
(Slash!! Slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!! Slash!!)
Veliona terus mengayunkan sabitnya dengan sangat kuat dan cepat, gelombang merah darah yang besar terus mengarah ke Zen tanpa henti.
Zen pun berlarian melewati gelombang gelombang merah darah itu, dan sesekali menepis gelombang tersebut dengan kedua pedangnya, walau begitu saat Zen menepisnya gelombang tersebut malah meledak yang membuat Zen harus semakin berhati hati.
Di mata Veliona yang sekarang, Zen hanyalah musuh yang harus ia musnahkan, Veliona kehilangan kendali dirinya yang menyebabkan pribadi ganda miliknya yang menguasai tubuhnya.
Veliona pun tiba tiba menghilang, Zen yang menyadarinya pun langsung menoleh kebelakang dan di saat yang bersamaan Veliona muncul tepat di belakangnya.
(Slash!!!)
(Ting!!!!)
(Bomm!! Krak!!!!!!)
Permukaan arena tepat pada pijakan Zen pun retak karena hantaman sabit Veliona yang begitu kuat.
"Dia benar benar bukan Veliona yang ku kenal" Gumam Zen.
Zen pun mendorong sabit Veliona dan mengayunkan pedangnya dengan cepat.
(Slash!!!!)
(Srk!!!)
Veliona pun terkena tebasan tersebut tepat di tubuhnya, tetapi tiba tiba ia berpecah menjadi kelelawar kelelawar kecil yang membuat Zen terkejut.
"Apa ini?!" Gumam Zen sangat terkejut.
...-Disisi Lain-...
Koruga yang melihatnya pun tertawa senang melihat pertarungan Zen dan Veliona.
"Hebat sekali! Dia mempunyai kemampuan Vampire murni yang sangat sempurna!" Ucap Koruga tersenyum senang.
Tiba tiba sebuah portal pun muncul tepat di samping Koruga dan Shina pun keluar dari portal tersebut.
Koruga yang menyadarinya pun menoleh dan bertanya "Ada apa Shina?" Tanya Koruga.
Shina pun menundukkan kepalanya dan menjawab "Tidak ada tuan muda.. Shina hanya sedikit khawatir karena tuan muda yang tiba tiba menghilang.." Ucap Shina sembari menundukkan kepalanya.
"Tenang saja.. Aku tidak kenapa kenapa.. Duduklah dan lihat pertarungan antara dua orang itu" Ucap Koruga sembari tersenyum.
Shina pun mendekati Koruga dan menuruti perintahnya.
...-Disisi Lain-...
Kelelawar itu pun kembali berkumpul tepat di belakang Zen, dan Veliona kembali mengayunkan sabitnya tepat di leher Zen.
"Dia ingin membunuhku" Gumam Zen.
(Booomm!!!)
Ledakan pun tercipta, terlihat Zen berhasil menahan tebasan sabit itu menggunakan pedangnya, Veliona yang menyadarinya pun langsung menjauhi Zen.
"Aku akan mengakhirinya" Ucap Veliona dengan nada datar dengan hawa pembunuhnya yang luarbiasa.
Veliona pun melukai telapak tangannya menggunakan mata sabitnya, di saat yang bersamaan sabit tersebut pun berubah wujud seperti sebelumnya saat ia menerima darah Veliona.
Zen pun dengan santai berbalik arah menghadap Veliona bersamaan dengan rambut dan matanya yang berubah menjadi putih dan mata Iblis.
Tiba tiba pohon sakura muncul mengelilingi arena dan kupu kupu merah darah yang berterbangan tepat di pohon sakura itu.
"Kohai No Chi"
...•...
...荒...
...廃...
...の...
...血...
...•...
...(Darah Kehancuran)...
Veliona pun menancapkan sabitnya tepat di permukaan, seketika permukaan retak dan duri berwarna merah darah menjalar ke arah Zen, tidak hanya itu, bunga sakura pun berjatuhan bersamaan dengan kupu kupu yang langsung terbang ke Zen dengan sangat cepat.
Zen pun menghilangkan kedua pedangnya dan meletakkan tangannya di permukaan.
"Hi No Funka"
...•...
...火...
...の...
...噴...
...火...
...•...
...(Letusan Api)...
Veliona yang merasakan firasat buruk langsung melompat keluar arena dan di saat yang bersamaan, api pun meletus dari permukaan arena yang menyebabkan seluruh arena hancur karena letusan api tersebut, kupu kupu dan bunga sakura terbakar habis akibat letusan api itu, duri merah darah pun meleleh dan musnah karena panas dari api itu.
(Swof!)
(Slash!!!)
(Ting!!!)
Zen tiba tiba muncul tepat di depan mata Veliona dan mengayunkan pedangnya, walau begitu Veliona berhasil menahan serangan Zen dengan refleknya.
Tanpa Veliona sadari, terdapat bola petir di tangan kanan Zen yang sengaja ia sembunyikan.
Zen pun mengarahkan bola petir itu ke Veliona tepat di tubuhnya, Veliona yang terlambat sadar pun langsung melepas sabit miliknya dan melompat menjauhi Zen.
Walau begitu Zen kembali muncul tepat di belakangnya, ia pun kembali mengarahkan bola petir itu ke Veliona, tapi, Veliona juga sudah siap menerima bola petir itu, terlihat terdapat bola sihir berwarna merah darah tepat di tangan kanannya dan ia pun menghantam bola sihir milik Zen itu.
(Boooooooooommmmmm!!!!!!!!!!!)
Ledakan yang dasyat pun tercipta akibat hantaman kedua sihir itu.
Zen pun langsung melompat menjauhi Veliona dan keluar dari kabut asap itu, seketika rambutnya berubah menjadi biru es bersamaan dengan matanya yang berubab menjadi biru es keputihan.
Zen kembali menghilang dan saat kabut asap itu menghilang, Zen muncul tepat di samping Veliona, ia pun menendang Veliona dengan keras.
"Agh?!!!" Veliona pun terpelanting akibat tendangan Zen yang kuat tersebut, ia tidak menduga jika Zen secepat itu.
"Penjara Es-"
"Ice Prison!" Tiba tiba duri duri es pun muncul dari permukaan dan meninggi ke atas, menjebak Veliona di dalamnya.
"Ukh!.." Veliona pun berusaha bangkit dan berdiri.
Zen yang menyadarinya pun langsung memukul permukaan, di saat yang bersamaan duri es kembali muncul dan menghentikan pergerakkan Veliona, duri es tersebut menjepit Veliona tepat di kaki, lengan, tangan, dan tubuhnya yan membuatnya tidak dapat bergerak sedikitpun.
"Ghh!!!" Veliona pun berusaha melawan, tetapi ia tidak dapat menandingi kekuatan Zen yang begitu besar.
Zen pun menutup matanya, perlahan rambutnya memutih dan matanya yang berubah menjadi mata Iblis.
Ia menciptakan rantai miliknya dan langsung menghilang.
Zen pun muncul tepat di atas Veliona dan melilit tubuh Veliona menggunakan rantai tersebut, saat Veliona sudah terlilit oleh rantai tersebut, es pun seketika runtuh.
"Gh!!! Ah!!!!!!!???" Veliona pun berteriak histeris saat terlilit rantai tersebut, hawa pembunuhnya pun menurun drastis saat ia terlilit rantai tersebut.
...-Disisi Lain-...
"Dia menyegel pribadi Vampire itu?.. Hahaha menarik Zen!!" Ucap Koruga sembari bertepuk tangan.
Shina yang melihat Koruga begitu senang pun bertanya kepada Koruga.
"Tuan muda, kenapa tuan muda begitu senang?" Tanya Shina.
Koruga pun menjawab "Mereka akan segera menjadi lawan kita, tidak lama lagi, aku yakin Zen akan semakin kuat dan akan datang kepadaku" Ucap Koruga sembari tersenyum.
"Apa itu ada hubungannya dengan dewi yang selama ini tuan muda cari?" Tanya Shina.
"Iya, ini adalah rencanaku, dan rencanaku akan di tentukan saat aku bertarung melawan Zen nanti" Ucap Koruga sembari tersenyum.
Shina yang melihat Koruga begitu senang pun sedikit tersenyum dan menggenggam tangannya.
Ia pun mengucapkan "Terima kasih tuan muda.. Tanpa tuan muda, Shina pasti tidak akan bisa bersama kak Shira lagi semenjak saat itu..." Ucap Shina sembari tersenyum tipis ke Koruga.
Koruga pun menatap Shina dan mengelus kepalanya "Sama sama.. kalian sangat hebat sekali saat itu, Aku benar benar takjub melihat kalian" Ucap Koruga.
Shina pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Tidak.. Tuan muda yang lebih menakjubkan.. Karena dapat mengalahkan sepuluh Iblis murni seorang diri ratusan tahun yang lalu" Ucap Shina sembari tersenyum.
Koruga pun tersenyum dan mengucapkan "Aku jadi teringat masa kecilku" Ucap Koruga.
Shina pun menggenggam tangan Koruga dan mengucapkan "Sampai kapanpun, jiwa dan raga kami, seluruh Iblis murni akan terus mengabdi kepada tuan muda.." Ucap Shina sembari tersenyum, dan terlihat sudah ada Iblis murni dan tangan kanan Iblis murni yang berada di belakang mereka berdua.
Koruga pun tersenyum dan mengucapkan "Terima kasih kalian semua.. Aku sangat senang sekali" Ucap Koruga sembari tersenyum.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Zen menggendong Veliona, Asuka dan yang lainnya juga mengelilingi Zen dan memuji Zen karena kemampuannya yang hebat dan berhasil mengalahkan Veliona.
"Ngomong ngomong Zen, apa yang terjadi pada Veliona?" Tanya Silvia.
Zen pun menjawab "Dia tidak apa apa.." Ucap Zen sembari menatap wajah Veliona yang begitu cantik.
Tiba tiba Siyon pun mengucapkan "Apa kalian tidak sadar? semua orang yang berada di colosseum seluruhnya pingsan" Ucap Siyon kebingungan.
"Kami sadar kok Siyon, tetapi apa ya penyebabnya?" Bingung Asuka.
Zen pun mengucapkan "Mereka lah penyebabnya" Ucap Zen sembari menatap jauh ke atas colosseum.
Asuka dan yang lainnya pun kebingungan, tetapi saat mereka menoleh dan melihat ke ujung atas atap colosseum, mereka pun sangat terkejut dan ketakutan.
Terlihat Koruga yang masih menyamar sebagai seorang murid dari akademi destro sedang duduk santai sembari menatap Zen dan tersenyum.
"Siapa dia?!" Gumam Siyon sangat terkejut karena hawa keberadaan Koruga yang tiba tiba menyambar ke mereka dengan sangat dasyat.
Zen pun menatap Koruga dengan tatapan sinis dan aura yang sangat mengancam keluar dari tubuhnya, Koruga pun mengeluarkan aura yang setara mengancamnya dengan Zen sembari tersenyum bengis.
Hantaman kedua aura tersebut membuat langit menggelap, petir yang menyambar tak beraturan, angin yang begitu kuat dan perasaan tidak enak yang meluas kemana mana.
Siyon pun terlihat sangat panik, Asuka dan yang lainnya juga begitu, tetapi mereka tidak sepanik Siyon, mereka hanya terkejut dan tidak menduga jika sosok leluhur Iblis masih hidup dan berada tepat di depan mereka.
Tatapan mematikan kedua Iblis pun tak terelakan, leluhur Iblis yang terlihat begitu senang, dan Iblis yang tidak menyadari dirinya adalah seorang Iblis.
...~Bersambung~...