The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 76 : End Of Training



Enam bulan pun berlalu, keadaan akademi Arsenal pun terlihat aman dan damai, hari hari berjalan seperti biasanya dan mereka tidak mengingat tentang apapun yang terjadi kepada mereka sebelumnya.


Tetapi tidak dengan Veliona, Veliona mengingat jelas semua kejadian yang telah terjadi di akademi Arsenal, ia sangat kebingungan dan terus merenung setiap hari di tempat tidurnya.


(Knock knock knock!)


Suara ketukan pintu pun terdengar di telinga Veliona, Veliona pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu.


Veliona pun berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Ternyata orang yang mengetuk pintu ruangannya adalah Raft.


"Ada apa Raft?" Tanya Veliona.


"Apa kamu ingin ikut pergi ke kolam renang bersama yang lainnya?," Tanya Raft.


"Boleh.., aku akan segera kesana, kalian bisa duluan saja..." Ucap Veliona.


"Baiklah, sampai ketemu di kolam renang nanti.." Ucap Raft sembari meninggalkan Veliona.


Veliona pun kembali masuk dan terdiam sejenak.


Ia pun berjalan ke arah jendela dan melihat ke arah Zen yang sedang mengkristal.


Zen terlihat di pajang di tengah tengah akademi, seperti patung pahlawan yang sudah mati.


Veliona terlihat sudah sangat pasrah dan sangat terpukul karena ia berfikir Zen sudah tewas, ia pun mengingat kata kata Haxor sang pemimpin yang mengumumkan bahwa Zen adalah seorang pahlawan yang sudah sangat berjasa di akademi Arsenal, Haxor mengatakan kepada semua murid jika Zen mengorbankan dirinya untuk membunuh Kenma.


Veliona pun terduduk lemas ia sudah pasrah dengan keadaan, terlebih lagi ia mengingat ucapan Sayu yang mengatakan bahwa Koruga akan menghancurkan dunia.


...-Disisi lain-...


(Slash! slash! slash! slash!)


Sebuah pohon sihir pun seketika lenyap akibat tebasan pedang yang sangat cepat.


(Clap clap clap clap)


Haruto dan yang lainnya pun menepukkan tangan mereka.


Haruto pun mengucapkan "Selamat Zen, kamu sudah berhasil melewati semua ujian kami" Ucap Haruto.


Zen pun menghadap mereka dan menundukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak sudah melatihku sampai sekarang!" Ucap Zen.


Rex pun tertawa mendengar ucapan Zen.


"Kami tidak melatihmu, kamulah yang melatih dirimu sendiri, kami hanya memberikan penyiksaan" Ucap Rex.


Zen pun spontan mengucapkan "Tidak, kalianlah yang melatihku, jika aku tidak bertemu kalian, aku pasti tidak akan berkembang seperti sekarang, kalianlah yang sudah melatihku, walau latihan yang kalian berikan emang kejam, tetapi hal itu lah yang membuatku berkembang" Jelas Zen.


Rex pun tersenyum, tubuh mereka berempat tiba tiba memancarkan sinar berwarna merah terang.


"Apa yang terjadi?!" Gumam Zen terkejut dan kebingungan.


"Sepertinya waktu kita sudah habis" Ucap Haruto.


"Ya.. sepertinya kita sudah harus pergi" Ucap Ghill.


"Hei, apa yang terjadi???" Tanya Zen.


Rex pun mengucapkan "Kami hanyalah arwah yang menetap pada senjata legendaris itu, saat kami mati, kami terkutuk dan menjadi arwah yang terus menempel pada senjata senjata itu, dan saat senjata legendaris itu telah menemukan tuan baru, kami akan terbebaskan dari kutukan ini," Jelas Rex.


"Tentu saja, tujuan kami bukan untuk membebaskan diri, tapi untuk memastikan jika senjata legendaris ini menemukan tuan baru yang tepat dengan tujuan untuk melindungi dunia dari segala macam bahaya," Jelas Rex sembari tersenyum.


Tubuh mereka pun perlahan terkikis seakan akan dimakan oleh cahaya merah itu.


Zen pun terdiam.


Haruto yang melihat raut wajah sedih Zen pun mengucapkan "Hei Zen, bisakah aku meminta sesuatu?" Tanya nya.


Zen pun mengusap airmatanya dan menjawab "Apa yang kamu perlukan, aku akan berikan itu," Ucap Zen.


Haruto pun berjalan mendekati Zen dan memeluk Zen sembari mengucapkan "Kami percayakan semuanya kepadamu Zen," Ucapnya.


Zen pun membalas pelukan Haruto dan sedikit menangis.


Rex dan yang lainnya pun tersenyum melihat Haruto dan Zen yang seperti adik kakak.


"Jaga dirimu baik baik, Zen" Ucap Rex.


Keempat pahlawan itu pun lenyap menjadi partikel partikel cahaya berwarna merah dan terbang jauh tinggi di atas Zen.


"Tolong!" Bisikan suara seseorang pun terdengar jelas di telinga Zen.


"Siapa disana!?" Zen yang terkejut pun langsung melihat sekitar, tetapi ia tidak menemukan satu orang pun di sana.


"Mungkin hanya halusinasiku saja" Gumam Zen.


"Baiklah, sekarang bagaimana aku keluar dari sini?" Gumam Zen.


Tiba tiba seluruh ruangan menjadi gelap, tetapi sebuah cahaya berwarna biru terang terlihat jauh di ujung ruangan.


Zen yang melihatnya pun langsung berlari ke arah cahaya itu.


Sesampainya disana, Zen pun melihat dirinya yang mengkristal dan disegel oleh rantai berwarna biru es.


"Sepertinya aku harus menghancurkan kristal ini" Gumam Zen.


Zen pun melompat tinggi dan menciptakan tombaknya.


Tombak itu pun terbakar oleh api yang sangat panas dan membara.


"Seharusnya ini sudah cukup!" Zen pun melemparkan tombak itu dengan sangat kuat dan cepat.


Kristal itu pun seketika hancur dan sinar berwarna biru terang pun menyinari seluruh ruangan.


...-Disisi lain-...


(Krk! krk! krk!!)


Kristal yang menyegel Zen pun perlahan retak dan mulai hancur.


(Krkk!!!)


(Pcs!!!)


Kristal itu pun hancur, Zen pun terbebas dari segel itu, fisik Zen terlihat tidak berubah sama sekali, tetapi kekuatannya meningkat bahkan lebih kuat dari dirinya yang sebelumnya.


Zen melihat sekitar dan sedikit terkejut karena akademi terlihat lebih mewah dari yang sebelumnya.


"Sepertinya semua sudah berubah" Gumam Zen.


Zen pun melihat sekitarnya, tiba tiba suara itu pun kembali terdengar di telinga Zen


"Tolong!!" Zen kembali terkejut dan kebingungan.


(Swof!!!)


Seekor naga putih lewat tepat di atas Zen, Zen pun langsung melihat ke arah naga putih itu, dan naga putih itu juga menatap mata Zen.


Zen pun mengetahui jika naga itu sedang membutuhkan pertolongan, benar saja, ratusan Iblis terlihat mengejar naga putih itu.


"Kenapa para Iblis itu mengejar naga putih?," Gumam Zen.


"Tidak ada waktu untuk melamun!, aku harus menolong naga itu!" Gumam Zen.


"Swift!" Zen pun bergerak dengan sangat cepat mengikuti para Iblis itu.


...-Disisi lain-...


"Hei Veliona? kamu baik baik saja?" Tanya Rily kebingungan, karena Veliona yang terus melamun di dalam kolam.


Veliona pun tersadar dan mengucapkan "Maaf, aku baik baik saja," Ucap Veliona.


"Gha!!!" Raungan naga putih itu pun terdengar jelas di telinga Veliona dan yang lainnya.


"Suara apa itu?!" Gumam Siyon.


Mereka semua pun spontan melihat ke langit, dan terkejut saat melihat seekor naga putih yang sangat besar terbang di atas mereka dan disusul oleh para Iblis.


Veliona yang melihat naga putih itu pun seketika teringat dengan naga putih yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Apa yang terjadi?!" Gumam Veliona.


(Swof!!!)


Sebuah angin kencang langsung menghembus ke arah mereka semua.


Veliona dan yang lainnya tidak tau, jika angin itu tercipta karena Zen yang lari dengan sangat cepat melewati mereka semua.


Zen pun terus mengikuti para Iblis itu tanpa mereka sadari.


...~Bersambung~...