
"Veliona?!" Ucap Rias sangat terkejut saat ia menyadari jika gadis yang berada di depannya adalah Veliona, ia mengetahui hal itu saat ia melihat tali kalung yang berada di leher Veliona.
"Hum?" Veliona pun memiringkan kepalanya dan sangat kebingungan karena ia tidak mengenali gadis yang berada di depannya, benar benar pertemuan yang tidak terduga.
"Kamu Veliona?" Tanya Rias dengan sangat penasaran.
"Iya, itu namaku, ada apa ya?" Tanya Veliona kembali.
"Ini Aku" Ucap Rias menunjuk dirinya sendiri.
Veliona kembali memiringkan kepalanya karena kebingungan.
"Rias, ini aku Rias" Ujar Rias sangat senang.
"Rias?" Gumam Veliona mengingat seseorang dengan nama Rias.
"Ah, Rias lama sekali tidak bertemu!" Sapa Veliona sedikit tersenyum.
"Veliona!!" Rias pun memeluk Veliona dengan rasa kerinduan yang tak terlepaskan.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu!!" Ucap Rias sedikit sedih dan mengeluarkan airmata.
Veliona pun membalas pelukan Rias.
Tiba tiba seseorang datang dan memanggil Veliona "Veliona??" Bingung seorang gadis yang melihat Veliona memeluk seorang gadis.
Rias yang kembali mendengar suara familiar di telinganya pun terkejut saat melihat gadis itu, gadis cantik berambut panjang dan kulit yang mulus terlihat di matanya yang familiar itu, gadis itu adalah Ayani teman masa kecilnya dulu.
Rias pun langsung melepas pelukannya dan berlari ke Ayani.
"Eh?!" Ayani yang melihatnya pun panik, dan tiba tiba Rias langsung memeluknya dengan erat.
"Eh?? Ke-kenapa ini???" Ayani menjadi panik dan kebingungan karena dimatanya seorang gadis yang tidak ia kenali tiba tiba saja memeluknya.
Sedangkan Rias, ia pun menangis karena sangat rindu dengan Ayani yang sudah berpisah dengannya selama dua tahun.
"Ayani!! Ayani!!!" Tangis Rias sembari meneriaki nama Ayani.
"Ke-Kenapa ini?? Veliona i.. Ini siapa??!" Tanya Ayani kebingungan.
"Itu Rias.." Ujar Veliona sedikit tersenyum.
Ayani yang mendengar ucapan Veliona hatinya seketika merasa sangat sangat sedih dan ia pun mengeluarkan airmata.
Ayani langsung memeluk Rias itu dengan erat dan menangis.
Silvia pun berjalan mendekati Veliona dan menyapanya "Hai.. Namaku Silvia, salam kenal.." Ucap Silvia sembari mengulurkan tangannya.
"Namaku Veliona.." Veliona menjabat tangan Silvia dan tersenyum.
...-Disisi Lain-...
(Slash!! Slash!!)
(Brak bom!!)
Dua monster aneh berwarna putih dan tubuh sekeras besi pun tumbang dengan mudah di tangan Zen, tetapi Zen semakin kebingungan karena ia benar benar tidak mengetahui monster apa yang barusan ia hadapi.
"Gra!!" Teriakan monster kembali terdengar dan monster itu berlari ke arah Zen, monster berwarna putih dan pink sama seperti monster yang barusan Zen kalahkan.
"C'Katana" Zen menciptakan katananya dan melebarkan kakinya selebar bahunya.
"Teknik katana" Zen mengangkat katana nya dan bersiap untuk mengayunkannya.
"Transverse Slash!!" Zen mengayunkan katana nya dengan cepat dan membelah udara, serangan gelombang angin langsung mengarah ke monster itu dengan sangat cepat dan membelah tubuh monster itu.
(Slash!!!)
(Boom!!!!!)
Tubuh Monster itu yang terbelah menjadi dua pun meledak yang membuat Zen sedikit terkejut melihatnya.
"Apa itu bom?!" Bingung Zen.
Zen pun menoleh ke arah monster yang berada di belakangnya mengira jika monster itu akan meledak, tetapi saat ia menoleh ke belakang, dua monster putih pink yang berada di belakangnya perlahan hancur menjadi partikel partikel sistem yang membuat Zen kembali terkejut dan sangat kebingungan.
"Sistem?!" Gumam Zen sangat terkejut.
"Apa aku sedang bermimpi?" Bingung Zen dalam hatinya.
(Swof!!)
Balok berwarna pink yang sedikit panjang mengarah ke Zen dengan cepat, tetapi dengan refleknya Zen dapat menghindari serangan itu dengan mudah.
Zen pun menoleh dan melihat monster yang berada di depannya, monster yang sama tetapi dengan wujud yang berbeda, wujudnya kali ini berwujud ubur ubur atau jellyfish yang mengambang di udara.
"Lagi lagi monster aneh" Gumam Zen.
Katana milik Zen perlahan menghilang bersamaan dengan Zen yang muncul di belakang monster itu dan mengayunkan pedang sihir elemen angin yang baru saja ia ciptakan.
(Slash!!!)
Zen memotong kepala dari monster itu, mengingat jika monster itu akan meledak, Zen langsung melompat ke belakang menjauhi monster itu, tetapi saat Zen sudah menjauh monster itu tidak meledak dan jatuh ke permukaan yang membuat Zen kebingungan.
"Apa monster monster ini memiliki bom di dalam tubuhnya?" Gumam Zen penasaran.
Saat Zen sedang termakan dalam lamunannya, monster itu perlahan hancur menjadi partikel partikel seperti monster yang sebelumnya.
"Ada yang aneh" Gumam Zen.
"Sudahlah, sebaiknya aku kembali melanjutkan perjalananku saja" Gumam Zen sembari berjalan mengelilingi hutan itu.
Tujuan Zen sebenarnya adalah membasmi semua monster yang berada di dalam hutan itu, agar tidak mengganggu turnamen antar akademi, ia tidak memberi tau Silvia, Rias, dan Verina karena jika ia memberi tau hal itu, mereka pasti memaksa untuk ikut dengan Zen.
...-Time Skip-...
Malam hari pun tiba, Zen membakar api unggun di dalam hutan itu dan membangun sebuah tempat berlindung untuknya menggunakan sihir elemen tanah yang sangat kokoh dan simple untuk ia tinggali.
Zen pun membakar beberapa hewan buruan yang ia temukan di hutan pada api unggun itu, saat sedang membakar makanannya Zen kembali memikirkan monster monster aneh yang ia hadapi tadi siang, ia masih memikirkan monster aneh itu karena ia rasa jika monster aneh itu ada kaitannya dengan mimpi mimpi yang ia alami selama ini.
...~Bersambung~...