The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 128 : The Final Battle Of Tournament (Long Story/Short Movie)



(Slash!!)


(Ting!!)


Pertarungan di dalam arena pun masih berlanjut, walau Veliona berhasil meledakkan seluruh arena, tetapi Luca sudah memprediksinya, ia sempat menggunakan gelembung air pelindung untuk melindungi diri dari ledakan itu, dan setelah ledakan berakhir, ia pun langsung melakukan serangan balasan.


(Swof!!)


Luca bergerak dengan cepat dan muncul tepat di depan Veliona, ia pun mengayunkan trisula miliknya bersamaan dengan naga air miliknya yang akan menggigit Veliona.


Tatapan mata Veliona pun berubah, yang awalnya tenang, sekarang menjadi sedikit serius, ia pun dengan cepat memutarkan sabitnya yang membuat trisula Luca terpental, tidak hanya itu, naga air yang akan menggigitnya pun terkena tebasan dari sabit itu, Luca tidak menduga jika Veliona mampu bertahan dari dua serangan secara langsung.


Veliona pun terus memutar sabitnya dan ia pun menancapkan sabitnya tepat di permukaan.


Saat sabit itu menyentuh permukaan, Veliona tiba tiba menghilang dan muncul tepat di samping Luca, ia langsung mengayunkan sabitnya tetapi Luca berhasil menahan serangannya menggunakan trisula miliknya.


"Akan aku gunakan di sini!" Gumam Luca.


Perlahan matanya yang berwarna biru itu pun sedikit bersinar dan tiba tiba air pun menyembur mereka dari permukaan tanah, Veliona berhasil menghindari itu, tetapi Luca terlihat tidak menghindari semburan air yang cukup besar itu.


"Sepertinya dia akan mulai serius" Gumam Veliona.


"Wahai air yang melambangkan ketenangan, berikanlah aku kekuatan untuk menghancurkan kejahatan, wahai roh agung, pinjamkan aku kekuatanmu kepadaku!" Luca pun mengangkat trisulanya ke atas.


"Aqua!" Tiba tiba kubah air yang besar pun terbentuk memenuhi seisi arena, tidak hanya itu, air pun mulai naik dan memenuhi separuh dari kubah air itu.


Luca tiba tiba menghilang dan muncul tepat di belakang Veliona dan menerjangnya.


Tetapi Veliona yang menyadari keberadaan Luca langsung berbalik dan menahan tendangan Luca.


Walau begitu, Veliona terpaksa melepaskan kaki Luca karena air yang sudah mulai menenggelaminya.


Luca yang melihatnya pun tersenyum, ia berputar dan kembali menendang Veliona dengan keras.


"Agh!!!" Veliona pun terpelanting, walau di dalam air Luca terlihat dapat bergerak bebas, berbanding terbalik dengan Veliona.


Veliona pun kembali berusaha berenang naik ke permukaan tetapi ia lagi lagi di hadang oleh Luca, Luca kembali menendang Veliona ke bawah, Luca sengaja mengulur waktu Veliona agar ia kehabisan nafasnya.


Para penonton yang melihat Luca terus menendang dan menghajar Veliona di dalam air itu pun terkejut karena mereka tidak menduga jika pertandingan final akan seperti ini.


"Begitu ternyata.." Walau Veliona tidak dapat ke permukaan, ia terlihat begitu tenang dan dapat menahan seluruh serangan dari Luca walau sambil menahan nafasnya.


"Hahahaha!! sudahlah, kau tidak akan aku beri kesempatan! menyerah sajalah sebelum kau kehabisan nafasmu!" Seru Luca yang terlihat asik menghajar Veliona di dalan air.


...-Disisi Lain-...


Zen yang melihat Veliona sedikit kesulitan pun tersenyum dan bertanya kepada Veliona.


"Apa kamu akan menyerah Vel?" Telepati Zen dari kejauhan sembari tersenyum.


Veliona yang mendengar ucapan Zen itu pun tersenyum dan ia pun menciptakan sabit miliknya yang membuat Luca terkejut.


"Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu?!" Kaget Luca.


Veliona pun mengayunkan sabit miliknya, walau terlihat berat, ia terus mengayunkannya tanpa henti, terlihat percikan berwarna merah sedikit demi sedikit, ayunan sabit yang mulai menciptakan asap dan semakin cepat.


Hal itu pun membuat semua orang terkejut, ayunan sabit yang begitu cepat menciptakan asap di dalam air dan api berwarna merah pun mulai terlihat.


"Tidak mungkin?!" Gumam Luca sangat terkejut.


Tidak hanya Luca, semua orang ikut terkejut melihatnya karena Veliona yang mampu menciptakan api di dalam genangan air.


Api itu pun semakin membesar dan tiba tiba ledakan pun tercipta.


(Booommmm!!!)


Ledakan yang cukup besar tercipta di dalam genangan air, tidak hanya satu, ledakan kembali tercipta terus menerus karena Veliona yang terus mengayunkan sabit miliknya tanpa henti.


(Booomm!! Booomm!!! Booooommm!! Bom!! Boommm!!)


Para penonton yang melihat ledakan terus tercipta pun sangat terkejut, Luca yang berada di dalam kubah air itu pun menjadi panik di buatnya.


"Apa dia sudah gila?!" Panik Luca.


Perlahan air yang memenuhi separuh dari kubah air itu pun perlahan menipis akibat ledakan ledakan itu, yang menyebabkan air menjadi panas dan menguap.


"Kubahnya?!" Gumam Luca panik karena kubahnya yang perlahan mulai lenyap.


"Sial!" Kesal Luca mengangkat tangannya ke atas.


Ia pun berniat merapalkan mantra, tetapi ia tiba tiba memuntahkan darah yang cukup banyak dari mulutnya.


"Ugh!! Uhk!! uhkk!!" Luca pun terduduk lemas, ia terlihat gemetaran, matanya yang memburam dan nafasnya yang mulai tidak beraturan.


"Apa aku sudah mencapai batasku?!" Gumam panik Luca.


...-Disisi Lain-...


Zen yang melihat Luca memuntahkan darah pun langsung menggunakan mata sihirnya, ia sedikit terkejut karena sihir kegelapan yang berada di kepala Luca tepatnya pada bagian otak, mulai menyebar dan menyerap sihirnya.


"Sepertinya seseorang sedang menyerap sihirnya" Gumam Zen melihat ke semua bangku penonton, Zen yang mencari orang mencurigakan pun menemukan seseorang yang terlihat sedang tersenyum di saat Luca sedang kesakitan, ia adalah pemimpin dari akademi Water Dragon itu sendiri.


"Sepertinya dialah yang menghisap energi sihirnya" Gumam Zen.


...-Disisi Lain-...


Veliona pun perlahan mendekati Luca, di saat yang bersamaan tiba tiba naga air milik Luca semakin membesar dan langsung menggigit Veliona, naga air itu pun terlihat sangat brutal, ia menggigit Veliona bahkan sampai terbang ke langit dan berputar di udara.


Luca yang melihatnya pun tersenyum dan ia pun mencengkramkan tangannya.


"Akulah pemenangnya!" Ucap Luca tersenyum bengis.


Naga air itu pun terus berputar ke langit membawa Veliona dan tiba tiba meledak.


(Booooooommmmm!!!!!!!)


Ledakan yang besar pun tercipta di langit, para penonton yang melihatnya pun sangat terkejut, bahkan seluruh anggota guild Eternal Fire hanya bisa terdiam dan tercengang melihat hal itu.


"Veliona!!!!!!" Teriak Yuuiki sangat panik dan khawatir.


Ledakan itu pun perlahan memudar dan Veliona pun terlihat jatuh dari langit, Verina yang melihatnya pun berniat menyelamatkan Veliona, tetapi saat ia akan mengeluarkan kedua sayapnya, Zen tiba tiba melarangnya.


"Jangan pergi kesana, jika tidak kamu juga akan menjadi korbannya" Telepati Zen dari kejauhan.


"Kenapa Zen?! kenapa kamu tidak mengizinkanku menyelamatkannya?! apa kamu sudah gila?!" Bantah Verina.


"Itu hanyalah klona dari Veliona, bukan Veliona yang asli" Jelas Zen yang membuat Verina terkejut.


"Apa maksudmu?" Bingung Verina.


Zen pun hanya tersenyum dan mengabaikan Verina.


(Bam!)


Veliona pun terlihat jatuh ke permukaan dan tak sadarkan diri.


Luca pun berjalan mendekati Veliona dan tersenyum sembari mengucapkan "Sudahku katakan, akulah pemenangnya" Ucap Luca tersenyum bahagia.


"Apa yang terjadi?!! apakah akan berakhir?! apakah Blue Predator lah yang memenangkan pertandingan?!!!??" Komentator tersebut pun kembali membuat suasana menjadi heboh, para penonton menjadi khawatir, panik, senang, sedih, bahagia dan sebagainya.


Luca pun tersenyum bahagia dan menatap langit sembari berteriak "Akulah pemenangnya!!" Teriak Luca sangat bahagia dan sangat bersemangat.


Tetapi tiba tiba sebuah suara terdengar.


"Kamu belum memenangkannya" Suara Veliona pun terdengar di dalam arena yang membuat semua orang kembali terkejut.


Tiba tiba seseorang pun keluar dari celah celah arena yang hancur dan ternyata itu adalah Veliona, Veliona pun melemparkan daun daun bunga berwarna merah, yakni mahkota dari bunga mawar merah, ia melemparkan banyak mahkota mawar itu ke udara dan tiba tiba kelopak itu pun menciptakan ledakan kecil.


Luca pun langsung melindungi dirinya menggunakan gelembung air, tetapi hal yang tidak terduga pun terjadi, kabut asap pun menghilang tersapu oleh angin dan terlihat banyak sekali klona diri dari Veliona.


Luca yang melihatnya pun sangat terkejut, semua klona itu pun mengarah ke Luca dan mengayunkan sabit mereka ke gelembung air itu.


Luca yang panik pun menambah lapisan gelembung, dan saat sabit itu menyentuh gelembung air itu, klona itu pun meledak dan ledakan beruntun pun tercipta.


(Booomm! Bom! Bomm!!! Booomm!! Boommm!! Booommm!!! Booommm!!! Boooommm!!! Booom!!!! Booommm!!!).


Luca pun terlihat kesulitan menstabilkan perlindungan nya karena ledakan beruntun tersebut.


"Gh!.." Luca pun terlihat sangat kesulitan di tambah ia yang merasakan kepalanya yang semakin sakit.


Setelah semua ledakan klona berakhir, Luca pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega, tetapi yang tidak ia duga, Veliona sudah berada tepat di belakangnya dan mengayunkan sabit miliknya.


(Slash!!!!)


Ayunan sabit itu pun menghancurkan perlindungan air milik Luca dan Luca pun harus terhempas terkena punggung dari kepala sabit Veliona.


"Agh!!!!!" Hantaman yang kuat itu pun membuat Luca terpelanting cukup jauh dan terkapar.


"Uhk!!" Luca pun terlihat memuntahkan darah dari mulutnya, ia pun tak sadarkan diri karena kehabisan sihirnya dan terluka cukup parah akibat serangan Veliona di tambah serangan Asuka pada babak sebelumnya.


"Tidak di duga!!! Veliona berhasil mengalahkan Luca dari Blue Predator!!!!" Takjub komentator tersebut.


Para penonton pun bersorak ria atas kemenangan Veliona.


Tapi disisi lain, Veliona berlari ke arah Luca dengan sangat cepat dan ia pun langsung menangkap Luca yang membuat semua orang kebingungan, di saat yang bersamaan anak panah berwarna biru mengarah ke permukaan dengan sangat cepat tepat dimana Luca berada sebelumnya.


(Tsk!! Booomm!!!!!)


Panah air itu pun meledak yang membuat semua penonton terkejut.


"Apa yang terjadi?!" Panik Yuuiki.


"Apa maksudnya ini?!" Panik Endo sangat kebingungan.


Tiba tiba seorang pria melompat dari bangku penonton di colosseum dan berjalan ke arah Veliona.


Pria itu adalah pemimpin dari guild Blue Predator, ia berjalan dengan santai ke arah Veliona, bawahannya yang melihat pemimpin mereka turun tangan pun ikut turun memasuki arena, terlihat lebih dari lima puluh bahkan hingga ratusan bawahannya yang mengikutinya dari belakang.


"Produk gagal tidak di butuhkan" Ucap pria itu sembari mengangkat tangannya, ia pun menurunkan tangannya dan puluhan anak panah berwarna biru pun mengarah ke Veliona dengan cepat.


Veliona yang melihat hal itu pun langsung menciptakan sabit miliknya dan menebas semua anak panah tersebut demi melindungi Luca yang terkapar tak sadarkan diri itu.


"Apa yang kalian lamunkan di sini?! Bantu Veliona!!" Teriak Siyon yang langsung lompat dan menghilang.


"Lari!!!!, bubar!!!" Panik para penonton yang melihat kekacauan di dalam arena.


Para penonton pun berlari keluar dari colosseum karena kepanikan, tetapi tidak seluruh penonton, masih tersisa separuh penonton yang masih tercengang dan terkejut melihat hal yang terjadi di dalam arena.


(Swof!!!!)


(Slash!!! slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!!)


Tebasan yang begitu cepat dari Siyon, serta petir yang menyambar seisi arena.


Anak panah pun semakin banyak yang mengarah ke Veliona, tidak hanya itu, bahkan sihir sihir pun mengarah ke Veliona, baik dari sihir api, air, angin, tanah semua mengarah ke Veliona.


Ribuan serangan pun menghampiri Veliona yang membuatnya sedikit panik.


"Teknik katana"


(Swof!!!)


"Thunder Strike!!" Siyon mengayunkan katana miliknya dari kejauhan, petir pun menyambar ke anak panah dan sihir sihir itu, tetapi tidak dapat memusnahkan seluruh dari sihir itu.


"Sial! Terlalu lemah!!" Panik Siyon karena serangan tersebut yang semakin dekat mengarah ke Veliona.


"Hakai no inazuma!"


...•...


...破...


...壊...


...の...


...稲...


...妻...


...•...


...(Petir Kehancuran)...


Sambaran petir beruntun pun tercipta, petir petir itu menyambar ke serangan serangan yang mengarah ke Veliona.


Walau begitu tidak semua dari sihir itu musnah, masih tersisa separuh dari serangan serangan tersebut yang masih mengarah ke Veliona.


"Tidak akan sempat!!" Gumam Siyon yang sedang mengumpulkan energinya.


"Teknik katana"


(Bff!!!)


"Fire Strike Slash!!"


Tebasan gelombang api yang cukup besar pun mengarah ke serangan serangan tersebut, saat gelombang api itu menyentuh anak panah biru tersebut ledakan pun tercipta.


(Booommm!!!!!!!)


Ledakan yang besar terjadi di arena, Siyon, dan yang lainnya pun berfikir jika Raft berhasil menahan serangan serangan itu, tetapi hal yang tidak di duga kembali terjadi, sisa sisa serangan tersebut masih mengarah ke Veliona dengan jumlah lima ratus sampai enam ratus sihir yang tersisa.


"Sial!!" Panik Raft dalam hatinya.


Serangan itu pun semakin dekat dengan Veliona.


Veliona yang menyadarinya pun menutup matanya dan suasana pun menghening.


Saat Veliona membuka matanya.


"Rozusurasshu!"


...•...


...ロ...


...ー...


...ズ...


...ス...


...ラ...


...ッ...


...シ...


...ュ...


...•...


...(Tebasan Bunga Mawar)...


Veliona pun mengayunkan sabitnya dengan sangat cepat, setiap ayunan dari sabitnya menciptakan mahkota bunga mawar yang menghantam sihir sihir yang mengarah ke dirinya.


Ledakan pun tercipta setiap Veliona menebas sihir sihir itu.


(Booomm!!! Bomm!!! Boooommm!!! Bomm!! Bomm!!! Boooomm!! Booomm!!! Bommm!!! Boooomm!!! Boooommm!!! Booomm!!! Bammm!!!! Thar!!!! Duar!!!!)


Ledakan yang luar biasa pun terus tercipta, semua sihir yang mengarah ke Veliona berhasil ia tebas menggunakan sabit miliknya.


Hal itu pun membuat pemimpin dari Blue Predator sedikit terkejut dan semakin tertarik dengan Veliona.


Pria itu pun menunjuk ke arah Veliona dan mengucapkan "Hei kamu, bergabunglah dengan guildku" Pintanya sedikit memaksa Veliona.


Veliona yang mendengarnya pun mengucapkan "Aku tidak tertarik sedikitpun" Ucap Veliona dengan sangat tenang.


"Kalau begitu kami akan memaksamu!" Pria itu kembali mengangkat tangannya, tetapi tiba tiba pohon beringin tercipta di tengah tengah arena menengahi mereka semua.


Silvia pun terlihat berada tepat di atas pohon tersebut dan mengucapkan "Hentikan pertarungan ini!" Pinta Silvia.


Pria itu yang mendengar ucapan Silvia pun tidak memperdulikannya dan menurunkan tangannya.


Serangan sihir pun mengarah ke Silvia yang sedang berdiri di atas pohon beringin itu.


Silvia yang melihat banyak serangan sihir pun menciptakan perlindungan sihir untuk menghentikan serangan serangan sihir tersebut.


(Booooooommmm!!!!!!!!!!!)


Ledakan yang besar pun kembali tercipta, seluruh colosseum dipenuhi oleh kabut asap yang begitu tebal.


...-Disisi Lain-...


Zen terlihat sedang bertarung melawan puluhan Iblis yang berada di bangku penonton, mereka memang mengincar Zen semenjak Zen datang ke colosseum.


Zen pun berfikir jika Iblis Iblis yang menyerangnya adalah bawahan Koruga, tetapi ia menyangkalnya karena bahawan Koruga tidak selemah itu.


Tanpa pikir panjang, Zen pun menghabisi seluruh Iblis itu menggunakan kedua pedangnya.


Zen terus menghancurkan Iblis Iblis yang mengincarnya dan teman temannya.


(Slash!!)


Puluhan bola sihir kegelapan pun mengarah ke dirinya dari berbagai arah, tetapi Zen terlihat begitu tenang.


"Teknik pedang ganda" Zen pun sedikit melebarkan kedua kakinya dan sedikit merunduk.


"Consecutive Tornado Slash!" Zen pun berputar seperti tornado dan menebas semua bola sihir kegelapan yang mengarah ke dirinya.


"Tidak mungkin?!" Panik seorang Iblis melihat Zen yang bahkan mampu menebas sihir kegelapan dengan mudah.


Zen tiba tiba muncul tepat di depan Iblis itu dan menusuk kepalanya, Iblis Iblis yang melihat Zen pun sangat terkejut dan semakin panik, mereka pun kembali melontarkan serangan sihir tetapi beberapa dari mereka seketika musnah karena Zen yang menebas mereka dengan sangat sangat cepat.


(Slash!!! Slash!!! Slash!! Slash!! Slash!! Slash!! Slash!!! Slash!! Slash! Slash! Slash!! Slash!!)


Tebasan yang begitu cepat membuat para Iblis tidak berdaya dan menyesal karena sudah mengikuti perintah untuk mengepung dan menyerang Zen.


"Si?! Siapa kau sebenarnya?!!!" Panik seorang Iblis melihat Zen yang begitu brutal.


Tetapi Zen menghiraukannya dan kembali membunuh lima Iblis yang tersisa.


(Slash!! Slash! Slash!! Slash!!!)


Empat Iblis yang tersisa pun seketika tewas, Zen bahkan tidak memberikan belas kasihan kepada Iblis Iblis itu.


Iblis yang tersisa pun sangat ketakutan bahkan sampai gemetaran melihat Zen.


"Akhh ahhhhh!!!???!!!!!" Teriak Iblis itu sangat kesakitan karena Zen yang menancapkan kedua pedangnya tepat di kaki Iblis itu dan langsung bertanya.


"Siapa yang memerintahkan kalian untuk memburuku?" Tanya Zen dengan santai.


Iblis itu yang sangat ketakutan pun tidak bisa menjawab pertanyaan Zen karena mulut yang tidak mau mengikuti keinginannya, ia ingin menjelaskannya kepada Zen tetapi karena rasa takut yang luarbiasa, ia tidak bisa melontarkan sepatah kata pun.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memerintahkan kalian?" Tanya Zen sembari menatap mata Iblis itu dengan tatapan tajam.


...-Disisi Lain-...


(Swooo!!!!)


Angin pun menyapu seluruh kabut asap di dalam arena, dan ternyata orang yang menyapu kabut asap itu adalah Thira yang ikut membantu Veliona.


Seluruh guild eternal fire pun terlihat sudah berkumpul, bahkan Rias, Silvia, Verina, Asuka, Thira juga ikut bergabung membantu Veliona.


"Tch dasar lemah, kalian hanya membuang waktuku saja" Kesal pria tersebut.


Ia pun kembali mengangkat tangannya, tetapi tiba tiba sebuah pedang jatuh dari langit ke arahnya, tetapi ia menyadari hal itu dan menghindarinya dengan mudah.


Walau ia berhasil menghindar, terlihat seorang gadis yang langsung muncul tepat di depannya dan mengambil pedang itu, Pria itu pun sedikit kagum melihat gadis yang berada di depannya itu, dan ternyata gadis itu adalah Sayu, Sayu pun mengayunkan pedangnya, pedang yang terbakar oleh api membara.


(Slash!! Slash!! Slash!! Slash! Slash!!)


Serangan serangan Sayu pun dengan mudah di hindari oleh pria tersebut, tetapi tebasan Sayu semakin cepat karena ia menggunakan elemen angin untuk mendorong dan memutar balikkan pedangnya itu.


(Slash! Slash! Slash!! Slash!! Slash!! Slash!! Slash!!!)


Tebasan yang semakin cepat itu membuat pria itu semakin tertantang, ia pun menciptakan pedang miliknya, pedang yang cukup besar berwarna biru tua serta mata merah pada titik tengah gagang pedangnya itu.


Mata pada pedang itu adalah mata Iblis, pedang tersebut adalah pedang kutukan yang di ciptakan oleh Iblis dengan mencuri kekuatan dari roh air yakni Aqua.


Pria tersebut sudah menyerap kekuatan Luca semenjak ia meminta Luca masuk ke dalam guildnya.


(Slash!!!)


(Broke!!!)


Pedang milik Sayu pun hancur dengan mudah yang membuat Sayu sangat terkejut.


"Matilah!" Pria itu mengayunkan pedangnya tepat di depan mata Sayu.


(Swof!!)


(Ting!!!!)


(Brak!!!!!!!)


Permukaan pun retak, serangan pria itu berhasil di tahan oleh Kiguno yang dengan cepat melindungi Sayu menggunakan pedang miliknya.


"Sayu mundurlah!" Perintah Kiguno.


Sayu yang mendengarnya pun langsung melompat menjauhi mereka berdua dan Kiguno langsung melakukan serangan balasan, Kiguno pun mendorong pedang pria itu dan langsung mengayunkan pedang miliknya tepat di tubuh pria itu, tetapi pria itu dengan cepat melompat menjauhi Kiguno.


Walau ia berhasil menghindari serangan Kiguno, sepuluh anak panah berwarna hijau sudah mengarah ke dirinya dengan sangat cepat.


(Swof!!!!)


(Swot!!!!)


(Bomm!!!)


Ledakan pun tercipta, tak di duga anak panah milik Silvia di hantam oleh anak panah milik bawahan pria itu.


"Sepertinya dia juga memiliki penembak jitu" Ucap Silvia perlahan menurunkan busurnya.


Pria itu pun menancapkan pedangnya ke permukaan dan pedang tersebut pun menghilang.


"Sudahi pertarungan tidak jelas ini, kalian akan mati di sini" Ucap pria itu sembari mengangkat tangannya.


Terlihat seluruh bawahan pria itu langsung menjauhi pria itu karena muncul genangan air yang sangat besar di belakangnya.


"Matilah!" Pria itu pun menurunkan tangannya, di saat yang bersamaan naga air besar keluar dari genangan air tersebut dan mengarah ke mereka semua.


...-Disisi Lain-...


Zen pun membunuh Iblis itu karena ia tidak mendapatkan sedikitpun informasi dari Iblis tersebut.


Setelah ia selesai membunuh Iblis itu, ia pun melihat ke dalam arena, terlihat naga air yang besar akan menghantam ke teman temannya, tetapi ia tidak begitu khawatir karena ia yakin teman temannya pasti mampu mengatasi naga air itu.


"Jadi, kalian adalah bawahannya bukan?" Tanya Zen kepada puluhan pria yang sudah mengepungnya.


Mereka semua pun terkejut karena Zen yang menyadari keberadaan mereka, padahal mereka sudah menggunakan jubah penghilang diri untuk menyembunyikan keberadaan mereka.


"Tidak usah bersembunyi lagi, aku dari tadi mengetahui jika kalian ada di situ, jika masih tidak percaya, biar ku ucapkan saja, kalian berjumlah dua puluh orang bukan?" Tanya Zen dengan santai sembari menoleh kebelakangnya.


Seorang pria pun sudah berada di depan Zen menggunakan jubah penghilang, ia pun berniat menikam Zen, tetapi hal yang tidak ia duga terjadi, Zen menusukkan pedangnya ke pria yang menggunakan jubah penghilang itu yang membuat teman temannya sangat terkejut.


"Dia dapat melihat kita?!" Panik salah satu pria tersebut.


"Tidak mungkin, mungkin dia hanya beruntung!! serang dia secara bersamaan!!!" Perintah pria lainnya yang langsung menyerang Zen di ikuti oleh teman temannya yang lain.


(Slash! Slash!!! Slash!! Slash!! Slash!! slash!!! Slash!!! Srkk!!!)


...-Disisi Lain-...


Terlihat di luar akademi, pemimpin akademi sedang mengumpulkan sihir alam yang semakin dingin, ia berniat mencuri energi sihir alam dari hawa dingin yang terus datang agar ia dapat menguasai elemen es.


Tidak hanya itu tujuannya, ia berniat memancing Core elemen es muncul agar ia dapat mengambilnya, itulah kenapa ia mengumpulkan sihir alam elemen es agar menciptakan sebuah titik dimana hawa dingin berkumpul agar dapat memancing si penjaga core elemen es.


"Gr!!!!" Suara serigala pun mulai terdengar di telinga pria itu.


"Akhirnya kau muncul juga" Ucap pemimpin akademi water dragon menatap ke arah badai salju yang mengarah ke dirinya.


badai salju pun menghujani seluruh wilayah utara dan hari yang di tunggu tunggu pun tiba, hari dimana perbatasan akhir musim yang Zen tunggu sudah tiba dan menghujani seluruh wilayah utara.


"Ice Wolf!" Seru pemimpin akademi water dragon penuh semangat.


Serigala es yang sangat besar pun perlahan menampakkan dirinya, tubuhnya yang begitu besar, bulunya yang berwarna biru tua dan biru es serta memiliki dua ekor.


"Gr!!!" Serigala itu pun terlihat sangat marah karena perbuatan pemimpin akademi itu.


"Hahahaha!! Akhirnya kau muncul juga!! Sekarang berikan aku core elemen es itu!!!!" Seru pemimpin akademi yang langsung berlari ke arah serigala itu dengan cepat.


...-Disisi Lain-...


Naga air pun menghantam Veliona dan yang lainnya, tetapi Silvia berhasil menahan serangan itu dengan menciptakan perlindungan hutan agung calveria.


Pohon pohon yang tubuh dan menyerap energi sihir naga air itu yang membuat naga air itu musnah.


Pria itu yang melihat Silvia akhirnya menciptakan banyak pohon pun tersenyum, ia mengangkat tangannya dan menurunkannya, di saat yang bersamaan ratusan sihir elemen api bawahan pria itu langsung mengarah ke Veliona dan yang lainnya.


Sihir itu pun membakar hutan ciptaan Silvia.


"Tsunami!" Rias pun mengayunkan pedang miliknya ke permukaan yang seketika menciptakan tsunami yang langsung membanjiri hutan itu dengan air.


"Tch!" Pria itu pun semakin kesal di buat mereka.


Tiba tiba Asuka muncul tepat di depan pria itu dan mengayunkan katana miliknya.


(Slash!!!)


(Ting!!!!!)


(Broke!!)


Tidak di duga, katana milik Asuka hancur begitu saja saat menyentuh pedang milik pria itu.


"Apa yang terjadi?!" Gumam Asuka panik dan kebingungan.


Pria itu pun mengayunkan pedangnya, tetapi Siyon dengan cepat menahan serangan pria itu menggunakan katana miliknya.


(Slash!!)


(Broke!!)


Lagi lagi katana Siyon ikut hancur saat menyentuh pedang pria itu, Siyon pun bisa menangkap kakaknya dan menendang pria itu untuk menjauh darinya.


Pria itu pun sedikit termundur akibat tendangan Siyon, ia pun semakin kesal dan mengacungkan pedangnya.


"Keluarlah naga air!!" Naga air yang besar pun langsung keluar dan mengarah ke Siyon dan teman temannya.


"Sial!!" Gumam Siyon panik.


Tiba tiba Zen terjun dari udara dan mengayunkan pedang miliknya ke permukaan.


(Swof!!)


(Slash!!!)


(Brwarrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)


Dinding api yang sangat tebal dan besar pun membatasi arena yang besar itu.


Semua orang yang melihat dinding api yang begitu tebal dan besar itu menjadi sangat terkejut.


"Apa apaan ini?!" Gumam Kiguno sangat terkejut melihat dinding api yang begitu besar, tinggi dan tebal tersebut.


Disisi Lain pria itu pun bertanya kepada Zen dengan emosi yang terus menguap pada dirinya.


"Siapa kau?! Lagi lagi pengganggu sialan ya?!!!" Kesal pria tersebut.


Zen pun menjentikkan jarinya, tembok api pun langsung menghilang yang membuat semua orang kembali terkejut.


"Zen!" Gumam Veliona tersenyum bahagia.


"Siapa kau?! Mau apa kau?!!! Jangan menghalangi ku dasar kutu sialan!!!" Kesal pria itu menciptakan bola air yang sangat besar di tangannya.


Pria itu pun melemparkan bola air itu ke arah Zen dan Zen pun mengangkat tangannya dan menggenggamnya.


Seketika bola air yang besar itu berubah menjadi es dan seketika pecah dan menyisakan partikel partikel es yang sangat kecil.


Semua orang tidak dapat melihat apa yang baru saja terjadi karena Zen dengan sangat cepat memusnahkan bola air itu.


"Apa itu?! Siapa dia?!" Bingung Yuuiki karena ia merasa familiar dengan hawa keberadaan pria yang melindungi mereka.


Zen pun menatap pria itu dengan tatapan dingin sembari mengucapkan "Jika ingin bertarung, maju kalian semua, aku akan mengatasi kalian sendirian" Ucap Zen dingin yang membuat pria itu semakin emosi karena merasa di rendahkan oleh Zen.


"Sialan kau!!!" Kesal pria itu yang tiba tiba muncul tepat di depan Zen, ia pun mengayunkan pedangnya ke arah Zen.


Zen pun berniat menahan serangan pria itu menggunakan pedang miliknya.


"jika dia menahan serangan itu pasti pedangnya akan hancur!!" Panik Asuka melihat Zen.


"Dasar bodoh! Pedangku ini bisa menyerap energi kehidupan dari senjata lain! berakhir sudah!" Gumam pria itu sembari tersenyum bengis.


(Ting!!!!!)


"Apa?!" Pria itu pun sangat terkejut karena serangannya yang berhasil di tahan oleh Zen dengan sangat mudah.


"Pedangnya tidak hancur?!!" Gumam Asuka sangat terkejut.


"Aghh?!!!!!!"


Zen pun menendang pria itu dengan sangat kuat yang membuatnya harus terpelanting jauh ke dinding colosseum.


(Boomm!!!!)


"Waktu bermain sudah selesai" Ucap Zen dingin sembari mengangkat tangan kanannya.


Bola api yang sangat besar dan panas sebesar arena colosseum pun muncul tepat di telapak tangan Zen.


Semua orang yang melihatnya pun tercengang tak dapat berkata apapun karena takjub melihat kekuatan Zen.


"Zen.." Veliona yang sedang memeluk Luca pun tersenyum bahagia melihat Zen.


Sedangkan Zen ia sedikit kesal dan berniat membakar seluruh anggota blue predator karena mereka berniat melukai teman temannya.


"Kalian semua mundurlah" Perintah Zen dengan singkat, Zen pun melompat tinggi ke udara.


Veliona yang melihatnya pun langsung menggendong Luca sembari berteriak "Larilah!!" Teriak Veliona langsung berlari menjauhi arena.


Mereka semua pun menuruti perintah Veliona dan berlari menjauhi arena, tetapi tidak dengan guild Blue Predator, mereka terlihat tak sanggup bergerak karena melihat bola api yang begitu besar di atas mereka.


"Musnahlah!!" Kesal Zen melemparkan bola api tersebut.


"Hakai no hinotama!!"


...•...


...破...


...壊...


...の...


...火...


...の...


...玉...


...•...


...(Bola Api Penghancur)...


(Bffffff!!!!!!!!!!!!!!!)


Bola api yang sangat besar dan membara pun mengarah ke seluruh anggota guild Blue Predator yang masih berada di dalam arena, mereka yang melihatnya pun seketika putus asa.


"Sial!!!!" Seorang pria pun langsung menembakkan sihir air dengan seluruh kemampuannya.


Bola air yang besar pun mengarah ke bola api tersebut, tetapi perbedaan kekuatan yang besar membuat bola air itu hanya seperti sebuah daun kecil.


"Ha!!!!!!"


Satu persatu dari anggota guild Blue Predator pun mencoba untuk menghentikan bola api tersebut menggunakan sihir air, dan akhirnya mereka semua menyerang bola api itu dengan bola air yang besar secara bersamaan dan beruntun tanpa henti.


"Haaa!!!!!!!!!!!!!!!" Mereka semua pun mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk bertahan hidup dari bola api yang sangat besar tersebut.


Sementara itu, Veliona dan yang lainnya terlihat sangat takjub dengan kekuatan Zen yang sangat jauh berada di atas mereka.


"Dia benar benar sangat kuat!" Takjub Asuka melihat Zen yang sedang melayang di udara.


Mereka semua pun hanya dapat melihat tanpa mengucapkan sepatah katapun karena rasa takjub dengan kekuatan Zen yang tidak masuk akal.


...~Bersambung~...