maafkan kakak.." Ucap Asuka yang berdiri di samping tempat tidur Siyon.
"Tidak apa apa, yang kalah tetaplah kalah.." Ujar Siyon yang membuat Asuka tersenyum dan mengatakan "Kamu memang tidak pernah berubah ya..."
...-Disisi Lain-...
Zen pun terlihat sedang berjalan di dalan hutan karena merasakan sesuatu disana, setelah lama berjalan di tengah hutan, tiba tiba ia di sambar oleh hawa dingin dan tiba tiba ia berpindah ke suatu tempat yakni tempat yang bersalju dan sangat dingin.
"Apa yang terjadi?!" Gumam Zen.
Perlahan Zen pun melihat cahaya berwarna biru yang muncul dari genangan salju di bawahnya, cahaya itu adalah inti core alam elemen es yang selama ini Zen cari, Zen yang melihatnya pun terkejut karena ia tidak menduga akan terjadi hal seperti itu, tetapi saat Zen ingin mengambilnya, ia tiba tiba kembali tepat di tengah hutan sebelumnya.
"Apa yang barusan saja terjadi?" Gumam Zen kebingungan karena ia sangat terkejut saat dirinya kembali berpindah ke tengah hutan.
"Apa aku hanya berhalusinasi?" Bingung Zen.
(Wosh!!!)
Hawa dingin pun kembali menghantam Zen dari belakangnya dan tepat berada dari arah akademi, Zen pun semakin yakin jika hal yang ia tunggu akan segera tiba.
...-Disisi Lain-...
(Slash!!)
(Ting!!!)
(Ting!! Ting!! Ting!!!)
Pertarungan sengit pun berlangsung di tengah arena, kobaran api dan hantaman angin yang kuat membuat arena kacau balau.
Terlihat Ayani sangat kewalahan saat melawan seorang gadis dari guild Natural Impact yakni Thira, Ayani sangat kesulitan karena gadis tersebut benar benar mampu mengendalikan angin alami dan sihir angin yang ia ciptakan dengan sempurna yang membuat kobaran api milik Ayani terus tersapu lenyap akibatnya.
"Sial!.. Jika begini terus aku yang akan kehabisan tenaga duluan!" Gumam Ayani panik dan kebingungan cara mengatasi lawan yang berada di hadapannya itu.
"Fire"
(Slash!!)
"Incendiary Slash of Destruction!!"
(Krak!!!)
(Brak!!!)
Arena pun pecah dan mengeluarkan api yang langsung keluar dan membakar arena, arena tersebut pun di selimuti banyak dinding api akibat serangan Ayani yang menyebabkan arena seperti menjadi labirin yang dibatasi oleh api panas yang terus membara.
"Bagus!! Jika begini aku bisa mencari celah!" Gumam Ayani perlahan lari mencari jalan untuk mendekati Thira.
"Shu......" Disisi lain, Thira terlihat sedikit bersiul pendek dan mengangkat kedua tangannya.
"Kaze No Muchi.." Ucap tenang gadis tersebut yang perlahan membuka matanya.
...•...
...風...
...の...
...鞭...
...•...
...{Cambuk Angin}...
Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan menggerakkannya ke kiri dan kanan seakan akan menyapu udara.
(Swof!!!)
(Prak! Prak! Prakk!! Prak!)
(Swof!!! Swof!! Swof!!! Swof!!)
Dua cambuk angin transparant pun menghantam hantam seisi arena yang membuat permukaan semakin hancur dan dinding api yang sebelumnya tercipta perlahan lenyap.
"Agh..." Ayani pun terhenti karena hantaman angin itu tepat di dinding api ciptaannya, tiba tiba dinding api itu pun terbelah menjadi dua dan Ayani langsung terpelanting jauh akibat hantaman cambuk angin yang transparant itu.
"Ah!!!"
(Bom!!!!)
Ayani pun terkapar tak sadarkan diri akibat serangan barusan, serangan yang begitu tidak terduga.
"Tidak mungkin!! Thira memenangkan pertandingan dengan sangat mudah!!! ada apa dengan guild Eternal Fire?!.. Apakah guild Eternal Fire sudah mencapai batas kemampuan mereka????" Heboh komentator tersebut yang membuat para penonton semakin heboh karenanya.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Rio sedikit kesal karena lagi lagi mereka kalah, ia merasa jika anggota guild eternal fire semakin melemah, didalam kekesalannya Rio pun berniat untuk menceramahi guild Eternal Fire, tetapi ia tidak pantas karena ia bukanlah ketua dari guild Eternal Fire itu sendiri.
"Lagi lagi kekuatan Roh" Ucap Verina.
"Sepertinya banyak sekali yang memiliki kekuatan Roh di sini" Ucap Silvia sembari melihat Thira yang perlahan kembali normal.
"Apa kita bisa memenangkan pertandingan ini?.." Tanya Rara kebingungan ke Silvia.
Silvia pun hanya diam dan Verina pun menjawab "Kalian tidak mungkin memenangkan pertandingan ini, kekuatan roh sangatlah kuat, sebaiknya kalian menyerah saja, jangan membuang tenaga dan menyakiti diri sendiri" Jelas Verina.
Semua anggota guild Eternal Fire yang mendengarnya pun menjadi patah semangat, tetapi Raft yang kekeh dengan pendiriannya pun kembali menyemangati mereka.
"Jika kita terus berjuang, tidak mungkin kita akan kalah bukan? jangan patah semangat begitu!, pertandingan selanjutnya pasti akan ku menangkan!" Ucap Raft dengan penuh percaya diri.
Teman temannya yang mendengar ucapan raft pun tersenyum dan waktu istirahat pun tiba.
Seluruh anggota guild Eternal Fire terlihat berkumpul diruangan guild, mereka terlihat membahas pertandingan selanjutnya yakni Raft yang akan melawan Luca dari guild Blue Predator.
Didalam perbincangan tersebut Rio lah yang terlihat sangat serius dan terus memberi saran, walaupun saran yang ia berikan tidak sepenuhnya benar, tetapi mereka mendiskusikan saran yang Rio berikan.
Rio terlihat sangat aktif kali ini, ia sangat ingin mendapatkan kemenangan, tidak hanya itu, ia juga ingin mendapatkan nama baik dan keren di depan Veliona. Hal tersebut lah yang membuatnya menjadi sangat bersemangat.
...-Disisi Lain-...
Zen pun terlihat kembali membasmi monster putih berkulit besi yang sempat ia basmi juga sebelumnya, monster yang begitu aneh sampai sampai Zen tidak mengetahui sumber kehidupan dari monster itu.
"Hah... melelahkan sekali, aku sudah mengamati seluruh tubuh monster ini, tetapi sama saja, aku tidak mengerti sama sekali.." Ngeluh Zen sembari melihat ke permukaan, saat ia melihat ke permukaan ia secara tidak sengaja melihat sebuah sarung belati.
"Sarung belati?" Bingung Zen yang perlahan memungutnya.
Saat ia memungutnya, tiba tiba ia teringat dengan belati miliknya yang sudah lama hancur, kilasan ingatan tersebut terlintas di kepala Zen, saat Zen kembali melihat tangannya, ia hanya melihat seranting kayu yang ia pungut.
Zen pun termenung dan kebingungan sembari memegang kepalanya "Apa aku kurang istirahat sampai sampai aku terus berhalusinasi?" Bingung Zen menatap ranting yang ada di tangannya.
...~Bersambung~...