
Tiba tiba Rangga sensei muncul tepat di depan Rui dan menyerangnya.
(Slash!!!)
(Bfff!!!!)
Tebasan Rangga sensei menciptakan sihir elemen api yang sangat panas yang membakar Rui.
"Sudahku bilang, kalian tidak akan bisa mengalahkanku" Ucap Rui yang membuat Rangga sensei terkejut.
Ternyata Rui menangkis serangan Rangga sensei dengan gagang pedang hitam miliknya, dan sihir elemen api milik Rangga sensei sama sekali tidak mengenainya karena ia terlebih dahulu menciptakan perlindungan sihir.
"Devil impulse" Tiba tiba Rangga sensei terdorong angin yang sangat dan terpelanting sangat jauh.
(Swof!)
Tiba tiba Haxor muncul dan langsung mengayunkan pedangnya tepat di leher Rui, tetapi Rui dengan refleknya yang cepat pun berhasil menghindari serangan Haxor.
"Wah wah, tidak ku duga pemimpin akademi akan turun tangan" Ucap Rui.
"Pergi atau mati" Ucap Haxor sembari menatap Rui dengan tatapan tajam dan Aura yang mematikan.
Rui pun tersenyum dan merasa sangat tertantang mendengar ucapan Haxor, tetapi ia sadar, tujuan ia datang ke akademi Arsenal hanya satu dan sudah selesai.
"Baiklah, aku akan pergi" Ucap Rui.
Senjata Rui pun menghilang, dan ia berjalan dengan santai keluar dari akademi Arsenal sembari tersenyum.
"Kenapa dia kesini?! apa tujuan dia sebenarnya?!" Gumam Haxor kebingungan.
...-Disisi lain-...
(Slash! slash! slash! slash! slash! slash!)
Zen pun berlatih ilmu berpedangnya di dalam ruangannya, Zen terlihat sangat serius setiap kali menjalankan latihan.
(Slash slash slash! slash!! slash!!)
Beberapa saat kemudian, Zen pun berhenti karena ia sudah sangat kelelahan, ia pun langsung tertidur dan terkapar lemas di permukaan.
"Hah.. hah.. hah.. hah.." Zen~
"Sepertinya latihanku hari ini sudah cukup.." Gumam Zen.
"Hah.. Veliona dan yang lainnya gimana ya?, apa mereka baik baik saja?" Gumam Zen.
"Mereka pasti akan baik baik saja" Gumam Zen.
"Sekarang sudah jam 5 sore, sebaiknya aku mandi dan masak, aku juga sudah lapar" Gumam Zen sembari bangun dari tidurnya.
Zen pun mandi, setelah Zen selesai mandi, ia pun kebingungan karena ia tidak tau harus masak makanan apa, karena ia tidak ada bahan makanan di ruangannya.
Zen pun memutuskan untuk mencari bahan makanan di toko akademi, ia pun keluar dari ruangannya dan turun ke lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Zen kebingungan kenapa dari lantai 2 dan 1 sangat sepi, tetapi ia berfikir mungkin karena sudah sore jadi para murid sedang beristirahat, Zen pun kembali melanjutkan perjalanannya ke toko akademi.
Sesampainya di toko, ia terkejut karena melihat toko akademi yang begitu ramai.
"Ramai sekali!" Gumam Zen kagum.
"Eh bodoh, kenapa aku malah diam, aku bisa bisa tidak kedapatan bahan makanan nantinya!" Gumam Zen sembari berlari masuk ke toko akademi.
Zen pun terkejut melihat isi toko akademi yang sangat bersih dan besar, terlebih lagi ia melihat banyak barang dan makanan yang belum pernah ia lihat di toko akademi Arsenal.
Zen pun mulai mencari bahan makanan yang bisa ia masak
Beberapa saat kemudian, Zen pun akhirnya keluar dari toko dan membawa banyak bahan makanan.
"Hah.. ramai sekali, untungnya aku masih kebagian bahan makanan" Gumam Zen.
Zen pun melihat ke langit yang sudah gelap, Zen pun langsung berjalan pulang ke ruangannya, sesampainya di ruangan Zen pun langsung mengambil beberapa bahan makanan yang barusan ia beli di toko akademi.
"Baiklah mari mulai memasak!" Ucap Zen dengan semangat.
...-30 menit kemudian-...
Zen pun akhirnya selesai memasak, Zen pun langsung mengambil piring dan siap untuk merasakan masakannya sendiri.
"Ahm.." Zen~
"Tidak buruk juga ternyata skill memasakku" Gumam Zen sedikit senang.
Zen pun memakan makanannya dengan lahap.
"Hah.. kenyangnya.." Ucap Zen.
Zen pun membawa piring piring yang kotor ke tempat cuci piring dan mencucinya, setelah selesai mencuci, Zen pun memutuskan untuk tidur.
...-Time skip-...
Pagi pun tiba, Zen pun berjalan ke kelas barunya yang cukup jauh dari asrama, setelah lama berjalan, Zen pun akhirnya sampai, tiba tiba seorang perempuan memukul pelan bahu Zen yang membuat Zen sedikit terkejut.
"Selamat pagi, kamu murid baru ya di akademi ini?" Ucapnya.
"Iy.. iya.." Ujar Zen.
"Tidak perlu kaku begitu" Ucapnya
"Namaku Ruka, aku adalah guru di kelas satu ini" Ucapnya sembari tersenyum
"Namamu siapa?" Tanya Ruka sensei.
"Namaku Zen, sensei.." Ucap Zen
"Owh.. Zen, baiklah ayo kita masuk, dan perkenalkan dirimu kepada teman teman baru di sini.." Ucap Ruka sensei.
"Baik sensei.." Ruka sensei pun membuka pintu ruangan dan masuk bersama Zen.
"Selamat pagi semua" Sapa Ruka sensei ke murid murid yang berada di dalam kelas.
"Pagi sensei!.." Jawab para murid.
Para murid pun sedikit kebingungan karena Ruka sensei hari ini masuk bersama seorang anak yang tidak di kenal.
Tiba tiba seseorang bertanya "Ruka sensei, dia siapa?"
"Zen, perkenalkan dirimu" Bisik Ruka sensei.
Zen pun maju kedepan dan memperkenalkan dirinya.
"Namaku adalah Zen, dulu aku tinggal bersama kedua orang tua ku di sebuah hutan, umurku sekarang 11 tahun, salam kenal semuanya" Ucap Zen sembari menundukkan kepalanya
Beberapa murid pun bertepuk tangan ke Zen dan banyak murid yang tidak suka dengan Zen, karena penampilannya yang biasa saja dan terlihat sangat lemah di bandingkan dengan mereka.
"Bagus, silahkan duduk Zen" Ucap Ruka sensei.
Zen pun melihat bangku kosong di pojokan, ia pun berjalan dan duduk disana.
"Baiklah pelajaran hari ini akan kita mulai" Ucap Ruka sensei.
"Baik sensei!" Serentak para murid.
"Hari ini kita akan belajar mengenai lingkaran sihir, apa itu lingkaran sihir? ada yang tau?"
Semua murid pun terdiam, tiba tiba seseorang menjawab "Lingkaran sihir itu sebuah lingkaran yang digunakan untuk menciptakan sihir" Ucapnya
"Hem.. kurang tepat, apa ada lagi yang tau?" Tanya Ruka sensei.
Tiba tiba seorang murid masuk kedalam kelas sembari menjawab "Lingkaran sihir adalah alat bantu untuk menciptakan atau memperkuat daya sihir, dan lingkaran sihir di ciptakan menggunakan sedikit aliran 'Mana' lingkaran sihir tidak hanya di gunakan untuk memperkuat serangan sihir, lingkaran sihir juga bisa di gunakan untuk memperkuat perlindungan sihir" Jelasnya
Semua murid pun terkejut mendengar penjelasan murid tersebut, tetapi tidak dengan Zen, Zen hanya sibuk sendiri memperhatikan keluar kelas dari jendela.
"Itu benar!, kamu emang selalu pintar ya Yuta" Ucap Ruka sensei.
Yuta pun menundukkan kepala dan berjalan menuju bangkunya.
"Yuta keren sekali.." Bisik para murid.
Yuta pun duduk di bangkunya dan semuanya kagum melihat Yuta yang sangat pintar dan berbakat, tetapi Yuta merasa sedikit kesal karena memikirkan seseorang.
"Sepintar pintar apapun aku, aku tetap tidak bisa mengalahkannya" Gumam Yuta sembari menatap seseorang dengan rambut berwarna merah.
"Tunggu saja kau Kugari! aku pasti akan mengalahkanmu!" Gumam Yuta.
"Baiklah sensei akan memberikan contoh lingkaran sihir" Ucap Ruka sensei sembari menciptakan sebuah lingkaran sihir.
Zen tiba tiba berdiri dari bangkunya yang membuat semua orang terkejut.
"Kenapa Zen?" Tanya Ruka sensei.
"Sensei, aku ingin ke toilet" Ucap Zen yang membuat semua orang menjadi sedikit kesal.
"Huh.. silahkan" Ucap Ruka sensei.
Zen pun keluar dari ruangan dan berjalan ke toilet, ternyata Zen membawa seekor anak kucing yang berada di bawah mejanya, ia terus melihat keluar karena melihat induk kucing yang sedang risau mencari anaknya yang hilang.
Zen pun berlari keluar dari kelas dan menuju lapangan, ia pun melepas anak kucing itu, anak kucing itu pun langsung berlari ke induknya dan ia kembali ke kelas sembari tersenyum.
...~Bersambung~...