
Dua minggu pun berlalu semenjak Zen masuk ke akademi Blue ring.
Seperti biasa, Zen selalu berlatih rutin, saat Zen sedang latihan, tiba tiba seseorang mengetuk pintunya.
(Knock knock knock)
"Iya sebentar" Ucap Zen.
Zen pun membuka pintu, dan saat ia membuka pintu ia sedikit kebingungan karena saat ia membuka pintu tidak ada siapa siapa.
Saat Zen berniat menutup pintunya kembali, tiba tiba sebuah anak panah langsung mengarah ke Zen.
Zen berhasil menangkapnya tetapi ia tidak menduga jika tangkai pana itu di penuhi duri.
Zen pun pingsan.
...-Disisi lain-...
Zen pun terbangun di alam bawah sadarnya.
"Kak Zen?, kakak baik baik aja?" Tanya Sayu.
Zen hanya diam dan tidak merespon.
Zen pun mengucapkan satu kalimat yang membuat Sayu sangat kebingungan "Kamu siapa? dimana ini?" Ucap Zen
"Ini Sayu kak.. Jangan bercanda dong.." Ucap Sayu.
"Apa maksudmu?" Ucap Zen.
Sayu pun seketika shock dan tidak percaya.
"Berarti anak panah yang tadi itu beracun?!!" Gumam Sayu.
Ternyata anak panah yang Zen tangkap sebelumnya terbuat dari ranting pohon Plure.
"Dimana ini? kenapa aku di sini? siapa kamu" Ucap Zen.
Sayu pun terdiam dan tidak merespon Zen, Sayu pun mengeluarkan airmata yang membuat Zen kebingungan.
"Kamu kenapa? apa aku membuatmu sedih?" Tanya Zen
Sayu pun menutup wajahnya, ia terus menangis yang membuat Zen semakin kebingungan.
(Hug)
Zen pun memeluk Sayu sembari mengucapkan "Sudah jangan menangis, jika aku salah, aku minta maaf, tapi jika kamu menangis bukan karena aku, aku hanya bisa mengucapkan, janganlah terus menangis, itu tidak akan mengubah apapun" Ucap Zen.
Sayu pun memeluk Zen dengan erat dan terus menangis.
Beberapa saat kemudian, Sayu pun mulai tenang dan melepas pelukannya.
Setelah Sayu sudah tenang, Zen bertanya kepadanya "Kamu baik baik saja?" Tanya Zen.
Sayu pun mengusap airmatanya dan mengucapkan "Sayu baik baik saja kak.." Ucap Sayu.
"Dimana ini?" Tanya Zen.
Sayu pun menjawab "Kakak ada di alam bawah sadar kakak" Ucap Sayu.
Zen pun kebingungan dan kembali bertanya "Apa maksudmu??"
Sayu pun menjelaskannya dari awal mereka bertemu sampai sekarang.
...-Time skip-...
"Maaf Sayu, aku mengerti ceritamu tapi aku juga masih kebingungan dengan apa yang terjadi, aku tidak bisa mengingat apapun" Ucap Zen.
"Iya kak.. gapapa, lupakan saja.." Ucap Sayu sembari tersenyum walau sedang sangat sedih.
Zen pun bertanya kepada Sayu "Jadi bagaimana caraku keluar dari sini?" Tanya Zen.
"Sayu juga ga tau, tapi dulu kakak hanya dengan menutup mata dan fokus ke dunia nyata, dan kakak kembali ke dunia nyata" Jelas Sayu.
"Baiklah.." Ucap Zen.
Zen pun menutup matanya dan fokus untuk kembali ke dunia nyata.
Sayu pun melihat Zen yang perlahan menghilang, dan ia pun kembali menangis.
...-Disisi lain-...
Zen pun terbangun dari pingsannya, saat ia terbangun ia kebingungan karena ia berada di pangkuan seseorang.
"Zen kamu baik baik saja?" Tanya Rily.
Zen yang kebingungan pun bertanya "Kamu siapa?" Tanya Zen.
Rily pun menjawab "Aku Rily pacarmu" Ucap Rily.
"Apa maksudmu? aku saja tidak mengenalmu" Ucap Zen.
"Kamu kenapa Zen? apa yang terjadi? kamu benar benar melupakanku?" Ucap Rily.
Zen pun termenung sejenak, ia pun mengingat penjelasan Sayu yang sebelumnya.
Zen pun bangun dan duduk sejenak, ia pun bertanya kepada Rily "Bagaimana awal kita bertemu? dan kenapa kita bisa pacaran?" Tanya Zen.
Rily pun terdiam mendengar ucapan Zen, Rily pun menjawab "Awal kita bertemu di sebuah hutan, dan awal kita pacaran itu karena kamu menyatakan perasaanmu di saat sedang berbelanja bersama pada malam hari" Jelas Rily.
Zen pun terdiam mendengar ucapan Rily.
"Apa yang dia ucapkan itu benar?" Gumam Zen.
Rily pun memeluk Zen dan mengucapkan "Istirahatlah, mungkin kamu sedang kelelahan"
Zen pun mengambil kesempatan dan mengiyakannya.
"Apa boleh tinggalkan aku sendiri?" Tanya Zen
Rily pun mengiyakannya dan keluar dari ruangan Zen sembari mengucapkan "Istirahat yang cukup ya" Ucap Rily sambil tersenyum.
Rily pun menutup pintu ruangan Zen dan sedikit tersenyum.
...-Disisi lain-...
Zen pun masuk kedalam kamar dan memutuskan untuk tidur, karena sudah larut malam, saat ia berjalan, ia pun sadar, ia tidak mengenali tempat yang sekarang ia tinggali.
Zen pun mencari kamarnya, beberapa saat kemudian, Zen akhirnya menemukan kamarnya dan sedikit terkejut karena kamarnya sangat mewah.
Zen pun tiduran di ranjangnya ia pun seperti anak yang baru pertama kali tidur di kasur mewah, ia berguling guling, bahkan melompat lompat di atas kasur.
"Empuk sekali kasur ini" Gumam Zen.
Zen pun tiduran di atas kasurnya.
"Aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku bahkan tidak tau aku dimana, tapi mungkin aku bisa mengikuti alur perempuan tadi" Gumam Zen.
Zen pun menutup matanya dan tertidur.
...-Time skip-...
Pagi pun tiba, Zen yang bangun dari tidurnya pun terkejut karena tiba tiba Rily tidur di sebelahnya.
Zen pun langsung bangun dari tidurnya.
"Kenapa dia disini?" Gumam Zen kebingungan.
Tiba tiba Rily pun bangun dan menyapa Zen.
"Pagi Zen.." Ucap Rily sembari mengucek matanya.
"Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Zen.
Rily pun menjawabnya dengan santai "Kan aku pacarmu, emangnya gaboleh??" Ucap Rily.
Zen pun terdiam.
Rily pun mengucapkan "Ayo siap siap, nanti kita harus ke kelas lagi" Ucap Rily.
Zen pun kebingungan, Rily pun memberikan Zen pakaiannya yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Ini mandi dan pakailah, kita akan ke kelas setelah itu" Ucap Rily sembari memberikan bajunya kepada Zen.
Zen pun mengikuti ucapan Rily.
...-Time skip-...
Setelah selesai, Zen dan Rily pun ke kelas mereka, setelah lama berjalan, Zen dan Rily pun akhirnya sampai di kelas mereka.
Rily pun duduk di kursinya, Zen yang kebingungan ia pun memilih tempat duduk yang paling ujung, tempat duduk yang sering ia duduki sebelumnya.
Semua murid di kelas pun berbisik bisik karena Zen berjalan bersama dengan putri dari pemimpin akademi.
Zen yang tidak begitu mengerti apa yang mereka maksud pun hanya mencueki mereka.
Tiba tiba Ruka sensei pun masuk ke kelas dan menyapa semua murid.
"Pagi semuanya.." Sapa Ruka sensei.
"Pagi sensei!" Serentak para murid.
Ruka sensei pun duduk di kursinya sembari mengucapkan "Hari ini kita tidak akan belajar, Sensei hanya akan memberi tau, bahwa besok kita akan melakukan tanding antar murid, dan turnamen dalam akademi di minggu depan"
Semua murid pun bersorak karena hal ini lah yang mereka tunggu tunggu, tetapi tidak dengan Zen, Zen hanya terdiam dan terus memikirkan siapa dirinya, kenapa ia berada di sini.
...~Bersambung~...