The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 56 : Promise



Zen pun masuk melewati gerbang akademi Arsenal dan ia sedikit kebingungan karena akademi sangat sepi.


"Hm.. sudah lama sekali aku tidak kesini, dan kemana para murid yang ada di sini?" Gumam Zen sembari melihat sekitarnya.


Rily dan Sayu hanya mengikuti Zen dari belakang.


Saat Zen sedang berjalan dengan santai ia melihat seorang murid yang menatapnya dan langsung lari ketakutan.


"Kenapa dia?" Gumam Zen kebingungan.


Zen berniat mengejar murid itu dan berniat bertanya kepadanya.


(Tst!!)


(Swof!!!!)


Tiba tiba seorang pria dengan cepat menyerang Zen dari belakang, tetapi Zen dengan reflek langsung melompat yang membuat serangan laki laki itu meleset.


"Thunder!" Tiba tiba petir langsung menyambar Zen dari atas, tetapi Zen kembali menghindar.


Zen langsung menjauhi pria itu.


Zen menatap pria itu dan sedikit terkejut "Siyon?" Gumam Zen.


"Rara!!" Teriak Siyon.


Tiba tiba puluhan anak panah berapi pun mengarah ke Zen dengan cepat.


Zen mengeluarkan dua belatinya dan menepis semua anak panah itu.


(Slash! slash! slash!! slash! slash!! slash!! slash!!)


(Ting!! ting!! ting!! ting! ting! ting! ting!! ting!!)


Rara pun terkejut melihat Zen yang menepis semua anak panahnya dengan mudah.


"Sepertinya karena aku menggunakan jubah mereka jadi tidak mengenaliku" Gumam Zen.


"Swift!" Siyon tiba tiba muncul di depan Zen dan mengayunkan Katana miliknya tepat di leher Zen.


(Slash!!!!)


(Ting!!!!)


(Tst!! tst!!!)


"Apa?!" Gumam Siyon terkejut karena serangannya di tangkis dengan Zen menggunakan belati miliknya.


Zen pun melompat mendekati Sayu dan Rily.


"Kalian berdua bersembunyilah, kalian berdua tidak akan bisa mengalahkannya" Bisik Zen.


"Kenapa begitu kak?" Tanya Sayu.


"Sudah ikuti saja perkataan kakak" Ucap Zen.


Sayu pun menganggukkan kepalanya dan menarik Rily.


Mereka berdua pun bersembunyi di belakang pohon besar.


"Baiklah" Gumam Zen.


"Rio!!" Teriak Siyon.


Tiba tiba sebuah tanah berbentuk tangan pun muncul dan akan menangkap Zen.


Tetapi Zen langsung melompat tinggi ke atas.


"Wahai penyihir agung, pinjamkanlah kekuatanmu kepada kami!" Serentak dua orang perempuan sembari menciptakan sihir api yang sangat besar.


"Fire spear!!" Sihir tombak api yang kuat dan dasyat pun mengarah ke Zen dengan cepat.


"Apakah aku bisa membelahnya?" Gumam Zen sedikit tersenyum.


"Teknik dua pedang-" Zen melompat kearah sihir api itu dan menebasnya dengan belati di tangannya.


(Slash!!!!!)


"Straight slash!" Zen pun berhasil menebas Sihir itu yang membuat sihir itu meledak.


(Bom!!!!)


Siyon, Sayu, Rily dan yang lainnya terkejut melihat Zen yang berhasil menebas sihir dan tidak terluka sedikitpun.


"Nafas api-" Endo~


"Spear!!!" Endo melempar tombak di tangannya dengan kuat dan cepat ke arah Zen.


(Swof!!!)


Zen sedikit terkejut karena tombak itu mengarah kearahnya dengan sangat cepat, ia langsung melompat ke atas dan berhasil menghindari tombak itu.


(Swof!)


Tiba tiba Siyon muncul di atas Zen dan mengayunkan Katana miliknya ke arah Zen.


(Slash!!!!)


(Slash!!!)


(Ting!!!!)


Zen lagi lagi berhasil menahan serangan Siyon dengan belati miliknya, tetapi tiba tiba tombak yang berhasil Zen hindari sebelumnya, kembali mengarah kepadanya dan menyerang Zen dari belakang.


Siyon langsung menendang Zen ke arah tombak itu.


"Explose!!" Sebelum tombak itu mengenai Zen, tombak itu seketika meledak dan menciptakan ledakan yang cukup dasyat.


(Bom!!!!!)


"Kak Ze-" Sayu yang ingin berteriak pun di bungkam mulutnya oleh Rily.


...-Disisi lain-...


"Apakah berhasil!!?!" Bingung Siyon.


Tiba tiba Zen mendarat ke permukaan, jubahnya sedikit rusak akibat serangan itu, tetapi masih menutupi wajah Zen yang membuat Siyon dan yang lainnya masih belum menyadarinya.


"Hei Siyon! jangan melamun!" Teriak Rio.


Siyon langsung melihat ke arah Rio yang sudah menciptakan sihir bola tanah yang sangat besar di tangannya.


"Baiklah! lemparkan sekarang Rio!" Teriak Siyon.


Rio melempar bola tanah itu ke arah Zen, tiba tiba Siyon muncul di belakang bola tanah itu.


"Teknik katana-" Siyon~


(Tst!! tst!!!!!)


(Slash!!!!!!!!!!)


"Thunder!!" Siyon menebas bola tanah itu yang membuatnya hancur berkeping keping.


"Vins!" Teriak Rio.


"Storm thrust" Semua kepingan besar dari bola tanah itu langsung melayang ke arah Zen dengan sangat cepat.


(Swof!!!)


Zen berlari untuk menghindari serangan itu.


Zen berhasil menghindari beberapa kepingan, tiba tiba kakinya terikat oleh akar yang muncul dari permukaan secara tiba tiba.


"Hebat sekali mereka, kombinasi mereka sempurna" Gumam Zen sembari melihat ke arah kepingan tanah yang mengarah kepadanya.


"Kalian semakin hebat saja" Gumam Zen.


Zen menyimpan kedua belati di tangannya dan menciptakan kedua pedangnya.


"C'Sword" Zen~


Pedang Zen di aliri sihir api dan ia menebas ke arah serangan itu.


"Twin slash!!" Zen~


(Bom!!!!!!)


Ledakan pun terjadi dan semua serangan itu seketika lenyap.


Zen pun tersenyum kagum.


"Resornasi!" Serentak Siyon, Rio, dan Endo.


Sebuah sihir dasyat tercipta di hadapan mereka bertiga dan mereka pun menyerang Zen menggunakan sihir itu.


"Ha!!!!!" Sihir itu di lepaskan dan langsung mengarah ke Zen.


Sayu yang memiliki firasat buruk pun langsung berteriak dengan kencang.


"Kak Zen!!!!" Teriak Sayu.


Siyon, Rio dan Endo pun terkejut mendengar teriakan itu.


Tudung jubah Zen terbuka karena angin sangat kuat.


Zen pun tersenyum, rambut dan pupil matanya langsung berubah menjadi putih dan merah.


(Slash!!!!)


Zen menebas sihir itu dengan kedua pedang di tangannya yang menyebabkan sihir itu meledak sangat dasyat.


(Bom!!!!!!!!!!)


"Kak Zen!!!" Teriak Sayu.


Sayu melihat apa yang terjadi di depan matanya pun sangat syok, karena syok berat ia pun langsung pingsan di tempat.


"Sayu!!?" Panik Rily.


...-Disisi lain-...


Zen ternyata selamat, ia berhasil menghindar setelah menebas sihir itu, ia bersembunyi di hutan agar tidak ketauan oleh Siyon dan yang lainnya.


Tetapi jubahnya harus lenyap akibat tertinggal dan terkena ledakan itu.


"Jubahku saja hancur walau hanya terkena sedikit dari ledakan itu, apalagi jika aku yang kena" Gumam Zen.


"Tapi mereka benar benar sudah menjadi kuat" Gumam Zen sembari tersenyum.


Zen pun menatap langit yang cerah sembari memikirkan Veliona.


"Apa dia akan marah kepadaku ya?" Gumam Zen kebingungan.


...-Time skip-...


Malam hari pun tiba, Zen kembali menyusup ke akademi dan mengendap endap masuk kedalam asrama.


Ia pun mengecek sekitar asrama sebelum masuk, karena ia takut ada orang yang melihatnya.


"Sepertinya aman" Gumam Zen.


Zen pun berjalan memasuki lorong dan mencari ruangan nomor 15.


Beberapa saat kemudian, ia akhirnya sampai di ruangan nomor 15, ia pun mengetuk pintu ruangan itu.


(Knock! knock!!)


"Iya sebentar, aku akan segera kesana" Ucap seorang perempuan dari dalam ruangan itu.


Zen yang mendengarnya sedikit senang karena itu adalah suara Veliona yang sudah lama sekali ia tidak mendengarnya.


Zen pun menunggu di depan pintu, beberapa saat kemudian, seseorang pun membuka pintu, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang dan wajah yang sangat familiar, pertemuan yang sangat di nantikan pun akhirnya tiba, janji lama yang akhirnya dapat di tepati.


Zen terpesona melihat Veliona yang sangat cantik.


Zen pun menatap Veliona dan Veliona membalas tatapan Zen.


"Aku kembali untuk menepati janjiku. Veliona" Ucap Zen sembari tersenyum.


"Zen?!.." Veliona pun langsung memeluk Zen dengan erat.


...~Bersambung~...