
Pagi hari pun tiba, Zen pun terlihat sedang tertidur di sebuah pohon tepat di hutan akademi Water Dragon.
Saat ia sedang tertidur lelap, tiba tiba seorang gadis datang ke padanya, dan perlahan mendekatinya.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Silvia yang sedang duduk di sofa dan mengamati patung yang sempat ia temukan waktu itu.
Ia terlihat sangat kebingungan, karena ia pertama kali melihat patung seperti itu.
Saat ia sedang termenung, ia pun perlahan merasakan kantuk yang luar biasa, karena tidak tahan, ia pun tertidur di sofa tersebut.
Beberapa menit pun berlalu, Silvia pun kembali membuka matanya dan terkejut, ia berada di tempat yang sangat gelap bahkan ia tidak melihat seserca cahaya pun.
"Aku dimana??" Bingung Silvia.
"Kemarilah.. Datanglah kepadaku wahai penghuni dari dunia ini..." Ucap seorang gadid yang terdengar jelas di telinga Silvia.
"Suara apa ini??" Bingung Silvia, di dalam kebingungan, tanpa ia sadari, ia berjalan kedepan seakan akan ia di kendalikan.
"Kemarilah.." Suara tersebut kembali terdengar semakin jelas di telinga Silvia.
Beberapa saat kemudian, Silvia pun terhenti dan kebingungan "Kenapa tubuhku bergerak sendiri?" Bingung Silvia.
Jauh di depan Silvia terlihat seorang perempuan berpakaian biarawati sedang duduk santai.
"Bukan.. Kamu bukanlah takdir yang ku lihat.." Ucap perempuan misterius itu.
"Apa maksudmu?" Bingung Silvia.
"Pergilah.." Ucapnya yang seketika membuat Silvia tersadar dari tidurnya.
"Hm??" Silvia pun terlihat kebingungan, karena ia yang seakan akan mengalami sesuatu, tetapi ia lupa dengan apa yang baru saja terjadi.
"Pagi Silvia..." Sapa Verina dari kejauhan.
"Selamat pagi Verina..." Sahut Silvia.
...-Disisi Lain-...
Saat sedang tertidur lelap, Zen pun akhirnya terbangun dari tidurnya, ia pun membuka matanya dan kebingungan karena ia merasa seperti ia sedang tertidur di atas kasur karena kepalanya yang merasakan keempukan dan kenyamanan.
"Hm?.." Zen membuka matanya dengan perasaan kebingungan, tiba tiba rambut panjang pun melewati mukanya yang membuatnya sedikit terkejut.
"Selamat pagi.. Zen.." Ucap seorang gadis yang memangkunya semenjak ia tertidur.
Zen pun menatap gadis itu dan ternyata gadis itu adalah Veliona yang membuat Zen kembali terkejut.
"Selamat pagi.." Sahut Zen.
Veliona pun tersenyum sembari menatap Zen di pangkuannya.
Zen pun bertanya kepada Veliona dengan rasa kebingungan "Bagaimana kamu bisa tau aku disini Vel?" Tanya Zen.
Veliona pun tersenyum dan menjawab "Mereka yang memberi tauku.." Ucap Veliona.
"Mereka?" Bingung Zen.
Tiba tiba gerombolan kupu kupu mendekati mereka berdua dan beberapa kupu kupu hinggap di tubuh Veliona.
"Iya.. Mereka yang memberi tauku" Ucap Veliona sembari mengelus sayap kupu kupu itu.
"Apa kamu bisa berbicara dengan mereka?" Tanya Zen sedikit penasaran.
Veliona pun tersenyum dan menjawab "Aku bisa berkomunikasi dengan mereka..." Jelas Veliona.
"Begitukah.." Paham Zen yang perlahan bangun dari pangkuan Veliona, tetapi saat Zen ingin bangun, Veliona kembali menekan kepalanya.
"Tetaplah seperti ini" Pinta Veliona terus menekan kepala Zen.
"Aduh du duh.. Jangan menekan kepalaku juga.." Berontak Zen.
"Baiklah, akan ku lepaskan tetapi jangan bangun ya" Ucap Veliona.
Zen pun mengiyakan ucapan Veliona dan Veliona pun berhenti menekan Zen.
"Jadi.. Kenapa kamu mencariku Vel?" Tanya Zen.
"Tidak.. aku hanya tidak ingin di tinggal lagi.. kamu pasti nanti akan meninggalkanku" Ucap Veliona dengan nada rendahnya sembari mengelus kepala Zen.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Vel, percayalah..." Ucap Zen mengusap pipi Veliona.
Veliona pun mengangkat kepala Zen dan ia pun bangun sembari mengucapkan "Aku akan bertanding sebentar lagi.. Apa kamu akan menontonnya?" Tanya Veliona.
"Begitukah.. Kalau begitu ayo kita kembali ke akademi.." Ucap Zen yang membuat Veliona sedikit terkejut.
"Aku akan membuktikan jika aku tidak akan meninggalkanmu lagi Vel" Ucap tegas Zen menatap mata Veliona yang membuat wajah Veliona sedikit memerah.
Veliona pun memalingkan wajahnya dan mengucapkan "Baiklah kalau begitu"
"Aku akan melihat seberapa setianya dirimu.." Ucap Veliona menatap mata Zen sembari tersenyum.
"Baiklah.." Ucap Zen berjalan mendekati Veliona dan menggenggam tangannya.
"Ayo kita kembali ke akademi" Ucap Zen.
"Baik.." Sahut Veliona sembari tersenyum.
...-Disisi Lain-...
Terlihat Siyon sedang berduaan dengan Rara di taman akademi, mereka sedang duduk di bangku dan menikmati keindahan taman yang besar itu.
Banyak juga murid yang terlihat sedang bermesraan di taman, saat Siyon dan Rara sedang duduk santai Rara terlihat sedikit gugup akan keramaian di taman itu.
"Kenapa Ra?" Tanya Siyon.
"Hanya sedikit gugup saja..." Ucap Rara dengan wajahnya yang sedikit memerah.
Siyon yang mendengarnya pun menarik dan memeluk Rara yang membuatnya semakin malu dan wajahnya yang semakin memerah.
Saat sedang bermesraan, tiba tiba seseorang menghampiri mereka.
"Siyon, Rara, sebentar lagi pertandingan akan dimulai, kalian tidak ingin menonton pertandingan Raft?" Tanya Seorang gadis yakni Yuuiki yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Raft akan segera bertanding ya?.." Tanya Rara.
"Iya, kita harus mendukung Raft" Ucap Siyon yang perlahan bangun dan menarik tangan Rara sembari mengucapkan "Ayo kita pergi menonton pertandingannya.." Ucap Siyon sembari tersenyum.
"Baiklah.." Ujar Rara sembari tersenyum.
Saat mereka sedang berjalan, tiba tiba seorang pria mengatakan "Tidak usah repot repot, kalian pasti akan kalah, orang orang lemah seperti kalian sudah di takdirkan kalah dan kalian hanya buang buang energi kalian saja, lebih baik bubarkan saja guild kalian sekarang.." Ucap seorang pria sangat santai tepat di belakang mereka.
Siyon yang mendengarnya pun seketika hawa keberadaannya berubah drastis "Apa maksudmu sialan?" Kesal Siyon menoleh dan menatap sinis pria yang mengatai mereka.
Aura Siyon pun menyambar pria tersebut yang membuat pria itu sedikit terkejut dan tersenyum "Hahaha.. Bocah ingusan sepertimu ternyata juga bisa mengeluarkan aura ya.." Ucap remeh pria itu yang membuat Siyon semakin kesal.
"Bisakah kalian berhenti? Aku muak mendengar ocehan seperti ini" Ucap seorang gadis memotong pembicaraan mereka berdua.
"Luca?!" Panik pria itu saat melihat gadis itu, ia adalah Luca anggota guild Blue Predator dan calon pemimpin guild selanjutnya, ia akan menjadi pemimpin guild jika ia berhasil meraih kemenangan turnamen seorang diri.
"Hei kamu, pergi dari sini, keberadaanmu di sini memuakkan!.." Ucap seram gadis itu menatap pria yang sama dengan dirinya, anggota guild Blue Predator.
Pria itu yang mendengar perkataan Luca pun mengucapkan "Ingat saja kah bocah, aku akan meng-" Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aura yang sangat kuat langsung menyambarnya dan membuatnya seketika pingsan.
"Apa yang terjadi?!" Bingung Yuuiki dalam hatinya sangat terkejut.
"Dia pingsan?" Siyon yang melihat pria itu terjatuh tanpa sebab pun sangat terkejut.
Terlihat Luca berjalan ke Colosseum meninggalkan mereka bertiga di taman itu.
"Apakah ini kekuatan Blue Predator?!" Gumam Rara terkejut.
"Apa dia yang melakukannya?" Takjub Siyon menatap gadis itu.
...----------------...
"Pertandingan yang di tunggu tunggu!! Pertarungan terakhir antara guild Eternal Fire melawan Blue Predator!!, apakah Guild Eternal Fire akan memenangkan pertandingan?? ataukah akan kembali menerima kekalahan????" Ucap heboh komentator itu.
"Tanpa panjang lebar!! mari kita mulai pertandingannya!!!!" Ucap komentator itu sangat bersemangat.
"Ya!!!!!!" Sorakan para penonton pun menyertainya dan pertandingan pun di mulai.
(Swof!!!)
Raft muncul tepat di depan Luca dan mengayunkan katana miliknya.
(Slash!!!!)
"Fire Strike!!!!" Raft mengayunkan katana miliknya dengan sangat cepat dan menciptakan gelombang api yang besar tepat di depan luca.
...~Bersambung~...